Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.
Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.
[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]
Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.
Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 028: Kata-kata yang Mengubah Segalanya
Dan suara itu tidak bisa dimasukkan kembali ke balik pintu.
Sidang pemeriksaan pokok dimulai tiga hari kemudian.
Ruang sidang Pengadilan Agama Surabaya lebih ramai daripada saat mediasi. Tidak ada kamera media, tetapi setiap orang di ruangan itu tahu perkara ini bukan sekadar perebutan jadwal kunjungan. Di satu sisi duduk Ardi bersama Pak Prabowo dan timnya. Di sisi lain, Dewi duduk dengan wajah pucat yang ditutup riasan tipis, Ibu Sumiati di belakangnya, dan dua pengacara yang kini tampak jauh lebih kaku.
Hartono duduk di bangku pengunjung paling belakang.
Ia tidak bicara.
Namun kehadirannya seperti tanda bahwa Ardi tidak lagi datang sendirian.
Hakim membuka sidang dengan suara tenang.
“Perkara hak asuh anak atas nama Gatra Ardi Pratama dan Sari Ardi Pratama. Para pihak sudah menjalani mediasi dan tidak mencapai kesepakatan. Hari ini majelis akan mendengar keterangan dan memeriksa bukti.”
Kata bukti membuat Ibu Sumiati menegakkan punggung.
Pengacara Dewi bicara lebih dulu. Argumennya rapi, hampir dingin.
“Yang Mulia, anak-anak berusia di bawah tujuh tahun. Secara umum, anak seusia itu lebih membutuhkan pengasuhan ibu. Termohon, Ibu Dewi, selama ini menjadi pengasuh utama. Pemohon memiliki riwayat pidana. Kami menilai perpindahan hak asuh kepada pemohon berisiko bagi stabilitas psikologis anak.”
Riwayat pidana kembali diletakkan di meja.
Ardi menatap lurus ke depan.
Ia sudah tidak takut pada kata itu. Kata itu bagian dari hidupnya, tetapi bukan seluruh hidupnya.
Pak Prabowo berdiri.
“Yang Mulia, kami tidak menyangkal prinsip umum bahwa anak kecil membutuhkan kedekatan dengan ibu. Namun hukum juga meminta majelis melihat kemaslahatan anak secara konkret. Kami mengajukan bukti bahwa pemohon kini memiliki pekerjaan tetap, SIP aktif, tempat tinggal layak, kemampuan ekonomi, dukungan keluarga, serta lingkungan yang lebih aman dari tekanan pihak ketiga.”
Satu per satu dokumen dibuka.
SIP Ardi.
Surat dari RSUD Soetomo.
Pengangkatan Profesor Klinis Tamu UNAIR.
Kontrak Saham 2% Pesona.
Dokumentasi apartemen dan kamar anak.
Surat keterangan dari Dokter Fajar, Dokter Hasan, Pak Haji Qosim, Kolonel Joni, dan Hartono.
Hakim membaca dengan teliti.
Pengacara Dewi mencoba menyerang. “Semua itu tidak menghapus fakta bahwa pemohon pernah dihukum.”
Pak Prabowo mengangguk. “Benar. Tetapi pengadilan juga harus melihat fakta bahwa setelah bebas, pemohon tidak melakukan pelanggaran baru, memulihkan izin praktiknya secara sah, menyelamatkan banyak pasien, dan membangun lingkungan stabil untuk anak-anak. Sementara pihak termohon tinggal dalam lingkungan yang dekat dengan Rangga Pradana, seseorang yang memiliki catatan hukum baru terkait gangguan pelayanan rumah sakit.”
Dewi menunduk.
Nama Rangga kini bukan lagi kebanggaan.
Ia menjadi beban.
Hakim kemudian meminta anak-anak dibawa masuk dengan pendamping. Suasana ruangan berubah seketika.
Gatra masuk sambil memegang tangan Sari.
Sari mengenakan gaun kecil warna kuning. Rambutnya diikat dua. Ia memegang boneka yang sama seperti saat video call. Gatra berusaha tampak berani, tetapi tangannya menggenggam tangan adiknya terlalu kuat.
Ardi menahan diri untuk tidak berdiri.
Hakim menurunkan suara.
“Gatra, kamu tahu ini siapa?” Ia menunjuk Ardi dengan lembut.
Gatra mengangguk cepat. “Ayah.”
“Kamu mau tinggal dengan siapa?”
Pengacara Dewi langsung berdiri. “Yang Mulia, anak seusia ini mudah dipengaruhi—”
Hakim mengangkat tangan. “Duduk. Saya hanya bertanya sederhana.”
Gatra menatap Ardi, lalu Dewi, lalu lantai.
“Gatra mau ikut Ayah.”
Dewi menutup mata.
Ibu Sumiati berbisik tajam, “Gatra...”
Hakim menoleh ke arahnya. “Tidak ada yang mengarahkan anak di ruang sidang.”
Sari mulai gelisah. Ia menarik tangan Gatra.
Hakim menatap gadis kecil itu dengan suara lebih lembut lagi.
“Sari, kamu tahu Ayah?”
Sari mengangguk kecil. “Yah.”
“Sari sayang Mama?”
Sari menatap Dewi. “Mama.”
Dewi tampak seperti hampir menangis.
Lalu hakim bertanya, “Sari takut apa?”
Tidak ada yang menyangka jawaban anak dua tahun bisa mengubah udara di ruangan.
Sari memeluk bonekanya.
“Nenek bilang ada bayi jahat di perut Mama.”
Ruangan membeku.
Dewi membuka mata, wajahnya kehilangan warna.
Ibu Sumiati seperti tersentak. “Sari!”
Hakim menatap Ibu Sumiati dengan keras.
Sari tidak mengerti ledakan orang dewasa. Ia hanya melanjutkan dengan suara kecil.
“Nenek bilang nanti Mama nggak sayang Gatra sama Sari lagi.”
Gatra langsung menarik adiknya ke belakang tubuhnya.
“Adik jangan dimarahin.”
Tidak ada suara selama beberapa detik.
Pak Prabowo menunduk, mencatat.
Pengacara Dewi pucat. Salah satu dari mereka mencoba berbisik kepada Dewi, tetapi Dewi tidak bereaksi.
Kalimat Sari membuka sesuatu yang selama ini ditutup rapat: hubungan Dewi dengan Rangga bukan hanya isu moral orang dewasa. Itu sudah masuk ke kepala anak-anak dalam bentuk ketakutan. Ibu Sumiati, entah karena marah atau panik, telah menaruh kata-kata kotor tentang bayi dalam pikiran anak dua tahun.
Hakim meminta anak-anak dibawa keluar dengan pendamping yang netral.
Gatra tidak mau bergerak sampai Ardi mengangguk.
“Ayah tunggu,” kata Ardi pelan.
Baru setelah itu Gatra membawa Sari keluar.
Sidang dilanjutkan dengan suasana berbeda.
Pengacara Dewi mencoba menahan kerusakan. Mereka berkata ucapan anak kecil tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar. Mereka berkata ibu tetap ibu. Mereka berkata masa lalu Ardi berbahaya.
Namun semua orang sudah mendengar.
Pak Prabowo berdiri untuk pernyataan akhir.
“Yang Mulia, kami tidak meminta pengadilan menghukum seorang ibu karena kesalahan pribadi semata. Kami meminta pengadilan melihat anak-anak. Gatra meminta perlindungan. Sari membawa ketakutan yang tidak seharusnya dipahami anak seusianya. Pemohon telah menyiapkan rumah, dukungan keluarga, pekerjaan, dan lingkungan. Yang ia minta bukan kemenangan atas mantan istrinya. Ia meminta kesempatan menjadi ayah.”
Ardi menunduk.
Kata ayah membuat dadanya terasa penuh.
Hakim menunda sebentar untuk musyawarah.
Waktu menunggu putusan terasa lebih panjang daripada operasi apa pun.
Dewi duduk tanpa suara.
Ibu Sumiati terus berbisik marah, tetapi tidak ada yang menjawabnya.
Ketika majelis kembali, semua orang berdiri.
Hakim membaca pertimbangan dengan lambat. Ia menyebut usia anak-anak, prinsip kepentingan terbaik bagi anak, kondisi ekonomi, tempat tinggal, dukungan keluarga, catatan hukum Rangga, tekanan emosional yang tampak dalam mediasi, dan keterangan anak yang harus dilihat hati-hati tetapi tidak boleh diabaikan.
Lalu kalimat itu datang.
“Menetapkan hak asuh anak atas nama Gatra Ardi Pratama dan Sari Ardi Pratama jatuh kepada pemohon, dr. Ardi Pratama, dengan tetap memberikan hak kunjung yang wajar kepada ibu kandung sepanjang tidak mengganggu kondisi psikologis anak.”
Ardi tidak langsung bergerak.
Seolah tubuhnya tidak percaya apa yang telinganya dengar.
Pak Prabowo menyentuh lengannya. “Dokter Ardi.”
Baru saat itu Ardi bernapas.
Di pintu samping, Gatra sudah berlari masuk karena mendengar namanya.
“Ayah?”
Ardi berlutut.
Gatra menabraknya dan memeluk lehernya.
Sari menyusul dengan langkah kecil, lalu naik ke pelukan Ardi seolah tempat itu memang miliknya sejak awal.
“Ayah pulang?” tanya Sari.
Ardi memejamkan mata.
“Kita pulang, Sari sayang.”
Dewi berdiri di dekat meja termohon.
Untuk pertama kalinya, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Tidak ada Rangga, tidak ada mobil, tidak ada pembelaan. Hanya air mata yang jatuh perlahan ketika ia melihat dua anaknya menempel pada ayah mereka.
Ardi tidak menoleh untuk menusuknya dengan kemenangan.
Ia hanya menggendong Sari, menggandeng Gatra, dan berjalan keluar.
Di luar gedung pengadilan, Hartono berdiri di bawah bayangan pohon.
Ia menatap Ardi membawa kedua anaknya, lalu mengangguk sekali.
Malam itu, di apartemen baru, Ardi memasak nasi goreng sederhana.
Gatra duduk di kursi makan dengan kaki menggantung. Sari mengantuk di kursi sebelah, sendoknya lebih sering jatuh daripada masuk mulut.
“Ayah,” kata Gatra setelah suapan terakhir. “Ini nasi goreng paling enak sedunia.”
Ardi tertawa.
Benar-benar tertawa.
Untuk pertama kalinya sejak keluar dari penjara, suara itu keluar tanpa beban di belakangnya.
Ketika anak-anak akhirnya tidur di kamar kecil dengan bantal awan, Ardi berdiri di ambang pintu lama sekali.
Panel sistem muncul pelan.
[Misi tersembunyi: Rumah untuk Gatra dan Sari.]
[Status: tahap pertama tercapai.]
[Hadiah khusus terkunci hingga stabilitas keluarga terjaga.]
[Saldo PM: 710.]
Ardi mematikan lampu kamar anak.
Di luar sana, Surya Pradana masih bergerak. Bronkosol belum terbuka. Jakarta menunggu.
Tetapi malam itu, untuk beberapa jam yang sunyi, Ardi tidak memikirkan musuh.
Ia hanya mendengar napas dua anaknya.
Dan itu sudah cukup untuk membuat seluruh dunia terasa bisa dilawan.
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭