Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1 Anak Magang
Suasana ruang kerja lantai empat mendadak ramai. Bisik-bisik terdengar lebih cepat dari biasanya.
Fela, perempuan berusia 23 tahun yang dikenal disiplin dan agak kaku terpaksa menoleh saat kepalanya diketuk pelan oleh pulpen milik Siska, rekan kerjanya yang paling hobi bergosip.
“Fela, kamu sudah dengar belum?” bisik Siska dengan mata melotot. Perempuan itu mencondongkan tubuh.
“Dengar apa?" jawab Fela datar, matanya kembali menatap layar komputer.
Siska tidak peduli kalau Fela menanggapinya datar. Dia sudah terbiasa. Yang lebih penting adalah bergosip!
“Ini soal pengumuman dari ruangan bos besar sepuluh menit yang lalu. Kita bakal kedatangan anak magang baru.”
Fela mendengus. “Kantor kita tiap semester juga terima anak magang dari kampus. Apa yang aneh? Mau dia anak magang atau siapa pun, pekerjaan aku tetap menumpuk.”
“Masalahnya, yang ini bukan anak magang biasa,” potong Siska gemas. “Ini Anak Magang Khusus."
"Khusus?" Meski bertanya, tapi kepala Fela tidak menoleh.
"Ya. Entah khusus itu apa. Ini yang jadi penasaran." Siska menegaskan. "Bisa jadi ordal."
Anak magang khusus? Kerabat orang perusahaan?
Fela memijat pelipisnya. Bayangan tentang anak manja, sok tahu, yang datang ke kantor hanya untuk main ponsel atau pamer mobil sport langsung menari-nari di otaknya.
Belum lagi ingatan sialan tentang kejadian hotel dua hari lalu yang masih menghantuinya. Dompet pria, KTP biru, dan bocah SMA tampan. Pun fakta bahwa dia kabur seperti buronan. Kepalanya rasanya mau pecah.
"Selamat pagi." Pak Gunawan, Kabag HRD muncul tiba-tiba di ruangan tim Fela. Semua langsung berdiri.
"Selamat pagi, Pak."
“Mulai minggu depan, divisi ini akan kedatangan seorang pemagang khusus."
“Maaf, Pak,” sela Bimo tim desain grafis. “Apakah pemagang ini punya kualifikasi khusus? Mengingat kita sedang sibuk menyiapkan proyek besar.”
Pak Gunawan tersenyum misterius.
"Pokoknya ajari dia, bagaimana dunia kerja yang sebenarnya," ujar Pak Gunawan.
Dia pasti saudaranya! dengus Fela.
Siska, Mirin dan Bimo langsung saling tatap. Orang dalam!
Siska mengangkat tangan. “Lalu, di mana tepatnya anak magang ini akan ditempatkan, Pak?”
Pak Gunawan menunjuk Fela. “Tentu saja disini. Tim Fela. Saya tahu kamu adalah mentor terbaik, tegas, dan tidak pilih kasih. Saya ingin anak ini ditempa oleh kamu agar dia tidak manja.”
Fela menelan ludah. “Tapi Pak, tim saya sedang memegang proyek yang sangat penting.”
“Tidak ada tapi-tapi, Fela. "Ini perintah.” potong Pak Gunawan mutlak.
"Baik." Fela langsung mengangguk. Percuma debat.
“Tugasmu simpel. Ajari dia dari nol. Anggap dia staf biasa, tapi jangan sampai dia lecet," ujar Pak Gunawan.
Kata lecet itu tekanan bahwa anak ini sangat penting. Jadi harus dijaga dengan baik dan benar. Fela menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran dadanya yang kian bergemuruh tak karuan. Beban berat ini terasa sangat tidak adil bagi pundaknya yang sudah lelah.
Aku lelah!!
Pak Gunawan pergi.
“Tapi ini bisa jadi petaka, Fel. Kamu tahu sendiri kan tipe anak orang kaya yang dipaksa magang? Pasti malas, telat terus, dan kalau ditegur sedikit langsung mengadu ke bapaknya.” Siska bicara.
“Ya kamu jangan galak-galak makanya. Pasang muka ramah sedikit, siapa tahu kamu kecipratan bonus saham,” canda Bimo.
"Benar juga. Hahahaa."
Fela hanya diam mendengarkan rekannya bicara.
Mirin melirik. Lalu menggeser kursinya agar lebih dekat. "Masih memikirkan hal itu?" tanya Mirin sahabatnya paham.
Fela tersenyum tipis tanpa mengiyakan. 'Hal itu, tentu saja masih dalam ingatannya. Tidak mungkin dia bisa melupakannya secepat mungkin. Bahkan dia masih teringat dengan Dion brengsek itu.
***
Hari Senin yang pun tiba. Suasana kantor mendadak sangat rapi. Tim Fela penasaran seperti apa rupa si “anak magang khusus” itu.
Fela berdiri di dekat meja resepsionis bersama Pak Gunawan. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit.
"Dia belum datang, Pak?" tanya Fela yang merasa waktunya terbuang percuma karena menunggu anak magang itu datang.
"Tunggulah. Mungkin jalanan macet," ujar Pak Gunawan penuh dengan pemakluman.
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Ting!
Seorang pemuda keluar dari lift. Dia mengenakan kemeja putih bersih yang pas di tubuh. Celana kain warna abu-abu dan membawa tas punggung kulit.
Rambutnya ditata rapi. Wajahnya bersih, dengan garis rahang yang tegas. Namun, ada aura tenang dan dingin yang memancar dari caranya berjalan. Dia terlihat keren. jelas sekali, dia masih sangat muda. Apalagi seragamnya.
Seragam? Fela mengerutkan kening. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Ya, anak magang itu memakai seragam abu-abu putih!
Dia masih SMA???!!
Pemuda itu berjalan mendekat dengan langkah santai namun penuh percaya diri. Senyum tipis yang terukir di sudut bibirnya terlihat sangat jahil, kontras dengan tatapan matanya yang tajam dan dewasa.
Tunggu. Wajah itu... Kenapa enggak asing?
“Ah, ini dia! Fela, perkenalkan. Ini Kenzo," kata Pak Gunawan.
Pemuda itu berdiri tepat di depan Fela. Tingginya yang menjulang membuat Fela harus mendongak.
Pemuda itu mengulurkan tangannya. “Halo. Nama saya Kenzo,” ucapnya dengan suara berat yang tenang.
"Kenzo?" Sepertinya nama yang baru-baru ia temukan di suatu tempat.
“Iya, Kak,” sahut Kenzo sopan.
"Kenalkan aku Fela dari divisi periklanan," ujar Fela mengulurkan tangan secara resmi.
"Ya," sambut bocah itu sambil tersenyum. Jemari Kenzo menggenggam tangan Fela. Menjabatnya dengan kehangatan yang mendadak membuat Fela merinding.
"Dia manajer divisi periklanan, Kenzo. Kamu akan banyak berkomunikasi dengan dia," ujar Pak Gunawan.
"Ya." Kenzo mengangguk paham. “Saya baru selesai ujian nasional minggu lalu. Mohon bantuannya, Kak Fela," ujarnya dengan senyum miring.
Tatap mata itu dan senyum itu juga tidak asing. Fela terus merasa ada yang janggal. Genggaman tangan anak ini juga belum terlepas. Malah terasa sedikit lebih erat. Seperti mengunci pergerakan Fela.
Mata Fela turun dan menajam melihat ke arah tangannya. Akhirnya jabatan tangan mereka terlepas.
"Ya," sahut Fela tenang tapi otaknya tidak.
Kenzo. Nama itu asing, tapi dia ingat foto di KTP. Persis anak ini. Apakah dia ...
Bibir Kenzo tersenyum makin lebar. Seolah tahu wanita di depannya sedang mengumpulkan ingatan. Matanya tak lepas dari Fela yang sedang berpikir keras.
"Perhatikan dia dan ajari dia baik-baik, Fela. Dia ..."
Saat Pak Gunawan bicara sambil melihat pada Fela, Kenzo melakukan sesuatu.
Telunjuk bocah itu terangkat. Menunjuk tepat ke arah Fela dengan ketukan pelan di udara.
Hai, Fela. Aku berhasil menemukanmu. Kenzo mengeja sebuah kalimat tanpa suara.
Sial.
Fela langsung membeku dan abai kata-kata Pak Gunawan.
Sial.
Otaknya mendadak macet total, memutar kembali memori KTP biru yang dia temukan di dompet pria itu. Semuanya kembali lagi ke waktu itu.
Kilasan malam berselimut alkohol, ranjang berantakan, dan status anak di bawah umur yang melekat pada cowok di depannya langsung menghantam kepala Fela. Mata Fela membulat sempurna.
Dia bocah yang ada dihotel!!