NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23 Undangan dari Permaisuri

Permaisuri Ratih mendengar kabar kejatuhan Kertanegara sebelum matahari benar-benar tenggelam.

Ia tidak melempar cangkir seperti Baskara. Ia bahkan tidak mengerutkan dahi. Di Puri Ratih, lampu minyak baru dinyalakan, wangi bunga kenanga memenuhi ruangan, dan perempuan paling berkuasa di belakang keraton itu hanya menyentuh Cap Permaisuri di meja rendahnya.

"Keluarga Kertanegara terlalu lambat membersihkan jejak," katanya.

Baskara berdiri di hadapannya dengan rahang kaku. Sejak kembali dari Balai Agung, ia menahan marah sampai pelipisnya terasa berdenyut.

"Kakanda tidak seharusnya tahu jalur air itu."

"Orang yang kalah selalu bertanya dari mana musuh tahu." Ratih mengangkat mata. "Yang harus kau pikirkan adalah apa yang akan ia lindungi setelah ini."

Baskara terdiam.

Ratih tersenyum tipis. "Istrinya."

Nama itu tidak perlu diucapkan. Dewi Anindya telah menjadi titik lunak sekaligus tembok baru bagi Puri Timur. Selama perempuan itu masih lemah setelah jatuh ke air, semua orang di belakang istana tahu ada celah yang bisa disentuh tanpa terlihat seperti serangan.

"Jangan kotori tanganmu lagi untuk sementara," lanjut Ratih. "Biarkan ibumu mengurus urusan perempuan."

Ia memberi isyarat kepada dayang tua. Sebuah surat undangan dibawa masuk, kertasnya harum dan halus.

"Kirim ke Puri Timur besok pagi. Katakan Permaisuri ingin mengajari Putri Mahkota tata cara memimpin upacara keluarga raja. Setelah jatuh sakit, ia tentu perlu kembali belajar berdiri di depan para selir dan istri bangsawan."

Baskara memahami maksudnya. Jika Anindya datang, tubuhnya akan dipaksa bertahan di hadapan banyak mata. Jika ia menolak, Ratih akan menyebutnya tidak menghormati Permaisuri.

"Dan jamu itu?" tanya Baskara.

Ratih melirik mangkuk kecil di samping nampan.

"Hanya ramuan penghangat. Semua orang akan mengatakan aku perhatian."

***

Surat itu tiba di Puri Timur saat Anindya baru selesai meminum jamu dari Tabib Suradi.

Wulan menerima surat dengan dua tangan, lalu membawanya ke sisi dipan. "Gusti Putri, dari Puri Ratih."

Anindya membaca isinya sekali. Wajahnya tidak berubah, tetapi jarinya berhenti di tepi kertas.

"Besok pagi," katanya pelan. "Di pendopo dalam."

Arjuna yang baru masuk bersama Adi langsung melihat warna pita pada surat itu. Putih gading, simpulnya rapi, tetapi satu helai benang hitam terselip di bagian bawah. Mata Arjuna mengeras hanya sekejap.

Adi juga melihatnya. Ia menunduk lebih dalam, tanda bahwa pesan dari salah satu mata Puri Timur di belakang istana sudah sampai.

"Permaisuri memanggilmu?" tanya Arjuna.

Anindya menyerahkan surat itu. "Mengajari tata cara upacara keluarga raja."

"Tubuhmu belum kuat."

"Jika hamba menolak, orang akan berkata Putri Mahkota baru saja disayang Pangeran Mahkota lalu sudah berani mengabaikan Permaisuri."

Kalimat itu terlalu tepat. Arjuna duduk di tepi dipan, menahan keinginan untuk merobek surat tersebut di depan Anindya.

"Kau tidak perlu membuktikan apa pun kepada mereka."

Anindya menatapnya lama. "Kakanda sendiri yang membuat seluruh keraton melihat hamba sebagai bagian dari Puri Timur."

Panggilan itu membuat tangan Arjuna yang memegang surat berhenti.

Ini bukan pertama kalinya Anindya berkata lembut. Namun kata Kakanda keluar dengan sadar, bukan karena sopan santun kosong. Ada kepercayaan kecil yang sedang membuka pintu, dan ia takut menggenggamnya terlalu keras.

"Karena itu," lanjut Anindya, "hamba tidak bisa selalu bersembunyi di balik selimut."

Arjuna menurunkan pandangan pada selimut di pangkuannya. Kemarin ia menarik kain itu ke bahu Anindya seperti menahan dunia agar tidak menyentuhnya. Hari ini, istrinya sendiri meminta berdiri.

"Aku tidak akan membiarkanmu berdiri sendirian."

"Jika Kakanda datang bersama hamba, Permaisuri akan berkata hamba tidak berani tanpa suami."

"Aku tidak harus berjalan di sampingmu untuk menjagamu."

Anindya memahami ada sesuatu di balik suara rendah itu. Ia melirik pita surat. "Ada kabar lain?"

Arjuna tidak berbohong. "Seseorang di Puri Ratih mengirim tanda. Ada jamu yang disiapkan untukmu."

Wulan langsung pucat. "Jamu?"

"Belum tentu racun," kata Arjuna. "Justru karena belum tentu, mereka berani menaruhnya di depan banyak orang."

Anindya menarik napas pelan. Jika ia menuduh tanpa bukti, ia yang terlihat tidak tahu adat. Jika ia minum dan tubuhnya kambuh, Ratih bisa mengangkat alis sambil berkata semua itu demi kesehatannya.

"Kalau begitu," kata Anindya, "kita perlu membuatnya menjadi bukti."

Arjuna menatapnya. Di mata istrinya, masih ada lelah, tetapi juga cahaya yang ia kenal dari kehidupan sebelumnya. Cahaya seorang perempuan yang tidak minta diselamatkan dari perang, melainkan diberi tempat di peta.

Untuk sesaat, rasa sakit dari masa lalu menusuk dadanya.

Dulu ia membuat perempuan ini berdiri sendirian terlalu lama.

Kali ini, ia akan berdiri di tempat yang tidak terlihat, tetapi cukup dekat untuk menangkapnya jika ia jatuh.

***

Keesokan paginya, pendopo dalam Puri Ratih dipenuhi perempuan istana.

Beberapa selir duduk di sisi kanan. Istri pejabat tinggi duduk di sisi kiri. Di tengah, Permaisuri Ratih mengenakan kain batik halus dengan tusuk konde emas. Senyumnya lembut seperti permukaan air yang menutupi sumur dalam.

Anindya masuk dengan langkah terukur.

Wulan berjalan setengah langkah di belakangnya. Wajah dayang itu tenang, meskipun tangannya menggenggam kotak kecil berisi obat dari Tabib Suradi.

"Gusti Putri akhirnya datang," kata Ratih. "Kami semua khawatir mendengar tubuhmu belum pulih."

Anindya memberi hormat. "Terima kasih atas perhatian Permaisuri."

"Duduklah. Jangan terlalu memaksakan diri. Bagaimanapun, seorang Putri Mahkota harus tahu kapan tubuhnya kuat dan kapan ia perlu mendengar nasihat orang yang lebih tua."

Beberapa perempuan menunduk, menyembunyikan senyum kecil.

Anindya duduk tanpa membalas sindiran itu. "Nasihat Permaisuri tentu hamba dengarkan."

Ratih mengangkat tangan. Seorang dayang membawa nampan berisi mangkuk jamu berwarna cokelat gelap. Aromanya tajam, campuran jahe, serai, dan sesuatu yang lebih pahit di belakang lidah.

"Ini ramuan penghangat dari dapur Puri Ratih. Aku sendiri yang memerintahkan agar dibuat untukmu. Minumlah selagi hangat."

Semua mata tertuju pada mangkuk itu.

Wulan hampir maju, tetapi Anindya menggerakkan jari sedikit. Jangan.

Anindya menerima mangkuk itu dengan dua tangan. Uapnya menyentuh wajahnya. Perutnya yang belum benar-benar pulih terasa menegang hanya karena mencium bau pahitnya.

"Permaisuri sangat baik," katanya.

Ratih tersenyum. "Kesehatan menantu kerajaan adalah urusan seluruh istana."

Mangkuk itu hampir menyentuh bibir Anindya ketika suara langkah terdengar dari luar pendopo.

"Kalau begitu, izinkan Pengadilan Kesehatan Keraton mencatat ramuan itu."

Semua perempuan menoleh.

Tabib Kerajaan Suradi masuk dengan membawa kotak obat, diikuti Adi dan dua abdi dalem yang membawa papan catatan. Ia memberi hormat kepada Ratih, lalu kepada Anindya.

Wajah Ratih tetap lembut. "Tabib Suradi? Siapa yang memanggilmu?"

Suradi menunduk. "Perintah Pangeran Mahkota, Permaisuri. Mulai hari ini, semua ramuan untuk Putri Mahkota harus dicatat. Tubuh Gusti Putri sedang dalam masa pemulihan setelah jatuh ke air. Ramuan yang salah bisa merusak pengobatan."

Pendopo menjadi sunyi.

Ratih meletakkan cangkir teh di tangannya. "Apakah maksudmu dapur Puri Ratih sembarangan?"

"Hamba tidak berani menilai dapur Permaisuri." Suradi tetap menunduk. "Hamba hanya menjalankan perintah medis."

Anindya menurunkan mangkuk perlahan. Tangannya sedikit dingin, tetapi punggungnya tetap tegak.

"Kalau begitu, sebaiknya dicatat," katanya lembut. "Agar perhatian Permaisuri tidak disalahpahami siapa pun."

Senyum Ratih membeku setipis benang.

Suradi membuka kotak kecil, mengambil sendok perak, lalu menyentuh dasar mangkuk. Ketika cairan diaduk, endapan putih tipis naik dari bawah seperti debu yang lama disembunyikan.

Seorang dayang Puri Ratih yang berdiri di dekat tiang tiba-tiba menunduk terlalu cepat.

Arjuna tidak ada di pendopo. Namun jejak perintahnya memenuhi ruangan, rapi dan dingin.

Suradi mengangkat sendok itu. "Permaisuri, ramuan ini tidak sesuai dengan catatan pengobatan Gusti Putri."

Ratih menoleh pada dayang pembawa nampan. "Siapa yang menyiapkannya?"

Dayang itu berlutut dengan wajah pucat. "Hamba hanya menerima dari dapur, Permaisuri."

Anindya menatap endapan putih di sendok perak. Ia mendengar bisik-bisik para perempuan yang tadi menunggu dirinya tersandung.

Kali ini, suara mereka bukan mengejek.

Suradi menutup kotak obatnya, lalu berkata dengan tenang, "Sebelum siapa pun menyentuh mangkuk lain, hamba perlu memeriksa seluruh nampan."

Dari balik tirai samping, terdengar langkah seseorang berhenti mendadak, lalu mundur.

Adi menoleh ke arah itu.

Matanya menyipit.

"Tahan orang di belakang tirai," katanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!