NovelToon NovelToon
Cinta Yang Menunggu Waktu

Cinta Yang Menunggu Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Single Mom
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka yang ditusuk lagi

"Dasar kamu mandul pembawa sial!"

teriak Imel sejadi-jadinya. Suaranya pecah.

Langsung dibentak suaminya, Ikbal.

"Sudah, kamu diem! Andira lagi kehilangan, bukan malah kamu hina, Mel!"

Gak terima ditegur suaminya, Imel makin jadi-jadi.

"Plok plok plok... Kamu suka dia ya, Mas? Jadi kamu bela dia ya?"

Imel tepuk tangan sambil nyengir sinis.

"Gila kamu, Mel! Ini kita lagi berduka! Jangan cari masalah ya!"

pinta Ikbal sambil melototin istrinya. Nadanya nahan emosi.

Meliat keributan itu, Rendi langsung motong dari tengah.

"Sudah, sudah, Mbak, Mas. Kita ini mau siap-siap menguburkab Renaldi.

Kenapa kalian malah salah paham sih?"

Abis memandikan jenazah Renaldi, disholatkan, terus siap dimakamkan.

Andira terus nangisin nasibnya. Gimana hidupnya nanti tanpa suami

yang apa-apa selalu bantuin dia.

Tapi Imel ini, dari tadi selalu nyalahin Andira atas kematian adiknya.

Sampe di tempat pemakaman, proses pemakaman selesai.

Satu-satu orang ninggalin tempat itu.

Intan doang yang masih setia nemenin Andira duduk di samping gundukan tanah.

"Ntan, apa salah aku? Kenapa masalah di hidup aku seakan gak ada habisnya?

Hiks... hiks... hiks..." ucap Andira sambil nangis.

Bahu nya guncang-guncang.

"Kamu kuat, Ndir. Kamu hebat. Tetep sabar ya.

Ini semua takdir Tuhan. Aku tetep jadi saudara dan sahabat kamu,"

pinta Intan sambil peluk Andira erat.

"Ayo, mari kita pulang. Gak bagus berlarut-larut dalam kesedihan ini,"

sambung Intan lagi. Dia ngusap punggung Andira.

Andira berdiri pelan. Kakinya gemetar.

Mereka balik ke rumah.

Di sana udah ada Imel sama Ikbal, Lia sama Rendi, plus anak-anak mereka.

Suasana rumah yang biasanya rame ketawa, sekarang sumpek banget.

"Dasar mandul, pembawa sial lagi,"

lagi-lagi Imel ngulang katanya. Kayak kaset rusak.

Gak tahan denger kata-kata itu, Andira angkat wajah.

Matanya sembab, tapi suaranya keluar.

"Cukup, Mbak. Cukup. Aku gak pernah mikir dan ngebayangin

semua ini bakal terjadi. Aku juga rapuh dan sakit, Mbak, sama kejadian ini.

Padahal pagi tadi kami baik-baik aja. Mas Renaldi juga sehat aja.

Tapi namanya takdir, kita gak bisa negosiasi sama Tuhan, Mbak,"

ucap Andira. Suaranya serak, tapi tegas.

"Alasan aja kamu! Ini kan yang kamu mau!"

sambung Imel. Dia nyelonong maju.

"Cukup, Mbak. Jangan berlebihan lagi," pinta Lia.

Dia narik tangan Imel.

"Oooh, jadi kamu bela dia daripada aku, kakak iparmu?" ngotot Imel. Dagunya naik.

"Bukan gitu, Mbak. Kalau aku gak jadi penengah,

kita semua jadi bahan ketawaan tetangga.

Kasian Mas Renaldi, masih basah di dalam kubur sana, Mbak.

Belum sampe sehari juga," ucap Lia lagi. Air matanya jatuh.

"Sudaaah... sudah, Mbak! Bukan kamu aja yang kehilangan Mas Renaldi,

aku juga! Cukup, Mbak, cukup!"

teriak Rendi. Adik bungsu Renaldi dan Imel. Suaranya pecah.

Imel sama suaminya sama anak-anaknya langsung bergegas pulang.

"Ayo, Mas Ikbal, kita pulang!" teriak Imel.

"Lho, Mbak, Mas kan baru dateng. Kenapa buru-buru pulang?

Kita tinggal dulu sampe tahlil tiga harinya selesai," ucap Rendi bingung.

"Halah, biarin istrinya ini tinggal sendirian.

Biar dia merenungi perbuatannya,"

jawab Imel. Dia nyeret tangan Ikbal keluar.

Imel, suami, sama kedua anaknya pulang.

Pintu dibanting keras. "Brak!"

Tinggal Rendi, Lia, Putri yang udah SD, sama Tio yang nomor dua.

Mereka tetep tinggal nemenin Andira.

"Mbak, aku pamit pulang ya. Titip Andira," kata Intan.

"Iya, Ntan. Makasih ya," jawab Lia sambil peluk Intan.

"Andira, aku pamit ya. Banyak-banyak doa.

Jangan kepikiran terus, nanti sakit," ucap Intan ke Andira sambil peluk.

"Iya, Ntan. Makasih ya," jawab Andira. Suaranya pelan banget.

Andira masuk ke kamar. Di sana ada foto pernikahan mereka.

Foto gede, dipajang di dinding. Renaldi pake jas, Andira pake kebaya putih.

Andira ambil bingkai foto itu. Dipeluk erat ke dada.

Dia nangis sejadi-jadinya. Tapi tanpa suara keras.

Cuma isakan yang nyesek banget.

"Kenapa, Mas? Kenapa secepat ini?

Kita baru aja tau satu masalah, kenapa Mas ninggalin aku sendiri buat menghadapi ini, Mas?"

Andira usap kaca foto itu pake jempolnya.

"Andira gak kuat dan gak bisa apa-apa tanpa Mas.

Kamu jahat, Mas. Kamu bilang kita hadapin sama-sama.

Tapi kamu ninggalin aku hadapin sendiri,"

bisik Andira sambil nangis dalam batin. Air matanya netes ke kaca foto.

Lia masuk ke kamar pelan. Dia duduk di pinggir kasur.

"Ndir..."

Andira langsung peluk bibi iparnya itu.

"Mbak Lia... sakit banget, Mbak... Dadaku sesek..."

"Iya, sayang. Mbak tau. Mbak juga kehilangan adik.

Tapi Mas Renaldi pasti gak mau liat kamu nyakitin diri sendiri gini,"

hibur Lia sambil elus rambut Andira.

"Mbak, aku janji. Aku gak akan cerita ke siapapun

kalau Mas yang 'mandul'. Biar aku aja yang dituduh mandul seumur hidup.

Biar nama baik Mas tetep bagus di mata keluarga,"

ucap Andira di sela isakan.

Lia kaget. Dia pegang bahu Andira.

"Kamu... kamu tau dari kapan, Ndir?"

Andira angguk. "Dari hasil dokter kemarin, Mbak.

Mas Renaldi minta aku nutupin. Katanya biar Mbak Imel gak makin jadi-jadi.

Mas lebih milih aku yang dihina, daripada dia yang dipermalukan."

Lia langsung peluk Andira kenceng. Dia ikut nangis.

"Ya Allah, Ndir... Kamu hebat banget...

Mas Renaldi pasti bangga banget punya istri kayak kamu..."

Di ruang tamu, Rendi duduk nunduk.

Tangannya mengepal. Dia denger semua omongan Imel tadi.

"Mas, Mas gak apa-apa?" tanya Putri. Anaknya yang SD.

Rendi senyum tipis. "Gak apa-apa, Sayang.

Om cuma kangen Om Renaldi."

"Mbak Imel jahat ya, Yah? Ngebentak Tante Andira,"

bisik Tio polos.

Rendi peluk anaknya. "Iya, Nak. Tapi kita gak boleh ikut jahat ya.

Kita harus jagain Tante Andira."

Malam itu, rumah sepi. Cuma kedengeran suara jangkrik sama isakan Andira.

Andira gelar sajadah di samping kasur.

Dia sholat. Sujudnya lama banget.

"Ya Allah... suamiku udah Engkau panggil...

Aku terima, Ya Allah... Tapi kuatin aku ya Allah...

Aku takut... Aku gak bisa apa-apa tanpa dia..."

Abis sholat, dia buka lemari.

Ngambil kemeja Renaldi yang terakhir dipake.

Diciumnya. Wangi parfum suaminya masih nempel.

"Mas, baju ini Mas pake pas berangkat kerja pagi tadi.

Mas bilang, 'Sayang, doain Mas ya biar cepet pulang'...

Aku doain, Mas... Tapi Mas gak pulang..."

Andira peluk baju itu sampe ketiduran di lantai.

Pagi harinya, Lia masak bubur.

"Ndir, makan dikit ya. Biar ada tenaga."

Andira geleng. "Mbak, aku gak lapar."

"Gak lapar juga harus makan, sayang.

Mas Renaldi pasti marah kalo tau kamu gak jaga diri,"

rayu Lia sambil nyuapin.

Akhirnya Andira buka mulut dikit. Air matanya jatuh ke mangkok bubur.

Rendi dari luar manggil, "Mbak Lia, tetangga pada dateng bawa nasi berkat."

Seharian rumah rame orang tahlilan.

Andira cuma duduk di pojokan, peluk foto Renaldi.

Gak ngomong sama siapapun.

Imel gak dateng. Katanya, "Buat apa? Capek.

Udah takdir dia janda."

Chat grup keluarga rame. Imel nulis:

"Kasian Renaldi. Nikah 6 tahun gak dikasih keturunan.

Sekarang meninggal muda. Istrinya pasti bersyukur bebas."

Lia liat chat itu. Tangannya gemetar.

Dia mau ngetik balasan, tapi Rendi nahan.

"Udah, Mbak. Biarin. Yang penting Andira gak baca."

Hari ketiga tahlilan, Andira minta ke makam.

Dia bawa bunga melati. Favorit Renaldi.

"mas, aku bawain bunga ya. Wangi kayak senyum Mas dulu."

Andira taburin bunga di atas kuburan.

"Mas, 6 tahun kita nikah. 6 tahun Mas jagain aku.

6 tahun Mas bilang aku cukup. Sekarang Mas pergi...

Aku janji, Mas. Aku gak akan nikah lagi.

Aku janji jaga nama baik Mas sampe aku mati."

Andira sujud di atas tanah. Cium tanah kuburan.

"Mas, aku sayang Mas. Sayang banget."

Intan dateng lagi. Dia duduk di samping Andira.

"Ndir, Mas Renaldi pasti denger dari sana.

Dia pasti bangga kamu setia."

Andira noleh. "Ntan, aku capek.

Capek dihina mandul. Capek dituduh pembawa sial.

Capek pura-pura kuat."

Intan peluk Andira. "Udah, nangis aja. Di sini gak ada Imel."

Andira nangis di bahu sahabatnya.

Jeritannya pelan. Tapi nyeseknya nembus tulang.

Malamnya di rumah, Andira liat chat lama dari Renaldi.

Tanggal 3 hari sebelum meninggal.

"Sayang, makasih ya udah mau jadi istri Mas.

Mas tau Mas banyak kurangnya. Mas gak bisa kasih kamu anak.

Tapi Mas janji, Mas akan kasih kamu bahagia seumur hidup Mas."

Andira peluk HP itu. "Mas udah tepati janji, Mas.

Mas udah kasih aku bahagia 6 tahun.

Sekarang giliran aku yang jaga janji aku ke Mas."

Dia buka laci. Ngambil buku diary.

Ditulisnya pelan, pake tinta yang bleber kena air mata.

"Hari ini Mas pergi. Rumah jadi sepi.

Tapi aku janji, Mas. Aku gak akan biarin siapapun

nginjak harga diri Mas. Aku akan bilang ke semua orang

kalau aku yang mandul. Bukan Mas.

Biar aku yang dihina. Biar Mas tetep jadi laki-laki hebat

di mata keluarga Mas. Itu satu-satunya yang bisa aku kasih ke Mas sekarang."

Andira tutup diary itu. Dipeluk ke dada.

Terus dia tidur di lantai, pake bantal guling Renaldi.

Di luar, hujan turun lagi.

Kayak langit juga nangis bareng Andira.

Tapi di dalam kamar itu, ada janji seorang istri

yang lebih kuat dari seribu cacian.

Janji buat jagain nama baik suaminya sampe akhir hayat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!