NovelToon NovelToon
TALI MERAH & TEH TARIK

TALI MERAH & TEH TARIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:32
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Sore itu udara di luar agak mendung, tapi di dalam kafe suasananya tetap hangat dan tenang. Seperti biasa, Arjun sudah duduk di meja tujuh dengan segelas teh tarik kesukaannya yang sudah tinggal separuh. Aku sedang membereskan nampan di dekat kasir, tapi hidungku menangkap sesuatu yang berbeda hari ini.

Ada wangi yang samar-samar, tapi terasa lembut dan menenangkan. Bukan wangi kopi, bukan juga wangi kue atau parfum biasa. Wanginya khas, campuran antara rempah, kayu manis, dan sedikit bunga-bungaan. Wangi yang pernah aku cium dulu saat lewat di depan rumah-rumah warga keturunan India.

Aku penasaran, jadi berjalan menghampiri mejanya.

"Arjun... kamu pakai parfum apa sih hari ini? Wanginya enak banget, beda dari biasanya," tanyaku sambil menaruh buku catatan di meja, sekadar untuk basa-basi.

Arjun langsung tersenyum lebar. Dia mengangkat lengan bajunya sedikit, lalu mencium ujung baju itu seolah sedang memastikan baunya masih ada.

"Ini bukan parfum, Aira. Ini minyak wangi peninggalan kakek aku. Namanya Attar. Di India, ini sudah dipakai sejak zaman dulu banget, jauh sebelum ada parfum botolan kayak sekarang," jawabnya dengan nada bangga.

Dia menatapku yang masih terlihat bingung, lalu melanjutkan ceritanya dengan semangat.

"Bedanya sama parfum biasa, kalau ini bahannya dari bunga-bunga asli, akar tanaman, dan rempah-rempah. Dibuatnya juga lama banget, harus direbus dan didiamkan berhari-hari biar wanginya meresap dan awet. Kakek aku bilang, wangi ini itu jujur. Dia tidak menyengat, tapi melekat lama di baju, di rambut, sampai di ingatan orang yang menciumnya."

Aku mengangguk pelan, mencoba membayangkan proses pembuatannya yang terdengar rumit itu.

"Jadi... setiap kali kamu pakai ini, kamu ingat kakek kamu ya?" tanyaku pelan.

"Banget," jawab Arjun cepat. Matanya jadi agak menerawang, seolah sedang melihat kenangan masa kecilnya. "Dulu pas aku masih kecil, setiap pagi sebelum berangkat sekolah, kakek selalu mengoleskan sedikit saja minyak ini di belakang telinga atau di leher aku. Katanya, 'Arjun, wangi ini bukan cuma biar wangi. Ini biar ke mana pun kamu pergi, orang tahu ada jejak budaya kita di situ. Biar kamu selalu ingat, siapa yang mendampingi kamu, meski dia nggak ada di sampingmu'."

Dia diam sebentar, lalu tersenyum lagi ke arahku.

"Di kepercayaan kami, wangi itu punya hubungan erat sama doa. Kayak waktu kami bakar dupa di rumah atau di kuil. Asapnya naik ke atas, bawa wangi dan harapan kita ke Tuhan. Semakin wangi dan tenang baunya, semakin tulus doa yang dibawanya. Sama kayak perasaan, kan? Nggak perlu teriak-teriak atau mencolok mata, yang penting tulus dan melekat lama di hati."

Jantungku berdenyut pelan. Arjun emang selalu gitu ya. Ngomongin hal kecil kayak bau-bauan aja, ujung-ujungnya dia bisa nyambungin sama hal-hal yang dalem banget maknanya.

"Kamu tuh... kok segala hal aja punya arti ya? Sampai wangi pun ada ceritanya," kataku sambil terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba jadi agak haru.

Arjun ikut tertawa. "Memang begitu adanya, Aira. Di India, kami diajarin buat nggak pernah memandang sesuatu itu remeh. Semua yang ada di dunia ini diciptakan ada gunanya, ada pesannya. Kalau kita teliti dan sabar, kita bakal nemu arti indah di balik semuanya. Termasuk pertemuan kita ini lho."

Dia melirikku sekilas, lalu memutar cangkir tehnya pelan-pelan.

"Kakek aku juga pernah bilang, kalau kamu nemu seseorang yang bikin kamu nyaman, bahkan cuma dengan berdiri di sebelahnya atau ngobrol hal sepele, itu tandanya jiwa kalian sejalan. Kayak wangi ini sama baju aku. Pas banget, nyatu, dan bikin tenang."

Wajahku rasanya agak panas mendengar itu. Aku buru-buru mengalihkan pandangan ke arah jendela kaca yang mulai ada titik-titik air lagi. Hujan kayaknya bakal turun lagi deh.

"Jadi... aku bisa dibilang kayak wangi itu ya? Yang bikin nyaman gitu?" tanyaku setengah bercanda, setengah penasaran.

Arjun mengangguk dengan serius. "Bisa dibilang begitu. Kamu itu tenang, Aira. Ngobrol sama kamu rasanya adem banget, kayak hirup udara segar habis hujan. Nggak bikin pusing, nggak bikin capek. Di budaya kami, ketenangan itu hal mahal lho. Susah banget dicari."

Dia lalu mencondongkan badan sedikit ke arahku, suaranya makin pelan tapi jelas banget kedengarannya.

"Jadi makanya aku suka banget duduk di sini. Bukan cuma karena teh tariknya enak, tapi karena ada kamu. Ada suasana tenang yang selalu aku cari, dan aku nemu itu pas di sini."

Aku diam, nggak tau harus jawab apa. Rasanya senang banget, tapi juga malu. Obrolan kami makin lama makin dalam, makin lama makin saling buka cerita. Tapi entah kenapa, rasanya aman banget. Nggak ada rasa terbebani atau terburu-buru. Persis kayak kata-kata Arjun tadi: tenang dan nyaman.

Di luar sana, hujan pun mulai turun lagi, sama seperti sore kemarin. Tapi kali ini, aroma rempah lembut dari Arjun bercampur sama wangi tanah basah, menciptakan suasana yang rasanya ingin sekali aku simpan lama di ingatan.

Hari ini aku belajar lagi satu hal: bahwa keindahan itu bisa dirasakan lewat apa saja, bahkan lewat sekadar wangi dan cerita sederhana. Dan aku makin sadar, kalau ada banyak sekali hal indah dari budaya Arjun yang perlahan dia kenalin ke aku, satu per satu, dengan sabar dan lembut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!