Hola ...
Update setiap hari ... !!!
Warning :
Novel ini bisa membuat kalian tersenyum-senyum sendiri dan tertawa gemasss ...!!!
Novel ini juga mengandung banyak bawang ditengah!!! Selamat membaca ...
Karena ada yang minta sekuel anaknya Galas dan Gayung. Ini aku kasih sekuel mengenai anak kedua mereka, Jusuf Alexander.
Dalam perjalanan menuju kampung halaman untuk menengok kedua orang tuanya yang kini menetap dikota kelahiran mereka. Jusuf Alexander tersesat dijalan karena mengikuti Google Map. Padahal ibunya sudah mengingatkannya untuk tidak mengendarai mobil sendiri. Karena Alex lemah mengingat jalan.
Hingga akhirnya ia tersesat dijalanan terjal dalam kondisi mobil yang tiba-tiba mogok. Apesnya hujan mengguyur begitu deras malam itu. Hingga ia kebingungan untuk meminta bantuan. Sampai kemudian muncul seorang gadis yang menolongnya.
Dari sanalah perjalanan cintanya yang amazing bermula. Ikuti terus ya ...Ok say ...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Curly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 ( Cacing Kepanasan )
Alex bergerak gelisah layaknya cacing kepanasan diatas sofa. Ia ingin menyusul Pandan dikamar belakang, namun adik bungsunya itu sampai sekarang masih sibuk bermain game disofa seberangnya. Bagaimana ia bisa menemui Pandan, kalau Ibra saja masih betah berlama-lama disana. Seketika ia menyesal mendesain rumahnya tanpa sekat seperti ini, ia jadi tidak bisa menyelinap ke kamar belakang ketika menghadapi situasi seperti ini. Alex mendesah kesal, ingin rasanya ia menendang Ibra keluar dari rumahnya sekarang juga namun itu tak mungkin.
Ia kembali menatap layar ponselnya kecewa. Pandan bahkan tak membuka pesan darinya sama sekali. Padahal Alex yakin, gadis itu pasti belum tidur. Karena Pandan hobi sekali menonton drama Korea sampai tengah malam kadang harus ia paksa tidur.
Tubuh Alex kembali merosot dari sandaran sofa, berganti posisi berbaring, sedetik kemudian tengkurap lalu beberapa saat setelahnya sudah duduk lagi. Namun tetap saja ia tak bisa tenang, pikirannya selalu tertuju pada pandan yang sedang marah kepadanya, Pandan yang mendiamkannya, membisu dan bersikap layaknya pada seorang pembantu kepadanya. Entah kenapa itu begitu mengganggunya. Padahal dulu dengan mantan-mantan kekasihnya, ia tak pernah segalau ini jika sedang bertengkar. Malah ia lebih sering bersikap cuek serta acuh dan menganggap itu bukan hal yang penting yang harus dipikirkan. Tapi kini berbeda, yang sedang marah dengannya adalah Pandan. Pandan yang ketika sedang dalam kondisi normal saja sudah tak banyak bicara, apalagi sekarang. Jika ia ikut diam, yang ada sampai kiamatpun masalah mereka tidak akan ada penyelesaiannya.
Ibra melirik kembali pada sang Kakak. Meski diam, sedari tadi ia terus mengamati segala tingkah polah Kakak keduanya itu sampai kepalanya penuh berserakan dengan tanda tanya.
"Mas Alex ... kamu kenapa lagi?" tanya Ibra yang sudah tidak tahan untuk bertanya.
"Tidak ada." Alex seketika berdiri menyibak rambut lebatnya dengan gerakan kasar, mulai tak sabar menunggu Ibra minggat ke kamarnya. "Sudah malam, ayo tidur dikamar saja ...," ajaknya, lalu memaksa sang adik berdiri dan mendorongnya ke kamarnya. Ibra sedikit keheranan, namun ia menurut saja karena sebenarnya ia juga sudah mulai mengantuk.
Alex mematikan lampu dan ikut merebahkan dirinya disamping Ibra. Menunggu si bontot tidur, baru kemudian ia akan menyelinap ke kamar belakang menemui Pandan. Begitu rencananya.
Waktu rasanya bergerak lambat, Alex melirik adiknya, dan Ibra masih saja sibuk dengan ponselnya. Astagaaa! Kapan bocah ini tidurnya! Alex sudah mulai tidak sabar menunggu. Tubuhnya bergerak gelisah lagi, membuat Ibra kembali menatap keheranan pada Kakaknya yang terus saja kelojotan bagai cacing kepanasan.
"Kamu kenapa sih Mas?" tanya Ibra lagi.
"Ah, tidak ... aku haus," jawab Alex mencari-cari alasan. Oke Alex! Siap beraksi! Lanjutkan!
"Oh ...," ucap Ibra dengan tatapan curiga memandang punggung sang Kakak yang keluar dari kamar. Karena penasaran ia ikut bangun mengikuti Kakaknya.
"Lho ... Mas Alex mau kemana? Ngantuk apa dia ya ...." Padahal dapur ada disampingnya, tapi Kakaknya itu terus berjalan lurus saja.
"Mas Alex!" Panggil Ibra.
Alex menghentikan langkahnya. Astagaaa ... Ibraaa!!! Alex menggeram kesal dalam hati.
"Ya?" Alex menoleh dengan wajah tanpa dosa.
"Dapurnya disini, Mas. Kelewatan ... Mas Alex ngantuk ya?" Ibra terkekeh, tanpa tahu Alex rasanya sudah ingin menelannya hidup-hidup saat itu juga.
"Ah haha ... iya, mungkin aku mengantuk." Alex memundurkan langkahnya dengan hati dongkol menuju dapur. Menuangkan segelas air dan meminumnya dengan rasa jengkelnya pada sang adik yang sudah diubun-ubun. Lebih-lebih, Ibra bukannya langsung ke kamar malah ikut menghampirinya dan ikut minum dengan santainya. Kalau seperti ini terus, kapan ia bisa menemui Pandaaann?! Teriak Alex frustasi dalam hati. Sebelum akhirnya mengambil langkah panjang menuju kamarnya kembali dan membanting pintu keras.
"Ya ampun, sebenarnya Mas Alex kenapa sih? Makin lama makin aneh saja sikapnya ...." Ibra hanya geleng-geleng kepala, keheranan.
***
Lewat tengah malam, Ibra sudah tertidur. Sementara Alex masih terjaga ditemani kegalauan hatinya yang semakin menjadi, ia ingin ke kamar belakang tapi takut mengganggu istirahat Pandan. Namun disisi lain ia juga merindukan wanita yang membuatnya frustasi setengah mati sejak sore tadi itu. Ia ingin bertemu Pandan, sebentar saja. Hanya melihat wajahnya saja sudah cukup baginya. Begitu Alex membulatkan tekadnya dan bangkit perlahan dari tempat tidurnya agar tak membangunkan Ibra yang baru saja tertidur.
Alex berdiri gelisah didepan kamar yang kini ditempati Pandan. Ragu untuk mengetuk pintu. Akhirnya ia memilih membuka kenop pintu dengan penuh kehati-hatian. Beruntungnya ia, karena Pandan ternyata tak mengunci pintu kamarnya.
Alex mendekat perlahan, menatap wajah ayu yang tengah terlelap dengan begitu damainya itu. Jika dicermati, semenjak tinggal dikota bersamanya, Pandan semakin terlihat cantik dan terawat. Alex mengakui itu.
"Astaga ... kenapa kamu bisa membuatku tergila-gila seperti ini Pandan ...," gumamnya sembari ikut berbaring disisi wanita itu. Matanya menatap tangan mungil yang begitu menggodanya untuk ia genggam.
Sedetik, dua detik berpikir. Sebentar saja, batinnya. Ia sungguh tak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak menggenggam tangan putih itu. Mengecupnya perlahan dengan penuh perasaan. Sebelum akhirnya sebuah suara kembali mengagetkannya lagi dan lagi.
"MAS ALEX ...." Suara Ibra yang begitu dekat dengan kamar Pandan, membuat Alex reflek melepaskan genggamannya dan tanpa sengaja mendorong tubuh Pandan yang memang tidur dipinggir tepat tidur itu hingga hampir saja membuat Pandan terjatuh ke lantai kalau saja gadis itu tak segera sadar dan menahan tubuhnya sendiri. Jangan tanyakan lagi betapa horornya wajah Pandan kini yang tengah menatap tajam padanya. Alex rasa-rasanya sanggup berlutut dihadapan wanita itu supaya Pandan mau memaafkannya.
"Maaf maaf maaf ...," ucap Alex lirih memohon sembari bangkit dari tempat tidur secepat kilat. Tak ingin Ibra melihatnya dalam posisi yang bisa membuatnya salah paham itu.
"Mas Alex ngapain dikamarnya Pandan? Aku cari-cari kirain kemana ..." ucap Ibra dengan muka bantalnya itu penuh selidik menatap dua sejoli dihadapannya itu. Seketika Alex menyesali dirinya yang tak langsung menutup pintu tadi. Sial sekali kamu hari ini Alexxx!!!
"A-aku hanya lapar dan membangunkan Pandan untuk membuatkan mie, Ibraaa. Kenapa kamu selalu mengganggu saja, hah!" Alex tak dapat menyembunyikan rasa gugup dan kesal yang muncul bersamaan karena kemunculan adiknya yang mengagetkannya itu lagi dan lagi itu.
"Mengganggu bagaimana maksudnya?" tanya Ibra tak mengerti sembari menguap lebar.
Astagaaa, bocah ini kalau mengantuk kenapa tidak tidur saja bukannya malah keluyuran mengganggunya seperti sekarang! Kesal Alex tak kunjung mereda.
"Ash sudahlah ... aku sudah tidak lapar lagi." Alex melenggang pergi dengan membawa kekesalannya yang memuncak. Andai ibra bukan adiknya sudah ia buang ia ke tong sampah sekarang juga, gerutu Alex dongkol.
"Ya ampun Mas Alex-Mas Alex, ini kan sudah lewat tengah malam. Kasihan Pandannya juga jam segini disuruh masak, pasti dia juga capek seharian mengurus rumah. Astaga, mukanya Pandan sampai kesal begitu ... ck ck ck ... beruntung Mbak Anis punya majikan pengertian seperti aku, jarang merepotkan dia ...." Ibra malah berceloteh sendiri memuji dirinya yang begitu pengertian pada asisten rumah tangganya.
***
Jangan lupa LIKE VOTE KOMEN
Supaya author betah disini ...