"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13.Gadis sok bijak.
Setelah berjalan cukup jauh hingga suara percakapan dari rumah kepala desa tidak lagi terdengar, Rama tiba-tiba menghentikan langkahnya dengan gerakan keras. Ia menarik pergelangan tangannya dengan kuat hingga terlepas dari genggaman Ivy, lalu mengusap-usap kulitnya seolah baru saja memegang sesuatu yang asing dan tidak nyaman. Wajahnya terlihat semakin kesal dan bingung dengan kelakuan gadis di hadapannya.
“Dasar sembarangan! Apa kau kira aku ini mainan? Tadi dicium seenaknya berulang kali, sekarang ditarik seenaknya tanpa izin. Jangan-jangan… kau benar-benar tertarik padaku dan menggunakan segala cara untuk mendekat, ya?” ucap Rama dengan nada tegas dan sedikit mengejek, sambil menatap Ivy dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. “Dengar baik-baik, gadis muda. Aku tidak punya ketertarikan sedikit pun pada wanita seumuranmu yang masih labil. Sebaiknya kau pikirkan urusan sekolah dan masa depanmu sendiri daripada membuang waktu mengejar pria yang jelas-jelas tidak menginginkanmu. Itu saran terbaik yang bisa kuberikan agar kau tidak malu sendiri nantinya.”
Mendengar ucapan yang merendahkan itu, raut wajah Ivy seketika berubah dingin. Ia merasa tersinggung bukan karena dianggap tidak menarik, melainkan karena Rama terus-menerus menilai dirinya dari pandangan yang sempit dan salah. Ia menatap lurus ke mata pria itu tanpa rasa takut sedikit pun, lalu menjawab dengan nada tenang namun tajam.
“Siapa bilang aku mengejarmu? Kalau tadi aku tidak menarikmu pergi, mungkin saat ini kau sudah terlibat perkelahian atau bahkan diusir secara paksa dari desa ini. Kau tahu tidak siapa Pak Aman itu? Dia bukan kepala desa biasa yang hanya bisa diam mendengar kata-kata kasar orang luar. Dulu dia pernah masuk penjara bertahun-tahun karena kasus pembunuhan. Saat itu ada pengusaha besar yang mencoba mengambil tanah desa ini dengan cara licik dan menyakiti warga, hingga membuat beberapa orang kehilangan tempat tinggal. Dalam amarahnya, Pak Aman menyerang pengusaha itu hingga nyawanya melayang. Dia hanya dimaafkan dan kembali menjadi warga terhormat setelah membuktikan kesungguhannya menebus kesalahan. Jadi, kau pikir dia akan diam saja mendengar perkataanmu yang merendahkan tempat tinggalnya?” jelas Ivy dengan nada meyakinkan, sengaja sedikit melebih-lebihkan cerita untuk menakut-nakuti Rama.
Awalnya Rama hanya mendengus dan merasa cerita itu hanya omong kosong belaka. Namun, melihat tatapan serius Ivy dan mengingat kembali raut wajah tegas serta sorot mata Pak Aman yang terasa mengintimidasi tadi, rasa ragu perlahan mulai menyelinap masuk ke dalam hatinya. Ia berusaha terlihat tenang, namun tanpa disadari ujung jarinya sedikit bergetar dan kakinya terasa agak kaku berdiri di tempat itu.
Belum sempat Rama menyangkalnya, terdengar langkah kaki tergesa dari belakang. Bibi Nora dan Larry akhirnya berhasil menyusul mereka, napasnya terengah-engah karena mengejar dari tadi.
“Nona, tolong jangan berjalan terlalu cepat! Bibi tidak sanggup mengikuti,” keluh Bibi Nora sambil menyeka keringat di dahinya.
Sementara itu, Larry hanya berdiri di samping tuannya dengan pandangan waspada, siap bertindak jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi.
Melihat mereka sudah berkumpul kembali, Ivy mengubah nada bicaranya menjadi lebih santai dan mengarahkan pandangannya ke jalan setapak yang membelah desa. “Sudah, jangan bicara soal itu lagi. Kalau kau benar-benar ingin mengerti mengapa warga desa ini begitu keras kepala menolak tawaranmu, ikutlah aku sebentar. Aku akan tunjukkan apa yang selama ini tidak kau lihat dari balik lembaran kertas perhitungan keuntungan semata.”
Rama ingin sekali menolak, namun rasa penasaran yang muncul sekaligus rasa ingin membuktikan bahwa dirinya benar membuatnya mengangguk pelan. “Baiklah, aku ikuti. Tapi ingat, hanya untuk melihat apakah benar ada alasan yang masuk akal atau hanya omong kosong belaka.”
Selama perjalanan, Ivy berjalan di depan sambil menjelaskan dengan suara lembut namun jelas. Ia menunjukkan ke arah sawah yang tertata rapi, sungai yang airnya jernih mengalir melintasi desa, serta hutan kecil yang menjadi sumber segala kebutuhan hidup warga.
“Lihatlah, Tuan Rama. Mereka tidak hidup dalam keterbelakangan seperti yang kau katakan. Mereka hidup selaras dengan alam. Dari sungai ini mereka mendapatkan air minum dan mengairi sawah. Dari hutan ini mereka mendapatkan kayu, buah-buahan, dan tanaman obat untuk menyembuhkan penyakit. Semua yang mereka butuhkan sudah tersedia di sini. Uang satu miliar mungkin terasa sangat besar bagimu, tapi bagi mereka uang itu tidak bisa menggantikan sumber kehidupan yang telah ada sejak ratusan tahun ini. Sebagai pengusaha, kau memang berhak mencari keuntungan. Tapi menjadi pengusaha yang baik dan mulia adalah ketika kau juga memiliki empati. Ingatlah, tidak akan ada orang kaya jika tidak ada orang yang bekerja dan hidup dengan cara sederhana seperti mereka. Semua saling berkaitan dan saling membutuhkan,” ujar Ivy dengan penuh keyakinan.
Rama hanya berjalan di sampingnya sambil mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir gadis itu. Ia tidak menyela, hanya menatap sekeliling desa yang terlihat tenang dan damai. Perlahan, pandangannya yang tadinya dingin mulai sedikit melunak. Ia menyadari bahwa selama ini ia hanya melihat angka dan keuntungan, tanpa pernah mempertimbangkan sisi emosional dan keterikatan hati manusia pada tempat yang mereka cintai.
Setelah terdiam cukup lama, Rama membuang muka ke arah lain dan berusaha menutupi perubahan perasaannya dengan sikap dingin yang biasa ia tunjukkan. Ia mendengus pelan, lalu berkata dengan nada sinis, “Dasar gadis sok bijak. Berbicara seolah kau mengerti segalanya. Omongan itu terdengar indah, tapi belum tentu sesuai dengan kenyataan di dunia nyata.”
Tanpa menunggu jawaban Ivy, ia berbalik arah dan melangkah pergi menuju jalan utama yang menuju pintu keluar desa. Ivy hanya bisa mengerutkan dahi kesal mendengar sindiran itu, namun ia tetap mengikuti langkahnya dari belakang. Lagipula, pria ini adalah satu-satunya sumber harapan hidupnya, jadi ia tidak bisa membiarkannya pergi terlalu jauh tanpa alasan.
Sesampainya di ujung jalan utama, Rama berhenti berdiri di pinggir jalan raya yang masih sepi. Ia menatap ke arah kejauhan, menunggu mobil jemputan yang sudah dipesannya dari kota terdekat. Larry berdiri di sampingnya, sesekali melirik ke arah Ivy dan Bibi Nora yang masih berdiri agak jauh memperhatikan mereka.
Melihat Rama berdiri terpapar sinar matahari siang yang cukup terik, Ivy akhirnya memutuskan untuk mendekat. Ia berjalan mendekati mereka dengan langkah tenang, lalu berkata dengan nada ramah, “Tuan Rama, jika mobil jemputanmu masih lama datang, sebaiknya kau menunggu di tempat yang lebih teduh dan nyaman. Tidak jauh dari sini ada tempat yang cocok untuk beristirahat sebentar.”
Rama dan Larry saling pandang dengan tatapan bingung. “Tempat? Di mana? Bukankah kau hanya warga desa sini? Apakah rumahmu layak menerima tamu?” tanya Larry dengan nada hati-hati.
Ivy hanya tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah puncak bukit yang menjulang di belakang desa. Di sana, terlihat jelas sebuah bangunan berarsitektur indah namun tetap menyatu dengan alam, berdiri megah namun tenang di antara pepohonan rindang. Itu adalah sebuah vila mewah yang baru saja ia tempati beberapa minggu terakhir.
“Di sana. Itu tempat tinggalku untuk sementara waktu,” jawab Ivy dengan nada santai.
Melihat ke arah yang ditunjuk, kedua pria itu tertegun dan matanya terbelalak. Mereka tidak menyangka gadis yang berpakaian sederhana dan berjalan seperti warga desa biasa ternyata memiliki tempat tinggal yang begitu indah dan terlihat mahal harganya. Rasa penasaran dan kebingungan kembali muncul di benak mereka, membuat mereka semakin tidak mengerti siapa sebenarnya gadis bernama Ivy ini.
kalo berkenan mampir juga thor🤭😉