"Berawal dari sebuah telpon yang mengaku datang dari masa depan, Nadia akhirnya mengetahui bahwa kedua anak yang diasuhnya ternyata bukan anak kerabat jauh, tapi anak selingkuhan suaminya!
Saat itu juga, Nadia menggugat cerai suaminya dan keluar dari rumah itu. Namun, Keluarga Pradipta tidak melepasnya begitu saja, mereka terus mengganggunya demi hak waris rumah dan kotak musik warisan ibu Nadia. Nadia pun terusik, mengapa mereka terobsesi dengan sebuah kotak musik?
Tak hanya itu, telepon dari masa depan itu datang kembali dan mengatakan bahwa Mayor Arga Wiratama adalah takdirnya. Nadia semakin terkejut ketika pria itu benar-benar nyata dan hadir di depannya. Sebenarnya siapa penelpon itu dan bagaimana bisa?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Pagi itu, Nadia memakai kemeja putih dan celana kain hitam.
Bukan kebaya. Bukan daster. Bukan pakaian yang dipilih agar Farhan suka. Ia mengikat rambut rendah, membawa map bukti, hasil pemeriksaan klinik, dan buku nikah.
Siska menjemput pukul delapan tepat.
"Siap?"
Nadia mengunci pintu kontrakan. "Tidak."
Siska menoleh.
"Tapi aku tetap pergi."
Di Pengadilan Agama, ruang pendaftaran lebih ramai daripada yang Nadia bayangkan. Ada pasangan duduk berjauhan, ada ibu menggendong anak, ada lelaki menunduk sambil memegang berkas, ada perempuan tua ditemani anaknya. Tidak ada yang tampak menang. Semua seperti membawa pecahan rumah masing-masing dalam map cokelat.
Mbak Laila sudah menunggu.
"Kita ajukan cerai gugat hari ini," katanya. "Saya bantu susun posita dan petitum. Untuk harta bersama, kita siapkan setelah ini. Jangan campur terlalu banyak di awal agar gugatan cerai tidak melebar."
Nadia mengangguk.
Ia duduk di meja kecil, menjawab pertanyaan petugas. Nama. Tempat tanggal lahir. Alamat. Tanggal menikah. Alasan gugatan. Setiap jawaban seperti melepas satu ikatan dari lehernya.
Saat petugas bertanya, "Masih tinggal serumah?"
Nadia menjawab, "Tidak."
Suaranya tidak pecah.
Mbak Laila memeriksa berkas. "Bukti awal cukup. Nanti sidang pertama biasanya mediasi. Pihak suami dipanggil."
"Kalau dia tidak datang?"
"Ada panggilan berikutnya. Kita ikuti proses."
Nadia menandatangani beberapa lembar. Tangannya sempat berhenti di atas kolom tanda tangan terakhir.
Siska berdiri di belakangnya.
Tidak menyuruh. Tidak mendorong.
Hanya ada.
Nadia menarik napas dan menulis namanya.
Nadia Larasati.
Setelah tanda tangan itu selesai, tidak ada petir. Tidak ada musik. Tidak ada dunia berubah warna.
Hanya dada yang terasa sedikit lebih luas.
Petugas memberikan nomor perkara sementara.
Nadia menatap kertas itu lama.
Sepuluh tahun pernikahan berubah menjadi deretan angka.
"Selamat," kata Siska pelan.
Nadia menoleh. "Untuk cerai?"
"Untuk memilih hidup."
Mereka keluar dari ruang pendaftaran. Di halaman, matahari sudah tinggi. Nadia baru hendak memasukkan berkas ke tas ketika ponselnya berdering.
Mama Meri.
Ia tidak mengangkat.
Pesan suara masuk.
Siska memandangnya. "Putar?"
Nadia mengaktifkan perekam layar, lalu memutar pesan itu.
Suara Mama Meri terdengar serak karena menangis.
"Nadia, kamu puas sekarang? Farhan tadi pulang seperti orang kesetanan. Dimas pergi dari rumah. Dinda mengurung diri. Semua gara-gara kamu. Perempuan baik tidak akan membawa suami ke pengadilan. Kalau kamu masih punya hati, cabut gugatan itu. Jangan lupa kamu dulu datang ke rumah kami bukan siapa-siapa."
Pesan selesai.
Nadia menyimpannya.
"Mereka sudah tahu cepat sekali," kata Siska.
Mbak Laila mengerutkan dahi. "Mungkin ada orang di sekitar yang memberi tahu. Jangan khawatir. Ini bukan rahasia ilegal."
Pesan lain masuk dari Farhan.
Kamu benar-benar daftar?
Nadia tidak menjawab.
Farhan mengetik lagi.
Aku akan pastikan kamu tidak dapat apa pun.
Tangkapan layar.
Lalu dari nomor Rania.
Kak, aku mohon jangan bikin Mas Farhan tertekan. Dia punya riwayat darah tinggi. Kalau terjadi sesuatu, Kakak sanggup tanggung dosa?
Tangkapan layar.
Nadia memasukkan ponsel ke tas.
"Mereka seperti paduan suara," kata Siska.
"Nada sumbang semua."
Mbak Laila tersenyum tipis. "Bu Nadia sudah mulai punya respons sehat."
Sore harinya, kabar gugatan menyebar di keluarga besar Farhan. Satu per satu pesan masuk dari bibi, paman, sepupu. Ada yang menasihati, ada yang mengancam halus, ada yang meminta Nadia ingat jasa keluarga Pradipta.
Nadia membuat satu balasan umum:
Terima kasih atas perhatian Bapak/Ibu. Saya memilih menyelesaikan rumah tangga saya melalui jalur Pengadilan Agama. Mohon tidak menghubungi saya untuk menekan atau menyebarkan informasi yang tidak benar.
Ia mengirim itu kepada semua orang yang perlu, lalu membisukan grup.
Malamnya, Dimas datang ke kontrakan.
Kali ini sendirian.
Ia berdiri di depan pagar tanpa helm, wajahnya kusut. Nadia membuka pintu tapi tetap membiarkan pagar terkunci.
"Ma, aku boleh bicara?"
"Kalau kamu datang sendiri, boleh."
"Aku sendiri."
Nadia melihat jalan. Tidak ada mobil Rania. Tidak ada Farhan.
"Bicara."
Dimas memegang pagar. "Aku lihat akta lahirku."
Nadia diam.
"Di lemari Papa. Aku cari karena... karena Mama tanya hari itu."
"Apa yang tertulis?"
Dimas menelan ludah. "Nama ibu kosong di salinan yang ada di map keluarga. Tapi ada fotokopi lain. Nama ibunya Rania Sekar."
Nadia tidak terkejut seperti yang ia kira. Mungkin karena hatinya sudah tahu.
"Nama ayah?"
Dimas menunduk.
"Farhan Pradipta."
Di balik pagar, anak laki-laki itu tampak lebih kecil dari usianya.
"Dinda?"
"Sama."
Nadia memejamkan mata sebentar.
Kebenaran yang diduga tetap sakit saat berdiri di depan wajah anak.
"Kamu bawa salinannya?"
Dimas ragu.
"Dimas, aku tidak akan memakainya untuk menghancurkan kamu. Tapi kebenaran ini penting."
"Papa bisa tahu aku ambil."
"Kalau kamu takut, jangan berikan sekarang. Simpan di tempat aman. Foto, kirim ke email baru. Jangan simpan hanya di ponsel."
Dimas menatapnya. "Mama masih mau bantu aku?"
"Aku sedang mengajari kamu tidak mengulang kesalahan orang dewasa."
Matanya merah. "Kenapa mereka bohong?"
Nadia menggenggam pagar dari sisi dalam.
"Karena lebih mudah memakai aku daripada menanggung akibat pilihan mereka."
"Aku jahat waktu bilang Mama bukan ibuku."
Nadia menatap anak itu lama.
"Kamu sedang marah dan takut. Tapi kalimat itu tetap melukai."
Dimas mengangguk, air matanya jatuh. "Maaf."
Nadia ingin membuka pagar dan memeluknya. Tangannya bahkan sudah bergerak.
Lalu ia berhenti.
Kasih sayang juga perlu batas.
"Aku terima maafmu. Tapi aku tidak bisa kembali ke rumah itu."
"Aku tahu."
"Jaga Dinda. Bukan dengan memaksa dia membenci siapa pun. Bantu dia melihat fakta."
Dimas mengangguk lagi.
Sebelum pergi, ia mengeluarkan amplop kecil dari jaket dan menyelipkannya lewat celah pagar.
"Ini foto akta. Aku belum berani kasih asli."
Nadia mengambil amplop itu.
"Terima kasih."
"Ma..."
"Ya?"
"Kalau Papa benar ayahku, kenapa dia tidak pernah mengaku dari awal?"
Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada tuduhan mana pun.
Nadia tidak punya jawaban yang tidak menyakiti.
"Karena orang dewasa kadang lebih takut kehilangan nama baik daripada takut menyakiti anak."
Dimas mengusap wajahnya dan pergi.
Nadia berdiri di balik pagar sampai suara motor Dimas hilang. Ia tidak menangis saat anak itu masih terlihat. Setelah gang kosong, barulah ia menutup mata. Menjadi kuat di depan anak yang terluka ternyata lebih melelahkan daripada melawan Farhan.
Ia mengambil napas, lalu mengirim pesan singkat kepada Mbak Laila bahwa ada dokumen baru. Ia tidak menulis detail di WhatsApp. Hanya meminta jadwal bertemu dan menyimpan amplop itu di map terpisah.
Nadia masuk rumah, membuka amplop dengan tangan gemetar. Foto akta kelahiran itu buram, tapi cukup jelas.
Nama anak: Dimas Pradipta.
Ayah: Farhan Pradipta.
Ibu: Rania Sekar.
Tanggal lahir: enam belas tahun lalu.
Empat tahun sebelum Nadia menikah dengan Farhan.
Ia duduk di lantai.
Satu kebohongan besar retak.
Tapi pertanyaan baru muncul.
Jika Dimas dan Dinda lahir sebelum pernikahan, kenapa Farhan menikahi Nadia dan menjadikannya ibu bagi mereka?
Apa yang sebenarnya mereka butuhkan darinya?
Pertanyaan itu membuat Nadia memikirkan kembali awal pernikahan. Farhan dulu datang terlalu rapi, terlalu cepat meyakinkan, terlalu mudah diterima keluarga ibunya yang sederhana. Mama Meri pun dulu seperti sangat ingin pernikahan segera terjadi. Nadia mengira itu karena mereka menyayanginya.
Sekarang ia bertanya-tanya apakah sejak awal dirinya dipilih bukan sebagai istri, melainkan sebagai penutup cerita yang sudah berantakan.
Jika benar begitu, maka gugatan cerainya bukan akhir rumah tangga semata. Itu adalah cara menarik dirinya keluar dari peran yang tidak pernah ia setujui. Ia tidak tahu seberapa dalam kebohongan itu, tetapi untuk pertama kalinya ia punya peta awal. Peta yang masih kasar, penuh ruang kosong, namun cukup untuk membuatnya berhenti berjalan dengan mata tertutup dan mulai memilih arah.
Di meja, kotak musik itu diam.
Kali ini masa depan tidak memberi jawaban.
Seolah Nadia harus menggali masa lalu dengan tangannya sendiri.
Dan ia akan mulai sebelum Farhan sempat menguburnya lebih dalam.
sᴇʙᴇʟᴜᴍɴʏᴀ ᴀᴋᴜ ᴘᴇʀɴᴀʜ ʙᴀᴄᴀ ᴊᴜɢᴀ ᴄᴜᴍᴀɴ ᴊᴜᴅᴜʟɴʏᴀ ʟᴜᴘᴀ, ᴅᴀɴ ᴛᴏᴋᴏʜɴʏᴀ sᴀᴍᴀ ᴀʀɢᴀ ᴡɪʀᴀᴛᴀᴍᴀ, sᴀᴍᴀ sᴀᴍᴀ ᴛᴇɴᴛᴀʀᴀ ᴊᴜɢᴀ... ᴀᴋᴜ.ʟᴜᴘᴀ ᴀᴘᴀᴋᴀʜ ɪɴɪ ᴏᴛʜᴏʀ ʏɢ sᴀᴍᴀ ʏɢ ᴍᴇɴᴜʟɪs ᴄᴇʀɪᴛᴀ...
ᴋᴇʀᴇᴇᴇɴɴɴ ᴀʙɪs ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ... ❤️❤️❤️
Rani & Raka manggil Nenek
anak² Nadia > Rayyan, Asha ,Kirana
kog kejadiannya ky dejavu gini yah
setelah up juga nggak ngecek komen...jadi kesalahan terulang