NovelToon NovelToon
KODE MERAH: CINTA

KODE MERAH: CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Sci-Fi / Romantis
Popularitas:943
Nilai: 5
Nama Author: ririma

Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Tawaran

Langkah kaki Carson terasa melambat begitu ia berdiri di depan pintu baja berkilau di ujung lorong lantai paling atas. Di dinding sebelah pintu, terdapat plakat logam bertuliskan Ruang Direktur Utama Laboratorium Pusat.

Carson berdiri mematung selama beberapa detik. Ia memejamkan mata, menarik napas sedalam yang ia bisa, lalu mengembuskannya perlahan untuk menenangkan debaran jantungnya yang gila-gilaan. Telapak tangannya yang basah oleh keringat dingin ia seka berulang kali ke celana seragamnya. Setelah menekan tombol interkom dan mendengar suara dengung mesin yang mempersilakannya masuk, pintu otomatis itu menggeser terbuka tanpa suara.

Carson melangkah masuk dengan kaku. Ruangan itu sangat luas, dingin, dan minimalis. Di balik meja marmer hitam besar yang menghadap langsung ke jendela kaca raksasa dengan pemandangan distrik pusat, duduklah sang Direktur Utama.Seorang pria paruh baya berambut klimis dengan tatapan mata sedingin es yang selalu sukses membuat nyali bawahannya ciut.

"Selamat siang, Pak. Saya Carson dari divisi logistik data kesehatan," ujar Carson, membungkuk formal dengan posisi berdiri yang tegak, mencoba menyembunyikan lututnya yang masih agak lemas.

Direktur Utama tidak langsung menjawab. Beliau menutup tablet digital di tangannya, melipat jemarinya di atas meja, lalu menatap Carson lekat-lekat. Keheningan yang tercipta selama beberapa detik itu terasa seperti siksaan seumur hidup bagi Carson. Pikiran-pikiran aneh dan skenario terburuk kembali berputar di otaknya. Apakah borgolnya ada di bawah meja? Apakah petugas penertiban bersembunyi di balik lemari?

"Duduk, Carson," suara berat Direktur memecah keheningan.

"Baik, Pak. Terima kasih," Carson duduk di kursi kulit di depan meja, posisinya sangat tegap, tidak berani bersandar sedikit pun.

Direktur Utama mencondongkan tubuhnya ke depan. "Saya sudah membaca seluruh rekam jejakmu selama tiga tahun terakhir di laboratorium ini. Dan sejujurnya, saya cukup terkesan. Kamu punya latar belakang enkripsi data dan manajemen logistik yang sangat rapi. Bahkan Dr. Vega bilang, kamu adalah salah satu teknisi paling jenius yang kita miliki di laboratorium ini."

Carson mengerjapkan mata. Ketegangan di pundaknya sedikit mengendur, digantikan oleh rasa bingung. "Ah... terima kasih banyak atas pujiannya, Pak. Saya hanya melakukan tugas saya."

"Tugasmu itu terlalu sepele untuk otak jenius sepertimu, Carson," potong Direktur Utama langsung. Beliau mengetuk-ngetuk jarinya ke meja. "Tujuan saya memanggilmu ke sini bukan untuk mengevaluasi kerjamu. Pemerintah pusat sedang mempercepat proyek bioteknologi militer terbaru mereka. Proyek pertahanan tingkat tinggi. Dan saya ingin kamu ikut masuk ke dalam tim pengembang."

Carson tertegun di kursinya. Rasanya ia ingin tertawa kencang sekaligus merosot ke lantai karena lega. Jadi, semua keringat dingin, kepanikan, dan pikiran tentang kamp kerja paksa sejak di lantai bawah tadi... ternyata hanya karena tawaran kerja ini? Sialan, dia sudah ketakutan setengah mati.

"Bioteknologi militer, Pak?" tanya Carson, memasang ekspresi agak ragu. Dalam hati dia sebenarnya malas terlibat dalam proyek penting seperti ini. Selain karena jam kerjanya akan bertambah, dia juga tahu ada sesuatu yang telah dikorbankan hanya untuk keberlangsungan proyek ini.

"Benar. Dan ini adalah proyek yang sangat sensitif," wajah Direktur Utama berubah menjadi sangat serius, matanya menyipit menatap Carson. "Semua data, proses, dan siapa saja yang terlibat di dalamnya harus dirahasiakan rapat-rapat. Tidak boleh ada yang tahu tentang keterlibatanmu, termasuk rekan kerjamu atau bahkan Dr. Vega. Kamu paham risikonya jika ini bocor, kan?"

"Saya paham, Pak," jawab Carson cepat. Otak cerdiknya mendadak melihat sebuah peluang emas di tengah situasi ini. Daripada dia harus terus-menerus mengambil risiko besar menyelundupkan pasokan militer lewat jalur limbah medis yang bisa ketahuan kapan saja, kenapa tidak memanfaatkan momen ini?

Carson berdehem pelan, memajukan posisi duduknya sedikit dengan berani. "Saya tentu siap menerima perintah dan menjaga rahasia ini, Pak. Tapi... jika diperbolehkan, saya ingin mengajukan satu syarat kecil demi kelancaran tugas saya."

Direktur Utama menaikkan sebelah alisnya, tampak terkejut sekaligus tertarik karena jarang ada pegawai rendahan yang berani mengajukan syarat kepadanya. "Syarat? Menarik. Apa itu?"

"Karena proyek ini rahasia dan tingkat stresnya pasti tinggi, saya butuh jaminan kesehatan dan energi yang prima, Pak," kata Carson dengan wajah seserius mungkin. "Saya meminta jatah pangan khusus milik pasukan militer sektor atas dialokasikan secara rutin ke dalam inventaris pribadi saya selama proyek berjalan. Bukan jeli nutrisi standar warga biasa."

Keheningan sempat tercipta kembali selama dua detik, sebelum akhirnya Direktur Utama tertawa lepas. Suara tawanya menggema di ruangan yang dingin itu, seolah-olah Carson baru saja menceritakan lelucon paling konyol abad ini.

"Jatah pangan militer? Hanya itu?" Direktur menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh sinis. "Orang-orang jenius memang selalu punya kegilaan yang aneh. Kamu tidak meminta kenaikan fasilitas apartemen atau bonus kredit, dan malah meminta makanan? Baiklah, Carson. Itu urusan mudah. Saya akan masukkan kuota pangan militer ke dalam akun logistik pribadimu setiap minggu. Anggap saja itu bonus awal dari saya."

Carson tersenyum formal, meski di dalam hatinya ia berteriak puas. Selamat. Berhasil. Sekarang dia tidak perlu mencuri lagi, dan Nezha akan mendapatkan makanan yang layak dengan aman tanpa ada risiko deteksi.

"Terima kasih banyak, Pak. Saya sangat menghargainya," ujar Carson.

"Sama-sama. Mulai besok, data proyek akan mulai dikirim ke komputermu lewat jalur privat. Sekarang, kembali ke ruanganmu dan ingat, tutup mulutmu," perintah Direktur.

"Baik, Pak. Saya permisi."

Begitu pintu lift terbuka di lantai divisinya, Carson melangkah keluar dengan perasaan yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari saat ia pergi tadi. Beban di pundaknya mendadak menguap.

Namun, begitu ia memasuki pintu otomatis ruang kerjanya, suasana langsung mendadak sunyi. Rey yang biasanya cuek setengah mati, langsung menghentikan ketikannya dan menatap Carson dengan mata membelalak. Dua pegawai di kubikel seberang bahkan sampai berdiri dari kursi mereka, menatap Carson seolah-olah melihat hantu yang kembali dari kematian.

"Carson!" Rey langsung setengah berteriak, mencondongkan badannya melewati batas meja mereka. "Kamu... kamu masih hidup? Tidak dibawa ke ruang interogasi pemerintah?"

Carson berjalan santai menuju mejanya, menarik kursi berodanya yang longgar, lalu duduk dengan senyum kecil yang misterius. "Memangnya kenapa aku harus dibawa ke ruang interogasi, Rey?"

"Ya habisnya wajahmu tadi seperti orang mau dihukum mati!" sahut Rey jengkel melihat ketenangan Carson yang mendadak kembali. "Jadi, ada apa? Kenapa Direktur Utama memanggilmu langsung ke lantai atas? Ada kesalahan data yang fatal, ya?"

Dua pegawai lain ikut mendekat ke meja Carson, memasang telinga lebar-lebar karena sangat kepo dengan apa yang terjadi di ruangan yang paling ditakuti di gedung ini. Mengingat perintah Direktur Utama untuk menjaga kerahasiaan proyek, Carson tentu tidak bisa jujur. Namun, melihat wajah-wajah kepo rekan kerjanya, jiwa usil Carson mendadak bangkit.

Carson mengembuskan napas panjang dengan dramatis, lalu bersandar santai. "Ah, tidak ada apa-apa kok. Direktur Utama ternyata cuma kangen saja sama aku. Beliau mau mengobrol santai."

Ruangan itu mendadak hening seketika.

Rey ternganga, pulpen di tangannya sampai terlepas dan jatuh ke meja. Dua pegawai lainnya saling berpandangan dengan ekspresi syok yang luar biasa, sebelum akhirnya wajah mereka berubah datar penuh rasa tidak percaya.

"Kangen?" Rey mendengus keras, melemparkan gumpalan tisu bekas ke arah Carson yang langsung ditepis dengan tawa geli oleh pria itu. "Kamu pikir Direktur Utama itu kenalanmu? Jangan bercanda, Carson! Serius sedikit!"

"Aku serius, Rey. Kalau tidak percaya, tanya saja sendiri ke lantai atas," gurau Carson sambil menyalakan kembali monitor komputernya dengan perasaan yang jauh lebih ringan.

Sambil pura-pura sibuk mengetik, Carson melirik jam digital di tangannya. Ia sudah tidak sabar menunggu jam pulang kerja untuk segera membagikan kabar gembira ini kepada Nezha.

1
Rudy satria
bylla berbahaya nggk sih,ko bikin deg,deg,degan😅😅
Rudy satria
semoga bylla bukan mata² pemerintah 😅
Rudy satria
saya pikir langsung curi buahnya satu ² ternyata bijinya saja,sabar ya dedek bayi kira² 3 bulan sampai tomatnya matang😅😅
ririma: wkwk,,
total 1 replies
Rudy satria
apakah bylla salah satu tim yang nantinya kabur bersama Carlos dan Nessa
Rudy satria
lebih nggk kebayang,kalo beneran ada negara yang memiliki peraturan sekonyol itu🤣
ririma: lah iya juga ya🤣
total 1 replies
Rudy satria
Kay nggk asing,negara Konoha seperti itu jga nggk ya semoga si nggk ya😅😅
ririma: hmm, ngga ikutan ya kak🤭
total 1 replies
Rudy satria
ceritanya bagus, meskipun masih blm paham kenapa ada peraturan anomali seperti itu😄
ririma: engga usah dipahami kak, emang anomali itu peraturannya😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!