Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
"Kalau lebih dari satu langkah, Pak Tujuh, Anda ikut saya."
Gudang lama itu mendadak sunyi.
Haji Mansur menatap perempuan di depannya. Tubuhnya tidak besar, tidak tampak seperti orang yang seharusnya membuat puluhan lelaki di pelabuhan menahan napas. Lengan bajunya baru dilipat sampai siku. Rambutnya tetap rapi. Kipas batik tidak ada di tangan, tidak ada senjata yang terlihat.
Justru itu yang membuat Haji Mansur tidak meremehkan.
Orang yang benar-benar berbahaya jarang sibuk terlihat berbahaya.
"Baik," katanya.
Ia maju lebih dulu.
Gerakannya cepat untuk ukuran tubuhnya. Tangan kanannya bergerak seolah akan menangkap bahu Mei Li, tetapi kaki kirinya sudah menyiapkan sapuan rendah. Bukan serangan kasar. Ini gerakan orang yang pernah bertarung di ruang sempit, tahu cara mematahkan keseimbangan lawan sebelum lawan sempat pamer teknik.
Mei Li tidak mundur.
Ia masuk ke jarak serangan itu.
Dalam satu napas, telapak tangannya menyentuh pergelangan Haji, memutar sudutnya sedikit, lalu bahunya menyelinap ke sisi yang salah bagi lawan. Tidak ada suara keras. Tidak ada pukulan besar. Hanya perubahan kecil pada titik berat tubuh Haji Mansur.
Lalu lelaki itu mundur.
Satu langkah.
Dua.
Tiga.
Punggungnya menghantam peti kayu.
Gudang meledak oleh keheningan yang lebih keras daripada sorak.
Anak buah Haji Mansur membeku. Salah satu bahkan sudah setengah mengangkat tangan, tetapi tidak tahu harus membantu atau pura-pura tidak melihat. Bella tersenyum tipis. Amy melirik jam, seolah hasil itu sesuai jadwal.
Haji Mansur menatap pergelangan tangannya.
Tidak sakit parah. Tidak patah. Tidak dipermalukan dengan cara yang membuatnya kehilangan muka di depan anak buah. Namun ia tahu, jika perempuan itu mau, ia bisa membuatnya jatuh ke lantai sebelum langkah kedua.
Ia kalah karena diberi kesempatan tetap berdiri.
Itu lebih berat daripada kalah karena dipukul.
Mei Li menurunkan tangan. "Tiga langkah."
Haji Mansur menatapnya lama.
Lalu ia tertawa.
Tawa itu dimulai rendah, lalu menggema memenuhi gudang. Anak buahnya saling melihat, bingung antara takut dan lega.
"Tiga langkah," ulangnya. "Saya sudah lama tidak dibuat mundur tiga langkah."
"Berarti wilayah Anda terlalu lama tidak dikunjungi orang yang tepat."
Haji tertawa lebih keras. "Mulut Anda masih lebih tajam daripada tangan Anda."
"Tangan saya sedang sopan."
Kali ini beberapa anak buah Haji tidak bisa menahan senyum gugup.
Haji Mansur mengambil tasbih di meja, menggulungnya di jari. Ia berjalan kembali ke depan Mei Li, lalu melakukan sesuatu yang membuat seluruh gudang menahan napas.
Ia menundukkan kepala.
"Jie," katanya.
Ricky, yang berdiri agak jauh, hampir tersedak.
Mei Li tidak bereaksi berlebihan. "Cepat sekali berubah."
"Saya kalah cepat. Lebih baik berubah sebelum tertinggal." Haji mengangkat wajah. Matanya sudah berbeda. Bukan tunduk karena takut, melainkan karena ia memilih menghormati kekuatan yang diakui. "Mulai malam ini, jalur pelabuhan tidak akan menahan barang Anda."
"Dan uang Tan Bao Shan?"
"Saya ambil."
Bella mengangkat alis.
Haji tersenyum. "Lalu saya kembalikan dalam bentuk informasi. Dia bayar saya untuk menahan Anda. Saya bayar hutang saya dengan memberi tahu siapa saja yang masih berdiri di belakangnya."
Mei Li menatapnya. "Saya tidak butuh orang yang hanya berpindah karena menang-kalah."
"Saya tahu." Haji Mansur menepuk dada. "Karena itu saya ikut aturan Anda. Jangan ganggu pekerja kecil, jangan sentuh anak-anak, jangan bawa barang haram lewat jalur Anda. Tiga itu saya bisa pegang."
Amy melihat Mei Li. Itu tepat tiga garis yang akan membuat Haji Mansur berguna tanpa menyeret operasi Mei Li ke wilayah yang tidak perlu.
"Kalau Anda melanggar," kata Mei Li.
"Jie boleh patahkan lebih dari pergelangan."
"Saya tidak suka mengulang peringatan."
"Saya juga tidak suka dipukul dua kali untuk pelajaran yang sama."
Haji berbalik ke anak buahnya. "Dengar semua. Mulai malam ini, kalau ada orang Tan minta jalan untuk ganggu Nona Lim, kabari saya dulu. Kalau ada yang terima uang di belakang saya, kalian sendiri yang gali lubang."
"Siap, Pak Tujuh!"
"Bukan cuma Pak Tujuh." Ia menunjuk Mei Li dengan dagu, tetapi nadanya penuh hormat. "Di depan dia, panggil Jie."
Beberapa anak buah tampak kikuk. Namun satu per satu mereka menunduk.
"Jie."
Kata itu bergerak di dalam gudang seperti pintu baru yang terbuka.
Mei Li tidak tersenyum. Namun Amy yang sudah mengenalnya lama tahu, ini kemenangan yang ia catat.
Di sudut gudang, seorang pria yang sejak tadi pura-pura menjadi pekerja logistik diam-diam menurunkan ponsel. Ia baru saja mengirim pesan ke nomor keluarga Tan.
Pak Tujuh berpihak pada Lim Mei Li.
Bella melihatnya.
Pria itu pucat.
Mei Li hanya berkata, "Biarkan dia pergi."
Amy menoleh. "Nona?"
"Tan Bao Shan perlu tahu kabar buruknya dari orang sendiri."
***
Di Tan Residence, pesan itu sampai kurang dari sepuluh menit kemudian.
Tan Bao Shan sedang duduk di ruang kerja dengan Felix dan Rachel ketika ponsel tua di meja bergetar. Ia membaca satu kalimat di layar, lalu wajahnya berubah kelabu.
Felix mendekat. "Pa?"
Tan Bao Shan melempar ponsel itu ke sofa. "Mansur berpihak pada dia."
"Tidak mungkin," kata Felix. "Pak Tujuh tidak pernah tunduk pada perempuan."
Rachel mengambil ponsel itu, membaca pesan yang sama. Pak Tujuh memanggil Lim Mei Li dengan sebutan Jie. Jalur pelabuhan tidak aman untuk Tan.
Untuk pertama kalinya sejak Jasmine mati, Rachel terlihat benar-benar kehilangan kata.
Tan Bao Shan menutup mata. "Dia mengambil uang kita, lalu memberi kita pelajaran."
Felix memukul meja. "Kalau jalur pelabuhan ikut dia, proyek utara kita mati."
"Belum mati," kata Rachel pelan.
Namun tidak satu pun dari mereka terdengar percaya.
Di luar jendela, hujan deras mulai turun lagi.
***
Saat mereka keluar dari gudang, angin laut terasa lebih dingin. Haji Mansur mengantar sampai pintu, sesuatu yang jelas jarang ia lakukan untuk tamu.
"Jie," katanya sekali lagi, kali ini lebih mantap. "Besok saya kirim daftar orang Tan yang masih main kotor di pelabuhan."
"Kirim ke Ricky."
"Siap."
Ricky menunduk, masih tampak belum sepenuhnya percaya bahwa Pak Tujuh baru saja memanggil Mei Li dengan sebutan yang biasanya hanya dipakai orang-orang dekatnya.
Di mobil, Amy menerima panggilan internasional terenkripsi.
Wajahnya berubah sebelum ia mengangkat.
"Nona," katanya setelah mendengar laporan singkat. "Dari Joanna."
Mei Li menatap layar ponsel Amy.
"Apa?"
"Ada pencarian di jaringan lama Grobe. Nama kode Anda disebut."
Bella langsung menegang. "Siapa yang mencari?"
Di seberang, suara Joanna terdengar kecil tetapi jelas melalui pengeras.
"Max," katanya. "Max sedang mencari keberadaan Evelyn di Jakarta."