NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pelayan Terbuang

Bangkitnya Pelayan Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEGEL KUNO YANG TERBANGUN

​Wadas Putih berada di ambang kepunahan. Pertemuan antara teknik terlarang Transformasi Dewa Perunggu milik Leluhur Li dan ledakan petir emas Han Feng telah menciptakan sebuah singularitas energi yang siap melumat apa pun dalam radius sepuluh mil. Udara menjerit, ruang di sekitar mereka retak seperti kaca yang dipukul palu godam, dan cahaya yang dihasilkan begitu menyilaukan hingga mampu membutakan siapa pun yang berani menatapnya.

​Kepanikan massal melanda. Para pengembara, tentara bayaran, bahkan murid-murid sekte besar yang tadinya menonton dengan angkuh kini berlarian tunggang-langgang. Mereka menyadari bahwa tidak ada tempat bersembunyi jika bola energi raksasa di langit itu meledak.

​Namun, tepat saat kehancuran total itu akan terjadi, sesuatu yang mustahil bangkit dari kedalaman bumi.

​Grummble...

​Tanah di bawah Kota Wadas Putih bergetar dengan frekuensi yang rendah namun sangat kuat. Tiba-tiba, ribuan garis rune (simbol) kuno berwarna biru safir muncul ke permukaan, menjalar di sepanjang jalanan dan dinding-dinding kota secepat kilat. Dalam hitungan detik, garis-garis itu menyatu di udara, membentuk kubah pelindung raksasa yang membungkus seluruh wilayah kota.

​Ini adalah Segel Penjaga Kuno, sebuah formasi tingkat tinggi yang terkubur selama ribuan tahun, yang hanya akan bangkit jika merasakan ancaman yang mampu menghancurkan fondasi wilayah tersebut. Bagi formasi ini, bentrokan energi Han Feng dan Leluhur Li adalah "sampah" yang harus disingkirkan.

​BOOOOOM!

​Bukannya meledak ke bawah, bola energi itu dihantam oleh gelombang tolak yang sangat dahsyat dari kubah biru tersebut. Ledakan itu tertekan dan justru mementalkan kedua petarungnya ke arah yang berlawanan dengan kecepatan yang melampaui peluru.

​Di arah timur, Leluhur Li terhempas sejauh puluhan mil hingga menabrak puncak pegunungan batu. Benturan itu begitu keras hingga puncak gunung tersebut runtuh. Tubuh perunggunya retak-retak, esensi jiwanya hampir padam karena teknik terlarangnya diputus paksa oleh kekuatan segel kuno.

​Ia merangkak keluar dari puing-puing dengan darah hitam mengalir dari mulutnya. Wajahnya yang tadinya angkuh kini tampak sangat tua dan rapuh. Ia telah kehilangan hampir tiga puluh tahun masa hidupnya hanya dalam satu malam.

​"Mundur..." bisiknya melalui pesan transmisi mental kepada seluruh unit Keluarga Li yang tersisa. "Tarik semua pasukan. Aku... aku harus melakukan meditasi tertutup selama lima tahun. Jangan biarkan siapa pun mengusik kediamanku!"

​Dengan rasa malu dan ketakutan yang mendalam, sang penguasa yang sombong itu menghilang ke arah wilayah Keluarga Li, menyadari bahwa ia baru saja selamat dari maut bukan karena kekuatannya sendiri, melainkan karena "keberuntungan" dipisahkan oleh segel kuno.

​Sementara itu, di arah barat, Han Feng terlempar jauh melintasi perbatasan, jatuh terjerembap ke dalam sebuah hutan lebat yang diselimuti kabut abadi. Tubuhnya menghantam pepohonan besar sebelum akhirnya terhenti di atas tanah yang lembap dan berlumut.

​Kondisinya mengenaskan. Jubah pengembaranya telah hancur menjadi kain perca, nadi-nadinya terasa seperti terbakar, dan cahaya emas di matanya meredup hingga hampir padam. Ia mencoba bangkit, namun rasa sakit yang menusuk tulang membuatnya kembali tersungkur.

​"Sial... segel itu... benar-benar kuat," gumamnya parau sebelum penglihatannya menggelap sepenuhnya.

​Saat Han Feng pingsan, kabut di sekitarnya perlahan tersingkap. Seorang lelaki tua dengan pakaian petani sederhana—celana kain kusam dan kaos dalam yang sudah memudar warnanya—berjalan mendekat. Wajahnya dipenuhi keriput dan tangannya kasar, tampak seperti rakyat jelata yang menghabiskan hidupnya dengan mencangkul sawah.

​Namun, saat ia berdiri di depan tubuh Han Feng, ada sesuatu yang aneh. Meskipun penampilannya biasa saja, langkah kakinya tidak menimbulkan suara di atas dedaunan kering. Auranya sangat tenang, namun jika seseorang memperhatikannya dengan seksama, ada sisa-sisa wibawa baja yang tersembunyi di balik matanya yang sayu.

​"Bocah yang menarik," gumam lelaki tua itu. Ia memanggul tubuh Han Feng dengan satu tangan seolah-olah berat pemuda itu tidak lebih dari seikat jerami.

​Han Feng terbangun dengan rasa sakit yang tumpul di sekujur tubuhnya. Ia mendapati dirinya terbaring di atas dipan bambu di dalam sebuah pondok kayu yang sederhana namun sangat bersih. Bau ramuan herbal yang pahit memenuhi ruangan.

​"Jangan banyak bergerak. Nadi-nadimu baru saja disambung kembali oleh ramuan kulit pohon perakku," suara berat terdengar dari sudut ruangan.

​Han Feng menoleh dengan waspada, namun gerakannya terhenti saat ia melihat lelaki tua yang sedang menghaluskan ramuan di atas meja batu. Han Feng mencoba menggunakan indra Divine Sense-nya, namun ia terkejut saat indranya seolah-olah menabrak dinding yang tak terlihat di sekitar orang tua itu.

​"Siapa Anda?" tanya Han Feng waspada.

​Lelaki tua itu terkekeh pelan. "Hanya seorang kakek tua yang lelah berperang. Namaku Bo. Aku dulu adalah seorang kapten di pasukan garda depan Kerajaan Dataran Tengah. Tapi itu dulu, sebelum aku memutuskan untuk membuang pedang dan membesarkan anak-cucuku di hutan terpencil ini."

​Han Feng tertegun. Dataran Tengah? Itu adalah pusat kekuatan dunia ini, tempat di mana sekte-sekte kelas atas dan kerajaan raksasa berdiri. Tidak heran kakek ini memiliki aura yang begitu kokoh meskipun ia terlihat seperti petani.

​Setelah Han Feng meminum ramuan yang diberikan, Kakek Bo duduk di sampingnya, matanya menatap tajam ke arah cincin penyimpanan di jari Han Feng.

​"Peta yang kau dapatkan dari para pemburu itu... kau ingin mencari Reruntuhan Lembah Angin, bukan?" tanya Kakek Bo tiba-tiba.

​Han Feng terkejut. "Bagaimana Anda tahu?"

​"Aku pernah melihat peta serupa saat aku masih bertugas di istana," Kakek Bo menghela napas panjang, menatap ke arah jendela yang menampilkan hutan berkabut. "Bocah, jika tujuanmu adalah Kota Seribu Awan, itu hanyalah taman bermain dibandingkan tempat ini. Reruntuhan yang kau cari tidak berada di wilayah pinggiran ini. Pintu masuk aslinya ada di Dataran Tengah, di wilayah yang disebut Ngarai Tulang Putih."

​Han Feng terdiam, menyimak dengan saksama.

​"Dengarkan aku baik-baik," lanjut Kakek Bo dengan nada yang sangat serius. "Kota Seribu Awan mungkin penuh dengan murid jenius sombong, tapi Ngarai Tulang Putih adalah tempat di mana para monster dari sekte kuno saling membantai. Bahayanya sepuluh kali lipat melebihi apa yang kau hadapi di Wadas Putih. Leluhur Li yang kau lawan kemarin? Di Dataran Tengah, dia hanyalah seorang pengawal pintu."

​Han Feng mengepalkan tangannya yang gemetar. Alih-alih takut, sebuah gairah baru muncul di hatinya. Kekuatan Dewa di dalam tubuhnya seolah-olah merespons tantangan tersebut.

​"Dataran Tengah..." Han Feng berbisik, matanya kembali berkilat dengan cahaya emas yang mulai pulih.

​"Kau punya bakat, tapi kau masih terlalu mentah," kakek itu berdiri, memberikan sebilah tongkat kayu kepada Han Feng. "Pulihkan dirimu di sini selama tiga hari. Setelah itu, jika kau masih berani mencari maut di Dataran Tengah, aku akan memberitahumu rute tercepat untuk melewati Gurun Pasir Mendidih."

​Han Feng menatap punggung kakek itu dengan rasa hormat. Ia menyadari bahwa perjalanannya baru saja dimulai. Wadas Putih hanyalah pemanasan, dan musuh-musuh yang menantinya di pusat dunia adalah mereka yang akan benar-benar menguji apakah ia adalah naga sejati atau hanya debu yang terbang terlalu tinggi.

​Ia menutup matanya, membiarkan energi emasnya mulai menyatu kembali. Naga itu terluka, namun saat ia bangkit nanti, ia tidak akan lagi hanya sekadar berlari menuju Kota Seribu Awan—ia akan terbang menuju jantung dunia.

1
dikoiku
Luar biasa
Danzo28: Terima kasih! Bagian mana yang menurutmu paling luar biasa di bab ini? Saya penasaran dengan sudut pandang pembaca."
total 1 replies
T28J
senior kuu
lia
menarik
Danzo28: "Selamat datang! Senang sekali kamu mampir. Semoga betah mengikuti perjalanan ini sampai akhir, ya!"
total 1 replies
lia
menarik
Manusia Ikan 🫪
aku tinggalin jejak dulu ya, nanti siang balik lagi, udah subuh soalnya😹
Danzo28: Terima kasih sudah mampir! Happy reading! ✨"
total 1 replies
Iwa Kakap
sepi pembaca agak nya ..
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏
Danzo28: Siap, terima kasih masukannya! Saya memang sedang bereksperimen dengan gaya narasi tertentu, tapi masukan ini sangat membantu saya untuk tahu mana yang perlu dikurangi supaya pembaca tidak bosan."
total 1 replies
T28J
cocok buat jadi koleksi 👍
T28J: iya thor, saya mampir terus kalau ada waktu..
kamu juga mampir ketempat saya ya, beri nilai novel pertama saya, kritik dan saran boleh kok👍
total 2 replies
Optimus prime
ga ush pakai bahasa inggris thor... cerita cukup bagus....
Danzo28: "Wah, makasih ya pujiannya! Mengenai bahasa Inggris, memang ada beberapa istilah yang sengaja saya pakai untuk menjaga vibes atau suasana ceritanya (misalnya istilah teknis atau gaya bahasa karakter). Tapi saya bakal coba kurangi pelan-pelan kalau dirasa terlalu mengganggu. Terima kasih sarannya!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!