Hanah Rawlee yang tidak sengaja bertemu dengan sosok laki-laki misterius di dalam bus tiba-tiba mengalami hal aneh yang tak masuk akal.
Setelah selamat dari kecelakaan maut 3 tahun lalu, hal janggal dan juga mengerikan terjadi di dalam hidupnya, Hanah bertemu dengan sesosok mahluk mengerikan yang ingin membunuhnya saat di dalam perjalanan. Saat itulah dia bertemu dengan Adia Hiro seorang pemuda pemberani dari pasukan khusus bernama DAF.
Lewat Hiro, sedikit demi sedikit Hanah mengetahui jati dirinya yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diqa alisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Karena tekanan yang di berikan oleh mahluk itu terlalu besar, maka dengan sendirinya tubuhku terjerembab ke tanah dalam keadaan tak bisa melawan.
Dia berlari mengambil ancang-ancang menerjang ke arahku dengan kecepatan penuh yang di maksimalkan.
Lalu saat berada tepat di depan perisai yang tak terlihat, dia langsung menghujamkan pukulan telak seperti hendak menghancurkan bumi.
Baddummmhh...
Monster itu memukul perisai transparan yang mengelilingi keberadaan kami berdua dengan pukulan bertubi-tubi, bahkan gemanya terpantul sampai ribuan mill seperti suara gemuruh tabuhan genderang.
Anehnya, setiap pukulan yang mahluk itu layangkan terasa jeles berefek di tubuhku, pukulannya seperti mengenai langsung bagian tubuhku lewat energi yang tak terlihat.
"Hanah!!" Seru hiro.
Aku tak menggubrisnya dan memegangi dadaku yang terasa berat seiring dengan pukulan yang terus di layangkan oleh mahluk itu tiada henti.
Duuummmmmbb.....
Dia melayangkan pukulan terakhir nya dengan kekuatan yang lebih besar dari pukulan sebelum-sebelumnya.
Aku langsung ambruk jatuh ke tanah dengan darah yang mengucur deras keluar dari mulut dan juga hidungku. Di ikuti oleh suara pecahan kaca yang hancur berkeping-keping mengelilingi keberadaan kami.
"Hanah!" Hiro panik dan langsung memungut tubuhku yang tak berdaya.
Apa yang terjadi pada ku. Kenapa dengan semua ini.
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk di kepalaku, tanpa tahu sebab pasti bagaimana semua ini di mulai.
Krataak..kraatak...
Mahluk itu berjalan berlahan mendekati kami dengan langkah patah-patah, mata merahnya yang menyala terang menatap murka ke arahku.
Hiro berdiri tepat di hadapanku, memasang tubuhnya sendiri sebagai upaya terakhir yang bisa dia lakukan sebagai sosok pahlawan prajurit DAF yang tak kenal takut.
Saat monster itu melayangkan pukulannya ke arah kami berdua, tiba-tiba dia berhenti di tengah-tengah dengan posisi membeku.
Grrooo....gooo...
Suara aneh yang memekakan telinga tiba-tiba datang dari langit.
Dalam hitungan detik setelah suara itu menghilang, situasi berubah senyap. Anehnya, tak ada suara yang terdengar seperti di matikan secara otomatis melalui sebuah remote.
Dalam sekejab alam semesta bungkam, angin berhenti berhembus, cahaya bintang meredup, rembulan menghilang, para binatang bersembunyi di dalam sangkarnya, lautan berubah menjadi tenang, pepohonan merunduk. Sunyi, bahkan detak jantung ku sendiri seakan berhenti berdetak.
Kesenyapan ini seakan memberikan pertanda, jika sesuatu yang lebih tak masuk akal lagi-lagi menuju kemari. Dengan kekuatan dan juga kekuasaan yang lebih besar.
Angin tiba-tiba berhembus sangat kencang, langit menggelap dengan awan hitam berkumpul di suatu tempat membentuk pusaran yang mirip dengan lubang hitam.
Lalu pusaran aneh berwarna ungu yang ku lihat pertama kali, bersatu bersama awan hitam dengan pergerakan sangat cepat menuju bumi.
tatapan monster itu berubah menjadi sangat waspada, dia gusar, suara gemeretak tulang semangkin sering terdengar seiring dengan suara napasnya yang tak beraturan.
Debu berwarna hitam turun dari pusaran itu seperti hujan, kemudian menyebar memenuhi langit malam dengan suara gemerisik badai pasir.
Debu itu berkumpul di satu titik, menjadi satu, memadat, dan lama kelamaan membentuk sebuah wujud berupa perawakan makhluk hitam besar dengan jubah yang menutupi wajahnya.
Hiro yang menyaksikan hal itu tiba-tiba langsung berlutut seakan kehilangan tenaga. Kepalanya menengadah ke langit ke arah sosok hitam itu, memejamkan kedua matanya seolah hidupnya akan berakhir saat ini juga.
Ngiiiiing......
Tiba-tiba kepalaku terasa sakit. Sangat sakit sampai tubuhku tak bisa menahannya.
Aku terjatuh di tanah, menggeliat, berusaha menahan rasa sakit yang menyerang kepalaku. Namun bagaimanapun caraku untuk mengatasinya, rasa sakit ini semangkin menjadi.
***********
Di malam hujan meteor yang begitu indah, suara gaduh dan jeritan datang dari hutan.
Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, dewa kematian yang sedang sekarat tak bisa mengambil nyawa seseorang, dia marah dengan tatapan bengis yang menyala-nyala lalu bersumpah dengan suara seperti guruh yang menggelegar tak akan melepaskan orang itu sampai ke ujung dunia.
Dewa kematian itu mengutuk pemuda yang tak bisa di cabut nyawanya.
Kemudian tubuhnya menyusut menjadi seorang manusia berparas malaikat dengan mata jingga yang penuh kedengkian.
Dia datang padaku dengan mata jingga menyala-nyala, tapi aku tak mati.
Tak ku sangka menyaksikan kejadian ini membuatku menjadi manusia terkutuk.
"Ternyata benar!"
Ucap suara yang datang dari punggungku.
Aku berdiri dan membalikan tubuhku mengikuti suara itu.
"Setelah beribu tahun menunggu, akhirnya aku menemukan mu!"
"Cassandra!" Panggilku mendekatinya.
"Reinkarnasi, Arslu Moran!" Ujarnya dengan wajah dingin.
************
"Hanah, Hanah, Hanah!"
Aku membuka mataku, suara Hiro yang memanggilku berulang kali telah menyadarkan ku kembali.
Kenapa di saat seperti ini, aku kembali mengingat saat terakhirku bersama Cassandra tempo itu.
Ingatan yang tak bisa ku lupakan bagaimana pun aku berusaha melupakannya. Ingatan yang tak bisa aku buang, bagaimana pun caraku membuangnya.
Seolah setiap kata yang Cassandra ucapkan saat itu, melekat di dalam diriku seperti darah daging.
Aku menatap mahkluk besar hitam di atas ku. Dia benar-benar mengingatkan ku pada sesuatu yang tak ingin aku ingat.
Wujudnya pun sangat mirip dengan saat-saat terakhirku bertemu dengannya 3 tahun lalu.
Bagaimana kalau benar. Bagaimana jika perkataan omong kosong Cassandra adalah sebuah kebenaran yang tak bisa ku hindari.
"Mana...mana mungkin!" Gumam ku dengan tangan gemetar.
Sesuatu yang tak masuk akal lagi-lagi terjadi di hadapan mataku. Saat ini, di hadapan debu-debu hitam yang berterbangan mengitari area ini bagai badai pasir. Aku benar-benar merasakan jika aliran darah ku bersatu bersama debu hitam itu seperti darah dan dagingku.
Grooo...grooo....
Suara aneh yang memekan telinga itu datang lagi, di ikuti suara desiran pasir.
Mahluk hitam itu bergerak dengan kecepatan yang tak masuk akal, debu hitam mengelilingi tubuh monster kerangka seperti kumpulan lebah, dan menggerogotinya dengan berlahan. Tulang belulangnya sontak mengeropos, berlubang mirip penyakit osteoporosis.
Groooaagghhmmm grooohh...
Monster kerangka itu berteriak kesakitan seakan meminta pertolongan, tapi terlambat.
Upaya apapun yang ingin dia lakukan sekarang, adalah tindakan sia-sia yang tak bisa terhindarkan.
Dalam hitungan detik, tubuhnya berubah menjadi serbuk, mirip biji tepung yang telah di olah.
Hingga akhir hayatnya, yang bisa dia lakukan hanyalah berteriak meminta pertolongan, tanpa sanggup berbuat apapun untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Buk....
Tiba-tiba hiro jatuh pinsan. Tubuhnya kaku tak bergerak dengan mata terpejam.
Aku panik dan langsung menghampirinya, namun dia hanya pinsan dengan kondisi tertidur lelap.
Begitu juga denganku, aku kehilangan keseimbangan, mataku berkunang-kunang dengan penglihatan yang tak lagi baik.
Buk..
Aku terjatuh, pandanganku mulai buram.
Di akhir kesadaranku yang mulai hilang. Aku melihatnya.
Debu hitam yang melenyapkan monster kerangka itu, berubah wujud menjadi sesosok manusia.
Dia mengenakan setelan berwarna hitam dengan hodie yang menutupi semua kepalanya, memegang buku tua usang berwarna hitam.
Dia berjalan ke arahku dengan langkah hati-hati, menatapku dengan pandangan yang sama seperti terakhir kali kami bertemu.
"Kau?" Aku menunjuknya dengan tanganku.
Lalu pandanganku gelap. Aku hilang kesadaran.
ini kebenarannya tapi kenapa kedengerannya jadi kek omong kosong 🤣
Tapi perasaan gak ada yang berubah. Ngapain lu hapus bab lama, padahal komentar sama like-nya udah bejibun
Baca bab baru kaga idep
mana Ujan Meteong?!