Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Arka berjalan santai menelusuri koridor utama Rumah Sakit Medika Utama. Ia mengabaikan kepanikan kecil yang mulai merebak di area Poliklinik 3 saat dr. Hendra keluar membawa barang bukti racun dengan dikawal beberapa perawat yang bersimpati padanya.
Begitu melangkah keluar dari pintu kaca otomatis rumah sakit, hembusan angin pagi yang segar menyapu wajah Arka.
Arka memanggil layar antarmuka biru transparan di depan matanya seraya berjalan menuju kedai kopi di seberang jalan.
"Sistem, 5000 Poin ini bisa dipakai untuk apa saja sekarang? Buka Toko Sistem."
[Menampilkan Menu Toko Sistem - Kategori Keahlian & Fisik:]
[Keahlian, Peningkatan, Fungsi]
[Peningkatan Fisik (Tingkat 2)]
[Meningkatkan kelincahan, refleks, dan kekuatan otot secara permanen (+30%)].
[Keahlian: Pelacak Aurik Saraf]
[Memungkinkan Anda mendeteksi keberadaan orang yang dalam kondisi kritis/sekarat dalam radius 100 meter]
[Master Pertolongan Pertama (Trauma Lanjutan) Memahami teknik pembedahan darurat dan penanganan trauma fatal tanpa alat operasi lengkap]
"Menarik," Arka menimbang-nimbang. "Peningkatan fisik tingkat dua dan Pelacak Aurik Saraf. Dua kombinasi sempurna kalau aku harus berpacu dengan waktu seperti tadi malam."
"Sistem, tukarkan Poin untuk Peningkatan Fisik Tingkat 2 dan 100 Poin untuk Pelacak Aurik Saraf!"
[Penukaran Berhasil!]
[Sisa Poin Takdir: 50 Poin]
[Mengintegrasikan Peningkatan Fisik & Pelacak Aurik Saraf...]
Srrr...
Sensasi hangat yang luar biasa menjalar dari tulang belakang Arka menuju seluruh persendiannya. Otot-ototnya terasa makin padat dan fleksibel.
Di saat yang sama, pandangannya mendadak memancar tipis, ia bisa merasakan denyut 'kehidupan' dari orang-orang di sekitarnya dalam bentuk pendar cahaya tipis berwarna hijau tipis.
"Luar biasa," bisik Arka takjub. "Sekarang aku bisa tahu kalau ada orang yang butuh pertolongan hanya dengan berjalan lewat di dekat mereka."
Arka memesan secangkir kopi hitam hangat dan duduk di area outdoor kedai kopi seberang rumah sakit.
Namun, baru saja ia menyesap kopinya, radar Pelacak Aurik Saraf di dadanya mendadak berdenyut pelan.
Sebuah pendar kuning keemasan yang sangat terang, menandakan seseorang dengan 'Bobot Takdir' yang sangat besar, sedang bergerak mendekat ke arahnya.
Ckiieeeek!
Sebuah mobil SUV hitam mewah ber-kaca gelap berhenti tepat di pinggir jalan depan kedai kopi.
Pintu penumpang belakang terbuka, dan seorang pria paruh baya berstelan jas sangat rapi turun dibantu oleh seorang pengawal pribadi bertubuh tinggi besar.
Pria paruh baya itu berjalan dengan tongkat kayu berukir, namun matanya yang tajam langsung mengunci ke arah kopi
[Penglihatan Medis & Pelacak Saraf Aktif]
Nama Target: Wijaya Kusuma (CEO Kusuma Corp).
Kondisi: Pemulihan Pasca-Trauma Kecelakaan (Berkat Intervensi Anda Tadi Malam).
Bobot Takdir:.Sangat Tinggi.
Arka menyeringai kecil sambil menaruh cangkir kopinya kembali ke piring alas. "Waktunya cepat sekali... Orang kaya memang beda."
Pria tua itu, Wijaya Kusuma, melangkah mendekati meja Arka. Pengawalnya dengan sigap berdiri satu meter di belakangnya dengan sikap waspada.
"Boleh saya duduk, Anak Muda?" tanya Wijaya Kusuma dengan suara berat namun penuh wibawa.
"Silakan, Pak Wijaya," jawab Arka tenang sambil mengisyaratkan kursi kosong di depannya. "Suatu kehormatan CEO Kusuma Corp mau duduk di kedai kopi pinggir jalan seperti ini."
Wijaya Kusuma menyipitkan mata, terkejut karena pemuda di depannya langsung mengenali identitasnya tanpa ragu. Ia duduk perlahan, menyandarkan tongkatnya di tepi meja.
"Kamu mengenalku... tapi aku tidak pernah melihat wajahmu di lingkungan bisnis maupun medis," kata Wijaya Kusuma, menatap Arka dari atas ke bawah. "Tadi malam, di dekat mobilku yang terbakar... suara dan gaya bicaramu sama persis dengan orang yang menyelamatkanku sebelum ambulans datang."
Arka bersandar santai di kursinya. "Bisa jadi itu cuma orang yang mirip, Pak. Di dunia ini banyak orang yang wajahnya pas-pasan seperti saya."
Wijaya Kusuma tertawa pelan, sebuah tawa dingin khas pengusaha kawakan.
"Jangan bercanda, Anak Muda. Dokter di RS Medika Utama bilang pendarahan dalamku berhasil dihambat dengan teknik penekanan saraf yang hampir tidak mungkin dilakukan oleh orang biasa tanpa alat. Dan beberapa menit lalu, sekretarisku melaporkan ada keributan di Poliklinik 3, seorang pemuda misterius melumpuhkan dua satpam dan membongkar rencana pembunuhan dr. Hendra."
Wijaya mencondongkan badannya ke depan, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
"Siapa kamu sebenarnya, Arka?"