NovelToon NovelToon
Kau Milikku Sayang

Kau Milikku Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Single Mom
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tujuh belas

"langsung kemari, di?"

Mata elang mengamati diandra yang barusan turun dari taksi dengan barang bawaannya yang bejibun. Tangannya dengan terampil membantu diandra, ia juga dengan cepat meraih tangan killian.

"bawa killian juga, nggak sempat pulang?"

Diandra menggeleng, "nggak keburu mas, ntar aku telepon dari sini saja, minta pengasuhnya menjemput!"

"nggak usah" larang elang cepat, " lian biar main di kantorku saja"

"mas..!"

"nggak apa-apa, di" geleng pria tampan itu cepat, tanpa menunggu jawaban diandra lagi, pria itu membawa killian ke kantornya.

Diandra hanya bisa menghela nafasnya keras, ia sangat tak menyukai situasi ini. Situasi yang akan menciptakan kesalahpahaman bagi siapapun yang melihat.

Diandra sangat tak ingin terlibat perasaan apapun pada elang, baik itu rasa bersalah atau hutang budi.

Walau ia tahu, elang tulus menyayangi putranya, namun diandra tak enak hati.

Diandra melangkah tergesa menuju ruang loker, meletakkan semua belanjaannya di dalam dan mengambil chef uniform dari dalam.

Setelah beres memakai perlengkapan tempurnya, diandra menuju dapur. Chef ronal ternyata masih di sana, memberikan instruksi pada asisten dapur.

"kamu datang, di?"

"ya chef" angguk diandra cepat, ronal merapikan plaque yang ada di kepalanya.

"makasih udah mau nolong aku!"

Diandra tersenyum tak enak hati, ucapan pria baik tinggi besar ini, sedikit menyindir perasaannya.

Padahal jelas-jelas chef ronal yang sering menolongnya.

"chef bikin malu aja!" tuturnya masih dengan senyum sungkannya.

"padahal aku yang sering ngerepotin chef ronal"

Pria itu tertawa lepas, tangannya menepuk pundak diandra lembut.

"hari inikan hari libur kamu!, aku minta maaf yah. Sampai jam 7 malam saja, di. Kamu maklumlah yah, anak gadisku menuntut harus family time hari ini"

Diandra ikut tertawa, terbayang bocah perempuan putri chef ronal yang cerewet. Bocah 4 tahun itu sama seperti ibunya, pasti chef ronal botak karena memiliki 2 ratu di rumahnya.

Karena chef ronal pergi saat jam istirahat, diandra masih bisa mempersiapkan diri dengan baik. Matanya mengamati daftar menu yang harus disiapkan siang ini, untungnya rian sudah mempersiapkan bahan dengan rapi.

Diandra berjibaku di dapur yang siang itu terasa bagai medan perang, mungkin karena weekend dan jam makan siang, pesanan membludak.

Mereka yang bekerja di dapur sudah seperti gasingan, diandra sampai tak sempat rasanya bernafas, apalagi sampai menjenguk killian sebentar di kantor elang.

Ia hanya berdoa semoga killian tidak bertingkah, atau berharap semoga elang sabar menghadapi kerandoman putranya itu.

"chef...!"

Diandra menoleh, matanya menatap rian penuh tanya.

"mamanya mas elang pengen ketemu!"

'deghhhhh'

Jantung diandra berdenyut sedikit kencang, bisikan rian terasa seperti sebuah ledakan di telinganya.

"biar aku yang handle, sudah tak begitu ramai juga"

Diandra mengangguk lemah, "aku titip yah" ujarnya sembari melangkah lesu, tangannya meraih plaque dari kepalanya.

Diandra menelan salivanya yang terasa nyangkut di tenggorokan, di ruang ganti, firda atmaja, mamanya elang menunggunya dengan anggun.

Wanita itu duduk di kursi panjang di depan loker, menyilangkan kakinya dan menatap ke arah diandra dengan wajah datar sinisnya.

"sore buk!" sapa diandra sopan, dia hanya berdiri.

"duduklah!"

Suara dingin itu memerintah dengan tanpa ekspresi. Diandra duduk, ia ingin tersenyum, namun wajah wanita paruh baya di depannya ini terlihat kelam.

"kamu sepertinya sedang menggoda elang yah?" tanya wanita paruh baya itu tanpa basa-basi.

Diandra hendak menggeleng, namun ibunya elang itu kembali berbicara.

"saya tahu kalau kamu ingin mencari ayah untuk putramu itu, tapi jangan elang!"

"buk.." sela diandra cepat, "saya nggak pernah menggoda mas elang, saya..."

"saya ingatkan ke kamu yah, saya tidak setuju kalau kamu dan elang memiliki hubungan" ujar wanita paruh baya itu tak menggubris ucapan diandra barusan.

"harusnya kamu sadar diri, kamu itu nggak pantas untuk putraku!"

Diandra menghela nafas, sakit rasanya mendengar ucapan wanita ini barusan.

"kamu itu tidak selevel dengan elang, dan saya harap kamu berkaca sedikit." ujar ibunya elang itu lagi lebih menyakitkan.

"dan jangan buat putramu itu senjata untuk meluluhkan hati elang"

Diandra terkesiap, walau wanita paruh baya yang duduk dengan anggun di depannya ini mengucapkannya dengan tenang dan tidak berapi-api.

Namun sangat menyakitkan, menuduhnya seperti itu. Menuduhnya menggunakan killian, untuk menggoda elang.

"maaf bu, ibu salah paham"

Mata wanita paruh baya itu melirik sinis, menatap diandra dengan ekor matanya. Sedikit smirk terlihat di ujung bibirnya.

"saya sudah sering ketemu wanita seperti kamu.."

"memangnya kenapa dengan saya?" tanya diandra kesal, ini kenapa ibunya elang begitu bias rasanya.

"hhhhhhh" dengus nyonya firda itu kasar. "wanita yang menjual kisah sedih hidupnya untuk mendapatkan pria kaya"

Mata diandra menatap tak percaya, cibiran ibunya elang itu sangat menyakitkan rasanya. Mengapa elang pria sebaik itu punya ibu yang sekejam ini.

"cari pria lain saja!, jangan bermimpi bisa jadi istrinya elang, aku tidak akan biarkan!"

"maaf buk" ujar diandra berdiri, "kalau ibu salah paham begini dan tak ada lagi yang ingin ibu bicarakan, saya permisi. Kerjaan saya menunggu di dapur!"

"tunggu..!" tahan wanita paruh baya itu ikut berdiri.

"jangan kamu berpikir sedikitpun untuk menemui elang dan mengadu padanya..!

"astagfirullah.." gumam diandra menggeleng.

"saya bukan bocah bu,"

"kamu ingat ini diandra, jangan bermimpi jadi nyonya elang atmaja!"

Diandra mengangguk, kesal rasanya melihat ibunya elang ini. Bagaimana caranya menjelaskan pada wanita paruh baya ini, kalau diandra sama sekali tak tertarik pada putranya.

Wanita itu melangkah angkuh, melewati diandra dengan dagu yang terangkat.

Diandra hanya bisa menghela nafasnya kesal, ia melangkah ke dapur setelah memastikan ibunya elang itu pergi dari ruangan itu.

Kepalanya menggeleng tak habis pikir, rasanya ia tak pernah sekalipun menunjukkan gesture menggoda elang.

Namun diandra memahami keresahan nyonya firda itu, bagaimanapun dirinya seorang ibu. Tentu sebagai seorang ibu pasti memiliki ekspektasi tinggi pada anaknya.

"hehhh..." dengus diandra tersenyum miris.

"emangnya aku serendah itu yah" gumamnya.

Diandra mengemasi barang bawaannya, setelah chef ronal kembali. Diandra sudah berganti pakaian, meletakkan barangnya di dekat lorong menuju kantor elang.

Diandra ingin menjemput killian, langkah kakinya mantap melangkah. Lamat-lamat diandra mendengar suara di dekat kantor elang, diandra menajamkan pendengarannya.

"bisakah mama memelankan suara mama!, lian tidur di dalam"

Nyonya firda melotot kesal, "jadi kamu melarang mama masuk, karena anak itu? Elaaang!" teriaknya.

"kamu memang sudah gila!"

"mama..!" sentak elang dengan tangan mencengkeram lengan ibunya.

"nanti orang-orang dengar teriakan mama!"

"mama nggak perduli, biar saja semua orang dengar kalau kamu sudah gila karena perempuan itu!"

"mama..!"

"kalau kamu begini terus elang, mama akan usir diandra dari restoran ini!" ujar ibunya elang memutar tubuhnya, saat wanita itu hendak melangkah.

Matanya terlihat terkejut, diandra berdiri di sana menatap ke arah mereka.

Senyum sinis nyonya firda terlihat di sudut bibirnya, tanpa bicara wanita itu tetap berjalan melewati diandra yang menatapnya sendu.

"di.." panggil elang panik, pria itu menghampiri diandra yang perlahan melangkah.

"kamu..jangan kepikiran ucapan mama tadi yah!"

Diandra tak menjawab, ia meraih handle pintu kantor elang dan membukanya perlahan.

Terkejut diandra membelalakkan matanya, killian berdiri di balik pintu dengan wajah yang memias ketakutan.

"mamaaa..." teriak bocah itu memeluk diandra.

Diandra terkesiap, rasa sedih dan marah menguasai hatinya saat ini. Dengan sekali angkat, ia menggendong killian dan berbalik.

"mas, aku mengundurkan diri!"

"di..." panggil elang mengejar diandra, tangannya hendak meraih bahu diandra, namun ucapan diandra menahannya.

"kamu dan ibumu, telah menyakiti putraku, maaf mas aku nggak bisa lagi kerja di sini!"

Bersambung...

1
Sri S
lanjut
Sri S
suka
Sri S
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!