Bima hanyalah "sampah desa" yang ringkih. Digerogoti penyakit jantung bawaan dan paru-paru basah akut, hidupnya dihabiskan untuk merangkak di bawah kaki orang-orang kaya yang arogan.
Puncaknya, di sebuah malam yang diguyur hujan lebat, Bima dihajar hingga sekarat dan jatuh ke dasar sungai.
Namun, maut justru membawanya menemukan batu mustika hitam misterius. Tak hanya sembuh total, fisik Bima bermutasi menjadi sekokoh karang, lengkap dengan kemampuan mata tembus pandang dan medis gaib.
Menariknya, energi baru di tubuh Bima membuat setiap wanita yang ia sentuh bergetar tak berdaya.
Berawal dari pijatan penyembuhan, Bima mulai menaklukkan hati para wanita cantik—
mulai dari Rasti si kakak ipar janda muda, Laras sang kembang desa, hingga Siska, istri pejabat kota—yang suaminya terlibat kasus perselingkuhan. Bersiaplah menyaksikan aksi Danu, si tukang pijat penakluk wanita!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16—Batu Kuno
Bab 16
Bima menggenggam erat butiran bola kuno seukuran kelereng itu. Begitu kulitnya bersentuhan dengan permukaan batu yang dingin, getaran energi murni terasa mengalir deras, menyatu dengan Mustika Hijau di dalam dadanya. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh, membuat pandangannya terasa jauh lebih tajam. Mata batin Bima mendadak menangkap pusaran energi hijau keperakan yang membungkus bola tersebut.
“Benda ini bukan sekadar batu kuno biasa. Ada energi murni tersembunyi yang sangat pekat di dalamnya,” batin Bima dengan mata berbinar.
Alih-alih merasa takut, Bima justru tersenyum puas. Aliran energi Mustika Hijau-nya yang sempat terkuras setelah memijat Mbak Rasti dan menghalau serangan gaib semalam, kini langsung terisi penuh, bahkan terasa jauh lebih padat dan kuat.
Tanpa membuang waktu, Bima segera membersihkan ikan gabus raksasa hasil tangkapannya. Bola kuno misterius itu dia bersihkan dengan air rawa yang jernih, lalu dia bungkus rapi dengan selembar kain bersih sebelum dimasukkan ke dalam saku celananya.
Dia harus cari tahu tentang batu kuno ini. Siapa tahu menghasilkan uang yang banyak sama seperti dia yang mendapatkan ikan kemarin.
Langkah kaki Bima terasa sangat ringan saat kembali ke rumah. Begitu tiba di gubuk reotnya, dia menyerahkan ikan gabus berukuran jumbo itu kepada Rasti yang menyambutnya di depan pintu dengan mata berbinar-binar.
"Ya ampun, Bima! Besar sekali ikannya!" seru Rasti takjub, menatap bangga ke arah adik iparnya yang kini tampak semakin gagah dan berwibawa.
"Rezeki kita hari ini, Mbak. Tolong dimasak yang enak ya," sahut Bima seraya tersenyum lembut, tangannya sengaja mengusap pundak Rasti sekilas.
Sentuhan singkat itu sontak membuat tubuh matang Rasti sedikit berdesir, teringat kembali kehangatan jari-jari Bima yang meremas seluruh tubuhnya kemarin sore.
"M-Mbak masak sekarang ya, Bima," cicit Rasti dengan pipi yang mendadak merona merah, buru-buru membawa ikan raksasa itu ke dapur demi menyembunyikan rasa gugupnya.
Setelah menikmati makan siang bersama dengan suasana penuh debaran asmara yang tertahan, Bima berpamitan. "Mbak, Bima mau pergi ke kota kecamatan sebentar. Ada urusan yang harus diselesaikan."
"Iya, Bima. Hati-hati di jalan ya. Jangan pulang terlalu larut," jawab Rasti penuh perhatian, matanya menatap kepergian Bima dengan tatapan rindu yang kian sulit disembunyikan.
Bima naik angkutan umum menuju pusat kota kecamatan. Sepanjang perjalanan, mata batinnya terus bergerak, mengamati sekeliling. Tujuannya hanya satu: mencari toko barang antik yang reputasinya paling besar di wilayah ini.
Berdasarkan desas-desus warga, di jalan utama kota kecamatan terdapat sebuah toko bernama Griya Antik Darmawan. Pemiliknya adalah Pak Darmawan, seorang pengusaha kaya raya yang sangat gemar mengoleksi benda-benda mistis dan peninggalan zaman kerajaan kuno.
Setibanya di depan toko, Bima langsung disambut oleh bangunan bergaya arsitektur Jawa klasik yang megah. Bau harum kayu jati dan wewangian dupa tipis menyeruak saat dia melangkah masuk ke dalam ruangan. Di dinding dan lemari kaca, berjejer rapi berbagai macam keris, tombak, arca, hingga guci kuno yang harganya pasti selangit.
Namun, perhatian Bima tidak tertuju pada barang-barang pajangan tersebut. Mata batinnya justru menangkap sesuatu yang mengerikan di balik bilik ruang kerja utama yang dibatasi kaca besar.
Di dalam sana, duduk seorang pria paruh baya berjas rapi yang sedang bersandar lemah di kursi kebesarannya. Pria itu adalah Pak Darmawan. Wajahnya sangat pucat, kantung matanya menghitam, dan napasnya tampak sangat tersengal-sengal seolah ada beban berton-ton yang menghimpit dadanya.
Melalui mata terawangan Bima, pandangannya menembus pakaian Pak Darmawan. Di bagian dada dan punggung pengusaha kaya itu, terdapat kabut asap hitam pekat yang bergolak liar bagaikan lintah gaib yang sedang menghisap energi kehidupan sang pengusaha.
“Kutukan ilmu hitam... Seseorang sengaja menanam racun gaib untuk membunuhnya perlahan,” gumam Bima dalam hati, langsung mengenali jenis energi yang mirip dengan yang menyerang Mbak Rasti kemarin.
"Maaf, Dek. Ada yang bisa saya bantu? Sedang mencari barang antik apa?" Teguran ramah dari seorang karyawan toko membuyarkan lamunan Bima.
Bima membalikkan badan, lalu mengeluarkan bola kuno yang terbungkus kain dari sakunya. "Saya tidak mencari barang antik. Saya ingin menunjukkan benda ini langsung kepada Pak Darmawan. Katakan padanya, saya membawa sesuatu yang bisa menyelesaikan... masalahnya."
Karyawan itu sempat ragu melihat penampilan Bima yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana jins pudar khas pemuda desa. Namun, aura wibawa yang mendominasi dan tatapan mata Bima yang tajam mendadak membuat nyali karyawan itu ciut.
"B-Baik, sebentar saya sampaikan ke dalam," ucap karyawan itu dengan gugup.
Tidak butuh waktu lama, pintu ruang kerja itu terbuka. Karyawan tadi mempersilakan Bima masuk dengan sikap yang jauh lebih sopan.
Begitu Bima melangkah masuk ke dalam ruangan yang sejuk ber-AC itu, aroma busuk gaib yang samar langsung menusuk penciumannya. Pak Darmawan mendongak, menatap Bima dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki.
"Silahkan duduk, anak muda..." suara Pak Darmawan terdengar sangat parau dan bergetar hebat. "Katanya... kamu membawa sesuatu yang menarik?"
Bima tidak langsung menjawab. Dia duduk di kursi seberang meja kerja mewah itu, lalu meletakkan bola kuno misterius dari rawa ke atas meja. Bima sengaja menyalurkan secercah energi Mustika Hijau ke dalam bola tersebut.
Wusss!
Seketika, bola kuno itu memancarkan pendaran cahaya hijau keperakan yang sangat redup namun terasa sangat sejuk. Hawa murni yang keluar dari benda tersebut mendobrak kelembaban udara di dalam ruangan, membuat kabut hitam di dada Pak Darmawan mendadak bergejolak ketakutan.
Pak Darmawan langsung membelalakkan matanya yang cekung. Sebagai kolektor barang gaib tingkat tinggi, dia bisa merasakan debaran energi murni yang luar biasa dahsyat dari bola kecil itu.
Dadanya yang semula terasa sesak mendadak terasa sedikit lebih ringan hanya karena menghirup hawa murni yang terpancar dari meja.
"B-Benda apa ini?! Luar biasa... hawa energinya sangat murni!" seru Pak Darmawan dengan tangan gemetar, hendak meraih bola tersebut.
"Jangan disentuh dulu, Pak," potong Bima dengan suara bass-nya yang tenang namun penuh penekanan.
Pak Darmawan tersentak, menghentikan tangannya di udara. Dia menatap Bima dengan pandangan yang kini penuh rasa takjub sekaligus penasaran. "Kenapa, anak muda? Apakah kamu berniat menjualnya kepadaku? Sebutkan harganya! Berapapun akan kubayar!"
Bima menggelengkan kepalanya perlahan, menatap lekat-lekat ke arah sepasang mata keruh Pak Darmawan.
"Itu nanti dulu, pak. Yang lebih penting!” ucap Bima dengan nada misterius. Matanya mendadak berkilat hijau samar saat dia melanjutkan,
"Pak Darmawan... Anda sedang sekarat. Dan jika dalam waktu tiga hari ini racun hitam di punggung Anda tidak dikeluarkan, tidak akan ada dokter di dunia ini yang bisa menyelamatkan nyawa Anda."
Mendengar ucapan Bima, wajah Pak Darmawan yang sudah pucat seketika berubah menjadi putih pasi bagai kain kafan. Jantungnya berdegup gila-gilaan. Rahasia tentang penyakit misteriusnya ini tidak pernah dia bocorkan kepada siapa pun kecuali keluarga intinya. Bagaimana mungkin pemuda desa di depannya bisa tahu dengan sekali lihat?
"K-Kamu... bagaimana kamu bisa tahu?!" tanya Pak Darmawan dengan suara yang naik satu oktav, dipenuhi rasa ngeri dan harapan yang membuncah.
Kok gak mikir konsekuensinya ya..🫣
Bersekutu dengan iblis menjanjikan keuntungan duniawi sesaat, namun selalu berujung pada petaka.
Konsekuensi utamanya meliputi ketergantungan spiritual, hilangnya kendali atas kehendak bebas, tuntutan tumbal nyawa, penderitaan batin, serta kehancuran dan penyesalan abadi di akhir.
Dampak fatal akibat praktik tersebut akan kehilangan Jiwa dan Kebebasan, harga yang harus dibayar untuk bantuan iblis adalah jiwa manusia itu sendiri.
Manusia yang awalnya merasa mengendalikan kekuatan tersebut akhirnya diperbudak dan kehilangan kehendak bebas mereka.
Untuk menghindari fitnah dengan cara membentengi diri dari perbuatan yang mendekati zina, pergaulan bebas dan pacaran.
Dengan melakukan pernikahan, seseorang dapat menyalurkan hasrat biologis secara halal, menjaga kehormatan, dan mencegah timbulnya tuduhan negatif serta prasangka buruk di masyarakat.
Menikah adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup seseorang.
Lebih dari sekadar menyatukan dua insan dalam ikatan resmi, pernikahan memiliki tujuan yang lebih dalam dan bermakna...🤭🤨😊