NovelToon NovelToon
The Ex'S Mission

The Ex'S Mission

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial
Popularitas:72.8k
Nilai: 5
Nama Author: ayy

Kana Nada Praya dilahirkan oleh ibunya dengan doa akan anak perempuan yang kuat, penuh harapan dan dicintai. Seiring langkah kecil hingga ia dewasa, doa itu kerap menuntunnya pada keberhasilan gemilang yang ia raih. Hingga ia bertemu seorang lelaki yang mengubah semua itu. Mengubah hidup Kana menjadi sebuah kenyataan yang terbalik dari doa sang ibu.

Aruna Wira Mahendra bagai titisan berlian yang diturunkan tuhan dari langit. Ia dilahirkan dari keluarga terhormat dan berwibawa. Meski berada di keluarga kaya, Aruna tak pernah sekalipun memanfaatkan apa yang orangtuanya miliki. Dengan keahlian dan bakatnya, ia meraih kegemilangan hidup terutama saat bertemu Kana, magnet dalam hidupnya. Hingga sebuah keputusan demi keputusan salah menuntunnya pada jalan yang gelap.

Kana & Aruna, bagai kisah cinta yang begitu indah.
Kana & Aruna, bagai kisah cinta yang berakhir begitu saja.

Benarkah cinta adalah anugerah?
Ataukah cinta butuh lebih dari sekedar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beat and Breath

Lastri menoleh ke arah samping kirinya untuk yang ke sepuluh kalinya dalam 10 menit terakhir. Tepat di seberang kirinya, ada sebuah tempat duduk bisnis class yang biasanya kosong, kini diduduki oleh seseorang. Lastri sulit percaya, ia beberapa kali mencubit pipi dan tangannya, tak percaya bahwa usahanya berhasil. Ya, ia berhasil membawa Kana, kepada Aruna.

Ketika pesawat mulai take-off dan awak kabin telah menutup tirai dari arah pintu masuk, Lastri memejamkan matanya. Air matanya mengalir dan bibirnya bergetar. Kini ia sudah berada di ketinggian 35.000 kaki diatas permukaan laut, di dalam hatinya tak putus ia berdoa dan bersyukur pada tuhan.

Perempuan yang pernah ia singkirkan dulu dari kehidupannya dan Aruna, demi ambisi-ambisinya, ternyata tak pernah benar-benar menyimpan dendam. Bahkan, kalimat pertama yang terucap dari bibirnya tentang Aruna adalah menanyakan apakah anak semata wayangnya itu hidup dengan baik dan bahagia.

'Ah, Aruna, Mama pulang, nak. Maaf telah meninggalkan kamu 2 hari ini. Mama kembali, dengan dia...'

***

Mata Kana terasa berat, ia entah emngapa terasa mengantuk. Padahal perasaan mengantuk baginya sama seperti mendapat huruf N dalam perburuan kata di permen karet YOSAN. Sangat jarang dan sangat langka. Kana hampir tak pernah merasakan kantuk, dan memang semua tidurnya hanyalah disebabkan oleh obat tidur.

Seluruh bagian tubuhnya merasa rileks, bahkan Kana merasakan hangat pada pelupuk matanya yang terus perlahan menutup. Kana ingin sekali mencurigai bahwa ia mungkin diberi obat tidur tetapi sejak ia memasuki bandara dan kini duduk di pesawat terbang, Kana memang belum menyentuh minuman atau makanan apapun. Rasa kantuk ini, benar-benar murni datang dari tubuhnya yang rileks.

Tetapi, meski kini Kana telah mulai terlelap, Kana masih dapat dengan jelas mendengar suara degup jantung. Mungkin itu adalah suara degup jantungnya sendiri yang begitu penasaran dan tak sabar, untuk menemui dia, dia yang pernah berbalik membelakangi Kana dan pergi menghilang.

Kana tidak tahu dan masih belum punya rencana akan bersikap seperti apa. Tapi satu hal yang Kana yakin akan ia lakukan. Ya, layaknya semua drama dan film yang pernah Kana tonton, sebuah tamparan keras memang harus Kana daratkan pada pria yang kabur menghilang begitu saja. Ia, berjanji benar-benar akan menampar mantan suaminya itu.

***

Tepat di atas gedung rumah sakit, seorang pria tergeletak tengadah menatap matahari pagi yang sudah mulai menaiki peraduan siang. Kulitnya mulai terasa hangat dan perlahan membakar. Tetapi ia tidak perduli, rasanya ia memang ingin mati saja. Ia merasa bahwa bahkan dirinya saja sudah tak punya rasa ingin memafaakan semua perbuatannya di masa lalu.

Lebih parahnya adalah Aruna saat itu masih bisa menjalani kehidupan normal, seolah bab kehidupannya dengan Kana adalah bagian bab batal cetak dari seluruh jurnal buku kehidupan Aruna. Ah, apapun itu, sekarang hanya kekalutan yang ada dipikirannya. Rasa sesal juga terus bergemuruh didadanya. Rasanya sungguh menyesakkan, begitu linglung dan tak tahu harus berbuat apa lagi.

Mungkin, mungkin ini yang dirasakan seseorang saat merasa tersesat. Mungkin ini pula yang dirasakan sesorang saat... mati sebagai arwah gentayangan.

Tuk!

Dahi Aruna terasa seperti di sentil oleh sesuatu.

"Apa lagi?" tanyanya pada seseorang yang sudah ia duga pasti Chas.

"Kenapa lo kayak teripang di pesisir pantai begini?" Chas balik bertanya.

"Gue udah nyerah, gue mau mati aja," jawab Aruna singkat masih tanpa membuka matanya.

Chas meluruskan kakinya dan duduk disebelah Aruna. "Enak banget kalau hidup dan mati bisa sesuai kemauan kita."

Aruna diam tak merespon. Ia sungguh hanya ingin meratapi penyesalannya seorang diri. Tak ingin ada siapapun disisinya saat ini. Aruna lalu berbaring membelakangi Chas.

Mencibir karena dibelakangi oleh Aruna, Chas lalu tampak mengeluarkan sesuatu. "Gue tahu lo lagi sedih. Tapi gue punya sesuatu yang lo harus dengarkan," ucapnya sambil menyentuh pundak Aruna.

"Dengerin apa lagi? Gue gak butuh apapun lagi saat ini," kata Aruna dengan suara parau.

Menghela nafas panjang, Chas melompati tubuh Aruna. Ia kini berada tepat di depan wajah 'pasien'nya ini. Chas lalu tampak sibuk seolah mencari sesuatu dari tas hitam yang ia bawa. Ia lalu mengeluarkan sebuah headset yang terhubung pada alat perekam. Chas lalu memasangkan headset itu pada Aruna yang telah beranjak duduk.

Aruna meski masih merasa aneh, ia manut saja dipakaikan headset oleh Aruna dikedua telinganya. Sambil membenarkan posisi headset, Aruna akhirnya bertanya. "Dengrin apa ini?"

Chas kembali menghela nafas lagi. Dengan mata sendu, ia memandangi alat perekam suara itu dan menekan tombol 'play.'

"Dengerkan suara detak jantung janin Kana, calon bayi mu dulu..."

Bola mata Aruna membesar, jiwanya seolah dikejutkan oleh petir tak kasat mata. Tangannya bergetar menyentuh kedua headset itu, memastikan ia benar-benar mendengar hasil rekaman detak jantung itu.

'Degdeg..Degdeg..Degdeg..Degdeg...'

Suara itu... sebuah suara terindah dan paling menenangkan yang baru pertama kali Aruna dengar seumur hidupnya. Seolah suara itu datang dari dalam lautan yang terdalam dan terus berusaha hidup disana. Lautan itu berdengung damai, seolah terus meliputi dan melindungi apa yang terkandung di dalamnya.

Air mata Aruna menetes deras tanpa sanggup ia kendalikan. Sementara itu Chas didepannya hanya menatapnya lurus seolah tak berempati pada derasnya air mata Aruna. Lalu, mendadak, suara detak jantung yang Aruna dengar itu melambat, memelan dan... hampir hilang... hanya terdengar sesekali, dan itupun sangat... sangat... pelan.

Aruna menekan kedua headset ditelinganya hingga menempel erat, berusaha mencari dengar suara yang indah itu, namun sangat samar... sangat lemah terdengar...

"Ch... Chas... su..suaranya hilang! Chas.. Suaranya menghilang!" Dengan gugup Aruna mengambil alat rekam dari tangan Chas.

Alat itu masih menunjukkan status play, artinya, rekaman masih berlangsung dan tidak berhenti. Aruna mencoba menekan tombol volume dengan simbol '+' dan layar seketika menunjukkan bahwa tinggi volume suara sudah maksimal.

Aruna lalu menatap Chas lekat-lekat menuntut penjelasan. Sementara Chas justru gantian malah berbaring tengadah menatap langit.

"Chas! Suara degup jantungnya hilang!" keluh Aruna lagi dengan suara yang lebih keras untuk memastikan Chas mengerti keluhannya. Ia masih ingin mendengar suara yang indah itu lagi.

Chas kini memejamkan matanya lalu menelan salivanya yang mendadak kering. Lalu, untuk pertama kalinya sejak bertemu Aruna, air mata Chas menetes. Aruna bahkan tertegun dengan apa yang ia lihat sekarang.

Membuka matanya, Chas dengan alis yang berkerut dan mata sendu berkata, "denyut jantung janin Kana perlahan berhenti, saat badai malam itu... saat ayahnya meneriaki ibunya yang kala itu tubuhnya lelah kuliah dan bekerja seharian."

 Chas dengan suara tertahan bersusah payah melanjutkan, "janin Kana berusia 5 minggu, dan gumpalan darah mulia itu, sudah mulai berdetak... hanya saja, ia begitu takut untuk hadir dan hidup di dunia ini... ia takut ia akan sedih melihat kehidupan Ibunya. Ia takut ia tak akan mampu menahan kebencian pada kehidupan Sang Ayah."

Sekujur tubuh Aruna begitu lemas, tangannya yang sedari tadi berusaha menekan speaker headset dikedua telinganya terjatuh begitu saja. Pandangan Aruna entah kenapa terasa kabur dan berputar. Kepalanya terasa berat hingga tak lagi bisa ditopang oleh tulang leher dan bahunya. Tubuh Aruna ambruk, seolah tak lagi punya tulang yang dapat menopang seluruh badannya.

***

Pesawat yang ditumpangi Lastri dan Kana mendarat sempurna. Tepat saat tirai kelas bisnis dibuka tanda penumpangnya dipersilahkan turun, Lastri yang baru saja mengaktifkan ponselnya dari mode terbang langsung menerima sebuah panggilan.

Darah Lastri sedikit berdesir melihat nama yang ada di layar ponselnya. "Jay?" bisiknya.

Jemari Lastri bergetar, ia melemparkan senyum sedikit tanda pamit untuk jalan terlebih dahulu pada Kana. Sementara itu, asisten Lastri yang langsung memahami keadaan dengan sigap membantu mengarahkan Kana untuk turun dan membawakan barang Kana.

"Halo," sapa Lastri. Memastikan lehernya tegak agar suaranya lantang dan tegas, Lastri mengambil jarak sedikit jauh dari Kana yang berjalan dibelakangnya.

"Tante, maaf mengganggu. Tapi saat ini saya sedang berada di rumah sakit! Ah, nanti saya jelaskan. Aruna, kembali kritis tante! Cepatlah kemari," ujar suara disebrang sana dengan panik.

Lastri mempercepat langkah kakinya, "dimana Abraham?!"

"Uh, Papa... papa di UGD, butuh selang oksigen sebab panik dengan kondisi Aruna. Cepatlah kemari tante, jangan sampai kehilangan momen saat Aruna masih ada disini!"

***

 

 

 

 

1
Mom Dee🥰🥰
gak niat lanjut kah thor?udah setahun aja nih... ceritamu luar biasa bagus loj
Mom Dee🥰🥰
😍😍😍😍
ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ
keputusan yg bodoh aruna?!melepas untuk bahagia,sampai saat ini q masih mempertanyakan dimana letak kasih sayangnya???bukankah itu justru menyakiti???disaat pasangan ingin bersama kita dan siap menghadapi apapun bersama,sementara kita justru melepas hanya karna merasa tak sanggup membahagiakan.bukankah itu terlihat bullshit?!gak bisa jaga komitmen.
ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ
kenapa sampai sini,q jadi gedeg bnget ma aruna.bener2 labil jadi cwok.belum siap jadi suami sok2 an ngajak nikah,akhirnya jadi suami toxic
ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ
kenapa hati rasanya seperti diaduk aduk ya baca cerita ini??😢
Devi Kartika
bahasanya bagus bgt, kita kyk diajak untuk ikut kedalam cerita
krisbow
bagus baget ceritanya
Senandung Jelita
kpn up thor?
Novita Sari
udah stengah taun thooorr☹️
Novita Sari
dari bab sebelum ini,air mataq g bisa ditahan...sayang ceritanya gak diterusin😔
Just Love It
aduh Thor, jangan patah semangat dong...Aku seneng bgt ama karyamu terutama yg the Bridesmaids secret. serius karyamu keren bgt. sedikit diantara ribuan karya di NT yang aku suka. 😍😍😍
eve
up...up...thor...
Erna Sujan
duuhh Sam kamu di blacklist deh 🙊
ratmie lutfy
menunggu klanjutanya, duh. awal baca nyesek trus, kesini mlah kocak. 😂
ratmie lutfy
aku suka alur mundur.. nyeseknya itu brasa bgt
OFF
Masih meraba alurnya..dibaca pelan dan diresapi...
ni sepertinya alur maju mundur cantik bergabung 😂😂..tinggalin jejak thor
Siti Halimah
hadeee
🍭aiNa_SAN🦭
kasiiiian nya kana
Tri Dikman
Baru tau ada novel baru thor

Mulai baca
eve
novel kak ayy ini menyayat hati menguras emosi, masih kental dalam ingatan berdeau nya air mata maya di tinggal nikah ikhsan, lahh ini, 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!