NovelToon NovelToon
Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.

Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.

Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.

Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.

Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:

Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 019

Dinding Es

Seline berlari sampai koridor menuju ballroom hampir berakhir.

Baru ketika suara musik resepsi kembali terdengar jelas, ia berhenti dan menempelkan satu tangan di dinding. Selendang Oma masih ada di genggamannya, sedikit kusut tetapi tidak rusak. Napasnya berantakan. Wajahnya panas.

Ia tidak tahu apa yang lebih memalukan: tertangkap mendengar pembicaraan Kevin dan Stephanie, atau fakta bahwa sebagian kecil hatinya masih mengulang kalimat Kevin.

Karena pintunya tidak untukmu.

"Seline?" Jessica muncul dari arah ballroom. "Kamu kenapa? Oma menunggu selendang."

Seline cepat meluruskan kain itu. "Aku tersesat sebentar."

Jessica memandangnya dari rambut sampai sepatu. "Kamu bukan tipe orang yang tersesat sampai wajahnya seperti habis dikejar satpam."

"Nanti aku cerita."

"Itu artinya ada cerita."

"Jess."

Jessica menghela napas, tetapi tidak memaksa. Ia mengambil selendang dan menutupi bahu Oma Mei tanpa membuat keributan. Malam itu Seline menjaga jarak dari koridor belakang, dari taman, dan terutama dari Kevin.

Sayangnya, rumah Hartono tidak cukup besar untuk menghindari seseorang selamanya.

Keesokan paginya, setelah rombongan keluarga kembali ke Menteng dan kelelahan acara pernikahan mulai turun seperti debu, Seline sengaja memilih membantu Bi Zheng di dapur. Ia mencuci cangkir, memotong buah, mencatat kebutuhan teh Oma, apa pun yang membuatnya tidak perlu melewati ruang utama.

"Nona Seline sedang menghindari siapa?" tanya Bi Zheng tanpa melihatnya.

Pisau buah di tangan Seline berhenti. "Tidak ada."

"Kalau tidak ada, apel itu sudah habis dari tadi."

Seline melihat apel di talenan. Ia sudah mengupas kulitnya terlalu tipis sampai bentuknya aneh.

"Saya kurang tidur."

Bi Zheng hanya bersenandung kecil, jelas tidak percaya.

Menjelang siang, Seline membawa nampan air jahe untuk Oma melewati koridor samping. Ia memilih jalur yang tidak melewati ruang kerja Kevin. Justru karena itu, ia tidak siap ketika pria itu muncul dari arah tangga belakang.

Kevin berhenti di depannya.

Seline hampir menumpahkan air jahe.

"Ko Kevin."

Ia menunduk terlalu cepat. Terlalu formal. Terlalu jelas sedang berusaha tidak melihat wajahnya.

Kevin menatap nampan di tangannya. "Untuk Oma?"

"Iya."

"Setelah itu, sampaikan pada Mama."

Seline mengangkat mata sedikit. "Sampaikan apa?"

"Aku keluar kota sore ini."

Kalimat itu lebih mirip instruksi daripada permintaan. Seline memegang nampan lebih erat.

"Bukankah Ko Kevin bisa memberi tahu Tante Lilian sendiri?"

Pertanyaan itu keluar sebelum ia sempat menahannya.

Kevin menatapnya.

Seline langsung menyesal. "Maaf. Maksud saya..."

"Mama sedang bersama tamu Wijaya."

Nama itu membuat Seline diam.

Di ruang utama tadi, Seline memang sempat melihat pelayan menyiapkan teh terbaik dan piring porselen baru. Bi Zheng juga menyebut keluarga Wijaya akan mampir setelah gagal berbincang lama dengan Oma di resepsi semalam. Seline tidak bertanya siapa saja yang datang.

Sekarang ia tidak perlu bertanya.

Stephanie pasti ada di antara mereka.

"Aku tidak punya waktu menjelaskan panjang." Kevin melirik jam. "Bilang saja ada urusan mendadak di luar kota. Dua hari."

"Kalau Tante Lilian bertanya kota mana?"

"Surabaya."

Jawaban itu membuat napas Seline tertahan sepersekian detik.

Kevin melihat reaksinya. "Ada masalah?"

"Tidak."

Surabaya lagi. Kota itu akhir-akhir ini seperti terus dipanggil dari arah berbeda: Tao, Bryan, Wijaya, dan sekarang alasan perjalanan Kevin.

"Urusan proyek hotel," tambah Kevin. "Kalau Mama bertanya terlalu banyak, bilang Anton sudah menyiapkan berkas."

"Kenapa saya?" Pertanyaan itu kali ini lebih pelan, tetapi lebih jujur.

Kevin tidak langsung menjawab. Di antara mereka, uap tipis dari air jahe naik dan hilang.

"Karena kalau aku bicara langsung, Mama akan menahan aku sampai tamu datang."

"Dan kalau saya yang bicara, Tante Lilian akan bertanya pada saya."

"Jawab seperlunya."

Itu terdengar mudah bagi Kevin. Bagi Seline, setiap jawaban di rumah ini bisa tumbuh kaki dan berjalan ke mulut orang lain.

Seline memikirkan Stephanie. Memikirkan pertanyaan semalam. Memikirkan keluarga Wijaya yang mungkin datang dengan maksud yang tidak jauh dari itu.

"Baik," katanya akhirnya.

Kevin tidak bergerak pergi. Matanya berhenti di wajah Seline, lalu turun sebentar pada tangannya yang masih memegang nampan.

"Kemarin malam."

Jantung Seline langsung naik. "Saya tidak sengaja mendengar."

"Aku belum bertanya."

Wajah Seline panas lagi.

Untuk pertama kalinya hari itu, sudut mulut Kevin seperti bergerak, terlalu tipis untuk disebut senyum.

"Jangan berlari di hotel," katanya. "Lantainya licin."

Lalu ia pergi, meninggalkan Seline berdiri dengan nampan dan jantung yang bekerja tidak sesuai aturan.

Seline menyampaikan air jahe pada Oma, lalu mencari waktu yang tepat untuk memberi pesan pada Lilian. Sayangnya, waktu yang tepat tidak pernah datang. Lilian berada di ruang makan kecil bersama Tante Chen, Tante Liu, Vivian, Jessica, dan beberapa anggota keluarga muda. Mereka sedang membahas kunjungan keluarga Wijaya yang tertunda dari semalam.

Di meja sudah ada kotak kue dari tamu Wijaya. Pita peraknya belum dibuka. Nama keluarga itu tercetak kecil di kartu ucapan, membuat liontin di balik baju Seline terasa semakin berat. Di sudut ruangan, dua rangkaian bunga putih juga baru tiba. Semuanya terlalu rapi untuk kunjungan biasa.

Begitu Seline masuk, Vivian langsung melihatnya.

"Ada apa, Seline?"

Seline menunduk pada Lilian. "Tante Lilian, Ko Kevin menitip pesan. Beliau harus keluar kota sore ini karena urusan mendadak. Mungkin dua hari."

Sendok di tangan Vivian berhenti.

Lilian tampak terkejut. "Kevin bilang padamu?"

"Iya, Tante. Tadi di koridor."

"Dia tidak bilang kota mana?"

Seline merasakan Tante Chen langsung menatapnya lebih tajam.

"Surabaya, Tante. Urusan proyek hotel. Anton sudah menyiapkan berkas."

Lilian menghela napas, setengah cemas setengah kesal. "Anak itu selalu begini kalau tidak mau bertemu orang."

Kalimat itu keluar terlalu jujur. Ruangan menangkapnya.

Lilian tampak baru sadar setelahnya. Ia menutup mulut sebentar, lalu melihat Seline seolah gadis itu tanpa sengaja memegang rahasia kecil keluarga inti.

Seline tahu, sejak detik itu, posisinya di ruangan berubah lagi.

Tidak lebih aman.

Tante Chen meletakkan cangkirnya perlahan. "Kenapa Kevin tidak memberi tahu langsung pada Mama-nya?"

Seline menjaga wajahnya tetap tenang. "Saya tidak tahu, Tante. Saya hanya menyampaikan pesan."

Jessica yang duduk di samping Vivian langsung berkata, "Mungkin Ko Kevin buru-buru."

"Buru-buru tapi sempat bicara dengan Seline," Vivian menyahut manis.

Ruangan menjadi lebih tenang.

Seline merasakan semua mata mulai bergerak ke arahnya satu per satu. Lilian tampak bingung. Tante Chen terlalu tenang. Tante Liu penasaran. Jessica mengerutkan kening, siap membela tetapi belum tahu dari sisi mana.

Vivian menatap Seline dengan senyum yang dulu ia pakai pada hari pertama di kamar belakang.

"Kenapa Ko Kevin hanya bicara dengan kamu?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!