Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.
Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.
Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.
Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...
...kecuali dia.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga."
Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.
Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.
Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 004
Tuan Muda Hartono
Pria di layar televisi itu baru saja menutup pemaparan ketika lampu di luar jendela apartemen Seraphina berkedip.
Hujan turun tanpa aba-aba.
Awalnya hanya garis tipis di kaca, lalu berubah menjadi tirai air yang memantulkan lampu gedung SCBD menjadi goresan panjang. Jakarta yang tadi tampak berkilau mendadak kabur. Suara petir terdengar jauh, disusul getaran ponsel di meja.
Nomor resepsionis lobi.
"Selamat malam, Bu Seraphina. Ada paket makanan atas nama Ibu. Kurir tidak bisa naik karena sistem akses penghuni baru belum aktif penuh. Apakah Ibu berkenan mengambil di lobi?"
Seraphina menatap layar televisi yang masih menampilkan wajah Reynard Hartono dalam siaran ulang pendek. Ia belum memesan makanan. Sejak pindah sore tadi, ia bahkan belum sempat membuka aplikasi apa pun.
"Siapa pengirimnya?"
"Tidak tertulis, Bu. Hanya nama Ibu dan nomor unit."
Seraphina diam sejenak. "Baik. Saya turun."
Ia mengambil cardigan tipis dan kartu akses. Di lift, pantulan wajahnya di dinding logam tampak lebih pucat daripada biasanya. Mungkin karena lelah. Mungkin karena nama Reynard Hartono masih berputar di kepalanya seperti kalimat yang belum selesai.
Lobi apartemen lantai dasar terang dan wangi. Marmer putih, sofa abu-abu, tanaman besar di sudut, petugas keamanan berdiri di dekat pintu kaca otomatis. Di luar, hujan memukul kanopi dengan keras. Kurir sudah pergi. Di meja resepsionis ada kantong kertas cokelat berisi kotak makanan hangat.
Resepsionis perempuan itu tersenyum sopan. "Ini paketnya, Bu."
Seraphina mengambilnya. Aroma bubur ayam dengan jahe tipis keluar dari celah tutup kotak.
Ia menatap label.
Tidak ada nama pengirim.
"Ada yang meninggalkan langsung?"
"Kurir, Bu. Tapi..." Resepsionis ragu, lalu melirik ke arah pintu kaca. "Tadi ada tamu menunggu di luar cukup lama. Kami pikir beliau menunggu jemputan."
Seraphina mengikuti arah pandangannya.
Di bawah kanopi, seorang pria berdiri membelakangi lobi. Setelan hitamnya basah di bagian bahu dan lengan. Rambutnya yang biasanya rapi tampak sedikit jatuh ke dahi. Di satu tangannya ada payung tertutup yang jelas tidak ia gunakan. Mobil hitam berhenti beberapa meter di depan, lampu hazard menyala pelan menembus hujan.
Seraphina tidak perlu melihat wajahnya untuk tahu.
Tubuhnya sudah mengenali cara pria itu berdiri.
Ia melangkah keluar dari pintu kaca. Udara basah langsung menyentuh pipinya.
"Tuan Muda Hartono."
Pria itu menoleh.
Dari dekat, Reynard Hartono tampak lebih nyata daripada di layar televisi. Matanya tetap gelap, tetapi tidak sedingin ketika ia berdiri di podium. Di wajahnya ada jejak hujan, dan entah kenapa itu membuatnya terlihat kurang seperti pewaris konglomerat, lebih seperti seseorang yang datang terlalu cepat atau menunggu terlalu lama.
"Kau akhirnya tahu namaku," katanya.
Suara itu rendah. Sama dengan suara empat tahun lalu, hanya lebih berat.
Seraphina mengencangkan pegangan pada kantong makanan. "Kau yang mengirim ini?"
"Kau belum makan."
"Kau tidak menjawab pertanyaanku."
"Aku menjawab alasan yang lebih penting."
Seraphina menatapnya. "Bagaimana kau tahu aku belum makan?"
Reynard memasukkan satu tangan ke saku. "Orang yang baru pindah ke apartemen baru biasanya lupa makan. Orang yang baru keluar dari rumah keluarga Lim, lebih mungkin lagi."
Kalimat itu terlalu tepat.
Seraphina menurunkan suara. "Kau mengawasiku?"
"Tidak malam ini."
"Berarti pernah."
Reynard tidak menyangkal. Hujan turun di belakangnya seperti dinding yang menutup dunia luar.
"Empat tahun lalu," kata Seraphina, "kau juga ada di rumah Lim."
"Aku ingat."
"Kenapa tidak bilang siapa namamu?"
"Kau tidak benar-benar ingin tahu malam itu." Reynard menatap kantong makanan di tangannya. "Kau hanya ingin bertahan sampai pesta selesai."
Seraphina terdiam.
Tidak ada orang lain yang tahu itu. Bahkan Meilin dan Hendrawan hanya melihat ia keluar dari ballroom. Mereka tidak tahu bagaimana ia menghitung napas di teras agar tidak menangis. Mereka tidak tahu betapa keras ia menggenggam clutch kecil supaya tangannya tidak gemetar.
Pria ini tahu.
"Dan malam ini?" tanya Seraphina. "Kenapa kau di sini?"
Reynard melangkah satu langkah mendekat. Jarak mereka masih sopan, tetapi udara di antara mereka mendadak sempit.
"Aku ingin melihat apakah kau masih berdiri terlalu dekat pintu."
Kalimat dari empat tahun lalu kembali ke ingatan Seraphina. Kalau tidak ingin didorong keluar lagi, jangan berdiri terlalu dekat pintu.
Ia hampir tertawa, tetapi yang keluar hanya napas pendek.
"Aku sudah keluar dari rumah itu."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kau basah kuyup di lobi apartemenku?"
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang mirip senyum muncul di sudut bibir Reynard. Sangat tipis, nyaris tidak terlihat.
"Karena kau tidak turun selama dua puluh menit setelah makanan sampai."
"Jadi kau memang menunggu."
"Ya."
Kejujurannya membuat Seraphina kehilangan satu lapis pertahanan.
Resepsionis di dalam lobi pura-pura sibuk dengan komputer. Petugas keamanan menatap lurus ke depan, terlalu lurus untuk disebut alami. Seraphina sadar mereka sedang menjadi pemandangan yang tidak biasa: penghuni baru dengan kantong bubur, dan pewaris Hartono Group basah kuyup di bawah kanopi apartemen.
"Masuklah," kata Seraphina akhirnya.
Mata Reynard berhenti di wajahnya. "Kau yakin?"
"Kau basah. Aku tidak sekejam itu."
"Aku tidak bertanya soal hujan."
Kalimat itu jatuh pelan, tetapi Seraphina merasakannya sampai ke ujung jari.
Ia bisa mundur. Bisa menyerahkan handuk lewat staf. Bisa menjaga malam ini tetap rapi, masuk akal, aman. Hidupnya baru saja dikacaukan oleh keluarga Lim, dan pria di depannya adalah pewaris keluarga yang lebih besar, lebih berbahaya, lebih tidak terjangkau.
Namun sejak kapan hal aman pernah membuatnya bebas?
Seraphina membuka pintu kaca dengan kartu akses. "Aku yakin."
Reynard mengikutinya masuk.
Mereka naik lift privat tanpa banyak bicara. Pantulan mereka berdiri berdampingan di dinding lift, Seraphina dengan cardigan tipis dan kantong makanan, Reynard dengan setelan basah dan wajah yang terlalu tenang. Aroma hujan bercampur dengan cologne mahal dari tubuhnya, cedar, amber, dan sesuatu yang bersih seperti udara setelah badai.
Di lantai tiga puluh dua, koridor apartemen sunyi.
Seraphina membuka pintu unitnya. "Handuk ada di kamar mandi tamu. Kau bisa keringkan rambut dulu."
Reynard masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia tidak langsung bergerak menuju kamar mandi. Pandangannya menyapu ruang tamu yang masih setengah kosong, koper belum seluruhnya dibongkar, foto lama tergeletak di meja, televisi masih menyala tanpa suara menampilkan logo Hartono Group.
Matanya berhenti pada foto itu.
Seraphina cepat mengambilnya. "Jangan sentuh barangku."
"Aku tidak menyentuh."
"Tapi kau melihat."
"Sulit tidak melihat sesuatu yang selama empat tahun juga ada di kepalaku."
Seraphina mematung.
Reynard menatapnya. Kali ini tidak ada podium, tidak ada wartawan, tidak ada nama keluarga besar di belakangnya. Hanya hujan di kaca dan napas mereka yang terlalu terdengar.
"Kau ingat gaunku," kata Seraphina.
"Biru muda."
"Kau ingat terasnya."
"Pagar batu. Bunga sedap malam. Kau berdiri di sisi kiri, dekat pilar."
"Kenapa?"
Reynard tidak menjawab cepat. Ia melepas jas basahnya, meletakkannya di sandaran kursi, lalu menggulung lengan kemeja putihnya yang juga lembap. Gerakan itu sederhana, tetapi Seraphina mendadak sadar betapa dekat jarak mereka.
"Karena malam itu semua orang memandangmu seperti masalah," katanya. "Kau satu-satunya orang di ruangan itu yang tidak menunduk."
Jari Seraphina menegang pada pinggir foto.
Tidak ada yang pernah mengatakan itu kepadanya.
Di ingatan semua orang, mungkin ia hanyalah gadis yang membuat pesta Yolanda kacau. Di ingatannya sendiri, ia adalah seseorang yang hampir hancur tetapi memaksa diri pulang dengan tenang.
Dalam ingatan Reynard, ia tidak menunduk.
Seraphina meletakkan foto itu di meja.
"Kau tidak mengenalku."
"Aku ingin."
Jawaban itu terlalu langsung.
Seraphina menatapnya, mencari tanda permainan, kesombongan laki-laki kaya, rasa ingin memiliki karena ia terlihat rapuh. Namun yang ia lihat hanya keseriusan yang membuat udara terasa berat.
"Kalau aku bilang jangan?" tanyanya.
"Aku berhenti."
"Kalau aku bilang pergi?"
"Aku pergi."
"Kalau aku bilang tetap di sini?"
Mata Reynard menggelap.
Beberapa detik berlalu. Hujan memukul kaca seperti ribuan jari.
"Sera," katanya pelan, pertama kali menyebut namanya seperti itu. "Pikirkan baik-baik."
Nama itu di mulutnya tidak terdengar seperti panggilan keluarga Lim. Tidak seperti aset. Tidak seperti kesalahan. Hanya nama, utuh, tanpa hinaan di belakangnya.
Seraphina melangkah lebih dekat.
"Aku lelah dipindahkan orang lain," ucapnya. "Malam ini, aku ingin memilih sendiri."
Reynard menahan napas.
Seraphina mengangkat tangan, menyentuh ujung lengan kemejanya yang basah. Dingin. Nyata.
"Tetap di sini," katanya.
Reynard tidak langsung menyentuhnya. Ia menunggu satu detik lagi, seolah masih memberi ruang terakhir untuk mundur. Ketika Seraphina tidak bergerak menjauh, barulah tangannya naik, menyentuh sisi wajahnya dengan sangat hati-hati.
Sentuhan itu justru membuat dada Seraphina sesak.
Di rumah Lim, semua orang seperti takut menyentuhnya karena ia membawa aib. Di sini, pria yang seharusnya paling berbahaya justru menyentuhnya seakan ia sesuatu yang mudah retak.
"Kalau kau menyesal besok pagi," bisik Reynard, "salahkan aku."
Seraphina menatap bibirnya. "Aku tidak suka menyalahkan orang atas pilihanku sendiri."
Lalu ia yang lebih dulu mencium Reynard.
Setelah itu malam kehilangan urutan yang jelas.
Ada kantong bubur yang terlupakan di meja. Ada jas basah di kursi. Ada suara hujan yang semakin deras, lalu samar, lalu tinggal menjadi latar jauh. Ada tangan Reynard yang selalu berhenti setiap kali napas Seraphina berubah, seolah menanyakan izin tanpa kata. Ada Seraphina yang menjawab dengan menariknya lebih dekat.
Ketika pintu kamar tertutup, Jakarta di balik kaca masih basah oleh hujan.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia datang ke kota ini, Seraphina tidak merasa seperti seseorang yang sedang menunggu diusir.
Pagi datang dengan cahaya pucat.
Seraphina terbangun oleh suara AC yang lembut dan rasa hangat yang masih tertinggal di seprai. Beberapa detik pertama, ia tidak langsung ingat di mana dirinya. Lalu matanya menangkap jas hitam yang sudah tidak ada di kursi, kantong makanan yang telah dibuang rapi, dan sisi tempat tidur di sebelahnya yang kosong.
Reynard pergi.
Anehnya, kamar itu tidak terasa ditinggalkan.
Di atas bantal sebelahnya ada selembar kertas putih dan sebuah kunci logam kecil. Bukan kartu akses apartemen. Kunci itu baru, mengilap, diikat dengan gantungan kulit hitam tanpa logo.
Seraphina mengambil kertasnya.
Tulisan Reynard rapi, tegas, seperti dirinya.
Kuncinya untukmu. Aku sudah lama menunggumu.