NovelToon NovelToon
Suami Dinginku

Suami Dinginku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 — Senja yang Menghangatkan Hati 2

Ruang meeting Villa Sagara akhirnya selesai Menjelang sore.

Selama beberapa jam terakhir, seluruh tim membahas detail pembangunan villa premium yang akan menjadi salah satu proyek terbesar tahun itu. Diara mempresentasikan konsep interior dengan tenang dan profesional, sementara Jifan beberapa kali memberikan masukan dari sisi bisnis dan pengembangan proyek.

Ketika rapat resmi ditutup, para peserta mulai berdiri dan saling berbincang.

Diara sedang merapikan tablet dan dokumennya ketika sebuah suara familiar terdengar.

"Diara."

Ia menoleh.

Shaka berdiri beberapa langkah darinya sambil membawa map proyek.

"Aku mau diskusi sedikit soal revisi area lounge. Nanti malam sempat?"

Belum sempat Diara menjawab, seseorang berdiri di sampingnya.

Jifan.

Tatapannya langsung tertuju kepada Shaka.

Dingin.

Terlalu dingin.

"Sisa revisi bisa dibahas besok saat sesi teknis," ucap Jifan datar.

Shaka mengangkat alis sedikit.

"Aku bertanya ke Diara."

"Dan saya menjawab sebagai pemilik proyek."

Hening sejenak.

Beberapa orang yang masih berada di ruangan itu langsung pura-pura sibuk dengan barang mereka masing-masing.

Diara langsung menyadari suasana yang mulai tidak nyaman.

"Aku rasa besok saja, Kak Shaka," ucapnya sopan.

Shaka akhirnya tersenyum tipis.

"Baiklah."

Namun sebelum pergi, ia sempat menatap Diara.

"Hati-hati."

Jifan langsung melangkah.

"Diara."

"Hm?"

"Kita pergi."

Diara hampir tersenyum melihat cara Jifan berbicara.

Tidak kasar.

Tapi jelas sekali ia tidak ingin berada lebih lama di situ.

"Baik, Mas."

Mereka pun meninggalkan ruang meeting bersama.

Matahari Bali mulai turun ketika mereka keluar dari hotel.

Langit berubah jingga keemasan.

Pantulan cahaya senja membuat laut terlihat berkilauan.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di Bali, mereka tidak langsung kembali ke kamar atau membahas pekerjaan.

Jifan berdiri di dekat lobi sambil melihat ke arah pantai.

"Lapar?"

Diara mengangguk.

"Sedikit."

"Kita jalan dulu."

Diara sedikit terkejut.

"Jalan?"

"Iya."

Sederhana.

Namun cukup membuat jantung Diara berdetak sedikit lebih cepat.

Pantai sore itu tidak terlalu ramai.

Angin laut bertiup lembut.

Suara ombak terdengar menenangkan.

Diara berjalan di samping Jifan dengan langkah santai.

Untuk beberapa menit, tidak ada yang berbicara.

Sampai tiba-tiba...

Jifan menggenggam tangannya.

Diara langsung membeku.

Langkahnya hampir berhenti.

Pipinya memanas seketika.

Ia menunduk, menatap tangan mereka yang kini saling terhubung.

Jifan yang menyadari reaksinya menoleh.

"Kenapa?"

Diara tidak tahu harus menjawab apa.

Jantungnya terasa berisik sekali.

Jifan berhenti berjalan.

Matanya menatap wajah Diara.

"Tidak suka?"

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Namun Diara bisa merasakan kesungguhan di baliknya.

Ia langsung menggeleng cepat.

"Tidak..."

"Lalu?"

Diara menunduk lagi.

Pipinya semakin merah.

"Suka kok, Mas."

Kalimat itu hampir terdengar seperti bisikan.

Namun cukup jelas untuk didengar.

Sesuatu berubah di wajah Jifan.

Bukan senyum penuh.

Hanya lengkungan tipis yang hampir tidak terlihat.

Tapi itu nyata.

Dan Diara melihatnya.

Mereka kembali berjalan.

Masih bergandengan tangan.

Masih menyusuri garis pantai.

Sesekali ombak kecil menyentuh pasir di dekat kaki mereka.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Diara merasa seperti pasangan sungguhan.

Bukan dua orang yang dipersatukan oleh keadaan.

Tapi dua orang yang sedang belajar berjalan bersama.

Saat langit mulai berubah lebih gelap, mereka memilih sebuah restoran seafood yang menghadap langsung ke laut.

Lampu-lampu kuning hangat menyala di sepanjang area makan.

Suasana romantis tanpa dibuat-buat.

Begitu sampai di meja, Jifan lebih dulu menarik kursi.

"Silakan."

Diara berkedip.

Terkejut.

Hal kecil itu mungkin biasa bagi orang lain.

Namun bagi Jifan?

Sangat tidak biasa.

"Terima kasih, Mas."

Jifan hanya mengangguk lalu duduk di hadapannya.

Makan malam berlangsung santai.

Mereka memesan ikan bakar, udang saus mentega, cumi goreng tepung, dan beberapa minuman hangat.

Sambil menikmati pemandangan laut dan matahari yang perlahan tenggelam di cakrawala.

"Kamu suka Bali?" tanya Jifan.

Diara mengangguk.

"Suka."

"Kenapa?"

"Tenang."

Jifan menatap laut sebentar.

"Lalu?"

Diara tersenyum kecil.

"Karena di sini Mas tidak terlalu menyeramkan."

Jifan langsung menoleh.

"Aku menyeramkan?"

"Kadang."

Untuk pertama kalinya, Jifan benar-benar tertawa pelan.

Dan suara itu membuat Diara terdiam sesaat.

Karena ternyata...

ia menyukai suara tawa suaminya.

Setelah makan malam selesai, mereka kembali ke hotel.

Suasana hati keduanya jauh lebih ringan dibanding beberapa hari terakhir.

Sesampainya di kamar, mereka bergantian membersihkan diri.

Diara selesai lebih dulu.

Ia keluar dari kamar mandi dengan piyama tidur yang sederhana dan nyaman.

Rambutnya masih sedikit lembap.

Saat itu Jifan sedang duduk di sofa sambil melihat laporan proyek dari tablet.

Namun begitu melihat Diara keluar...

Pandangannya berhenti.

Diara yang menyadarinya langsung gugup.

"Kenapa, Mas?"

Jifan masih menatapnya beberapa detik.

Lalu menghela napas pelan.

"Kamu sedang menggodaku?"

Mata Diara langsung membesar.

"Apa?"

"Kamu tahu maksudku."

Wajah Diara langsung merah.

"Tidak kok, Mas."

Ia memegang ujung bajunya sedikit gugup.

"Sungguh?"

"Iya."

Padahal jauh di dalam hatinya...

ia memang ingin terlihat menarik di depan suaminya.

Jifan berdiri perlahan.

Mendekat beberapa langkah.

Tidak terburu-buru.

Tidak memaksa.

Hanya berdiri cukup dekat hingga Diara bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Diara menelan ludah gugup.

"Mas..."

Namun kalimatnya berhenti di tengah.

Karena Jifan mengangkat tangan perlahan.

Menyingkirkan satu helai rambut yang jatuh di dekat wajahnya.

Tatapannya begitu lembut hingga membuat Diara hampir lupa cara bernapas.

Beberapa detik kemudian, Jifan menundukkan kepala sedikit.

Mencium bibir Diara dengan lembut.

Singkat.

Penuh kehati-hatian.

Diara mematung.

Pipinya memanas.

Jantungnya terasa tidak karuan.

Jifan mundur satu langkah.

Seolah baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan.

"Maaf."

Diara langsung menggeleng.

"Tidak perlu minta maaf."

Namun kini mereka berdua sama-sama salah tingkah.

Diara buru-buru naik ke atas ranjang.

Menarik selimut hingga hampir menutupi wajahnya.

Sementara Jifan kembali duduk di sofa dan membuka ponselnya.

Padahal pikirannya sama sekali tidak fokus pada email yang sedang ia baca.

Sekitar setengah jam kemudian, pekerjaan akhirnya selesai.

Jifan meletakkan ponselnya.

Lalu menoleh ke arah ranjang.

Diara masih terjaga.

"Aku boleh tidur di sana?" tanya Jifan pelan.

Diara langsung menunduk.

"Iya boleh, Mas."

Jifan berjalan mendekat.

Namun sebelum naik ke ranjang, ia kembali berhenti.

"Diara."

"Hm?"

"Aku boleh memelukmu?"

Wajah Diara langsung merah lagi.

Ia tidak berani menatap langsung.

Namun akhirnya mengangguk pelan.

"Iya."

Jifan tersenyum tipis.

Lalu berbaring di sampingnya.

Tidak terlalu dekat.

Memberi ruang.

Memberi waktu.

Namun beberapa saat kemudian, Diara justru bergerak sedikit lebih dekat.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah...

tidak ada lagi rasa asing di antara mereka.

Hanya dua hati yang perlahan menemukan jalannya masing-masing menuju satu sama lain.

Di luar jendela, suara ombak terus bergema.

Sementara di dalam kamar itu, jarak yang dulu terasa begitu jauh, perlahan mulai menghilang.

1
Kaira Caem
sebentar manggil mas,. sebentar manggil Jifan.. ngantuk ya thoor🤣
Kaira Caem
tapi Diara pake hijab.. kok bilang rambut nya diikat rapi.. kadang² ngelindur ini author nya
Aiza-ra: Sorry kak, baru pertama kali nulis jadi suka ada yang typo 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!