NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Brummm.

Mobil sedan hitam Bima melaju pelan melewati gerbang besi yang menjulang tinggi.

Penjaga gerbang langsung membungkuk hormat saat mobil itu melintas masuk ke area kediaman keluarga Herman.

Clara meregangkan kedua tangannya ke atas dengan lega.

"Akhirnya kita sampai di rumah juga," ucap Clara sambil menguap kecil.

"Hari ini rasanya melelahkan sekali gara-gara harus berdebat dengan dosen."

Bima mematikan mesin mobil dan mencabut kuncinya.

"Itu karena kamu tidak fokus memperhatikan pelajarannya," balas Bima dengan nada datar.

"Lain kali aku tidak akan membelamu jika kamu ketahuan melamun lagi."

Clara memanyunkan bibirnya tanda protes.

"Kamu ini tidak asik sekali, padahal tadi di kelas kamu terlihat sangat keren," gerutu gadis itu.

"Aku kan melamun karena terus memikirkan kehebatanmu mengalahkan argumen Pak Lukman."

Bima hanya menggelengkan kepala mendengar alasan konyol tunangannya itu.

Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah.

Aroma masakan yang sangat lezat langsung menyambut penciuman mereka.

Di ruang makan, Pak Herman sudah duduk menanti dengan pakaian santai rumahan.

Wajah pria paruh baya itu terlihat jauh lebih rileks dibandingkan saat di rumah sakit tadi pagi.

"Kalian sudah pulang rupanya," sapa Pak Herman dengan senyum hangat.

"Ayo cepat cuci tangan dan bergabung ke meja makan."

"Iya, Papa," jawab Clara riang.

Gadis itu menarik lengan Bima menuju wastafel terdekat.

Beberapa menit kemudian, ketiganya sudah duduk mengelilingi meja makan yang penuh dengan hidangan mewah.

Cling cling.

Suara garpu dan sendok yang beradu dengan piring porselen memecah keheningan ruang makan.

Pak Herman mengambil sepotong daging panggang dan meletakkannya di piring Bima.

"Makan yang banyak, Nak Bima," kata Pak Herman ramah.

"Kamu sudah bekerja sangat keras hari ini untuk menyelamatkan rumah sakit kita."

"Terima kasih, Pak Herman," balas Bima sopan.

Bima mengunyah makanannya dengan tenang tanpa suara.

"Bagaimana hari pertama kalian di kampus?" tanya Pak Herman menatap putrinya.

"Apa ada mahasiswa nakal yang mengganggu Clara lagi?"

Clara langsung meletakkan sendoknya dengan semangat.

"Papa harus tahu, Bima tadi membuat dosen paling galak di kampus terdiam tidak berkutik!" cerita Clara antusias.

"Bima menceramahi Pak Lukman tentang teori manajemen yang sudah usang."

"Satu kelas sampai menahan tawa melihat wajah dosen itu memerah karena malu."

Pak Herman tertawa lepas mendengar cerita putrinya.

Dia menatap Bima dengan pandangan takjub sekaligus geli.

"Kamu ini memang penuh kejutan, Nak Bima," ucap Pak Herman masih tertawa.

"Tidak hanya ahli medis, ternyata kamu juga pandai berdebat soal bisnis."

Bima meletakkan gelas minumnya kembali ke atas meja.

"Saya hanya menyampaikan fakta yang saya baca dari buku," jawab Bima santai.

"Lagipula saya tidak suka melihat Clara dimarahi tanpa alasan yang jelas."

Mendengar ucapan Bima, pipi Clara kembali merona merah jambu.

Gadis itu menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan senyum lebarnya.

Suasana makan malam itu terasa sangat hangat dan menyenangkan layaknya keluarga sungguhan.

Namun Bima tahu dia harus merusak suasana damai ini dengan sebuah peringatan.

"Pak Herman, ada hal serius yang harus saya sampaikan malam ini," ucap Bima tiba-tiba.

Nada suara Bima berubah menjadi sangat dingin dan berat.

Pak Herman langsung menghentikan kunyahannya dan menatap Bima serius.

"Ada apa, Nak Bima?" tanya Pak Herman khawatir.

"Apakah ini berhubungan dengan kejadian di rumah sakit tadi pagi?"

Bima mengangguk pelan.

"Benar," jawab Bima menatap lurus ke arah ayah mertuanya itu.

"Tadi sore saat di kampus, ada seorang pengintai yang mencoba menyerang saya."

Clara langsung tersentak kaget mendengarnya.

"Apa?!" teriak Clara panik.

"Kenapa kamu tidak memberitahuku sama sekali saat perjalanan pulang tadi?"

"Aku tidak ingin membuatmu khawatir di jalan," jawab Bima menenangkan Clara.

"Pengintai itu sudah aku urus, tapi dia membawa pesan dari atasannya."

Pak Herman mencondongkan tubuhnya ke depan dengan raut wajah tegang.

"Pesan apa yang mereka sampaikan?" tanya Pak Herman serius.

"Asosiasi Medis Gelap akan mengirimkan pembunuh elit mereka besok malam," jelas Bima.

"Namanya adalah Sang Bayangan."

"Orang ini bukan preman biasa, dia pasti menguasai ilmu tenaga dalam tingkat tinggi."

Wajah Pak Herman langsung memucat seketika.

Sebagai pengusaha besar, dia pernah mendengar rumor tentang pembunuh bayaran tingkat elit di dunia bawah tanah.

Mereka adalah orang-orang yang bisa membunuh tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

"Kita harus lapor polisi sekarang juga!" kata Pak Herman panik.

"Aku akan menyewa puluhan tentara bayaran untuk menjaga rumah ini besok malam."

Bima segera mengangkat tangannya untuk mencegah niat Pak Herman.

"Tidak perlu membuang uang untuk menyewa penjaga biasa," tolak Bima tegas.

"Senjata api dan penjaga biasa tidak akan berguna melawan pengguna tenaga dalam."

"Mereka hanya akan menjadi korban sia-sia."

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Clara dengan mata berkaca-kaca.

Gadis itu meraih tangan Bima dan menggenggamnya erat.

"Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu, Bima," bisik Clara cemas.

Bima membalas genggaman tangan gadis itu dengan lembut.

"Kalian tidak perlu melakukan apa-apa," kata Bima meyakinkan.

"Besok malam, pastikan seluruh pelayan dan penjaga rumah masuk ke dalam kamar mereka."

"Kunci semua pintu dan jendela rapat-rapat."

"Biar saya yang menyambut tamu tak diundang itu sendirian di halaman depan."

Pak Herman menatap Bima dengan keraguan yang besar.

"Tapi Nak Bima, ini sangat berbahaya," bantah Pak Herman.

"Kamu adalah calon menantuku, aku tidak bisa membiarkanmu menanggung semua ini sendirian."

"Percayalah pada saya, Pak Herman," suara Bima terdengar sangat mutlak.

"Di dunia ini, belum ada bayangan yang bisa menelan seekor naga."

Melihat sorot mata Bima yang begitu percaya diri, Pak Herman akhirnya hanya bisa menghela nafas pasrah.

Dia menganggukkan kepalanya tanda setuju.

Makan malam pun dilanjutkan dengan suasana yang sedikit lebih tegang dari sebelumnya.

Malam harinya, di dalam kamar tamu yang ditempati Bima.

Suasana kamar itu sangat sunyi dan gelap.

Bima duduk bersila di tengah tempat tidur dengan mata terpejam rapat.

Nafasnya mengalir dengan ritme yang sangat teratur.

Huuuh. Haaah.

Udara di sekitar tubuhnya tampak sedikit terdistorsi akibat energi panas yang memancar.

Bima sedang memfokuskan tenaga dalamnya untuk menerobos sisa segel di tubuhnya.

Dia tidak mau meremehkan musuh yang dijuluki Sang Bayangan itu.

Meskipun dia kuat, Bima tahu kesombongan adalah awal dari sebuah kekalahan.

Tiba-tiba, telinganya menangkap suara langkah kaki halus yang mendekat ke pintu kamarnya.

Tok tok tok.

"Bima, apa kamu sudah tidur?" suara Clara terdengar pelan dari balik pintu.

Bima membuka matanya dan menarik nafas panjang.

Energi panas di sekitarnya seketika menghilang tanpa sisa.

"Belum," jawab Bima.

"Masuklah, pintunya tidak dikunci."

Krieet.

Pintu terbuka menampilkan Clara yang mengenakan piyama tidur berbahan sutra merah muda.

Gadis itu membawa segelas susu hangat di tangannya.

"Aku membawakanmu susu agar kamu bisa tidur nyenyak," kata Clara sambil berjalan masuk.

Dia meletakkan gelas itu di atas nakas sebelah tempat tidur.

"Terima kasih," ucap Bima tersenyum tipis.

"Tapi sepertinya kamu datang bukan hanya untuk mengantar susu, kan?"

Clara menundukkan kepalanya sambil memainkan ujung piyamanya.

"Aku tidak bisa tidur," cicit gadis itu pelan.

"Pikiranku terus memikirkan ucapanmu di meja makan tadi."

Bima menepuk ruang kosong di tepi tempat tidurnya.

"Duduklah sebentar," suruh Bima lembut.

Clara menurut dan duduk di sebelah Bima.

Aroma sabun mandi yang segar menguar dari tubuh gadis itu.

"Apa pembunuh itu benar-benar menakutkan?" tanya Clara tanpa menatap wajah Bima.

"Apakah dia bisa menyakitimu?"

"Setiap pertarungan pasti memiliki risiko," jawab Bima jujur.

"Tapi aku berjanji tidak akan membiarkan bajingan itu melewati pintu depan rumah ini."

Clara mendongak dan menatap mata hitam Bima lekat-lekat.

Ada ketakutan yang nyata di matanya yang indah itu.

"Kamu tidak boleh terluka sedikit pun," ancam Clara dengan suara bergetar.

"Ini perintah dari tunanganmu, kamu mengerti?"

Bima tidak bisa menahan senyumnya melihat tingkah sok berani dari gadis ini.

Dia mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Clara dengan ibu jarinya.

"Aku mengerti, Nona Clara," balas Bima patuh.

"Aku akan kembali ke dalam rumah besok malam tanpa lecet sedikit pun."

Mendengar janji itu, Clara merasa sedikit lebih lega.

"Baguslah kalau begitu," kata Clara mengangguk pelan.

"Habiskan susumu dan cepatlah tidur, aku akan kembali ke kamarku."

Clara berdiri dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamar Bima.

Krieet.

Pintu kembali tertutup rapat meninggalkan Bima sendirian.

Bima menatap gelas susu di atas nakas itu dengan pandangan melembut.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup di jalan pedang, dia merasa memiliki rumah.

"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan ketenangan ini," batin Bima tegas.

Waktu berlalu dengan cepat.

Malam yang dijanjikan akhirnya tiba.

Suasana kediaman keluarga Herman malam itu terasa sangat mencekam.

Sesuai instruksi Bima, tidak ada satu pun pelayan atau penjaga yang berada di luar rumah.

Semua lampu taman sengaja dimatikan agar suasana menjadi gelap gulita.

Hanya cahaya bulan redup yang menembus sela-sela awan mendung di langit.

Wush.

Angin malam berhembus cukup kencang menggugurkan daun-daun kering di halaman.

Di tengah halaman berumput luas itu, Bima berdiri tegak seperti sebuah patung batu.

Dia mengenakan kemeja hitam lengan panjang dan celana kain yang nyaman untuk bergerak.

Matanya menatap lurus ke arah tembok tinggi yang mengelilingi rumah tersebut.

Kedua tangannya disembunyikan di dalam saku celana dengan sangat santai.

Tap.

Suara gesekan yang sangat pelan terdengar dari atas tembok sebelah barat.

Suara itu sangat kecil hingga hampir tidak bisa dibedakan dengan suara daun yang bergesekan.

Namun telinga Bima menangkapnya dengan sangat jelas.

"Kau datang lebih cepat dari dugaanku," ucap Bima memecah keheningan malam.

Suaranya tidak keras namun bergema ke seluruh penjuru taman.

Hening sejenak.

Sring.

Sesosok bayangan hitam tiba-tiba melompat turun dari atas tembok tanpa menimbulkan suara benturan apa pun.

Bayangan itu mendarat sepuluh meter di depan Bima.

Sosok itu mengenakan pakaian ketat berwarna hitam legam yang menyatu dengan kegelapan malam.

Wajahnya ditutupi oleh topeng logam tak bermata yang hanya memiliki celah untuk bernapas.

Di tangannya, terdapat sebilah pedang katana ramping yang berkilau dingin.

"Kau memiliki pendengaran yang bagus, Tabib Muda," suara serak dan berat terdengar dari balik topeng logam itu.

"Pantas saja anak buah bodoh itu gagal menyentuhmu."

Bima mengeluarkan kedua tangannya dari saku celana.

"Jadi kau yang bernama Sang Bayangan?" tanya Bima datar.

"Ternyata hanya seekor tikus yang suka bersembunyi di balik topeng jelek."

Pria bertopeng itu mendengus sinis mendengar hinaan Bima.

"Lidahmu tajam sekali untuk seseorang yang akan segera mati," balas Sang Bayangan.

Pria itu perlahan mengangkat katananya dan mengarahkannya tepat ke dada Bima.

Aura membunuh yang sangat pekat langsung menyelimuti halaman rumah itu.

Udara di sekitar mereka terasa menurun beberapa derajat menjadi sangat dingin.

"Asosiasi Medis Gelap mengirimkan salam kematian untukmu, Bima," ucap pria bertopeng itu.

Bima memiringkan kepalanya sedikit dengan senyum meremehkan.

"Mari kita lihat apakah pedangmu itu setajam ancamanmu," tantang Bima santai.

Pertarungan hidup dan mati antara dua pengguna tenaga dalam akhirnya akan segera dimulai.

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!