NovelToon NovelToon
The Architecture Of Us

The Architecture Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Dua Orang Di Rumah Sepi

Hari Sabtu tiba, dan sesuai kesepakatan mereka, hari ini adalah waktunya mereka fokus menyelesaikan draf legalitas kafe Aeros.

Berhubung cuaca di luar sangat terik, Sael memutuskan untuk mengerjakannya di ruang tengah rumahnya, sementara orang tua mereka sedang pergi kondangan dan Kael sibuk dengan urusan futsalnya.

Rumah itu sepi, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan dan denting jemari Sael yang lincah mengetik di atas 𝘬𝘦𝘺𝘣𝘰𝘢𝘳𝘥 laptopnya.

Aeros duduk di sofa yang sama, berjarak satu bantal sofa dari Sael. Di pangkuannya terdapat draf fisik yang sudah dicoret-coret. Matanya pura-pura fokus pada kertas, namun pendengarannya sepenuhnya terarah pada gumaman-gumaman kecil Sael.

"Kak, poin jaminan asetnya di pasal 7 ini terlalu mepet masanya. Kalau vendornya telat kirim mesin kopi, kamu bisa rugi bandar karena nggak bisa klaim ganti rugi tepat waktu," ujar Sael tanpa menoleh, matanya tetap tertuju pada layar laptop yang menampilkan draf hukum terbarunya.

"Terus harusnya berapa lama?" tanya Aeros, suaranya terdengar berat di ruangan yang sepi itu.

"Minimal 30 hari kerja setelah tanda tangan kontrak kerja sama. Nih, aku ganti ya pasalnya," jawab Sael santai.

Sael meregangkan otot lehernya yang terasa kaku, kepalanya bergerak miring ke kanan dan ke kiri. Kaus 𝘰𝘷𝘦𝘳𝘴𝘪𝘻𝘦𝘥 abu-abu yang ia kenakan membuat tulang selangkanya yang indah terekspos setiap kali ia bergerak.

Aeros menelan ludah dengan susah payah. Fokusnya buyar. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke arah draf di tangannya,

"Kak Aeros?" panggil Sael memecah.

"Apa?" sahut Aeros, berusaha menutupi kegugupannya.

Sael memutar tubuhnya menghadap Aeros, menyandarkan siku di sandaran sofa dan menopang dagunya. Mata bulatnya yang jernih menatap Aeros dengan tatapan yang membuat pria itu merasa gugup. "Kamu kenapa, Kak? Dari tadi pagi kayak ada yang aneh. Ada yang kamu sembunyikan, ya?"

Aeros tertegun, lalu berdeham kaku, mengusap dahinya sendiri untuk menyembunyikan ekspresinya. "Aku cuma mikirin operasional kafe."

"Bohong banget," cibir Sael. "Muka kakak itu tipe-tipe muka orang yang lagi kesal. Kalau capek, ya istirahat dulu. Nih, minum."

Sael menyodorkan segelas es teh manis yang tadi ia buat sebelum mereka mulai bekerja.

Aeros menerima gelas itu, kulit mereka sempat bersentuhan selama beberapa detik, membuat kuduk Aeros menegang. Ia meminum es teh itu dengan cepat.

Sael tersenyum tipis, terlihat begitu manis di mata Aeros. Gadis itu kembali menghadap laptopnya. "Aku tinggal rapiin formatnya bentar, habis ini draf kakak kelar. Kakak utang traktir aku makan daging premium ya, Kak."

Aeros menatap profil samping wajah Sael yang kembali fokus pada layar komputer. Sinar sore yang menembus jendela kaca ruang tengah membuat siluet wajah Sael terlihat begitu indah.

"Hm. Apa sih yang enggak buat kamu," gumam Aeros sangat pelan.

"Hah? Ngomong apa, Kak?" Sael menoleh cepat, merasa mendengar suara Aeros.

Aeros langsung membuang muka, memasang kembali wajah dingin andalannya sembari bangkit berdiri membawa gelas kosongnya ke dapur. "Enggak. Aku bilang, drafnya buruan diselesaikan, aku nggak mau bayar lemburan kalau kemalaman."

Sael mendengus mendengar jawaban ketus itu. "Dasar nyebelin," gerutunya pelan.

Sementara di balik dinding dapur, Aeros bersandar pada lemari kabinet, memejamkan matanya rapat-rapat sambil meremas dadanya yang bergemuruh hebat. 𝘚𝘪𝘢𝘭𝘢𝘯, batin Aeros frustrasi,

𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵.

Sael menutup laptopnya draf legalitas kafe Aeros yang akhirnya selesai. Ia meregangkan kedua tangannya ke atas, mengabaikan Aeros yang baru kembali dari dapur dengan wajah yang masih saja kaku.

"Udah kelar, Kak. Tinggal kamu bawa ke notaris hari Senin," ujar Sael sambil menyodorkan 𝘧𝘭𝘢𝘴𝘩𝘥𝘪𝘴𝘬 hitam miliknya ke atas meja.

"𝘛𝘩𝘢𝘯𝘬𝘴," jawab Aeros singkat. Tangan besarnya mengambil 𝘧𝘭𝘢𝘴𝘩𝘥𝘪𝘴𝘬 itu.

Setelah 𝘧𝘭𝘢𝘴𝘩𝘥𝘪𝘴𝘬 hitam itu berpindah tangan, atmosfer di ruang tengah kembali diliputi keheningan yang canggung.

Sael merebahkan punggungnya ke sandaran sofa, menatap langit-langit ruangan dengan helaan napas lega. "Ah, bebas!."

Aeros yang baru saja duduk kembali di ujung sofa meliriknya. "Jadi, daging premiumnya mau sekarang?"

Sael menoleh, matanya berbinar tertarik sebelum ia melihat ke luar jendela kaca. Matahari di luar masih bersinar terik, ia mendesah malas, kembali menyandarkan kepalanya. "Kapan-kapan aja deh, Kak. Masih panas banget di luar."

"Ya udah," jawab Aeros datar, padahal dalam hatinya ia bersorak karena itu berarti ia punya waktu lebih lama untuk berdua dengan Sael. Ia meraih remot televisi, menyalakannya, dan mulai memindahkan saluran secara acak. "Kamu mau nonton sesuatu?"

Sael memiringkan tubuhnya, menatap layar televisi lalu beralih menatap Aeros. "Ada film horor bagus nggak? Kael kalau diajak nonton horor pasti banyak alasan."

Aeros menahan senyum tipisnya. "Cari aja di aplikasi 𝘴𝘵𝘳𝘦𝘢𝘮𝘪𝘯𝘨." Ia menyerahkan remot itu ke tangan Sael.

Setelah menemukan satu film 𝘩𝘰𝘳𝘰𝘳 𝘵𝘩𝘳𝘪𝘭𝘭𝘦𝘳 yang cukup populer, ia mematikan lampu ruang tengah agar suasananya lebih mendukung, menyisakan pencahayaan remang-remang dari layar televisi dan sisa sinar sore yang menembus gorden.

Aeros menggeser duduknya, sedikit mendekat tanpa disadari oleh Sael, memperkecil jarak mereka.

Dua jam berikutnya dilewati dengan keseruan yang tak terduga. Sael sangat ekspresif saat menonton film horor. Setiap kali ada adegan menegangkan, ia akan menyentak pelan, meremas bantal sofa di pangkuannya, atau tanpa sadar mencengkeram lengan kaus hitam Aeros.

Setiap kali jemari Sael mencengkeram lengannya, Aeros merasa seluruh fokusnya pada layar televisi buyar seketika. Aroma yang manis dari tubuh Sael terasa begitu dekat. Aeros hanya diam, membiarkan lengannya dijadikan pelampiasan.

Ketika film berakhir, jam dinding sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB. Langit di luar mulai berubah warna menjadi jingga keunguan.

Sael meregangkan tubuhnya, perutnya mendadak berbunyi cukup keras di ruangan yang sepi itu. Wajah Sael sedikit merona merah karena malu, sementara Aeros yang mendengarnya langsung menoleh dengan alis terangkat.

"Perutmu nggak bisa diajak kompromi tampaknya," sindir Aeros matanya berkilat jenaka.

"Ya... kan lapar, Kak. Dari pagi cuma makan roti bakar buatanmu," bela Sael, mengerucutkan bibirnya kesal.

Aeros bangkit berdiri, merapikan kausnya. "Nggak usah keluar. Aku masak aja di sini. Di kulkas ada bahan apa?"

Sael berkedip tidak percaya. "Kakak mau masak lagi? Emang nggak capek?"

"Nggak ada yang capek kalau..." Aeros menggantung kalimatnya, menyadari ia hampir kelepasan lagi. Ia berdeham kaku, mengalihkan pandangan. "...kalau cuma bikin nasi goreng. Bahan di kulkas ada kan?"

"Ada telur sama sosis, kayaknya," jawab Sael, langsung bangkit berdiri dan mengekor di belakang Aeros menuju dapur.

Malam itu, dapur rumah Sael dipenuhi oleh aroma harum mentega dan bawang yang ditumis. Sael duduk di atas konter dapur yang tinggi, mengayun-ayunkan kakinya yang santai sambil memperhatikan Aeros yang sedang sibuk memegang sudit di depan kompor. Pemandangan Aeros dengan lengan kaus yang digulung hingga siku, bergerak cekatan di dapur, terlihat sangat... tampan.

𝘞𝘢𝘩, 𝘥𝘪𝘢 𝘩𝘦𝘣𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵, Batin Sael, matanya tak lepas dari punggung tegap Aeros yang bergerak cekatan. Debaran aneh yang ia rasakan kemarin malam di dalam mobil saat hujan mendadak kembali hadir, membuat Sael buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Nih, makan." Aeros menaruh sepiring penuh nasi goreng sosis di depan Sael, lengkap dengan sendoknya. Ia sendiri mengambil piring yang lain dan duduk di kursi bar di sebelah konter.

"Makasih, Kak Aeros," ucap Sael.

Mereka makan malam bersama dalam suasana yang jauh lebih hangat. Sesekali Sael bercerita tentang kejadian di kantornya dan Aeros mendengarkannya dengan saksama, memberikan respons-respons pendek namun tepat yang membuat Sael mendengus atau tersenyum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!