NovelToon NovelToon
Akad Yang Tak Kuinginkan

Akad Yang Tak Kuinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikah Kontrak
Popularitas:92.5k
Nilai: 5
Nama Author: Shinta Aryanti

Jingga Nayara tidak pernah membayangkan hidupnya akan hancur hanya karena satu malam. Malam ketika bosnya sendiri, Savero Pradipta dalam keadaan mabuk, memperkosanya. Demi menutup aib, pernikahan kilat pun dipaksakan. Tanpa pesta, tanpa restu hati, hanya akad dingin di rumah besar yang asing.

Bagi Jingga, Savero bukan suami, ia adalah luka. Bagi Savero, Jingga bukan istri, ia adalah konsekuensi dari khilaf yang tak bisa dihapus. Dua hati yang sama-sama terluka kini tinggal di bawah satu atap. Pertengkaran jadi keseharian, sinis dan kebencian jadi bahasa cinta mereka yang pahit.

Tapi takdir selalu punya cara mengejek. Di balik benci, ada ruang kosong yang diam-diam mulai terisi. Pertanyaannya, mungkinkah luka sebesar itu bisa berubah menjadi cinta? Atau justru akan menghancurkan mereka berdua selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinta Aryanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak yang Mulai Menipis.

Ruang kerja Savero terasa lengang setelah Jingga berpamitan pulang lebih dulu. Keceriaan kantor itu seolah sirna bersamaan dengan kursi kerja Jingga yang sudah kosong.

Di atas meja kerja Savero, map berisi laporan keuangan yang sempat diserahkan Jingga tadi sore tergeletak rapi.

Savero bersandar di kursi, mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya, pikirannya tak jauh-jauh dari gadis itu. Namun ketukan pelan di pintu memecah lamunannya.

“Masuk,” ucapnya singkat.

Pintu terbuka, menampakkan Nisa yang masuk dengan langkah mantap, meski wajahnya jelas tegang. Di tangannya ada setumpuk berkas yang tampak sudah penuh coretan tanda revisi.

“Pak, ada yang mau saya sampaikan,” katanya sambil buru-buru menutup pintu, nada suaranya terdengar berapi-api.

Savero hanya mengangkat alis, memberi isyarat agar Nisa mendekat. Ia menunggu sampai gadis itu menaruh map di meja.

“Ini laporan keuangan yang tadi,” Nisa menunjuk halaman tertentu. “Saya yakin ada yang aneh. Terutama di bagian tanda tangan Jingga. Memang mirip, tapi ini bukan tanda tangannya, Pak! Saya tahu betul tanda tangan teman saya itu.”

Savero menghela napas panjang, lalu menarik map tersebut mendekat. Ia membuka lembaran yang dimaksud, mengamati dengan tenang sebelum menoleh pada Nisa. “Kamu pikir saya tidak tahu?”

Nisa terbelalak. “Jadi Bapak sudah tahu?”

Savero mencondongkan tubuh, menunjuk coretan di kertas. “Huruf A di tanda tangan ini bentuknya berbeda dengan laporan asli yang biasa Jingga buat. Lebih melengkung. Sedangkan miliknya… tegas, tajam. Aku hapal.”

Sekilas wajah Nisa tampak kagum. “Bapak ternyata memperhatikan sedetail itu, ya?”

Savero mendengus kecil. “Apa kau tidak mengenal sepupumu sendiri, Nisa?”

Ucapannya membuat Nisa otomatis mendengus balik, lalu menjatuhkan diri ke kursi di depan Savero dengan santai. Hanya mereka berdua yang tahu soal hubungan keluarga itu. Ayah Savero sejak awal tak ingin ada isu nepotisme di kantor, dan Nisa pun sama sekali tak mau dianggap bekerja karena “orang dalam.”

Ia menatap Savero penasaran. “Jadi menurut Kakak, ada yang sengaja menukar laporan keuangan Jingga?”

“Pasti,” jawab Savero singkat, tangannya menyilangkan lengan. “Dan kita akan tahu siapa pelakunya lewat rekaman CCTV.”

Mata Nisa membulat. “Sejak kapan ada CCTV di situ?”

“Sejak lama.” Suaranya datar, nyaris malas menjawab.

Nisa terkaget-kaget. “Jadi… Kakak melihat semuanya? Semua?” cerocos Nisa.

Savero melirik dari balik kaca mata bacanya. “Maksudmu saat kau ketiduran di ruang kerja? Atau waktu kau diam-diam makan cokelat padahal katanya diet?”

Pipi Nisa memanas, ia menutup mulut lalu terkekeh malu. “Aduh… jadi ketahuan juga. Jadi, kita bisa lihat siapa pelakunya?”

Savero tidak menanggapi, ia hanya menyalakan laptop dan membuka folder rekaman. Sorot matanya tajam menyipit ke layar. Nisa yang duduk di seberang spontan mendekat, nyaris menempelkan wajahnya di samping layar.

Tak butuh lama. Sosok yang mereka kenal baik muncul di rekaman, tangan sibuk menyelipkan dokumen.

“Itu… Lidya, kan?” suara Nisa tercekat.

Savero mengangguk perlahan. “Sudah kuduga.”

“Ya Tuhan… kenapa dia sejahat itu pada Jingga?” Nisa menggertakkan giginya, wajahnya memerah karena marah. “Apa karena dia….”

“SELINGKUH DENGAN MAHESA,” sahut keduanya bersamaan.

Nisa sontak menoleh cepat. “Kakak tahu?”

“Aku melihat mereka bermesraan saat outing kemarin,” jawab Savero, nada suaranya rendah tapi tegas.

“Berengsek!” Nisa mengepalkan tangan, matanya berkilat menahan geram. “Kita harus kasih tahu Jingga, Kak.”

Savero segera memotong. “Jangan. Jangan libatkan Jingga dulu. Kita lihat sejauh mana Lidya dan Mahesa berani bermain.”

“Tapi… bagaimana kalau mereka punya rencana jahat lain untuk Jingga?” desak Nisa.

Savero menatap layar yang sudah dipause, lalu pelan-pelan menutup laptopnya. “Aku akan menjaganya.”

Nisa melongo sejenak, lalu senyumnya melebar nakal. Ia menatap Savero dengan tatapan penuh godaan. “Kau, Kak? Kau menjaga Jingga? Sejak kapan Kakak peduli padanya? Bukannya Kakak nikah karena terpaksa?”

Savero berdehem, wajahnya memerah samar. “Nisa, jangan mulai.”

Nisa menahan tawa, tapi sulit menyembunyikan ekspresi geli. “Jangan bilang… Kakak sudah mulai ada rasa sama Jingga?”

Kedipan mata Savero cepat, wajahnya makin panas. Ia memilih menegakkan punggung dan bersuara tegas. “Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, kamu bisa kembali kerja.”

Nisa meledak tertawa kecil. “Ahahaha… jadi benar!”

Savero menyipitkan mata. “Nisa, apa perlu aku kasih tugas baru, lembur sampai malam?”

“Ahahaha… ampun, Kak! Ampun!” seru Nisa sambil terkekeh, buru-buru mengumpulkan berkasnya dan berlari kecil keluar ruangan.

Pintu menutup rapat.

Savero mengembuskan napas berat, menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Seketika ruang kerja itu kembali sunyi. Namun dalam hening itu, satu nama terus berputar di kepalanya, Jingga.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pintu rumah terdengar beep singkat lalu klik, smart lock otomatis terbuka. Daun pintu bergeser perlahan, memperlihatkan sosok Savero yang baru pulang. Ia tidak membawa apa pun di tangannya, hanya merapikan sedikit lengan kemejanya yang sudah digulung sejak sore. Wajahnya tampak lelah, tapi sorot matanya jauh lebih teduh dibanding biasanya.

Di ruang tengah, Jingga sudah duduk santai di sofa dengan bantal dipeluknya. Televisi menyala, menampilkan acara komedi malam, namun jelas ia tak terlalu memperhatikan. Begitu melihat Savero masuk, alisnya langsung terangkat.

“Kaget saya, kirain maling,” ucap Jingga, suaranya datar tapi matanya berkilat jahil.

Savero berhenti sejenak, menatapnya. “Maling mana bisa buka smart lock?” balasnya, dengan nada tenang tapi ada senyum samar yang ia tahan.

Jingga mengedikkan bahu. “Ya siapa tahu malingnya jenius.”

Savero meletakkan kunci mobil di meja kecil dekat pintu lalu berjalan pelan menuju sofa. Tatapannya sekilas ke arah bantal yang Jingga peluk erat, seperti tameng. “Kamu belum tidur?” tanyanya, suaranya lebih lembut dari biasanya.

“Lagi nonton,” jawab Jingga singkat, lalu menoleh ke TV seolah-olah acara receh itu menarik sekali.

Savero menarik napas dalam, lalu duduk di ujung sofa, menjaga jarak tapi cukup dekat untuk sekadar mendengarkan hembusan napasnya. Ada jeda hening beberapa detik. Jingga akhirnya meliriknya dengan tatapan sinis.

“Biasanya Bapak pulang larut. Tumben jam segini sudah nongol,” sindirnya.

Savero menoleh, matanya menatap wajah Jingga sebentar sebelum kembali menatap lurus ke depan. “Saya capek,” katanya pelan, “tapi… lebih capek kalau pulang terlalu larut malam.”

Jingga berkedip, nyaris kaget dengan nada suara Savero yang tenang, tak sinis seperti biasa. “Wah, ada apa ini? Bos besar kita bisa ngomong manusiawi juga ternyata.”

Savero tersenyum samar, kali ini tak ditahan. “Kamu selalu punya komentar negatif, ya?”

“Kalau enggak gitu, rumah ini sepi banget,” balas Jingga cepat, lalu kembali memeluk bantalnya.

Keheningan kembali menyelimuti, tapi kali ini tak sedingin seperti biasanya. Ada semacam kehangatan yang sedikit tercipta. Savero menatap Jingga sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi ia memilih menahan diri.

Savero bersandar di sofa, menghembuskan napas pelan seolah akhirnya bisa rileks setelah seharian berkelut dengan setumpuk dokumen. Matanya sesekali melirik Jingga yang masih pura-pura fokus ke TV. Sebenarnya ia ingin membuka percakapan, tapi lidahnya terasa kaku.

Jingga sendiri sebenarnya sudah resah. Ada yang aneh malam ini. Biasanya begitu pulang, Savero langsung dingin, bicaranya singkat, bahkan bisa satu malam penuh tak mengucap satu patah kata pun. Tapi sekarang? Nada suaranya lebih pelan, tatapannya tidak setajam biasanya.

Jingga mendengus kecil lalu menoleh cepat, menatapnya curiga. “Bapak kenapa sih?”

Savero mengangkat alis. “Kenapa apanya?”

“Biasanya kalau saya ngomong begini Bapak udah ngomel. Sekarang malah tenang-tenang aja. Jangan-jangan…” Jingga mengerling tajam penuh dramatis. Lalu tanpa aba-aba, ia mencondongkan tubuh, menempelkan punggung tangannya ke pelipis Savero. “Jangan-jangan Bapak demam?”

Savero sontak menegang, matanya melebar. Tubuhnya kaku seperti patung. Sentuhan ringan itu membuat jantungnya berdebar tidak karuan. “A-apa yang kamu lakukan?” suaranya terdengar serak.

“Cek suhu badan,” jawab Jingga santai, wajahnya dekat sekali hingga Savero bisa menangkap aroma sampo yang masih segar dari rambutnya. “Hmm… hangat sih, jangan-jangan Bapak masuk angin.”

Savero buru-buru menarik kepalanya sedikit, salah tingkah. “Saya baik-baik saja,” ucapnya cepat.

Jingga terkekeh, menepuk pelan bahu Savero lalu kembali bersandar santai. “Syukurlah kalau baik-baik aja. sampai mikir jangan-jangan Bapak lagi kena virus ‘jadi manusia normal’.”

Savero menghela napas, setengah kesal setengah malu. “Kamu ini…” katanya sambil mengusap pelipisnya sendiri, menutupi rona merah tipis yang mulai muncul.

Jingga memelototinya, masih penasaran. “Serius deh, Bapak kenapa? Ada yang aneh. Kalau biasanya Bapak udah potong kalimat saya, sekarang malah diem aja. Jangan-jangan Bapak lagi kesambet?”

Savero menoleh, menatapnya agak lama. Ada sesuatu yang sudah bercokol di tenggorokannya , tapi ia tidak mengucapkan apa-apa.

Jingga yang awalnya ingin meledek lebih jauh malah jadi salah tingkah sendiri. Ia buru-buru meraih remote TV dan memperbesar volume. “Ah, sudahlah. Saya nggak mau kepo. Ntar saya malah kena getahnya.”

Savero tersenyum kecil melihat tingkahnya, lalu bersandar lebih dekat, membuat jarak di antara mereka makin menyempit.

(Bersambung)…

1
Halimatus Syadiah
ini apa sdh tamat? ko gak ada beritanya
illl
jawaban pemeran cewek kurang relate sama kehidupan kantor, lebih ke seperti jawab ke temen
Saimah Manurung
kok tidak ada lanjutannya,ini belum tamat
ovi eliani
up lg dong thor seru ini, semoga ada kabar klo istri tercinta lg hamil ya
ceyee
alurnya copy drakor
Yuliana Tunru
akhir x keremy dan vero baik2 z smoga bahagia dan smoga njingga hamil
Sri Wahyuni Abuzar
alhamdulillah..makasih savero sudah bertahan dan berjuang untuk tetap hidup demi jingga 🥰
Yuliana Tunru
apa savero jatuh ya tp kyk x aavero sengaja menghilang biar di anggap mati ..jgn gitu dong thorr kapan bahagia x baru z jibgga dan vero merasakan bahagia di.pernikqhqn x tp krn nadine semua qmbyar resepsi gagal skrg vero hilang gmn ortu vero ya 😭😭 up x jarang bikin kesel
Juwita Moecharael: Aku pikir mingkin Savero sengaja membuat Skenario seoalah meninggal agar tidak akan bercerai dengan Jingga😅
total 1 replies
Maya Lara Faderik
sama terluka
Yuliana Tunru
jingga ini penyesalan teebesarmu saat kau ingin savero sadar gmn penipu x nadine knp ada cerita ttg cerai apalg lewat kevin hrs kau rangkul savero smoga z selanat klobtdk hancur lah semua x jibgga bkn cm oenyesalan mu tp ortu savero jg pasri akan marah kau akan jd tersangka
aku
oalah. karepmu wes piye. 🤧
Cookies
jingga balik ke savero??
Maya Lara Faderik
bagus jinga
Cookies
lanjut thor
Ratna Ningsih
ya siih jingga pegel perih.ntar paa udah sembuh mau lagi🤣🤣🤣
Sri Wahyuni Abuzar
ngenes amat nasib mu bang savero 🤣🤣
mau sampe kapan jingga silent treatmen ke savero...sudahi dan hidup bahagia lah bersama 🥰
Meliandriyani Sumardi
mungkin jingga sdh menyerah sama perasaannya ,terlalu sakit apa yg sdh savero perbuat ...lanjut kak
Cookies
next update thor
Meliandriyani Sumardi
bener. banget biarin aja jingga menjauh dulu biar savero sadar bahwa jingga berharga...kesel banget sama savero soalnya🤭..lanjut kak
Cookies
lanjut thor, seru nih, bagus lah jingga menjauh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!