NovelToon NovelToon
SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Bagi Zei, dunia hanyalah hamparan lumpur sawah Desa Danau Keruh dan beratnya cangkul di pundak. Namun, segalanya runtuh dan lahir kembali ketika ia menyaksikan Turnamen Musim Semi. Di atas panggung kuarsa, ia melihat Qian Yue’er—sang "Permata" dari Sekte Cendrawasih—bertarung dengan keanggunan yang menyerupai tarian burung surga.

​Terpikat oleh keindahan yang mustahil itu, Zei menolak takdirnya sebagai petani. Menggunakan Qi elemen tanah yang kasar dan memodifikasi alat tani menjadi senjata, ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen. Di tengah cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya "pungguk merindukan bulan", Zei harus bertarung melawan rasa mindernya sendiri.

​Ini bukan tentang menjadi yang terkuat di kolong langit, ini tentang sebuah janji naif seorang anak desa: agar bisa berdiri di panggung yang sama dan melihat sang bulan menari sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEJAK PERTAMA DI HUTAN KEMATIAN

​Aroma humus yang tebal bercampur lumut basah langsung menyengat indra penciuman begitu Zei melangkah melintasi batas vegetasi luar. Hutan Kematian menyambut mereka dengan keheningan yang menekan. Pohon-pohon kuno berdiameter belasan meter berdiri angkuh seperti raksasa purba, jalinan tajuk daunnya yang rapat di atas sana hampir sepenuhnya memutus sinar matahari pagi, menyisakan keremangan abadi di lantai hutan. Udara di tempat ini tidak hanya lembap, tetapi juga sarat akan energi alam—Qi liar yang bergejolak bebas tanpa arah.

​Zei berjalan perlahan, memapah A-Lang yang sesekali merintih pelan menahan sakit. Setiap kali kakinya memijak lantai hutan yang gembur, Zei bisa merasakan perbedaan yang kontras. Qi tanah di dalam hutan ini jauh lebih pekat daripada di wilayah perkotaan, namun energinya begitu liar dan berat untuk ditarik ke dalam dantian. Meridiannya yang masih dalam tahap pemulihan pasca-benturan dengan Qian Yue'er terasa berdenyut linu setiap kali ia mencoba menyerap energi sekitar.

​Di depan mereka, Tetua Gu berjalan dengan santai, tangan kirinya masih setia memegang botol arak yang tampaknya tak pernah kosong. Namun, sepasang mata tuanya yang biasanya sayu kini menyapu sekeliling semak belukar dengan kewaspadaan yang sangat tinggi.

​Tepat di tengah hari, langkah mereka terpaksa terhenti. Tubuh A-Lang mendadak menegang, dan setitik darah segar berwarna merah kehitaman merembes dari sudut bibirnya yang memucat. Keringat dingin mengucur deras, membasahi pakaian raminya yang penuh noda debu.

​"Luka dalamnya bergejolak," ucap Tetua Gu setelah memeriksa denyut nadi A-Lang yang melemah. Wajah pria tua itu berkerut serius. "Sisa energi logam dari gada murid Taring Besi itu ternyata tertinggal di dalam rongga dadanya. Pil daruratku kemarin hanya menahan gejalanya agar tidak mati di tempat, bukan menyembuhkannya secara total. Jika dibiarkan sampai malam, energi logam itu akan menusuk jantungnya dari dalam."

​Zei mengepalkan tinjunya, rasa cemas mencengkeram dadanya. "Lalu, apa yang harus kita lakukan, Tua Bangka? Katakan obat apa yang bisa menyembuhkannya!"

​"Kita membutuhkan Rumput Embun Tanah," jawab Tetua Gu, menunjuk ke arah barisan pohon kuno yang lebih dalam. "Itu adalah tanaman obat tingkat spiritual rendah yang tumbuh di sela-sela akar pohon tua berenergi bumi tinggi. Kandungan elemen tanah murni di dalamnya bisa mengikis dan menetralisasi sisa energi logam Taring Besi."

​Zei langsung berbalik, bersiap untuk merangsek masuk ke dalam kegelapan hutan. Namun, sebuah tangan kekar Tetua Gu menahan pundaknya.

​"Aku tidak akan membantumu mencarinya, Bocah," ucap Tetua Gu dingin. "Tugas belajarmu di kota sudah selesai. Jika kau tidak bisa mengatasi ekosistem hutan ini sendirian dengan kecerdasanmu, kau akan mati menjadi pupuk tanah sebelum sempat melihat gerbang Ibu Kota Wilayah. Rawat sahabatmu, atau biarkan dia mati karena kelemahanmu."

​Zei menatap Tetua Gu dengan tajam, namun ia tahu gurunya benar. Di dunia kultivasi luar, ketergantungan adalah tiket menuju kematian. Ia meletakkan tubuh A-Lang di atas hamparan daun kering yang empuk di bawah perlindungan akar pohon besar, lalu melangkah mandiri menembus semak belukar, mengandalkan getaran kakinya untuk melacak konsentrasi energi bumi yang paling pekat.

​Setelah mencari selama hampir satu jam menembus kabut tipis hutan, mata tajam Zei akhirnya menangkap seberkas cahaya kuning redup di bawah pangkal akar pohon raksasa yang sudah melapuk. Di sana, sebatang tanaman kecil dengan tiga helai daun berbentuk spiral bergoyang pelan, mengalirkan hawa bumi yang sangat sejuk. Rumput Embun Tanah.

​Namun, tepat saat tangan Zei terulur untuk memetiknya, tanah di sampingnya mendadak bergetar hebat.

​GROARRR!

​Sebuah bayangan besar melesat dari balik semak-semak berduri, menyeruduk lurus ke arah dada Zei. Mengandalkan insting bertarungnya yang tajam, Zei melakukan gulingan darurat ke samping. BOOM! Makhluk itu menghantam batang pohon kuno di belakang Zei hingga menyisakan cekungan dalam.

​Zei bangkit berdiri, memasang kuda-kuda rendah. Di depannya berdiri seekor Babi Hutan Zirah Perunggu—binatang buas tingkat spiritual rendah dengan ukuran sebesar kerbau dewasa. Seluruh permukaan kulit punggungnya ditutupi oleh lapisan sisik tebal berwarna cokelat tembaga yang berkilau keras. Binatang ini terkenal sering memakan bijih besi di pegunungan, membuat tubuh fisiknya memiliki pertahanan setingkat zirah logam.

​Babi hutan itu mendengus kencang, uap panas keluar dari lubang hidungnya sebelum kembali menghentakkan kaki, bersiap untuk serudukan kedua.

​Zei menahan napas. Ia tidak bisa meledakkan Qi hitam liarnya seperti semalam jika tidak ingin meridiannya hancur permanen. Ia harus menggunakan cara bertarung yang bersih. Mengamati struktur lantai hutan yang gembur dan penuh akar raksasa, sebuah taktik kilat melintas di benaknya.

​"Kemari kau, Celeng!" seru Zei memancing amarah lawan.

​WUSH!

​Babi hutan zirah itu melesat maju dengan kecepatan luar biasa, taringnya yang tajam mengincar perut Zei. Tepat dua langkah sebelum benturan terjadi, Zei menghentakkan kaki kanannya ke tanah secara maksimal, memicu teknik Bumi Bergeser. Namun, bukannya menggeser tubuhnya sendiri, Zei memanipulasi struktur tanah gembur di bawah kaki depan babi hutan tersebut hingga amblas sedalam dua kaki.

​PRAKK!

​Langkah babi hutan itu seketika tersangkut, membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjungkal ke depan dengan momentumnya sendiri. Memanfaatkan momen emas saat musuh telentang, Zei merangsek masuk ke bawah leher makhluk tersebut—titik satu-satunya yang tidak tertutup oleh zirah tembaga.

​TINJU MEMBAJAK BUMI!

​DUAAAGHH!

​Tinju Zei yang dilapisi pendaran energi bumi murni menghantam tepat di bawah jakun babi hutan tersebut. Getaran energinya menembus ke dalam kepala makhluk itu, menghancurkan organ dalamnya secara instan. Babi hutan zirah perunggu itu mengerang pendek sebelum akhirnya ambruk ke tanah, tak lagi bernyawa.

​Zei mengusap keringat di dahinya, lalu bergegas memetik Rumput Embun Tanah dengan hati-hati. Ia berlari kembali ke perkemahan darurat, segera menumbuk daun obat tersebut dan menyuapkan sarinya ke dalam mulut A-Lang yang setengah sadar.

​Hanya dalam beberapa menit, keajaiban tanaman spiritual terlihat. Napas A-Lang yang semula memburu perlahan menjadi teratur, dan rona merah alami kembali menghiasi wajah pucatnya. Sisa energi logam yang merusak dadanya telah luruh sepenuhnya. Melihat sahabatnya keluar dari gerbang maut, sekat ketegangan di dada Zei akhirnya runtuh, digantikan rasa lega yang luar biasa.

​Malam pun tiba merayap di Hutan Kematian. Di bawah perlindungan formasi penyamar aura yang dibuat oleh Tetua Gu, mereka bertiga duduk mengitari bara api kecil yang hampir tak memancarkan cahaya ke luar. Zei duduk di dekat aliran sungai kecil di tepi kamp, menggunakan air dingin untuk membersihkan selendang sutra putih Qian Yue'er. Cipratan darah hitam para pembunuh semalam perlahan luntur, menyisakan kain putih murni yang kembali memancarkan aroma alami hutan yang segar.

​Zei menatap selendang itu, menyadari bahwa dunianya kini sudah meluas jauh di luar batas sawah dan ladang Desa Danau Keruh.

​KRETEK.

​Suara ranting kering yang patah mendadak terdengar dari kegelapan hutan di luar batas formasi mereka.

​ZREEEKK...

​Tetua Gu yang semula memejamkan mata mendadak berdiri tegak. Dengan satu gerakan kilat kaki kirinya, ia menendang tanah untuk menimbun bara api unggun hingga padam sepenuhnya, menenggelamkan perkemahan mereka dalam kegelapan malam murni.

​Zei menahan napas, tangannya otomatis mencengkeram tanah. Di antara celah-celah pepohonan kuno yang berjarak lima puluh langkah dari tempat mereka berada, sepasang mata berwarna hijau menyala setinggi dua meter dari permukaan tanah tampak mengawasi mereka dengan dingin. Suara desisan halus yang panjang merayap di udara, menandakan bahwa makhluk yang sedang mengincar mereka dari kegelapan malam ini memiliki ukuran dan tingkat bahaya yang jauh melampaui babi hutan zirah perunggu sebelumnya.

1
y@y@
👍🏾⭐👍🏻⭐👍🏾
y@y@
💥🌟👍🏿🌟💥
y@y@
👍🏿⭐👍🏻⭐👍🏿
y@y@
🌟👍🏾👍🏼👍🏾🌟
y@y@
💥👍🏿👍🏻👍🏿💥
y@y@
🌟👍🏾👍🏼👍🏾🌟
y@y@
⭐👍🏿👍🏻👍🏿⭐
y@y@
💥👍🏾👍🏼👍🏾💥
y@y@
🌟👍🏿👍🏻👍🏿🌟
y@y@
⭐👍🏾👍🏼👍🏾⭐
y@y@
💥🌟👍🏻🌟💥
y@y@
⭐👍🏾👍🏼👍🏾⭐
y@y@
👍🏿👍🏻🌟👍🏻👍🏿
y@y@
💥👍🏾👍🏼👍🏾💥
y@y@
⭐👍🏿👍🏻👍🏿⭐
y@y@
🌟👍🏼👍🏻👍🏼🌟
y@y@
⭐👍🏿👍🏾👍🏿⭐
y@y@
👍🏻⭐👍🏿⭐👍🏻
y@y@
👍🏾🌟👍🏼🌟👍🏾
y@y@
💥🌟👍🏼🌟💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!