"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Krek. Krek.
Gagang pintu kamar itu berputar ke bawah, diiringi suara ketukan pelan dari luar.
"Kram? Kok dikunci sih?" Suara Heera menembus celah bawah pintu, terdengar agak merajuk.
Di dalam, Almeera berjalan mundur perlahan, menjauhi pintu seolah kayu jati itu adalah bom waktu yang siap meledak. Ia membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Jantungnya berdentum begitu keras sampai-sampai ia takut Heera bisa mendengarnya dari luar.
Gimana kalau kunci ini gampang dijebol? Gimana kalau Heera manggil teknisi? Kepanikan membuat pikiran Almeera melayang ke skenario-skenario paling tidak masuk akal.
Dari arah ruang tamu, terdengar suara langkah kaki yang setengah berlari.
"Lo ngapain, Ra?"
Itu suara Akram. Nadanya tidak tinggi, tidak berteriak, tapi ada ketegasan absolut dan hawa dingin yang membuat siapa pun akan merinding mendengarnya.
"Astaga, Kram, ngagetin aja," keluh Heera. "Gue kebelet pipis nih. Kamar mandi luarnya kan mampet, gue numpang di kamar mandi dalem lo ya? Buka dong pintunya."
"Nggak."
Satu kata itu jatuh seperti palu hakim di ruang sidang.
Heera terdiam sejenak. "Kram, gue cuma mau numpang pipis bentar doang, sumpah. Nggak bakal gue berantakin kamar lo."
"Gue udah bilang dari awal lo masuk, Ra," suara Akram semakin merendah, menekan setiap suku katanya dengan aura dominasi yang mengerikan. "Kamar gue itu area privasi. Nggak ada satu orang pun yang boleh masuk ke sana tanpa seizin gue. Termasuk lo. Kalau lo kebelet, lo bisa turun ke lantai dasar, pakai toilet lobi apartemen."
"Tapi di luar hujan, Kram! Lobi pasti dingin banget!" rengek Heera, mencoba menggunakan taktik manjanya yang biasa ampuh pada cowok-cowok lain.
"Lebih dingin mana sama disuruh pulang sekarang juga menembus badai?" balas Akram tanpa ampun. "Turun ke lobi, atau balik ke rumah lo sekarang."
Hening.
Di dalam kamar, Almeera perlahan melepaskan bekapan tangannya. Ia bisa membayangkan betapa pucatnya wajah Heera saat ini. Akram yang sedang marah adalah versi Ketua OSIS yang paling dihindari oleh seluruh siswa SMA Bina Bangsa. Cowok itu tidak perlu berteriak untuk membuat lawan bicaranya merasa sekecil semut.
"Y-ya udah," suara Heera akhirnya terdengar bergetar, pertahanannya runtuh oleh rasa malu dan takut. "Gue... gue ke lobi bawah aja."
Terdengar langkah kaki Heera menjauh dengan cepat.
Almeera merosot ke lantai, punggungnya bersandar di daun pintu. Ia memejamkan mata, menghela napas panjang yang sedari tadi menyumbat paru-parunya.
Nyawa gue selamat... untuk saat ini, batinnya lemas.
Dua jam berlalu seperti neraka bagi Almeera.
Di luar, suara tawa Bastian, umpatan Nino saat bermain FIFA, dan dentuman musik dari soundbar menggema samar-samar. Mereka tampak bersenang-senang mengklaim ruang tamu Akram sebagai markas baru.
Sementara di dalam kamar, Almeera sedang berguling-guling tidak karuan di atas ranjang king size. Perutnya bernyanyi merdu meminta jatah makan siang yang tertunda. AC sentral apartemen yang diatur cukup rendah membuat udara di kamar terasa membekukan tulang.
Karena tidak tahan kedinginan, Almeera akhirnya menarik selimut tebal milik Akram dan membungkus dirinya sendiri layaknya kepompong raksasa. Hidungnya secara refleks menghirup aroma yang menempel kuat di kain itu. Wangi mint dan musk maskulin yang sangat familier. Bukannya merasa risih, entah kenapa aroma itu justru membuat saraf-sarafnya yang tadinya tegang perlahan menjadi rileks.
"Gue laper banget..." rintih Almeera meratapi nasib pada bantal guling di sebelahnya. "Masa gue harus makan kapas bantal ini biar bisa bertahan hidup?"
Tiba-tiba, terdengar bunyi klik yang sangat pelan dari arah pintu.
Almeera langsung terbangun, duduk tegak dengan selimut masih melilit tubuhnya.
Pintu terbuka sedikit, dan sesosok bayangan menyelusup masuk dengan cepat sebelum pintu itu kembali ditutup dan dikunci rapat.
Itu Akram. Cowok itu menyandarkan punggungnya ke pintu, menghembuskan napas pelan.
Melihat kedatangan Akram, mata Almeera langsung berkilat marah. Ia menyibak selimutnya, bersiap untuk mengomel. "Lo gila ya?! Bisa-bisanya lo—"
"Sstt! Jangan berisik!" potong Akram setengah berbisik sambil meletakkan telunjuk di depan bibirnya. Ia berjalan mendekati ranjang.
Saat jarak mereka terkikis, mata Almeera menangkap sesuatu yang tidak biasa pada postur tubuh Akram. Jaket hoodie abu-abu yang dipakai cowok itu terlihat menggembung aneh di bagian perutnya.
Akram berhenti di tepi ranjang. Dengan gerakan cepat, ia menarik ritsleting hoodie-nya ke bawah.
Mata Almeera membelalak. Mulutnya terbuka membentuk huruf O yang sempurna.
Dari balik hoodie itu, Akram mengeluarkan dua potong pizza besar yang dibungkus rapi dengan beberapa lapis tisu tebal, serta sebotol teh kemasan dingin yang tadi ia selipkan di pinggang celananya.
"Makan," perintah Akram singkat, meletakkan "harta karun" itu di pangkuan Almeera. "Gue nggak mau dituduh melakukan pembunuhan berencana gara-gara ada mayat kering kelaparan di kamar gue."
Almeera menatap potongan pizza yang topping keju lelehnya sedikit menempel di tisu itu, lalu mendongak menatap Akram. Perasaan hangat mendadak mengembang di dadanya, mengalahkan rasa gengsi yang selalu ia agung-agungkan. Sang Ketua OSIS arogan ini rela bertingkah seperti pencuri kelas teri, menyelundupkan makanan dari ruang tamu ke kamar, hanya agar dirinya tidak kelaparan.
"Kok lo bisa lolos?" bisik Almeera sambil mencomot satu potong pizza dan menggigitnya dengan rakus. Rasanya seperti makanan paling enak yang pernah ia makan seumur hidupnya.
Akram duduk di tepi ranjang, menjaga jarak, matanya terus memperhatikan Almeera yang sedang mengunyah. "Gue bilang ke anak-anak kalau AC di luar terlalu dingin, jadi gue mau ngambil jaket. Bastian lagi sibuk dibantai sama Dika main FIFA, dan Heera lagi sibuk touch up di cermin pantry. Nggak ada yang merhatiin gue."
"Mmm... thanks," gumam Almeera dengan mulut penuh. Ia menyodorkan potongan pizza kedua ke arah Akram. "Lo udah makan? Tadi pagi lo kan cuma minum kopi."
Akram menatap potongan pizza di tangan Almeera, lalu menatap wajah cewek itu. Pipi Almeera sedikit menggembung karena mengunyah, dan ada sedikit noda saus tomat di sudut bibirnya.
Bukannya mengambil pizza itu, Akram justru mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak mereka merapat seketika.
Almeera membeku. Napasnya tertahan saat wajah Akram berada hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Ia bisa melihat bayangan dirinya sendiri di manik mata legam cowok itu.
Tangan kanan Akram perlahan terangkat. Ibu jarinya menyentuh sudut bibir Almeera dengan sangat lembut, mengusap noda saus tomat yang menempel di sana. Sentuhan hangat itu mengirimkan ribuan sengatan listrik ke seluruh permukaan kulit Almeera, membuat detak jantungnya kembali berpacu tidak karuan.
"Makan berantakan banget. Kayak anak TK," bisik Akram, suaranya sangat rendah dan serak.
Alih-alih membersihkan tangannya menggunakan tisu, Akram menatap mata Almeera lekat-lekat, lalu menjilat sisa saus tomat di ibu jarinya sendiri.
Wajah Almeera seketika meledak merah layaknya kepiting rebus. Otaknya konslet total. Tindakan barusan terlalu intim, terlalu intens, dan... terlalu merusak kewarasannya.
"Gue... gue bisa bersihin sendiri!" cicit Almeera gugup, buru-buru memalingkan wajah dan mengusap bibirnya dengan punggung tangan, berusaha menyembunyikan debaran jantungnya yang rasanya sudah bisa terdengar sampai ke lantai bawah.
Akram terkekeh pelan, tawa baritonnya terdengar memabukkan. Ia berdiri dari tepi ranjang, merapikan kembali hoodie-nya.
"Gue harus keluar lagi sebelum mereka curiga. Lo habisin makanannya. Kalau hujan udah reda dan mereka cabut, gue bakal panggil lo," kata Akram, kembali memasang wajah datar andalannya. Namun sebelum ia membuka pintu, ia menoleh sekilas. "Dan Al?"
"Apa?" sahut Almeera, masih menunduk menatap sisa pizza-nya.
"Lo pakai selimut gue gitu... kelihatan gemas," goda Akram ringan, sebelum akhirnya ia keluar dan mengunci pintu kembali dari luar.
Almeera mematung selama beberapa detik. Begitu suara langkah Akram menjauh, ia langsung menenggelamkan wajahnya yang semerah tomat ke dalam tumpukan selimut, berteriak tertahan di sana.
Akram Pradana bener-bener berbahaya buat kesehatan jantung gue!
Di luar kamar, Akram melangkah kembali ke ruang tamu dengan ekspresi tenang. Jantungnya sendiri sebenarnya masih berdebar aneh setelah adegan di kamar tadi, namun ia menutupi semuanya di balik topeng ketenangan seorang Ketua OSIS.
"Lama banget lo ngambil jaket doang, Kram," komentar Bastian yang sedang duduk bersila di atas karpet, fokus memegang stick PS5.
"Nyari hoodie yang bersih. Tadi di lemari agak berantakan," alibi Akram santai, kembali duduk di sofa dan mengambil sebotol air mineral.
Hujan di luar perlahan mulai mereda. Guntur tidak lagi terdengar, menyisakan rintik-rintik sisa badai.
Bastian tiba-tiba menekan tombol pause di stick PS-nya. Ia menoleh ke arah meja pantry, di mana soundbar panjang berwarna hitam terletak di bawah smart TV.
"Kram, dari tadi kita main cuma dengerin sound effect bola. Nggak asik banget. Gue mau muter playlist Spotify gue nih," kata Bastian antusias, meraih ponselnya.
"Terserah lo," jawab Akram santai, menyesap air mineralnya.
Bastian bangkit berdiri, berjalan mendekati soundbar. Ia menekan tombol Bluetooth pairing di perangkat tersebut. Bunyi dentingan pelan terdengar, menandakan soundbar sedang mencari perangkat terdekat.
"Ini nama Bluetooth lo apa, Kram? Akram_Audio ya?" tanya Bastian sambil mengotak-atik layar ponselnya.
"Iya, yang itu. Connect aja."
Bastian memencet nama tersebut di layarnya. Namun, karena layar TV apartemen itu terhubung secara nirkabel dengan sistem soundbar, secara otomatis layar TV yang tadinya gelap tiba-tiba menyala, menampilkan antarmuka sistem Bluetooth untuk memudahkan pengaturan.
Di layar TV raksasa sebesar 65 inci itu, terpampang jelas dua kolom:
[Perangkat yang Tersedia] dan [Riwayat Perangkat Terhubung].
Bastian memicingkan matanya, menatap daftar riwayat perangkat yang pernah terhubung dengan soundbar apartemen baru ini. Keningnya berkerut dalam.
"Eh, Kram..." suara Bastian tiba-tiba berubah bingung.
Akram yang sedang membalas pesan di ponselnya, menoleh tanpa minat. "Kenapa? Nggak bisa connect?"
"Bukan nggak bisa," Bastian menunjuk layar TV itu dengan jari telunjuknya. Seluruh anggota OSIS di ruangan itu, termasuk Heera, langsung menoleh ke arah layar yang ditunjuk Bastian. "Ini... apartemen baru lo, kan? Lo belum pernah ngajak siapa pun ke sini selain kita hari ini, kan?"
Perasaan tidak enak seketika merayap naik ke tengkuk Akram. "Iya. Kenapa emangnya?"
"Terus..." Bastian menatap Akram dengan sorot mata penuh tanda tanya dan kecurigaan. "...kenapa di riwayat Bluetooth lo yang udah paired, ada nama perangkat Almeera's iPhone dan MacBook Pro Almeera?"
Darah Akram berhenti mengalir detik itu juga.
Botol air mineral di tangannya nyaris terlepas. Ia menatap horor ke arah layar TV yang menampilkan nama terang benderang dari istri rahasianya. Semalam, saat sedang operasi bersih-bersih, Almeera menyalakan lagu dari ponselnya ke soundbar agar suasana tidak terlalu sepi, dan cewek itu lupa memutuskan sambungan history-nya!
Suasana ruang tamu seketika hening mencekam.
Heera berdiri dari kursi pantry, wajahnya pias, matanya menatap tajam ke arah tulisan di layar, lalu beralih menatap Akram dengan napas memburu.
"Akram," panggil Heera, suaranya bergetar menahan amarah dan ketidakpercayaan yang memuncak. "Bisa lo jelasin, kenapa device musuh lo itu bisa terdaftar di sistem apartemen pribadi lo?!"