Di hari pernikahan nya. Keisya mengetahui jika ia bukan lah Anak Kandung dari Papa dan Mama nya. Hari itu, dunia nya serasa han-cur. Bukan hanya kehilangan orang tua. Calon suami pun membatalkan pernikahan mereka. Dalam sehari, Keisya berubah menjadi asing di mata mereka. Harus kah mereka begitu ke-jam?
Dapat kah Keisya menjalani hari-hari nya seperti biasa?
Temukan jawabannya di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Keisya? Kau masih...."
"Ada apa, Mama? Mengapa Mama begitu terkejut saat melihat ku? Apa Mama tidak senang?"
"Tidak! Kau bukan Keisya. Siapa kau sebenarnya?"
"Aku adalah Keisya. Mengapa Mama berpikir jika aku bukan Putri angkat Mama?"
"Wajah mu. Saat itu jelas sekali jika wajah mu sudah terlu-ka. Kami melihat sendiri bagaimana seluruh tubuh mu di han-cur kan."
"Lalu, jika sekarang aku baik-baik saja, apa kalian keberatan?" Ucap Keisya sambil tersenyum.
"Keisya, jika ini benar kau. Maka kau harus kembali ke penjara untuk menerima hukuman mu. Bukan kah saat itu kau sudah mati maka nya bisa bebas?"
Cindi pun ikut bicara dan mengatakan hal yang tidak penting itu pada Keisya. Namun Keisya, sama sekali tidak peduli.
"Oh ya? Kalau begitu, silahkan lapor polisi dan kita lihat, apakah mereka masih menerima ku untuk bermain-main di sana?"
Hahahahahahaha
Keisya kemudian tertawa sambil memegang perut nya. Bagi nya, apa yang ia katakan tadi benar-benar sangat lah lucu.
Tuan Atmajaya pun mencoba menghubungi teman nya dan mengatakan apa yang terjadi saat itu.
Pria tua itu benar-benar terkejut saat salah satu teman nya mengatakan jika jejak yang di tinggalkan Keisya di penjara telah menghilang.
Karena saat itu Keisya telah ma-ti, maka semua data-data nya telah di hancurkan, dan jejak nya di hapus.
"Ada apa, Pa? Apa Papa sudah menghubungi teman Papa? Apa kata nya?"
"Keisya sudah ma-ti dan semua jejak kehidupan nya telah di hapus." Ucap Tuan Atmajaya.
"Kalau begitu, dia bukan Keisya. Dia pasti penipu yang wajah nya mirip dengan Keisya."
Mereka bertiga terus saja mengatakan hal yang membuat Keisya terus tertawa. Namun, Keisya rasa nya begitu muak dengan mereka.
"Keamanan! Tolong usir mereka bertiga dan jangan pernah terima mereka di kemu hari. Jika mereka memaksa, laporkan mereka ke kantor polisi karena sudah mengganggu keamanan perubahan kita."
"Baik, Bu Keisya. Akan kami laksanakan."
Beberapa tim keamanan pun membawa dan mengusir ketiga tamu tak di undang itu keluar dari sana.
Wajah mereka langsung di input dan di berikan tanda hitam. Itu tanda nya, mereka tidak akan pernah di terima di perusahaan itu selama nya. Jika mereka melanggar, maka polisi pun akan datang untuk menangkap mereka.
"Bu Keisya, wajah mereka sudah di input."
"Baiklah. Kalau begitu sebarkan ke seluruh sosial media, jika ketiga orang ini ditolak perusahaan kita karena telah menghina saya."
"Baik, Bu Keisya."
Tidak lama kemudian, tim yang bekerja di bawah perusahaan nya Keisya, mulai menyebarkan wajah-wajah ketiga orang itu di seleksi sosial media.
Di sana di katakan , jika ketiga orang itu mencari masalah dan juga telah menghina pimpinan di perusahaan game terlaris saat itu.
Dan dalam sekejap, berita tentang keluarga Atmajaya yang membuat heboh di perusahaan Keisya pun tersebar.
"Om, Tante. Lihat ini." Ucap Cindi sambil memperlihatkan apa yang ada di ponsel nya.
Hampir saja ponsel itu di banting oleh Nyonya Atmajaya. Ia sangat lah terkejut, karena kini mereka telah terkenal di dunia maya.
Bermacam cacian dan hinaan terlontar oleh mereka. Apalagi yang mengomentari berita itu, kebanyakan fans nya Keisya.
Sebagai pendiri perusahaan game terbesar pertama, fans nya Keisya memang sudah sangat lah banyak. Apalagi game nya memang cocok untuk semua kalangan.
"Apa ini, Cindi? Mengapa kita tak bisa masuk dan terkenal secara tiba-tiba?"
"Tante, kita telah masuk perangkap Keisya. Dan sekarang kita telah di permalukan oleh nya."
Cindi pun cepat-cepat menutup wajah nya karena sangat malu. Siapa yang tidak tahu perusahaan game itu.
Bahkan di kota tempat tinggal mereka, hanya ada satu. Perusahaan itu sangat di cintai oleh para anak-anak muda.
Dengan cara menyebar kan keburukan keluar Atmajaya ke sosial media, maka bisa di pastikan jika mereka akan sulit untuk keluar rumah di kemudian hari.
"Ku-rang ajar sekali anak itu. Bisa hancur reputasi kita jika seperti ini. Ayo cepat kita masuk ke dalam mobil dan pulang. Dan kau Cindi, jangan ikut kami. Dasar kau pembawa si-al!"
Cindi pun di biarkan pulang sendiri. Keluarga Atmajaya benar-benar meninggal kan Cindi dan tak ingin lagi dekat dengan nya.
Sungguh malang sekali nasib mereka. Padahal, Keisya baru saja memakai sedikit kekuatan nya. Tapi keluarga itu, sudah harus lari terbirit-birit.
******
Berita tentang orang tua nya, membuat Karla di marahi habis-habisan oleh keluarga suami nya.
Saat itu, Karla tak di izinkan lagi berhubungan dengan keluarga Atmajaya. Jika Karla tak mendengar, maka siap-siap Karla akan di ceraikan oleh Tama.
"Tama, kamu sudah kembali? Kemana saja kamu selama beberapa hari ini?" Tanya Karla saat melihat suami nya pulang.
"Itu bukan urusan mu. Kau hanya lah istri di atas kertas. Jadi, jangan ikut campur urusan ku."
"Jika aku hanya istri di atas kertas, apakah Keisya juga begitu?"
Tama yang sejak tadi sibuk dengan sesuatu, tiba-tiba saja berhenti dan langsung menghadap ke arah Karla.
"Apa kau menyuruh ku untuk membandingkan diri mu dengan Keisya? Apa kau serius? Kau sungguh konyol. Seujung kuku pun kau tak bisa di bandingkan dengan Keisya. Jika Keisya memiliki seribu persen kelebihan, maka kau adalah nol. Kau itu angka nol, Karla."
Hahahhahahaa
"Jika seperti itu, mengapa kau tidak membela nya saat itu? Keisya bahkan di penjara dan di permalukan di hari pernikahan nya. Dimana kau saat itu? Mengapa kau diam saja?"
"Aku.."
"Kau pengecut, Tama. Kau juga munafik. Kau juga tahu Keisya di sik-sa di penjara dan kau hanya diam dan menikmati nya. Sekarang, kau malah menyesal? Kau benar-benar konyol Tuan Muda Tama."
Plak...
Plak...
Suara tampa-ran itu begitu renyah terdengar. Kedua pipi mulus itu di tam-par oleh Tama. Ia selama ini sudah sangat kesal dengan kelakuan Karla.
"Jika bukan karena nenek, mungkin kau sudah aku ceraikan. Ingat Karla, jangan banyak mengeluh. Nikmati saja apa yang seharusnya menjadi milik Keisya. Saat ini, aku akan berusaha merebut nya kembali untuk kembali ke sisi ku."
"Jika Keisya kembali, lalu aku bagaimana?"
"Kau? Kita akan bercerai dan aku akan mengembalikan mu ke keluarga Atmajaya. Tenang saja, kau masih lah pera-wan. Jadi, pasti ada Pria baik-baik yang akan mau menjadi suami mu."
"Jika aku tak mau bercerai, apa yang akan kau lakukan pada ku, Tama?"
"Hmm,,, aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan, Karla. Dan kau, jangan menguji kesabaran ku. Diam lah dan jangan banyak bicara. Aku pergi dulu."
Tama lagi-lagi pergi meninggalkan Karla seorang diri di kamar itu. Entah sudah berapa malam ia habiskan seorang diri di atas ranjang yang dingin itu.
Kini, ia hanya bisa menangis dan meraung. Mengadu pada orang tua nya pun tak berguna.
Jika tahu kehidupan nya bisa sehancur ini, ia bahkan lebih memilih untuk kembali lagi ke keluarga angkat nya yang ada di desa.
Setidak nya, mereka benar-benar tulus dalam menyayangi dan mencintai Karla tanpa meminta imbalan.
"Keisya, kamu menang. Aku sudah kalah bahkan sebelum bertanding."
biyuuhh