Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.
Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...
Benarkah rumah itu membawa kutukan?
Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Rumah Pertama Kami
Mentari pagi mulai menghangatkan halaman rumah Hanifah. Suara burung terdengar bersahutan dari pepohonan di depan rumah.
Setelah seluruh rangkaian akad selesai kemarin, Arkana diminta menginap semalam di rumah mertuanya. Selain hari sudah terlalu larut, mereka juga belum memiliki tempat tinggal sendiri.
Arkana keluar dari kamar tamu dengan langkah pelan. Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda dan celana hitam. Saat melewati ruang tamu, ia melihat ayah Hanifah sedang membaca koran sambil menikmati secangkir teh hangat.
"Selamat pagi, Pak," sapa Arkana sopan.
Ayah Hanifah menurunkan korannya sedikit, lalu menatap menantunya. "Pagi. Sudah tidur nyenyak?"
"Alhamdulillah, Pak."
"Bagus."
Tak lama kemudian, Hanifah keluar dari kamarnya. Ia mengenakan gamis sederhana berwarna krem dengan jilbab senada. Wajahnya masih tampak sedikit lelah, tetapi senyum tipis mulai kembali menghiasi bibirnya.
"Pagi, Mas," ucap Hanifah agak malu-malu.
"Pagi."
Keduanya masih terlihat canggung. Baru kemarin mereka resmi menjadi suami istri, dan kini mereka sedang belajar membiasakan diri dengan status baru tersebut.
"Duduklah," ujar ayah Hanifah, memecah kekakuan di antara pasangan muda itu. "Ibumu sedang menyiapkan sarapan."
Tak lama kemudian, ibu Hanifah datang membawa beberapa piring berisi nasi goreng, telur dadar, dan teh hangat. "Ayo makan dulu."
"Terima kasih, Bu," ucap Arkana.
Mereka pun menikmati sarapan bersama dalam suasana yang tenang. Sesekali ibu Hanifah menambahkan lauk ke piring Arkana. "Masih muda, makannya yang banyak," katanya sambil tersenyum.
Arkana tersipu malu mendapat perhatian itu. "Iya, Bu."
Hanifah hanya memperhatikan sambil tersenyum kecil. Melihat ibunya mulai menerima Arkana sedikit demi sedikit membuat hatinya merasa lebih lega.
Setelah selesai makan, ibu Hanifah masuk ke dapur sebentar. Beliau kembali membawa sebuah tas kain berisi beberapa kotak makanan. "Ini bekal untuk kalian."
Hanifah langsung menggeleng. "Bu, tidak usah. Nanti kami beli saja di luar."
"Sudah, bawa saja." Beliau menyerahkan tas itu kepada Arkana. "Arkana."
"Iya, Bu."
"Hanifah kadang lupa makan kalau sedang banyak pikiran."
Arkana menerima tas itu dengan kedua tangan. "Terima kasih, Bu. Saya akan menjaganya."
Ibu Hanifah mengangguk pelan. "Kalau dia mulai keras kepala, jangan dimarahi. Bicarakan baik-baik."
"Insyaallah, Bu."
Hanifah langsung menundukkan kepala, pipinya merona merah. "Bu... Hanifah tidak sekeras kepala itu."
Ibu Hanifah tertawa kecil. "Dari kecil kamu memang begitu." Suasana yang semula kaku perlahan berubah lebih hangat.
Beberapa menit kemudian, ayah Hanifah berdiri dan mengajak Arkana ke teras rumah.
"Arkana," panggil beliau setelah mereka berdiri di dekat pagar. Beliau memandangi menantunya cukup lama. "Mulai hari ini Hanifah berada dalam tanggung jawabmu."
Arkana mengangguk mantap. "Saya paham, Pak."
"Dia memang sering menyimpan semuanya sendiri. Kalau sedang sedih, dia lebih banyak diam. Jangan biarkan dia menghadapi semuanya sendirian."
"Saya janji, Pak."
Ayah Hanifah menepuk bahu Arkana pelan. "Saya tidak meminta kamu menjadi suami yang sempurna. Tapi jadilah suami yang mau belajar."
Kalimat itu membuat Arkana tersenyum tipis. "Saya akan mengingatnya."
Di dalam rumah, Hanifah sedang berpamitan dengan ibunya. Ibu Hanifah membenarkan letak jilbab putrinya yang sedikit miring. "Kalau capek, istirahat. Jangan memaksakan diri."
"Iya, Bu."
"Dan..." Beliau menggenggam tangan Hanifah, menurunkan suaranya menjadi bisikan penuh kasih. "...jaga kandunganmu baik-baik."
Hanifah mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Bu." Tanpa sadar, matanya mulai berkaca-kaca. Ia langsung memeluk ibunya erat. "Terima kasih untuk semuanya."
Ibu Hanifah membalas pelukan itu tak kalah erat. "Rumah ini akan selalu menjadi tempatmu pulang."
Hanifah mengangguk pelan. "Insyaallah."
Tak lama kemudian, Arkana menghidupkan mesin motornya. Hanifah berdiri beberapa saat di depan rumah, memandangi tempat yang telah menjadi saksi seluruh masa kecilnya.
"Sudah siap?" tanya Arkana.
Hanifah menarik napas panjang, lalu mengangguk. "Sudah."
Ia naik ke atas motor dengan hati-hati. Awalnya ia hanya memegang bagian belakang jok, membuat Arkana menoleh sambil tersenyum. "Pegang jok terus?"
Hanifah mengangguk polos. "Iya."
"Nanti kalau aku ngerem mendadak, kamu bisa jatuh."
Hanifah terlihat bingung. "Lalu harus pegang apa?"
Arkana terkekeh pelan. "Pinggangku juga boleh."
Wajah Hanifah langsung memerah mendengarnya. "Ih, Mas..." Ia mencubit pelan lengan suaminya, membuat Arkana tertawa kecil.
"Ya sudah, Mas bercanda."
Beberapa detik kemudian, Hanifah perlahan melingkarkan tangannya ke pinggang Arkana. Meski masih malu-malu, genggamannya terasa hangat. Arkana tersenyum kecil sebelum akhirnya memacu motornya meninggalkan rumah. Dari teras, ayah dan ibu Hanifah berdiri memperhatikan mereka hingga menghilang di ujung jalan.
"Semoga mereka selalu diberi kekuatan," gumam ibu Hanifah pelan.
Ayah Hanifah mengangguk. "Aamiin."
...✧─────────── ✦ ───────────✧...
Perjalanan menuju rumah yang dimaksud Arkana memakan waktu cukup lama. Jalan yang mereka lewati perlahan berubah; bangunan pertokoan mulai berkurang, berganti dengan rumah-rumah penduduk yang berdiri berjauhan.
Sesekali Hanifah memandangi pemandangan di sepanjang jalan. "Mas," panggilnya di sela deru angin.
"Iya?"
"Mas sudah pernah ke sana sebelumnya?"
Arkana mengangguk. "Sudah."
"Kapan?"
"Beberapa hari sebelum datang ke rumahmu."
Hanifah menoleh sedikit, mencoba melihat profil samping wajah suaminya. "Jadi waktu Mas bilang sudah menemukan rumah—"
"—rumah itu yang akan kita lihat." Arkana menyambung kalimat istrinya.
Hanifah mengangguk pelan. "Kenapa tidak cerita dari dulu?"
"Aku belum berani. Takut kalau ternyata rumah itu sudah dibeli orang lain."
Hanifah tersenyum kecil. "Mas ternyata banyak menyimpan sendiri."
Arkana ikut tersenyum. "Aku hanya ingin menyiapkan sesuatu sebelum menikah."
Menjelang tengah hari, Arkana memperlambat laju motornya. "Masuk dulu, ya."
Hanifah melihat sebuah warung makan sederhana di tepi jalan. Mereka turun lalu memilih duduk di dekat jendela. Seorang pelayan datang menghampiri mereka.
"Mau pesan apa, Mas?" tanya pelayan itu.
Arkana menyerahkan buku menu kepada Hanifah. "Kamu pilih saja."
Hanifah membuka daftar menu perlahan. Matanya langsung tertuju pada deretan harga, memindai angka yang paling ramah di dompet mereka. Tanpa banyak berpikir, ia memilih menu yang paling murah. "Saya nasi ayam saja."
"Minumnya?"
"Es teh."
Pelayan kemudian menoleh kepada Arkana. "Kalau Mas?"
"Sama."
Setelah pelayan pergi, Arkana memperhatikan wajah istrinya. "Kamu sebenarnya ingin makan yang lain, kan?"
Hanifah menggeleng. "Aku memang ingin makan ini."
Arkana tersenyum tipis. "Jangan bohong. Aku lihat kamu tadi melihat harganya dulu."
Hanifah menundukkan kepala, merasa tertangkap basah. "Aku cuma tidak ingin pengeluaran kita bertambah."
Ucapan itu membuat Arkana membuka dompetnya. Beberapa lembar uang tersusun rapi di dalamnya, namun jumlahnya memang tidak banyak. Sebagian besar tabungannya sudah habis untuk biaya akad dan kebutuhan lain. Ia menatap dompet itu beberapa saat sebelum menutupnya kembali.
"Maaf," bisik Arkana pelan.
Hanifah mengangkat wajah. "Untuk apa?"
"Aku belum bisa memberikan yang terbaik."
Hanifah langsung menggeleng, lalu menggenggam jemari Arkana di atas meja. "Mas, aku menikah sama Mas bukan karena ingin hidup mewah. Selama kita bisa makan bersama seperti ini... itu sudah cukup buatku."
Kalimat sederhana itu membuat dada Arkana terasa hangat. Dalam hati ia berjanji, suatu hari nanti ia ingin mengajak Hanifah makan tanpa harus memikirkan harga di buku menu.
Setelah selesai makan siang, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Arkana memperlambat motornya di depan sebuah rumah bercat putih dengan pagar besi berwarna hitam.
"Nah... kita sudah sampai," ucap Arkana.
Hanifah turun sambil memandang rumah itu. Rumah tersebut tidak terlalu besar, namun terlihat bersih dan terawat. Di halaman depannya tumbuh beberapa tanaman hias yang masih berbunga.
"Bagus juga," puji Hanifah.
Arkana tersenyum lega. "Aku juga langsung suka waktu pertama melihatnya."
Tak lama kemudian, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun keluar dari dalam rumah. "Oh, ini Mas Arkana, bukan?"
Arkana segera menghampiri pria itu. "Iya pak, yang kemarin kesini. Selamat siang, Pak."
"Selamat siang." Pria itu kemudian menoleh kepada Hanifah. "Ini istri Mas?"
"Iya, Pak."
"Alhamdulillah. Selamat ya."
"Terima kasih."
Pemilik rumah tersenyum ramah. "Silakan masuk. Kemarin Mas Arkana hanya melihat-lihat bagian luar. Sekarang sekalian lihat isi rumahnya."
Mereka bertiga masuk ke dalam. Ruang tamunya memang sederhana. Di sebelah kanan terdapat dua kamar tidur, sementara dapur berada di bagian belakang dan langsung terhubung dengan halaman kecil.
Hanifah berjalan perlahan mengelilingi rumah. Tangannya menyentuh kusen jendela yang masih kokoh. "Lumayan nyaman."
Arkana mengangguk. "Aku membayangkan kita bisa memulai semuanya dari sini."
Hanifah tersenyum. "Kalau dapurnya nanti kita rapikan sedikit pasti lebih bagus. Terus halaman belakangnya bisa ditanami cabai sama tomat."
Arkana tertawa kecil. "Baru lihat rumah saja sudah dipikirkan mau bercocok tanam dibelakang."
"Kan biar hemat," sahut Hanifah jenaka. Jawaban itu membuat mereka sama-sama tersenyum.
Setelah selesai berkeliling, mereka kembali ke ruang tamu. Arkana mulai membahas harga rumah. "Pak, apakah masih bisa dicicil seperti yang Bapak jelaskan kemarin?"
Pemilik rumah mengangguk. "Bisa. Saya juga sedang butuh dana cepat. Anak saya mengajak pindah ke luar kota, itulah kenapa rumah ini saya jual lebih murah."
Arkana mengangguk pelan. Jawaban itu sama seperti yang ia dengar beberapa hari lalu. Ia mulai merasa rumah ini benar-benar menjadi kesempatan terbaik yang mereka miliki.
"Kalau begitu, saya akan berdiskusi dulu dengan istri saya."
"Tentu saja," Pemilik rumah tersenyum ramah. "Silakan dipikirkan baik-baik."
Arkana dan Hanifah kemudian berpamitan. Namun, saat mereka baru beberapa langkah meninggalkan pagar rumah, seorang perempuan paruh baya yang sedang menyapu halaman rumah di seberang jalan memperhatikan mereka dengan tatapan ganjil.
"Nak..." panggil perempuan itu.
Arkana dan Hanifah berhenti. "Iya, Bu?" sahut Arkana.
"Kalian mau beli rumah itu?"
Arkana mengangguk. "Iya, Bu."
Perempuan itu terdiam cukup lama. Tatapannya bergantian mengarah kepada mereka dan rumah yang baru saja mereka lihat. "Kalau Ibu boleh memberi saran... tolong jangan terburu-buru mengambil keputusan."
Hanifah saling pandang dengan Arkana, merasakan firasat aneh. "Memangnya kenapa, Bu?"
Perempuan itu hanya tersenyum tipis. "Besok saja datang lagi. Nanti Ibu ceritakan."
Tanpa menunggu jawaban, perempuan itu kembali menyapu halamannya. Arkana dan Hanifah berdiri kebingungan di tepi jalan. Mereka sama-sama tidak mengerti apa maksud ucapan perempuan tersebut. Namun entah mengapa, perkataan singkat itu terus terngiang di kepala mereka sepanjang perjalanan pulang.