Terlahir tampan, cerdas serta kaya adalah Impian semua orang. Tetapi berstatus jomblo di usia 28 bagi Aydan cukup meresahkan. Bukan karena tidak di sukai wanita, justru ia bagaikan gula yang di kerubuti semut. Semua wanita dari yang muda hingga janda, berlomba ingin menjadi istri seorang Aydan. Bahkan rela jadi yang kedua, ketiga dan seterusnya.
Masalah terbesar bagi Aydan ialah siapa wanita yang memiliki hati yang tulus menerimanya. Tidak memandang fisik dan uangnya. Hari gini, nyari yang original dan berhati baik itu bagai mencari jarum pada tumpukan Jerami bukan?
Berperan sebagai cleaning servis di rumah sakitnya sendiri adalah trik Aydan mencari wanita berhati emas, yang sudah hampir punah di muka bumi ini.
Simak petualangan cinta Aydan Atthallah Hildimar anak dari pasangan fenomenal Kevin Sebastian Mahesa dan Monalisa Hildimar pada OB Milik CEO.
Happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 : SMS
Dengan mimik muka di buat agak malu, ditambah lagi rona pipi sedikit merah. Aydan menyerahkan ponsel lipat model terbaru yang ia miliki pada Alluna. Mungkin gadis itu akan merasa geli, sebab gaya norak seorang Rahmad alias Aydan memilih model ponsel.
“Wow, ih kok lucu beet sih.” Alluna mengambil ponsel yang di sodorkan oleh Aydan. Mengamati benda itu, kemudian membuka lipatannya. Alluna hampir tak percaya melihat desain ponsel itu yang hampir persis dengan alat komunikasi canggih dengan nominal belasan bahkan puluhan juta. Namun ia terpekik saat melihat fitur dalamnya yang membuatnya kembali ke masa belum punya hape layar sentuh seperti jaman sekarang.
“Itu keluaran terbaru Non.” Ujar Rahmad meyakinkan Alluna. Sudah seperti SPG saja.
“Sumpah, aku kemana aja sih kok gak nemu hape jadul sekeren ini. Bisa buat wassap ga sih Mas?” Alluna sungguh senang melihat ponsel Aydan. Bahkan ia semakin melupakan jika di sebelahnya ada Irfan masih bingung melihat keakraban Alluna dengan lelaki yang mengaku sebagai cleaning servis padanya tadi.
“Gak bisa Non. Cuma bisa buat call dan SMS aja, tapi bisa sih buat foto-foto.” Aydan mengurai kelebihan ponsel yang ia miliki sebagai Rahmad tentunya.
“Kapan kita jalan bareng, Mas. Ku mau ah punya kayak gini.” Sergah Alluna sungguh merasa suka dengan ponsel seperti yang sedang di tangannya.
“Hahaha, non dokter ngeledek nih.” Aydan tidak lagi buru-buru ge-er walau jelas rungunya mendengar jika Alluna mengajaknya jalan bareng.
“Ngeledek apaan. Keren tau, beneran.” Alluna masih memegang ponsel itu dengan wajah gembira.
“Norak banget sih kalian.” Dengus Irfan merasa di cuekin, lalu memilih pergi.
“Non, tuh pacarnya pergi.” Aydan wajib mencari kepastian apa hubungannya dengan Irfan.
“Bukan, aku gak punya pacar kok di sini.” Jawab Alluna cepat, sambil menyerahkan ponsel lucu itu pada Aydan kembali.
“Gak punya di sini, tapi udah ada di sana.” Cecar Aydan ingin mengejar info lebih banyak.
“Iya di sana. Di tangan Tuhan.” Jawab Alluna dengan senyum manisnya.
“Non maaf, jangan senyum begitu.” Kilah Aydan menatap Alluna.
“Kenapa.”
“Gula darah gua naik. Senyum Non dokter kemanisan.” Ea … Ea … ea, Sa ae sih Rahmad niih.
“Ih, boleh nyubit pipi gak sih.” Kekeh Alluna sungguh merasa terhibur dengan sosok seorang Rahmad yang menurutnya mudah akrab dan nyaman dijadikan teman ngobrol.
“Mau nyubit di pipi aja Non? Gak di gigi sekalian.” Aydan sengaja menonjolkan sesuatu yang memang menonjol pada wajahnya. Biar Alluna gak lupa kalo giginya tidak berukuran sama dengan kebanyakan manusia lainnya, yang mungkin tidak enak di pandang.
“Emang bisa di cubit bagian itu?” tawa keduanya mengurai, seolah mereka memang telah lama saling kenal, padahal baru dua hari semesta mempertemukan mereka di meja makan yang sama.
“Mas Rahmad, waktu istirahat habis nih. Aku duluan masuk yak. Nomormu udah ku save. Ntar ku call kalo udah ada waktu jalan cari ponselnya.” Pamit Alluna yang alarmnya sudah berbunyi tanda ia wajib kembali ke bagian Radiologi.
“Siap selalu Non Dokter.” Jawab Aydan senang jika Alluna tidak illfeel dengan rupanya.
Tok tok
Suara ketukan pada sebuah daun pintu yang bagian atasnya bertulis kepala bagian CS. Itu ruangan Markonah, Aydan sudah berdiri tegap di depan. Menunggu perintah di ijinkan masuk ke dalamnya.
“Ya, silahkan masuk.” Perintah dengan tegasnya terdengar dari dalam.
“Permisi ibu kepala CS.” Aydan menyapa penuh hormat, dengan sedikit menganggukkan kepalanya menghadap Markonah.
“Iya, ada apa!” Markonah itu tidak kenal tanda koma atau tanda tanya, semua kalimatnya mengandung tanda seru di bagian ujung ucapannya. Untuk mempertahankan ketegasan dan ciri khasnya sebagai kepala bagian CS di tempatnya bekerja.
“Maaf bu ijin. Apakah boleh tugas saya di tambah.” Hah? Yang benar saja. Dimana-mana orang kalo ketemu pimpinan itu minta keringanan pekerjaan, minta naik gaji, minta ijin tidak bekerja. Bukannya minta di tambahkan beban kerja.
“Maksudnya!”
“Apakah boleh, selain di kamar jenazah saya juga bertugas di ruang lain bu?” tanyanya dengan pelan.
“Kamu mau di mana? Di ruangan direktur seperti yang di SK kan oleh HRD? SK itu sudah di tarik dan di buat baru sebagai revisian.” Jawab Markonah masih dengan nada tida bersahabat.
“Tidak bu. Ruangan itu terlalu tinggi dan jaraknya jauh dengan tempat tugas saya sekarang.” Jawab Aydan menepis tuduhan Markonah padanya.
“Lalu?”
“Jika boleh saya mau bertugas di ruang radiologi.” Cieee yang mau sering-sering liat Alluna. Sampe bela-belain minta tugas tambahan.
“Kenapa?” Markonah melemah, penasaran pada alasan lelaki bergigi panjang di depannya.
“Perlu banyak pengalaman saja buk, sebab di kamar janazah tidak selalu ramai juga. Sibuknya hanya sewaktu-waktu.” Jawab Aydan asal saja.
“Mau di ruangan apa lagi, biar sekalian revisi SKnya.” Markonah malah akan memberikan Aydan kesempatan untuk request ruang lain untuk ia bersihkan.
“Sementara itu dulu buk.” Jawab Aydan yang tidak kemaruk.
“Oke. Tapi tidak ada gaji lebih, mau dua bagian, tiga bagian atau empat sekalipun. Gaji mu tidak bertambah, tetap besaran gaji pegawai baru yang sedang magang.” Markonah itu mata duitan. Urusan uang harus selalu ia pastikan pada setiap pegawi di bawahnya.
“Siap bu.” Jawab Aydan segera,
“Nanti malam saya update kan jadwal mu. Pastikan kamu sudah ada di dalam dua grup bagian itu.” Jawab Markonah mengetik sesuatu pada laptopnya.
“Maaf bu, maksudnya grup wassap itu yak?” tanya Aydan memastikan.
“Ya iyalah, masa grup lawak.”
“Anu buk. Saya gak punya ponsel tipe android. Bisanya cuma di SMS.” Aydan sudah memperlihatkan fitur ponsel yang ia miliki.
“Haduuh hari gini gak punya android, cupu banget sih. Ya sudah besok saya print outkan jadwal kamu.” Markonah tak mau ambil pusing, sebab lama-lama liat muka Rahmad itu saja sudah buat dia jijay.
“Terima kasih Buk, permisi.” Aydan tidak meladeni hinaan Markonah. Baginya yang terpenting adalah bisa mendapat tugas di ruangan yang sama dengan Alluna.
Walaupun beda kasta antara dokter koas dan cleaning servis, setidaknya Aydan bisa lebih sering berjaga-jaga di area tempat Alluna bekerja. Tidak selalu di lantai tiga dan saat makan siang ia bisa bertemu dengan Alluna itu.
“Pulang kerja jam berapa Mas Rahmad?” ada notif pesan masuk di ponsel Rahmad. Auto jingkrak jingkrak dong si Aydan saat selesai membersihkan lantai di bawah satu Jenazah yang sudah di beli para dokter praktek di RS itu untuk di pelajari anatominya.
“Heh, ngapain kamu menari-nari di depan mayat itu? Mau duet maut?”
Bersambung …
Yang minta di spiil wajah Aydan versi culun. Maaf ya, Nyak gak punya 🙏
Ini versi Aydan Athallah Hildimar, juga dapat comot di gugel 😂😂😂
ada pisang di gantung tali
udah lama nyak menghilang
apakah cerita masih berlanjut ?