Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.
Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.
Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.
Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAKTI BUTA SUAMIKU
Langit sore berwarna jingga keemasan menyiram halaman rumah kontrakan baru Adinda dengan kehangatan yang menenangkan. Mobil MPV perak milik Mas Danu baru saja berbelok memasuki halaman. Adinda dan Mbak Anita melangkah turun dari mobil dengan raut wajah yang berseri-seri. Beban besar yang selama ini menumpuk di pundak Adinda seolah sirna berganti kelegaan yang luar biasa setelah penandatanganan kesepakatan kerja sama dengan Bu Dr. Ratna siang tadi.
Mereka berdua melangkah menuju teras rumah, menikmati angin sore sembari melepas lelah setelah seharian beraktivitas di kota ini. Di meja kayu teras, Adinda duduk berhadapan dengan Mbak Anita. Mas Danu dan istrinya sengaja masih bertahan menginap beberapa hari di kota ini untuk memastikan Adinda dan Dimas benar-benar aman dan siap mandiri sebelum mereka nanti harus kembali ke kota asal mereka.
"Dinda," buka Mbak Anita seraya mengusap jemari adik iparnya dengan lembut. Matanya menatap penuh kasih sayang. "Mbak tahu kamu itu serba bisa dan tangguh. Tapi pesan dua ratus lima puluh porsi untuk tiga hari berturut-turut ditambah pesanan harian klinik itu ndak main-main, Din. Kamu butuh tenaga bantuan. Ndak mungkin kamu memasak, memotong bahan, membungkus, sampai cuci piring sendirian. Bisa tumbang kamu nanti sebelum acaranya selesai."
Adinda mengangguk perlahan, menyeruput teh hangatnya sedikit. "Iya, Mbak Anita. Dinda juga sempat memikirkan itu sepanjang jalan pulang tadi.
Sebenarnya... Dinda ingat Mbak Sri sama Mbak Sumi, mantan tetangga kita di kontrakan lama. Mereka berdua kan rajin, bersih kalau masak, dan kemarin-kemarin pas Dinda masih di sana, mereka sering banget bantu Dinda kalau ada pesanan nasi kotak kecil-kecilan. Apalagi Dinda dengar suami Mbak Sri baru kena PHK bulan lalu, jadi mereka pasti butuh penghasilan tambahan."
"Wah, itu ide bagus sekali, Din!" sahut Mas Danu yang baru keluar dari dalam rumah, lalu bergabung duduk di teras. "Daripada kamu cari orang asing yang belum tahu karakter dan kebersihannya, mending ajak tetangga lama yang sudah kamu kenal baik. Mereka pasti senang sekali dibantu, dan kamu juga merasa tenang karena sudah tahu cara kerja mereka."
"Iya, Mas. Dinda mau coba telepon Mbak Sri sekarang," ujar Adinda dengan mata yang berbinar.
Mbak Anita tersenyum manis, lalu meraih tas tangannya yang diletakkan di kursi sebelah. Dari dalam tas tersebut, Mbak Anita mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna putih polos dan meletakkannya tepat di hadapan Adinda.
Adinda mengerutkan dahi, menatap amplop itu lalu beralih menatap kakak iparnya dengan bingung. "Ini... apa, Mbak Anita?"
"Buka saja, Dinda," tutur Mbak Anita lembut.
Dengan jemari yang sedikit bergetar, Adinda membuka segel amplop tersebut. Di dalamnya tertera beberapa lembar uang kertas pecahan seratus ribu yang masih licin dan rapi dalam jumlah yang cukup besar.
"Mbak Anita... ini uang apa? Kok banyak sekali?" tanya Adinda terkejut, hendak mengembalikan amplop itu.
Mbak Anita memegang kedua tangan Adinda, menahannya dengan lembut namun mantap. "Dinda, dengarkan Mbak ya. Itu uang modal dari Mbak dan Mas Danu-mu untuk kamu belikan peralatan katering yang baru. Kamu butuh kompor komersial bertekanan tinggi, wajan besar yang muat masak rendang puluhan kilo, panci kukus stainless tiga tingkat, blender bumbu kapasitas besar, sama wadah-wadah chafing dish kalau nanti ada pesanan prasmanan. Alat-alat dapurmu yang sekarang kan masih skala rumah tangga kecil, ndak akan sanggup kalau dipakai masak ratusan porsi tiap hari."
"Tapi Mbak..." Air mata Adinda mulai menggenang di pelupuk matanya. "Mbak Anita sama Mas Danu kan tinggalnya di luar kota. Mbak Anita juga sibuk mengurus usaha konveksi dan toko baju Mbak di sana, Mas Danu juga ada pekerjaan. Mengapa Mbak dan Mas Danu begitu baik dan mau repot-repot datang ke kota ini buat bantu Dinda? Mbak modalin Dinda, dampingi Dinda dari kemarin..."
Mendengar ucapan polos itu, Mbak Anita terkekeh pelan. Wajah cantiknya memancarkan keikhlasan yang luar biasa. Walau Mbak Anita sendiri fokus berbisnis pakaian di luar kota dan tidak paham seluk-beluk bisnis katering, ia tetap mengerti betul mana usaha yang berpotensi dan mana adik yang harus dirangkul. Ia merangkul bahu Adinda dengan erat, menyandarkan kepala adik iparnya itu di dadanya.
"Ya Allah, Dinda... Kamu ini bicara apa?" ucap Mbak Anita dengan suara yang bergetar penuh keharuan. "Mbak ini sudah menganggap kamu seperti adik kandung Mbak sendiri, Din. Waktu kamu disakiti sama Bagas dan keluarganya, hati Mbak dan Masmu ikut sakit dari jauh. Sekarang, waktu melihat kamu berjuang berdiri di atas kaki sendiri demi Dimas di kota ini, Mbak justru bangga luar biasa!"
Mbak Anita mengusap air mata yang menetes di pipi Adinda. "Mbak mau melihat kamu sukses, Din. Usaha baju Mbak di luar kota kan berjalan lancar, rezeki kami ada di sana, dan sekarang rezekimu ada di sini lewat katering ini. Mbak mau kamu bisa membuktikan ke si Bagas dan ibunya yang sombong itu, kalau tanpa sepeser pun uang dari mereka, kamu bisa jadi wanita yang mandiri, terhormat, dan sukses besar! Jadi, terima uang ini. Ini bukan pinjaman yang bikin kamu beban, ini bentuk dukungan penuh dari kami buat masa depanmu dan Dimas."
Mas Danu yang menyaksikan momen itu tersenyum haru. "Terima saja, Din. Mbakmu ini sepanjang jalan pulang tadi sudah sibuk mencatat daftar toko grosir peralatan dapur di kota ini yang harus dikunjungi. Mumpung kami masih ada di sini beberapa hari sebelum balik ke luar kota, besok pagi Mbak sama Mas bakal antarkan kamu belanja semua peralatannya sampai tuntas."
Adinda tidak mampu lagi membendung air mata bahagianya. Ia memeluk Mbak Anita dengan sangat erat. Rasa hangat, aman, dan dihargai yang selama belasan tahun tidak pernah ia dapatkan di keluarga Bagas, kini melimpah ruah dari keluarga kakak kandungnya sendiri.
"Terima kasih banyak, Mbak Anita... Terima kasih, Mas Danu... Dinda ndak tahu harus membalas kebaikan kalian dengan apa lagi," bisik Adinda di sela isak tangis bahagianya.
"Balas dengan senyuman dan kesuksesanmu, Dinda. Itu sudah lebih dari cukup buat kami," balas Mbak Anita penuh kasih.
Setelah mengusap air matanya dan menenangkan diri di teras, Adinda mengambil ponselnya. Ia menekan tombol panggil ke nomor Mbak Sri, mantan tetangganya di kontrakan lama.
Hanya dalam tiga kali nada dering, panggilan itu langsung diangkat.
"Assalamualaikum, Mbak Dinda!" suara Mbak Sri terdengar begitu nyaring dan penuh kerinduan dari seberang telepon. "Masya Allah, Mbak Dinda apa kabar? Kami di kontrakan lama pada kehilangan Mbak Dinda lho! Sepi banget ndak ada Mbak Dinda..."
Adinda tersenyum hangat. "Waalaikumsalam, Mbak Sri. Alhamdulillah, Dinda sehat walafiat. Mbak Sri sama keluarga gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah sehat, Mbak... Tapi ya begitu deh, Mbak Dinda. Mas Budi suami saya bulan lalu kena PHK di pabriknya. Ini saya lagi pusing putar otak cari celah jualan gorengan buat bantu-bantu dapur," tutur Mbak Sri, terselip nada lesu di ujung kalimatnya.
Hati Adinda terenyuh. Sang Pencipta memang selalu mengatur segalanya dengan sangat pas.
"Mbak Sri, sebenarnya Dinda telepon sore ini mau menawarkan sesuatu," kata Adinda lembut. "Alhamdulillah, Dinda baru dapat kontrak katering besar buat acara seminar kesehatan dan pesanan rutin harian. Tapi Dinda kekurangan tenaga di dapur. Dinda ingat Mbak Sri sama Mbak Sumi. Kira-kira Mbak Sri sama Mbak Sumi mau ndak ikut kerja bantu-bantuan masak di tempat katering baru Dinda?"
Seketika, suasana di seberang telepon mendadak hening.
"Mbak... Mbak Dinda seriusan?!" suara Mbak Sri melengking kaget, seolah tidak percaya. "Mbak Dinda ajak saya sama Sumi kerja?"
"Iya, Mbak Sri, Dinda serius sekali. Nanti ada gaji harian dan bonus tiap kali ada pesanan besar. Sistem kerjanya santai tapi tetap bersih dan rapi. Gimana, Mbak?"
Di seberang sana, terdengar suara Mbak Sri yang terisak menahan tangis haru. "Ya Allah, Mbak Dinda... Mau banget, Mbak! Ini seperti jawaban doa saya dari kemarin! Nanti saya langsung kasih tahu Sumi, dia pasti loncat-loncat gembira! Kapan kami bisa mulai kerja, Mbak Dinda?"
"Mulai lusa ya, Mbak Sri. Nanti alamat kontrakan dan rumah produksi katering Dinda yang baru Dinda kirim lewat pesan singkat. Nanti ongkos ojeknya Dinda yang tanggung."
"Aduh, Mbak Dinda ini memang malaikat penolong... Terima kasih banyak ya, Mbak! Semoga usaha katering Mbak Dinda makin laris manis, berkah, dan sukses besar!" doa Mbak Sri tulus.
"Aamiin ya Allah... Sama-sama, Mbak Sri. Sampai ketemu lusa ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullah!".
Adinda mematikan sambungan telepon dengan perasaan lega. Satu per satu jalan kemudahan dibukakan untuknya. Ia tidak hanya bisa membangkitkan usahanya sendiri, tetapi juga bisa membukakan pintu rezeki bagi orang-orang baik di sekitarnya yang sedang membutuhkan.
Sore beranjak menuju senja saat Dimas melangkah keluar ke teras setelah selesai mandi. Pakaiannya sudah rapi dan wajahnya tampak segar. Mas Danu yang melihat keponakannya langsung berdiri dari kursi teras.
"Nah, jagoan Pakde sudah siap ternyata!" sapa Mas Danu hangat seraya mengacak rambut Dimas dengan penuh kasih sayang.
"Mau ke mana, Pakde?" tanya Dimas heran melihat pamannya sudah memegang kunci mobil.
Mas Danu tersenyum lebar seraya merangkul pundak Dimas. "Mumpung Pakde dan Bude masih ada di kota ini sebelum nanti balik ke luar kota, Pakde mau ajak kamu ke mall pusat kota! Kita mau cari makan malam sekalian beli perlengkapan sekolahmu yang baru. Pakde mau belikan kamu tas sekolah baru, sepatu hitam yang keren, buku-buku tulis tebal, sama seragam sekolah yang baru buat persiapan minggu depan!"
Mata Dimas langsung membelalak lebar. Wajah bocah laki-laki itu seketika memancarkan binar kebahagiaan yang luar biasa. Selama bertahun-tahun hidup bersama ayahnya, Bagas, Dimas hampir tidak pernah merasakan indahnya dibelikan perlengkapan sekolah baru secara utuh. Setiap kali ajaran baru tiba, Bagas selalu bersungut-sungut, mengeluhkan biaya sekolah yang mahal, dan memaksa Dimas memakai tas yang sudah robek atau sepatu yang sudah sempit.
"Beneran, Pakde?!" tanya Dimas seolah tak percaya. "Tapi... tas lama Dimas sebenarnya masih bisa dipakai sih Pakde, cuma risletingnya aja yang patah..."
Hati Mas Danu rasanya seperti diiris-iris mendengar kepolosan keponakannya. Betapa anak sekecil ini sudah terbiasa mengalah dan menahan keinginan akibat ketidakpedulian ayahnya sendiri.
Mas Danu berlutut, memegang kedua bahu Dimas dengan erat. "Dimas, dengarkan Pakde ya. Kamu itu anak pintar, anak saleh dan kebanggaan Ibu. Kamu berhak dapat perlengkapan sekolah yang bagus dan layak! Ndak usah mikirin tas robek itu lagi. Sekarang ada Pakde Danu. Semua kebutuhan sekolahmu, Pakde yang bakal penuhi!"
Air mata menetes di pipi mulus Dimas. Bocah itu langsung menghambur memeluk leher pamannya dengan erat. "Terima kasih banyak, Pakde Danu! Dimas janji akan belajar yang rajin biar bisa bikin Ibu sama Pakde bangga!"
"Nah, gitu dong! Anak laki-laki ndak boleh cengeng," hibur Mas Danu seraya menepuk-nepuk punggung Dimas. "Ayo, kita berangkat sekarang sebelum kemalaman!"
Melihat anak semata wayangnya tersenyum gembira memegang tangan Mas Danu menuju mobil di bawah temaram lampu teras sore itu, dada Adinda terasa begitu hangat. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Adinda melihat pancaran kebahagiaan yang utuh di wajah anaknya kebahagiaan yang dulu selalu terenggut oleh sosok ayah kandungnya sendiri yang dingin dan pelit.
Di rumah produksi dan kontrakan barunya itu, Adinda menatap senja yang indah. Perlahan namun pasti, kehidupan barunya bersama Dimas sedang terbangun di atas fondasi yang kokoh fondasi yang dirajut dari kerja keras, kasih sayang keluarga sejati, dan ketulusan hati orang-orang di sekitarnya.