Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 : PERTEMUAN TERTUTUP PENUH KETEGANGAN
...BAB 25...
...PERTEMUAN TERTUTUP PENUH ...
...KETEGANGAN...
Ruang rapat kecil di lantai dasar gedung milik Raka Haris terkunci ganda, kaca jendelanya tertutup rapat, dan suaranya diredam sampai ke tingkat tertinggi. Jam menunjukkan pukul 01.23 dini hari. Hanya ada empat orang. Raka di kepala meja yang berusaha tetap tampak perkasa, Dira asisten setianya yang memeluk berkas tebal, Budi kepala keamanan yang bahunya membungkuk berat, dan Hendro pengurus keuangan yang tangannya gemetar pelan. Udara di ruangan itu terasa begitu berat sampai sulit dihirup.
Raka mengetuk jari pelan di atas meja, nadanya masih berusaha datar dan penuh wibawa seperti biasa. “Baiklah. Dira bilang ada hal‑hal mendesak yang tidak bisa ditunda sampai pagi. Bicara semuanya. Jangan ada yang ditahan.”
Dira menghela napas panjang, lalu meletakkan berkas satu per satu di tengah meja. Matanya menatap lurus ke arah atasannya.
“Saya mulai dari yang paling awal, Pak. Tiga malam lalu Anda masuk sistem arsip cabang tiga pakai kode akses pribadi, bukan kode samaran yang selalu kita pakai untuk urusan sensitif. Saya ingatkan saat itu juga, Anda jawab itu cuma bayangan data yang akan hilang otomatis besok pagi.” Dira mendorong selembar hasil cetakan ke depan. “Ternyata tidak hilang. Tersimpan salinannya di server cadangan yang jarang dipakai. Dan kemarin sore… ada yang mengakses dan menyalin seluruh isinya lengkap dengan jejak kode Anda.”
Raka mengangkat sebelah alis, masih tenang. “Siapa yang berani? Semua tim IT kan sudah kita atur dari akar‑akarnya.”
“Itu yang paling mengkhawatirkan, Pak,” potong Budi pelan, suaranya parau, matanya enggan menatap langsung. “Bukan orang dalam. Mereka masuk lewat celah kecil di jalur cadangan—celah yang Anda sendiri biarkan terbuka, dengan alasan ‘tidak akan ada orang yang repot‑repot cari jalan memutar begitu’. Jejaknya sangat jelas. Mereka tidak cuma lihat, tapi bawa pergi semuanya.”
“Siapa mereka?” tanya Raka, suaranya mulai turun satu oktaf, makin dingin.
“Tiga orang, bergerak terpisah‑pisah, seolah tidak saling kenal, tapi setiap langkahnya saling mengisi persis seperti sudah direncanakan bertahun‑tahun,” jawab Dira pelan, menyebutkan nama satu per satu sambil menunjuk catatan. “Pertama Alina, pegawai rendahan di instansi pengawas yang selama ini kita anggap cuma tahu ketik dan arsip. Dia yang menemukan celah sistem itu. Kedua Farhan, tenaga keamanan lepas yang sempat kita izinkan masuk servis brankas sebulan lalu—Anda sendiri yang bilang ‘biarkan saja, cuma tukang biasa, tidak mengerti apa‑apa’. Dia yang berhasil memotret seluruh isi berkas perjanjian tanah kawasan timur, lengkap dengan tanda tangan dan sidik jari yang Anda tinggalkan karena melepas sarung tangan saat membacanya. Ketiga Dimas, yang bergerak di jalur perbankan. Dia sudah pegang bukti lengkap transfer dua miliar yang Anda kirim minggu lalu lewat rekening tabungan pribadi, jalur terang‑terangan, karena Anda bilang ‘nama Raka Haris saja sudah cukup jadi jaminan, tidak ada yang berani tanya’.”
Raka mulai berhenti bersandar tegak. Tubuhnya sedikit condong ke depan. “Cuma tiga orang anak muda biasa? Apa yang bisa mereka lakukan? Mereka tidak punya pengalaman, tidak punya akses kekuasaan, tidak punya gambaran utuh soal apa yang sebenarnya kita jalankan.”
Di saat yang sama, sepuluh kilometer dari sana, di sebuah kamar rumah tua yang sirkulasi udaranya hangat dan beraroma obat, Pak Aditya terbaring lemah di atas kasur, bantal ditumpuk tinggi di punggungnya agar ia bisa bernapas lebih lega. Wajahnya pucat, matanya cekung, napasnya pendek‑pendek dan kadang diselingi batuk pelan, tapi sorot matanya masih tajam sekali. Di sebelahnya duduk Alina memegang berkas, di dekat pintu Farhan berdiri menjaga, dan di ujung kasur Dimas sedang menatap layar laptop. Telepon genggam Pak Aditya diletakkan tepat di samping bantalnya.
“Pah, Raka pasti sudah mulai cemas sekarang,” bisik Alina pelan sambil menyerahkan lembar data baru. “Kita sudah pegang tiga titik bukti utama.”
Pak Aditya mengangguk pelan, lalu berbicara dengan suara parau dan lemah, pelan sekali, setiap kata dikeluarkan dengan tenaga yang harus dikumpulkan sedikit demi sedikit. “Benar… dia akan panik, tapi bukan karena kalian bertiga. Raka tidak takut pada orang yang lebih muda atau lebih rendah jabatannya. Dia cuma akan mulai gemetar… kalau sadar bahwa di balik semua gerakan kalian… ada Aku.”
Selesai bicara ia langsung terbatuk‑batuk lama, dadanya naik turun hebat. Alina segera mengusap punggungnya pelan. “Papa jangan banyak bicara dulu.. Istirahat saja. Kami yang akan menjalankan semuanya.”
“Tidak… Papa harus bicara,” jawabnya pelan sambil menggenggam pergelangan tangan Alina lemah sekali. “Raka mengira Papa sudah hampir mati, sudah tidak berdaya, terbaring saja di sini tidak bisa berbuat apa‑apa. Itu sebabnya dia makin berani ceroboh, makin yakin menang, makin banyak tinggalkan jejak besar. Dia lupa… orang yang sudah tidak punya apa‑apa lagi untuk hilang, dan sudah terbiasa menahan sakit bertahun‑tahun… adalah lawan yang paling berbahaya. Kalian bergeraklah ke sana kemari, lakukan yang berat‑berat. Papa cuma perlu diam di sini… mengarahkan saja lewat suara ini. Itu sudah cukup.”
Kembali ke ruang rapat Raka, Dira baru saja menyebut nama keempat, dan seketika itu juga suasana berubah total menjadi beku.
“Dan yang keempat, Pak… yang menjadi akar dari semuanya, yang menerima semua laporan mereka setiap malam, yang mengingat setiap nama, setiap tanggal, setiap kejadian dari tiga, lima, bahkan sepuluh tahun lalu yang kalian semua sudah lupa… Pak Aditya.”
Nama itu membuat Raka tersentak kaku seolah baru saja disengat listrik. Ia bangkit berdiri mendadak, kedua tangannya menumpu keras di meja, matanya membesar tak percaya.
“Pak Aditya? Jangan omong kosong!” serunya suaranya meninggi, ada getaran aneh yang mulai muncul di ujung kalimatnya. “Orang itu sudah tua, sakit parah, paru‑parunya sudah rusak, jantungnya juga bermasalah! Dua minggu lalu aku dapat kabar dia hampir tidak sadarkan diri berhari‑hari, sekarang pun dia cuma bisa terbaring lemah di kamarnya, tidak sanggup jalan lima langkah saja tanpa terengah‑engah! Bagaimana mungkin dia yang mengatur semua ini? Dia bahkan tidak sanggup duduk tegak lebih dari sepuluh menit!”
“Tepat sekali, Pak,” jawab Dira pelan tapi menusuk tepat ke jantung ketakutan Raka. “Dia tidak bergerak kemana‑mana secara fisik. Dia tidak keluar rumah, tidak berjalan ke kantor, tidak mendatangi saksi, tidak menyentuh komputer. Dia cuma terbaring di tempat tidurnya seperti yang Anda bilang. Tapi setiap malam, lewat telepon, lewat pesan singkat, lewat pertemuan singkat tiga orang itu di samping kasurnya… dialah yang memegang kendali penuh. Alina ambil data sistem karena dia yang tunjuk letak celahnya. Farhan foto berkas karena dia yang tahu persis di mana letak brankas dan kapan pengawasannya paling longgar. Dimas lacak uang karena dia yang ingat persis pola transaksi yang biasa Anda pakai dulu. Mereka bergerak kaki dan tangannya… tapi otak, arah, dan nyali semuanya datang dari orang yang Anda anggap sudah hampir mati dan sama sekali tidak berbahaya lagi.”
Budi menambah pelan dari sisi meja: “Kita baru tahu juga, Pak. Banyak saksi lama yang dulu kita tekan, bayar, atau ancam supaya tutup mulut selamanya—sekarang satu per satu mulai mau bicara. Bukan karena takut polisi, bukan karena butuh uang. Tapi karena begitu mendengar suara Pak Aditya di telepon, mendengar dia bicara pelan‑pelan sambil batuk‑batuk dari kejauhan… rasa bersalah mereka muncul kembali. Mereka bilang, kalau orang yang sudah separuh nyawanya sudah di ambang pintu saja masih berani bicara jujur… apa lagi mereka yang masih sehat walafiat.”
Raka mundur selangkah, lalu mundur lagi sampai lututnya terbentur kursi dan ia jatuh duduk kembali dengan kasar. Keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya, napasnya memendek dan makin cepat. Selama ini dia merasa aman, merasa sudah menang mutlak, karena dia pikir satu‑satunya orang yang benar‑benar tahu seluruh kebenaran dan punya alasan kuat untuk menjatuhkannya… sudah tidak sanggup lagi berbuat apa‑apa selain terbaring menunggu waktu. Ternyata dia salah besar. Justru karena Pak Aditya diam saja di balik tirai kamar sakitnya, Raka lengah, Raka sombong, Raka menganggap semua celah kecil itu tidak ada artinya, sampai‑sampai dia sendiri yang menumpuk bukti‑bukti itu setinggi gunung tepat di hadapan musuhnya.
“Dan catatan tulisan tangan Anda tiga tahun lalu yang Anda suruh buang ke parit pinggir jalan raya karena bilang cuma sampah tidak berguna…” Dira berhenti sebentar, suaranya makin berat. “Ditemukan pagi harinya. Sekarang ada di samping kasur Pak Aditya. Dia yang kenali tulisan Anda dalam sekejap mata, bahkan sebelum diperiksa ahli. Dia bilang… dia hafal setiap goresan pena Anda sejak puluhan tahun lalu.”
Saat itu juga topeng ketenangan Raka hancur lebur. Ia membanting tangannya sekuat tenaga ke atas meja sampai gelas air terguling tumpah, suaranya pecah bercampur marah dan panik yang baru kali ini muncul seumur hidupnya.
“Tidak mungkin! Dia sakit! Dia lemah! Dia hampir mati! Bagaimana mungkin orang seperti itu bisa meruntuhkan apa yang ku bangun bertahun‑tahun hanya dengan berbaring di tempat tidur?!”
“Karena Anda salah mengartikan arti ‘bergerak’, Pak,” jawab Dira lembut tapi tegas. “Anda pikir bergerak itu harus jalan, harus lari, harus ada di mana‑mana. Padahal Pak Aditya sudah ajarkan sejak dulu, kekuatan terbesar bukanlah bergerak ke mana‑mana, tapi tahu persis ke mana orang lain akan bergerak, meski kamu sendiri cuma diam di satu tempat. Dan sekarang… setiap langkah yang Anda ambil, setiap kesalahan kecil yang Anda biarkan menumpuk karena terlalu yakin menang… semuanya justru berjalan lurus tepat ke arah yang dia sudah siapkan sejak lama.”
Raka memegangi kepalanya dengan kedua tangan, jari‑jarinya mencengkeram kuat rambutnya. Ia baru sadar sekarang, musuh yang paling ia remehkan, yang ia kira sudah keluar dari permainan, ternyata yang paling lama menunggu, paling sabar, dan paling tahu di mana letak kelemahan terbesarnya. Kemenangan yang ia yakini sudah ada di genggaman, kini terasa makin menjauh dengan sangat cepat.
Bersambung...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏