NovelToon NovelToon
Menikah Karena Jebakan

Menikah Karena Jebakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Nikahmuda / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Moms TZ

Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.

Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.

Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.

Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?

Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19.

Bu Yuni menyilangkan tangan di depan dada. Dagunya terangkat sedikit ke atas memberi kesan angkuh.

"Ya maksud saya jelas. Kami orang kampung, jangan gampang percaya sama orang yang baru beberapa hari datang. Hari ini kelihatan baik, besok siapa yang tahu?"

Beberapa ibu mulai terlihat gelisah. Mereka saling berpandangan, tetapi tak ada yang berani menyela.

Zeya mengangguk pelan tanpa berniat meninggikan suaranya. "Saya mengerti kalau Ibu masih belum bisa menerima kami. Itu hak Ibu."

"Tapi, menuduh seseorang bekerja sama dengan pelaku kejahatan tanpa bukti, itu fitnah namanya. Dan saya bisa melaporkan ke pihak berwajib dengan kasus pencemaran nama baik," lanjutnya tenang.

Jawaban itu membuat Bu Yuni tampak sedikit terkejut. "Siapa bilang saya menuduh? Saya cuma bilang 'bisa jadi'," sanggahnya cepat.

Zeya terkekeh kecil berusaha mempertahankan sikapnya. "Kalau cuma kemungkinan, kenapa harus diucapkan seolah-olah benar?"

Bu Yuni terdiam tak mampu menjawab. Wajahnya mulai memerah, entah karena malu atau sedang berpikir.

Bu Esti akhirnya angkat bicara. "Bu Yuni, semalam itu suami saya, Pak Dadang, sama sopir taksi menyaksikan kejadiannya langsung dengan mata kepala sendiri. Masa iya, mereka semua bohong?"

"Iya, bahkan kata suami saya, sopir taksi itu memilih mengurungkan niatnya untuk pulang karena takut terulang ada kejadian itu lagi," timpal Bu Santi.

Namun, Bu Yuni masih bergeming. "Ah, siapa tahu saja mereka sudah janjian sebelumnya. Bisa saja, to."

"Janjian bagaimana, Bu?" tanya seseorang tiba-tiba dari luar.

Semua orang menoleh. Pak Kades berdiri di ambang pintu bersama Pak Unang dan Pak Dadang. Rupanya sejak tadi mereka hendak mengambil minuman dan tanpa sengaja mendengar percakapan mereka.

Bu Yuni tampak sedikit gugup. Tak mampu menjawab pertanyaan Pak Kades.

Pak Dadang yang melihat hal itu, menghela napas panjang. "Saya saksi mata, Bu. Saya lihat sendiri bagaimana para pelaku menyerang. Daniel bahkan nyaris kena sabetan golok dari salah satu beg4l itu."

Pak Unang mengangguk membenarkan. "Betul. Polisi juga sudah mengamankan para pelakunya dan mengatakan mereka itu komplotan yang selama ini menjadi buronan polisi."

Pak Kades menatap seluruh ibu-ibu dengan wajah tenang. "Kita boleh berhati-hati kepada orang baru. Itu wajar, tapi jangan sampai kehati-hatian berubah menjadi fitnah."

Zeya tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Pak. Saya paham, mendapatkan kepercayaan memang butuh waktu."

Pak Kades membalas senyum itu. "Dan kepercayaan dibangun dari perbuatan. Saya rasa, apa yang kalian lakukan semalam sudah cukup membuktikan niat baik kalian."

Ucapan Pak Kades membuat suasana perlahan mencair dan para ibu kembali melanjutkan pekerjaan mereka sambil diselingi obrolan ringan.

Di sudut dapur, Bu Yuni menundukkan kepala sambil menggigit bibir. Namun di balik wajahnya yang tertunduk, ia memendam rasa tidak senang seakan telah dipermalukan.

.

.

.

Siang harinya selesai makan bersama, Zeya pulang ke rumah panggung bersama Daniel. Sepanjang perjalanan menuju tempat tinggal mereka, ia hanya diam. Hal itu membuat Daniel merasa heran dan bertanya-tanya.

"Ze, kamu kenapa? Dari tadi hanya diam? Ada masalah?"

Zeya menoleh ke arah Daniel dan menatapnya lama. Ia menarik napas panjang lalu mengembuskannya kasar.

"Ada seorang ibu yang mencurigai kita berkomplot dengan beg4l tadi malam. Katanya, kita melawan mereka supaya orang-orang memuji kita dan menganggap sebagai pahlawan," jawabnya sambil tersenyum miris.

"Apa...!" Daniel sontak terkejut mendengar ucapan istrinya. "Bagaimana bisa dia menuduh hal sekeji itu?"

"Kita melawan penjahat itu untuk membela diri dan menolong orang lain bukan demi pujian. Apalagi sampai memainkan sandiwara murahan seperti itu."

Zeya tertawa hambar. "Lucu, kan? Kadang niat baik memang tak selalu bisa diterima dengan baik pula."

"Tapi kata Pak Kades tadi, hal itu wajar saja, kalau ada sebagian penduduk di sini yang belum sepenuhnya percaya dan menerima kehadiran orang baru."

"Tapi tetap saja nggak adil, Ze!" decak Daniel tak terima. "Lagian bukan mau kita tinggal di sini, kan? Tapi Pak Kades dan para tetua itu yang menahan kita dengan alasan tak masuk akal,"

"Justru karena itu kita harus maklum," jawab Zeya pelan, menatap hamparan sawah di kanan kiri jalan. "Mungkin Bu Yuni pernah punya pengalaman buruk dengan orang baru. Atau mungkin saja ada hal lain yang membuatnya nggak suka sama kita. Hati orang siapa yang tahu, kan."

Daniel menghela napas panjang, berusaha meredakan amarahnya. Ia tahu istrinya selalu lebih sabar dan bijaksana darinya. "Kamu ini... terlalu baik, Ze. Orang sudah menuduh sembarangan, kamu malah berpikir panjang alasannya."

Zeya tersenyum tipis. "Bukan soal baik atau nggak. Hanya saja, kalau kita membalas dengan kemarahan, kita sama saja seperti mereka yang mudah menilai tanpa bukti. Biarkan waktu yang akan menjawab. Perbuatan kita sehari-hari nanti yang akan membersihkan segala tuduhan itu."

Tak terasa mereka pun tiba di tempat mereka tinggal. Keduanya menaiki tangga lalu duduk sejenak di beranda, menikmati angin yang berhembus lembut meski siang itu matahari bersinar terik.

"Kamu nggak merasa sakit hati?" tanya Daniel pelan, menatap lekat wajah istrinya.

Zeya menggeleng pelan. "Sedikit. Tapi nggak sampai membuatku ingin pergi atau berhenti berbuat baik. Justru ini menjadi tantangan buat kita—buktikan kalau kita memang layak dipercaya."

"Kamu hebat, Ze," gumam Daniel lembut, lalu merangkul bahu istrinya erat. "Aku akan selalu ada di sampingmu, apa pun yang terjadi. Kita hadapi semuanya bersama-sama."

Sementara itu, di kejauhan, dari balik pohon mangga, Bu Yuni diam-diam memperhatikan mereka berdua dengan tatapan sulit diartikan. "Siapa sebenarnya mereka? Kenapa orang-orang lebih percaya pada anak-anak baru itu daripada aku?"

.

.

.

Pagi itu, Maura terbangun lebih pagi dari biasanya. Hari ini ia akan kembali masuk sekolah setelah apa yang terjadi. Setelah mandi dan mengenakan seragam, gadis itu turun ke lantai bawah. Di ruang makan Dr. Rangga dan Bu Safira sudah menunggunya.

"Pagi, Pa... Bu," sapanya pelan.

"Selamat pagi, Sayang. Ayo, sarapan dulu," ujar Bu Safira sambil menyendokkan makanan ke piring untuk Maura.

Dr. Rangga menatap putrinya dengan penuh perhatian. "Fokuslah pada tujuanmu, jangan pikirkan apa pun selain belajar. Abaikan saja yang tak perlu didengar dan dilihat. Papa yakin kamu bisa melewati semuanya," ucapnya lembut.

Maura mengangguk pelan. "Iya, Pa," jawabnya singkat.

Bu Safira tersenyum dan mengangguk -- mengiyakan ucapan suaminya sambil mengusap kepala Maura lembut, tanpa mengucap sepatah katapun.

Usai sarapan dan berpamitan Maura segera melangkah menuju mobil yang sudah siap mengantarnya menuju sekolah. Setengah jam kemudian mobil berhenti di depan gerbang sekolah.

"Sudah sampai, Non," ujar sang sopir.

"Terima kasih, Pak," balas Maura sebelum turun.

Ia menarik napas panjang berusaha mengumpulkan sisa kepercayaan dirinya. Kakinya melangkah turun lalu berjalan memasuki gerbang sekolah. Namun, baru saja beberapa langkah ia merasakan aura yang berbeda.

Suasana yang tadinya riuh rendah mendadak senyap. Suara tawa, obrolan, dan langkah kaki seakan lenyap ditelan bumi. Ratusan pasang mata serentak tertuju padanya dengan tatapan penuh intimidasi yang terasa menyakitkan.

Bisikan-bisikan terdengar samar menjalar seperti api, mengubah keheningan menjadi gumaman yang mencekam. Maura menundukkan kepala lebih dalam, mencoba mengabaikannya dan terus melangkah menuju kelasnya.

Hingga tiba-tiba....

Pluk!

1
Aditya hp/ bunda Lia
rapat dadakan 😁
Nar Sih
jgn kepede an dulu juragan ,jgn anggap remeh daniel dan zheya yg ada kmu yg kalah🤣
Patrick Khan
kyk nya mw rundingan😁😁
Aditya hp/ bunda Lia
perasaan cuuinttaaaaa ..... itu namanya Zeyaaa kasih tau Moms
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤣🤣🤣🤣🤣,
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
ini mama Mia yang di sebelah yah ... Mak Mia 🤭🤭
Aditya hp/ bunda Lia: waduh .. dah ada anaknya yah 😂
total 8 replies
Patrick Khan
serbuuuuuuu🔨🔨🔨🔨🔨ini q bawah senjata😁
Aditya hp/ bunda Lia: siap perang kita 😂😂😂
total 5 replies
Aditya hp/ bunda Lia
kebalik paaaakkk kamu yang siap2 belum tau ajah kau itu siapa Daniel dan zeya ... kamu salah pilih lawan ...
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huummm
total 1 replies
Esther
Bu Yuni kompor meleduk....kalau iri bilang bu😂🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kak, Es, pernah lihat sinetton tukang ojek pengkolan gak? nah seperti itulah karakter bu yuni dlm bayangan ibu🤭🤣
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
akhirnya maraton 😁
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👍👍👍👍👍
total 3 replies
Nar Sih
lega kan hti mu maura klau sdh minta maaf dan di terima ,tinggal perbaiki diri dan hti mu biar jauh dri sifat yg gk trrpuji lgi
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Patrick Khan
ahh muara tobat ni ye🤣🤣🤣
Patrick Khan: 😁😁😁😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Patrick Khan
terkejut kan zeya
.emaknya datang😁
Esther
kalau akur gini kan enak,gak ada rasa iri.
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huummm
total 1 replies
Nar Sih
kejutan untuk mu ya zhe
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👏👏👏👏👏
total 1 replies
Nar Sih
semoga dgn ada nya zheya dan daniel di desa tersebut bisa membwa perubahan yg lbh maju
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Nar Sih
👍👍maura kmu sdh berani bersikap legowo minta maaf semoga dgn saling memaaf kan bisa membawa hidup lebih damai biar bagai mana pun kmu dan zeya saudara
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
tium atuh Niel udah sah ini tium kening ajah ... 🤭
Aditya hp/ bunda Lia: wkwkwkk ... iya juga yah
total 4 replies
Dew666
Maksut istri tua gimana nih
Dew666: Ooh begitu 😍
total 2 replies
Aditya hp/ bunda Lia
clear udah
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!