NovelToon NovelToon
Dicampakkan Suami, Aku Jadi Pengusaha Sukses

Dicampakkan Suami, Aku Jadi Pengusaha Sukses

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Penyesalan Suami / Orang Disabilitas
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.

Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.

Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.

Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.

Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.

Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17 Pergi Ke Kafe

Kania mematut dirinya di depan cermin kamarnya. Ia mengenakan kemeja putih rapi yang sudah lama tidak ia sentuh, dipadukan dengan celana bahan hitam dan polesan riasan tipis di wajahnya.

Pantulan dirinya di cermin menunjukkan sosok wanita yang lelah, namun ada tekad baru yang menyala di matanya. Hari ini, ia menolak untuk sekadar meratapi nasib di sudut dapur.

Langkah Kania terhenti tepat di ruang tengah.

Tuti, yang sedang bersantai sambil mengunyah camilan, langsung menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan dahi berkerut sinis.

"Mau kemana kamu, Kania? Rapi sekali tumben. Mau tebar pesona?" tegur Tuti dengan nada mencemooh yang sudah menjadi makanan sehari-hari Kania.

"Mau jalan-jalan, Ma. Suntuk di rumah," jawab Kania datar, tanpa repot-repot membalas tatapan ibu mertuanya.

Mendengar jawaban santai itu, Tuti mendengus kasar. Ia meletakkan toples camilannya dengan bantingan keras ke atas meja.

"Cih! Jalan-jalan? Apa Mama nggak salah dengar?" cibir Tuti dengan senyum miring yang merendahkan.

"Memangnya kamu punya uang buat jalan-jalan? Buat beli beras saja kamu ngemis ke anakku! Asal kamu tahu ya, istri yang pergi keluar rumah keluyuran tanpa izin suaminya itu—"

"Aku sangat tahu, Ma!" potong Kania tegas. Sorot matanya menajam, langsung mengunci pandangan Tuti.

"Aku tahu hukumnya. Tapi setidaknya, aku pergi keluar untuk mencari jalan keluar hidupku, bukan pergi untuk bertemu dan bergelayut manja dengan laki-laki lain di belakang pasanganku."

Tuti terkesiap. Mulutnya terbuka setengah, seolah baru saja ditampar oleh kalimat tajam menantunya itu.

"Kamu menyindir anakku, hah?! Dasar perempuan nggak tahu diuntung! Suami lagi susah malah keluyuran! Anak kurang ajar!"

Alih-alih meladeni amarah Tuti yang mulai meledak-ledak, Kania memilih berbalik badan. Ia memutar kenop pintu dan melangkah keluar rumah dengan langkah tegap, mengabaikan teriakan sumpah serapah Tuti yang menggema dari dalam.

Hatinya sudah kebas. Ia tidak peduli lagi.

Tujuan utama Kania bukanlah mal atau tempat hiburan, melainkan mencari pekerjaan.

Dulu, sebelum menikah dengan Firman, Kania adalah seorang asisten desainer berbakat di sebuah butik ternama. Kariernya sedang menanjak, dan ia bahkan dijanjikan promosi untuk menjadi desainer utama. Namun, demi cintanya yang buta pada Firman, ia rela melepaskan semua mimpinya. Firman memintanya menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, berjanji akan menjamin kebahagiaan dan mencukupi segala kebutuhannya.

Tetapi kini? Janji manis itu hanyalah omong kosong. Pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan dan hinaan soal kekurangannya.

"Menyesal pun tiada gunanya," batin Kania getir. Nasi sudah menjadi bubur. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah meracik bubur itu agar tetap bisa dimakan untuk bertahan hidup.

Siang itu, Kania duduk di sudut sebuah kafe yang cukup asri. Udara di luar sangat terik, membuat kafe ini menjadi tempat pelarian yang sempurna. Di hadapannya, hanya ada segelas air putih gratis yang ia minta dengan wajah menahan malu kepada pelayan, beralasan ia sedang menunggu teman.

Uang di dompetnya bahkan tidak cukup untuk membeli secangkir americano termurah di menu.

Kania menghela napas panjang, menatap layar ponselnya. Ia baru saja selesai mengirimkan CV beserta portofolio desain lamanya lewat email ke beberapa perusahaan fashion dan butik. Sekarang, ia hanya tinggal berdoa dan menunggu panggilan wawancara.

"Aduh!"

Lamunan Kania buyar ketika mendengar suara seseorang terjatuh tepat di dekat mejanya.

Kania menoleh dan terkejut melihat seorang anak laki-laki kecil, mungkin berusia sekitar enam tahun, tersungkur di lantai. Anak itu berpakaian sangat modis, kemeja bermerek, celana jeans mahal, dan sepatu edisi terbatas.

Anak itu menunduk, lalu tiba-tiba bahunya bergetar. Sedetik kemudian, tangisannya pecah dengan sangat keras hingga menarik perhatian beberapa pengunjung kafe.

Kania yang panik langsung berjongkok di dekat anak itu.

"Astaga, Sayang! Hei, kamu nggak apa-apa?" tanyanya cemas. "Tante nggak akan nyakitin kamu, kok. Sini, Tante bantu berdiri, ya?"

Kania mengulurkan tangannya dengan lembut. Bukannya menerima uluran tangan itu, bocah kecil itu justru mendongak dengan wajah garang meski dihiasi air mata.

"Nggak usah!" seru bocah itu ketus. Dengan tangan mungilnya, ia menepis tangan Kania kuat-kuat. Ia bangkit berdiri sendiri sambil mengusap air matanya dengan kasar, berusaha terlihat jagoan meski lututnya sedikit gemetar.

Kania mengerjap kaget melihat reaksi galak anak ini.

"Eh... jagoan kok marah-marah? Kamu ke sini sama siapa? Dimana orang tua kamu?" tanyanya lembut, mencoba bersabar.

Bocah itu mendengus sebal, lalu menunjuk ke arah luar jendela kaca besar kafe dengan dagunya.

"Tuh! Papa lagi marahin anak buahnya di luar."

Kania mengikuti arah pandang anak itu. Di pelataran parkir seberang jalan, terlihat punggung tegap seorang pria jangkung berbalut kemeja hitam mahal yang digulung hingga siku. Pria itu tampak sedang memarahi dua orang pria berjas yang menunduk ketakutan.

Dari posturnya saja, pria itu memancarkan aura dominan dan berbahaya.

Kania mengalihkan pandangannya kembali pada bocah di depannya. Merasa kasihan melihat lutut anak itu yang sedikit memerah, Kania mencoba membujuknya.

"Ya sudah, sambil nunggu papa mamu selesai marah-marah, ikut Tante duduk bentar di sini, mau? Biar lututnya istirahat."

Bocah bernama Abian itu menghentikan isakannya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap Kania dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang sangat menyebalkan.

"Memangnya Tante punya uang?" tanya Abian tiba-tiba, suaranya terdengar nyaring dan sangat songong. "Tante nawarin duduk bareng, pasti ujung-ujungnya mau ajak Bian makan es krim, kan?"

Kania spontan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Wajahnya memerah karena malu. Niatnya murni hanya ingin menemani, lagipula ia memang benar-benar tidak punya uang.

Melihat Kania yang terdiam gelagapan, mata bulat Abian melirik ke atas meja Kania. Tidak ada makanan, tidak ada minuman manis, hanya ada segelas air putih bening yang menyedihkan.

Seketika, raut wajah Abian berubah meremehkan. Bocah enam tahun itu mendecak pinggang.

"Ck! Tante ini gimana sih? Nggak punya uang aja belagu mau traktir Bian segala," cerocos Abian dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos.

"Lain kali kalau nggak ada uang, mending nggak usah sok modusin anak kecil deh, Tante. Malu tau!"

Kania melongo tak percaya. Mulutnya terbuka dan tertutup seperti ikan kekurangan oksigen.

"Anak siapa sih ini?! Mulutnya pedas sekali seperti cabai rawit!" batin Kania gemas bercampur

shock, tidak menyangka akan di roasting habis-habisan oleh anak kecil yang tingginya bahkan baru mencapai pinggangnya.

1
Heni Setiyaningsih
dasar suami pecundang
Heni Setiyaningsih
semoga pita suara nya rusak bisr gak bisa teriak lg 🤣🤣🤣🤣
MamDeyh
Lanjuuut
Nice1808
biarkn firman dgn mawar kania, km dgn abngkya si boss abimanyu🤣🤭🤭
tinie
semangaat Kania
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
MamDeyh
Lanjuuut lagi kak
Ma Em
Semoga Kania jadi sukses setelah diterima kerja , firman kamu pasti akan menyesal karena sdh membuang Kania istri yg baik dan berbakti meskipun selalu dihina dan direndahkan sama Bu Tuti sang mertua .
Nice1808
org tua sinting si tuti, ntar klo kania jd kaya kau ngemis2 krna mawar adiknya abimanyu bossnya kania🤭🤣
tinie
orang tua gila
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
MamDeyh
Lagi kak...

Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...
Dew666
Syukurlah langsung talak 3, kok aku malah hepi ya wkwk
Dede Maesaroh
amit"😡
Deasy Suryandari
dan ternyata firman yg mandul
Dew666
Kania nikah sama abi, bojone kania nikah sama mawar seru
tinie
🤣🤣 sabar Kania
sebenarnya itu bukan dosa
hanya ujian😁
tinie
pantesan mawar banyak duit
ternyata dia dari anak pengusaha
tinie
aiih jadi mawar itu adiknya Abi
ish ish kelakuannya berbanding terbalik sama kakaknya

huh dasar pelakor
Nice1808
sabar kania boss mu dingin tp ntar jd bucin🤭🤣🤣
MamDeyh
Mawarrrr berduri itucjd adiknya Banyuu/Gosh/...
Fia Ayu
Sabar kania, nanti juga dia jadi bucin🤭adeknya dapet bekas km kamu dapetin abangnya 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!