Empat belas hari.
Hanya selama itu Ghazi Farhan dan Adzra Hanum saling mengenal sebelum akhirnya menikah melalui proses ta'aruf.
Siapa sangka, pernikahan yang awalnya dipenuhi ketenangan justru berakhir dengan satu talak setelah sepuluh bulan bersama.
Sejak hari itu, Adzra meyakini bahwa dirinya hanyalah perempuan yang pernah gagal menjadi istri.
Sementara Ghazi memilih memikul penyesalan yang bahkan tidak pernah berani ia jelaskan.
Sepuluh tahun berlalu.
Mereka sama-sama belum menikah.
Bukan karena belum ada yang datang, tetapi karena ada luka yang belum benar-benar selesai.
Ketika sakit sang ibu mempertemukan mereka kembali, Ghazi tidak meminta Adzra kembali menjadi istrinya.
Ia hanya meminta satu kesempatan.
"Bolehkah... kita mengulang empat belas hari itu?"
Namun, apakah ta'aruf kedua mampu menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh satu talak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah yang Selalu Mengajarkan Pulang
Langit Bandung mulai berwarna jingga ketika Adzra memarkir mobilnya di halaman sebuah rumah sederhana yang berdiri di sudut perumahan yang tenang.
Rumah itu tidak besar.
Cat temboknya berwarna krem dengan pagar putih yang mulai memudar dimakan usia. Di teras depan, pot-pot bunga melati dan mawar tersusun rapi, memancarkan aroma lembut yang selalu mengingatkan Adzra pada masa kecilnya.
Sudah hampir tiga minggu ia tidak pulang.
Kesibukan di klinik membuat kunjungannya ke rumah orang tua semakin jarang. Meski hampir setiap hari mereka saling menelepon, tetap saja rasanya berbeda.
Rumah ini selalu memiliki cara sendiri untuk membuat hatinya tenang.
Belum sempat Adzra menekan bel, pintu rumah sudah lebih dulu terbuka.
Seorang perempuan paruh baya dengan hijab berwarna biru muda tersenyum lebar.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Ibu..."
Adzra langsung memeluk perempuan itu erat.
"Ya Allah, anak Ibu makin kurus."
Adzra terkekeh pelan.
"Baru tiga minggu nggak ketemu, Bu."
"Tiga minggu itu lama."
"Apalagi buat ibu yang tiap hari nunggu anaknya pulang."
Adzra hanya tersenyum sambil menggenggam tangan ibunya.
"Masuk dulu."
"Nanti keburu magrib."
Begitu memasuki ruang tamu, aroma teh melati dan pisang goreng hangat langsung menyambutnya.
Semuanya terasa begitu akrab.
Tidak banyak yang berubah.
Foto keluarga yang tergantung di dinding masih berada di tempat yang sama.
Lemari buku ayahnya masih dipenuhi kitab-kitab tafsir dan fikih.
Jam dinding tua peninggalan kakeknya masih berdetak pelan, seolah menjadi saksi perjalanan keluarga kecil itu selama bertahun-tahun.
"Assalamu'alaikum."
Suara berat namun lembut terdengar dari ruang baca.
Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun keluar sambil menutup buku yang sejak tadi dibacanya.
Janggutnya sudah dipenuhi uban.
Sorot matanya teduh.
Namun wibawanya tetap terasa kuat.
"Wa'alaikumussalam, Yah."
Adzra menghampiri lalu mencium tangan ayahnya.
Ustaz Hasan Fauzi mengusap kepala putrinya penuh kasih.
"Alhamdulillah... akhirnya pulang juga."
"Maaf baru sempat, Yah."
"Tidak apa-apa."
"Ayah tahu kamu sibuk."
"Tapi sesibuk apa pun..."
Beliau tersenyum.
"...jangan sampai lupa kalau rumah selalu menunggumu."
Kalimat sederhana itu membuat hati Adzra menghangat.
Mungkin benar.
Ada tempat-tempat yang tidak pernah berubah, meski waktu terus berjalan.
Dan rumah adalah salah satunya.
***
Mereka bertiga duduk di ruang makan.
Ibu menuangkan teh hangat, sementara Adzra menikmati masakan favoritnya; sayur asem, ikan goreng, dan sambal terasi yang selalu berhasil membuatnya makan lebih banyak dari biasanya.
"Lihat, kan?" goda sang ibu.
"Kalau di rumah makannya lahap."
Adzra tersenyum malu.
"Masakan Ibu memang nggak ada lawan."
"Itu baru anak Ibu."
Suasana makan malam berlangsung hangat.
Mereka bercerita tentang banyak hal.
Tentang tetangga yang baru pulang umrah.
Tentang pohon mangga di belakang rumah yang mulai berbuah lagi.
Tentang klinik yang semakin ramai didatangi pasien.
Ayah lebih banyak mendengarkan.
Sesekali beliau mengangguk atau tersenyum saat mendengar cerita putrinya.
Beliau memang tidak banyak bicara.
Namun setiap kalimat yang keluar selalu terasa memiliki makna.
Setelah makan malam selesai, Ibu membawa piring-piring kotor ke dapur.
Adzra berniat membantu.
Namun sang ibu buru-buru menggeleng.
"Sudah."
"Kamu temani Ayah saja."
"Ayah dari kemarin memang ingin bicara."
Adzra menoleh ke arah ayahnya.
Beliau hanya tersenyum tipis.
"Ayo."
"Kita ke teras."
Udara malam terasa sejuk.
Angin berembus pelan membawa aroma tanah yang masih basah setelah hujan sore tadi.
Ayah duduk di kursi rotan favoritnya.
Adzra mengambil tempat di sebelah beliau.
Beberapa saat, tak ada yang berbicara.
Mereka hanya menikmati keheningan yang terasa damai.
Di kejauhan, suara anak-anak mengaji dari musala kecil terdengar samar.
"Ayah sengaja memintamu pulang."
Akhirnya Ustaz Hasan membuka percakapan.
"Ada sesuatu yang ingin Ayah sampaikan."
Adzra mengangguk pelan.
"Saya mendengarkan, Yah."
Beliau tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru mengarah ke langit yang mulai dipenuhi bintang.
"Menurutmu..."
"Apa amanah paling berat yang pernah Allah titipkan kepada seorang manusia?"
Pertanyaan itu membuat Adzra berpikir sejenak.
"Menjadi pemimpin?"
Ayah tersenyum.
"Itu salah satunya."
"Yang lain?"
"Menjadi orang tua?"
"Benar."
Beliau kembali diam.
"Lalu menjadi dokter."
Adzra menoleh.
Ayah kini memandangnya dengan sorot mata yang penuh kebanggaan.
"Karena seorang dokter..."
"...memegang harapan banyak orang."
***
"Ayah tahu..."
Ustaz Hasan Fauzi membuka percakapan dengan suara tenang.
"...menjadi dokter bukan hanya soal mengobati penyakit."
Adzra mengangguk pelan.
"Sering kali seorang pasien datang bukan hanya membawa rasa sakit."
"Tetapi juga ketakutan."
"Kecemasan."
"Dan harapan."
Beliau tersenyum tipis.
"Karena itu, Allah menitipkan amanah yang besar kepada orang-orang sepertimu."
Adzra menundukkan pandangan.
Ia masih mengingat hari pertama mengenakan jas dokter.
Sumpah yang ia ucapkan di hadapan para dosen, keluarga, dan rekan-rekannya masih terpatri jelas di dalam hati.
Menolong siapa pun yang membutuhkan.
Tanpa membedakan latar belakang.
Tanpa dipengaruhi perasaan pribadi.
"Ayah memintamu pulang hari ini..."
"...bukan karena ingin mengatur hidupmu."
"Tapi karena Ayah ingin memastikan..."
"...bahwa kesibukan tidak membuatmu lupa mendengarkan suara hatimu."
Adzra tersenyum kecil.
"Ayah selalu tahu kapan saya sedang banyak pikiran."
"Ayahmu ini sudah mengenalmu sejak kamu belum bisa berjalan."
Mereka sama-sama tertawa pelan.
Suasana kembali hening.
Angin malam berembus pelan, menggoyangkan dedaunan pohon mangga di halaman rumah.
Beberapa saat kemudian, Adzra menarik napas panjang.
"Yah..."
"Hm?"
"Sebenarnya..."
"Ada sesuatu yang juga ingin saya ceritakan."
Ustaz Hasan menoleh.
"Apa itu?"
Adzra terdiam sejenak, seolah sedang menyusun keberanian.
"Klinik mendapat tawaran kerja sama."
"Itu kabar baik."
"Iya."
"Tapi..."
Ia menggigit bibir bawahnya pelan.
"Yang mengirimkan tawaran itu adalah Safa Amanah Tour."
Nama itu membuat Ustaz Hasan tidak langsung berbicara.
Beliau memahami betul siapa pemilik biro perjalanan tersebut.
Bukan karena sering bertemu.
Melainkan karena beliau tahu nama itu pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup putrinya.
"Jadi..."
"Mereka ingin bekerja sama?"
Adzra mengangguk.
"Program pemeriksaan kesehatan untuk calon jemaah umrah."
"Pesertanya sebagian besar lansia."
"Dan minggu depan mereka ingin bertemu untuk membahas teknisnya."
"Apakah kamu harus bertemu langsung?"
"Iya."
Jawaban itu keluar hampir seperti bisikan.
Ustaz Hasan mengusap janggutnya perlahan.
Beliau tidak buru-buru memberi pendapat.
Sebaliknya, beliau justru bertanya,
"Kalau tidak ada masa lalu itu..."
"Apakah kamu akan menerima kerja sama tersebut?"
Pertanyaan itu membuat Adzra terdiam.
Ia membayangkan isi proposal yang dibacanya siang tadi.
Programnya jelas.
Manfaatnya besar.
Kliniknya juga mampu menjalankan pemeriksaan itu dengan baik.
Tanpa ragu ia menjawab,
"Tentu, Yah."
"Karena ini kesempatan untuk membantu banyak orang."
"Berarti..."
Ayahnya tersenyum lembut.
"...jawabanmu sebenarnya sudah ada."
Adzra menatap wajah ayahnya.
"Maksud Ayah?"
"Yang membuatmu ragu bukan pekerjaannya."
"Tetapi orang yang berada di balik pekerjaan itu."
Kalimat tersebut mengenai sasaran.
Adzra tidak mampu membantah.
Ustaz Hasan memandang putrinya dengan penuh kasih.
"Adzra..."
"Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan seseorang."
"Dan menerima sebuah amanah bukan berarti membuka kembali luka yang lama."
Beliau berhenti sejenak.
"Jangan campurkan keduanya."
Kalimat itu menggantung di udara malam.
Sederhana.
Namun terasa begitu dalam.
"Kamu adalah dokter."
"Datangilah pekerjaanmu sebagai dokter."
"Bukan sebagai mantan istri seseorang."
Mata Adzra mulai berkaca-kaca.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena hatinya perlahan menemukan jawaban yang sejak kemarin ia cari.
"Ayah tidak memintamu melupakan."
"Itu tidak mudah."
"Tapi Ayah berharap..."
"...jangan biarkan luka menentukan siapa dirimu hari ini."
Air mata tipis menggenang di pelupuk mata Adzra.
Ia menggenggam tangan ayahnya.
"Terima kasih, Yah."
"Insyaallah..."
"...saya mengerti."
Ustaz Hasan mengusap punggung tangan putrinya dengan lembut.
"Kalau begitu..."
"Ambillah keputusan setelah salat malam nanti."
"Mintalah petunjuk kepada Allah."
"Karena keputusan yang baik..."
"...akan membuat hatimu tenang."
***
Malam semakin larut.
Setelah berbincang dengan kedua orang tuanya, Adzra masuk ke kamar yang sejak dulu selalu menjadi tempatnya pulang.
Tidak banyak yang berubah.
Rak buku di sudut ruangan masih dipenuhi novel dan buku-buku kedokteran semasa kuliah.
Boneka kecil pemberian ibunya masih tersimpan rapi di atas lemari.
Adzra mengambil air wudu.
Malam itu, ia menunaikan salat dengan lebih lama daripada biasanya.
Di setiap sujudnya, ia memohon agar Allah membersihkan hatinya dari keputusan yang lahir karena ego.
Ia ingin memilih jalan yang paling benar.
Bukan yang paling mudah.
Usai berdoa, ia meraih ponselnya.
Jam menunjukkan pukul 21.47.
Ia membuka aplikasi pesan dan mengirimkan satu pesan kepada Rina.
Adzra: Besok pagi, tolong hubungi Pak Ja'far dari Safa Amanah Tour.
Tak sampai satu menit, balasan masuk.
Rina: Baik, Dok. Ada yang ingin saya sampaikan?
Adzra menatap layar beberapa saat.
Lalu jemarinya mulai mengetik.
Sampaikan bahwa Klinik Arafah Medika bersedia bekerja sama. Kita akan menjadwalkan pertemuan sesuai waktu yang mereka usulkan.
Ia membaca kembali pesan itu.
Menarik napas panjang.
Lalu menekan tombol kirim.
Pesan terkirim.
Tak ada jalan untuk menariknya kembali.
Adzra memejamkan mata.
Entah mengapa, kali ini hatinya tidak lagi dipenuhi ketakutan.
Yang ada hanyalah sebuah keyakinan sederhana.
Bahwa ia sedang melangkah bukan untuk kembali ke masa lalu...
Melainkan untuk menjalankan amanah yang Allah titipkan di hadapannya.
***
---Bersambung---
Selamat membaca!!
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dan kasih othor reward ya, terima kasih sudah setia dengan karya-karya othor.
Jangan lupa follow akun Instagram Othor dan tiktok ya: @Duyung_Indahyani123