Cerita bermula dari seorang gadis penulis yang mendapatkan permintaan dari pembaca untuk membuat cerita tentang percintaan. Gadis itu bernama Larasati seorang penulis amatir yang tak mendapatkan banyak pembaca. Tiba-tiba di beri permintaan untuk membuat kisah percintaan. Apa yang akan ia lakukan? Terlebih lagi ia tak pernah mempunyai kisah percintaan di masa hidupnya. Suatu ide gila muncul dari pikirannya untuk menghubungi teman laki-laki yang bisa dianggap dulu pernah ditaksirnya sewaktu di bangku SMK ia adalah Dika. Larasati sudah mengikuti akun instagramnya dari dulu dan ia pun berniat mengirim pesan bantuan lewat media tersebut. Butuh banyak keberanian untuk mengirim pesan yang terbilang baru pertama kali itu. Jawaban apa yang akan diterimanya? Akankah lelaki tersebut akan membantunya hingga sebuah cinta hadir diantara keduanya. Semua akan terjawab di dalam kisah yang ku tulis ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jindael, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba-tiba Menghilang
Malam semakin gelap. Tampak dua orang gadis sedang berjalan bersama menuju sekolah yang sudah tampak sepi tak berpenghuni. Ini disebabkan karena jam yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. Larasati yang kini sudah bersama gadis seumurannya itu, sudah mulai memasuki area sekolah. Senter ponsel dinyalakan oleh Larasati untuk menerangi jalan mereka. Sekolah itu adalah tempat dimana mereka belajar waktu semasa SMK dulu.
Satu jam yang lalu....
"Dik_" Larasati berbalik dan menengok tapi ternyata bukan Dika yang menepuknya, melainkan seorang gadis yang tak dikenalinya.
"Laras bukan?" tanya gadis itu memastikan.
Larasati mengangguk dan bingung menatap gadis tersebut.
"Siapa ya?" tanya Larasati padanya.
"Aku Fitria, kita satu SMK dulu, aku anak administrasi perkantoran. Kau dulu pernah mengembalikan buku ku yang jatuh," jawabnya mengingatkan Larasati.
"Fitria?" Larasati berpikir. "Ah iya aku ingat aku ingat. Ada apa ya?" Larasati kembali bertanya setelah mengingatnya.
"Syukurlah kau ingat, aku ingin meminta bantuan mu boleh?" ucapnya.
"Bantuan? Bantuan apa?" tanya Larasati lagi.
"Begini aku baru saja pulang dari sekolah untuk persiapan reuni Minggu depan, tapi sepertinya ponsel ku tertinggal di gudang. Bisakah kau menemani ku pergi ke sana kembali?" jelasnya meminta pada Larasati.
"Kau sendirian kah?" Larasati tak melihat siapa pun selain gadis itu.
"Awalnya aku bersama teman ku tapi saat ia pergi aku baru tersadar jika ponsel ku tak ada, jelasnya lagi.
Larasati terdiam untuk berpikir.
"Ayolah Ras kau kan dulu terkenal dengan orang yang suka membantu, bantu aku kali ini saja ya," bujuknya memegang tangan Larasati. Larasati yang di kenal dengan orang yang suka membantu membuat dirinya tak bisa menolak jika sudah memohon seperti itu.
"Baiklah aku membantu mu." Larasati setuju dan itu membuat Fitria terlihat senang.
"Tapi Dik_" Larasati masih bingung karena Dika masih di dalam. Tiba-tiba saja tangan Larasati di tarik oleh Fitria untuk segera pergi.
"Ayolah keburu makin malam!" ajaknya. Larasati tak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya meninggalkan Dika disana.
Mereka berdua sekarang telah sampai di depan gudang yang dimaksudnya. Mereka berdua melihat ke arah gudang yang tampak menyeramkan itu. Auranya dingin membuat tubuh mereka menjadi merinding.
"Apakah disini?" tanya Larasati sambil menunjuk pintu gudang.
Fitria mengangguk pelan. Larasati membuka gudang yang ternyata belum terkunci itu.
"Ayo masuk lah!" ajaknya.
"Laras, bisakah kau masuk sendiri? Aku sedikit takut," pintanya memohon.
"Tapi aku tak tahu dimana letak ponselmu berada," jawab Larasati enggan.
"Begini saja aku arahkan dari sini, dan kau masuk untuk mencarinya," ucapnya.
"Baiklah seperti itu saja," ujar Larasati setuju.
Larasati melangkah pelan masuk ke dalam gudang dan mulai mencari ponsel Fitria. Dia sudah menelusuri area gudang tapi tak menemukannya dan ia pun berteriak untuk memberitahu
"Fitria, sebenarnya dimana kau taruh ponsel mu!" teriak Larasati dari dalam.
"Tak ada kah? Coba kau cari di bagian atas lemari ada tidak?" jawab Fitria berpura-pura.
"Baiklah aku akan periksa." Larasati mencoba memeriksanya sesuai yang Fitria bilang.
Mengetahui tak ada suara dari Larasati, Fitria dengan keras menutup pintu gudang dan membuat Larasati terkejut. Dengan panik ia segera menuju ke arah pintu.
"Fitria, kenapa pintunya tak bisa dibuka?" teriak Larasati dari dalam.
"Ya ampun bagaimana ini sepertinya kau terkunci di dalam. Kau tunggu disini saja aku akan mencari cara," jawab Fitria pura-pura panik.
"Baiklah, kau cepat sedikit disini cukup pengap," ucap Larasati padanya.
Tak terdengar apa-apa dari luar sana. Itu membuat Larasati semakin panik.
Satu jam Larasati menunggu, Fitria ternyata tak kunjung datang kembali. Ia pun teringat untuk membuka ponselnya dan menghubungi Dika karena pasti ia sedang khawatir di sana. Larasati terbelalak ketika menyadari baterai ponselnya tinggal 2%, dengan cepat ia mengetik sebelum ponselnya benar-benar mati.
Larasati mengetik singkat kata "SOS" dengan huruf besar disertai emoticon sekolah. Entah Dika paham atau tidak dengan pesan dari Larasati itu. Baterai ponsel Larasati semakin menurun dan sudah 1%. Dengan cepat ia menekan tombol kirim namun entah terpencet atau tidak Larasati tak tahu sebab ponselnya kini benar-benar mati total. Ia hanya bisa pasrah berharap pesannya sampai pada Dika.
"Laras kau dimana?" teriak Dika yang sedang mencari ke seluruh penjuru.
Seperti yang diduga Larasati diatas, Dika memang kini tengah khawatir padanya. Ia cukup terkejut ketika mengetahui Larasati tak ada di depan toko es krim. Dika yang masih memegang dua es krim ditangannya, pergi mencari Larasati. Di tengah mencari, ponsel milik Dika berbunyi. Ia dengan cepat membuka ponselnya dan membaca pesan yang baru saja masuk. Wajah Dika semakin panik ketika melihat pesan tersebut. Dengan seketika ia membuang dua es krim yang dibelinya dan berlari menuju suatu tempat.
...--------❤️--------...
Fitria saat ini merasa puas karena sudah berhasil membuat Larasati terkurung di gudang sana. Kini ia sedang berendam di bak mandi yang sudah di taburi bunga. Senyum kesenangan menghiasi wajahnya yang cantik itu.
"Laras, ku harap kau tak bisa keluar dari sana. Maaf Bagas aku membuat gadis mu celaka lagi."
"Ah benar dia juga punya Dika, Dika pasti akan menolongnya. Aku harus membuat cara agar Larasati menjauh dan Dika bisa kembali pada Naya. Ia pasti akan senang memiliki teman yang membantunya kembali bersama Dika."
Di bak mandi, dirinya tertawa senang dan merasa bangga untuk apa yang dilakukan demi sahabatnya itu. Sementara di gudang, Larasati semakin sulit bernafas. Ia tak takut dengan suasana gudang yang menyeramkan, ia lebih takut jika dirinya akan kehilangan nafas dan pingsan di sana.
Larasati menggedor pintu gudang dengan keras agar seseorang yang lewat dapat mendengarnya. Namun siapa yang lewat di jam malam seperti ini, bahkan security pun sudah berjelajah ke alam mimpinya mungkin.
"Seseorang tolong aku, aku sudah tak kuat lagi," teriak Larasati yang hampir lemah suaranya.
Larasati mundur dan mendudukkan dirinya di samping rak buku. Ia sudah tersungkur lemas sekarang. Larasati sangat berharap pesan itu sampai padanya. Saat Larasati akan memejamkan mata, tiba-tiba pintu terbuka dan tampak lah Dika di sana. Larasati yang masih sedikit membuka matanya tersenyum senang. Ia sangat lega Dika datang menolongnya.
"Laras," panggil Dika padanya.
Larasati hanya tersenyum. Dika pun memeluknya erat.
Malam yang sunyi tetapi masih indah dengan gemerlapnya lampu yang menghiasi sepanjang jalan. Menerangi sepasang kekasih yang berjalan menuju jalan pulang. Sepasang kekasih yang saling mencintai. Dalam gendongannya Larasati berbisik padanya, "terima kasih Dika."
Dika tersenyum dan menengok menatapnya. "Terima kasih untuk apa?" tanyanya.
"Terima kasih karena kau sudah hadir di hidupku. Terima kasih karena kau sudah menjadi kekasihku. Terima kasih karena kau selalu ada untukku. Terima_" Larasati hendak melanjutkan bicaranya, namun di potong oleh Dika.
"Hentikan Laras, aku ini pacar mu sudah semestinya aku berbuat sedemikian," potong Dika langsung.
Cup. Larasati mencium pipi Dika di atas gendongannya. Dika tersenyum senang sambil terus berjalan menggendongnya. Larasati yang malu langsung mengencangkan pelukannya dengan erat.
Tak jauh di sana. Bagas yang baru saja memikirkan mobilnya di depan rumah. Melihat Larasati yang sangat senang di atas gendongan Dika setelah melewati mobilnya, hati Bagas menjadi terasa sakit. Ia sangat sakit hati sekarang karena Larasati lebih memilih Dika daripada dirinya. Ia memukulkan kepalanya ke setir dan ia diam-diam meneteskan air matanya di sana.
Dika telah sampai di depan rumah Larasati. Larasati yang masih di gendong olehnya, menepuk pundak Dika.
"Dik, turunkan aku. Aku sudah baik-baik saja," ucapnya.
Dika menurut dan menurunkan dirinya duduk di teras.
"Kau sudah tak apa Ras?" tanya Dika memastikan.
Larasati menggeleng. "Terima kasih sekali lagi," ucap Larasati tersenyum padanya.
Dika mengangguk. Sebenarnya di hatinya, ia ingin tahu apa yang sudah terjadi pada kekasihnya tadi. Kenapa ia bisa menghilang dan berakhir di gudang sekolah? Apa ada yang mencelakainya? Tapi pertanyaan itu Dika memilih untuk menyimpannya. Ia akan menanyakannya nanti jika Larasati sudah benar-benar membaik.
"Kalau begitu aku pulang dulu, kau masuk istirahat lah," suruhnya sambil mengelus rambut Larasati lembut.
"Hem aku masuk kalau begitu, hati-hati di jalan," jawab Larasati menurut. Ia mulai bangkit dan berjalan menuju pintu.
Setelah memastikan Larasati masuk ke rumahnya, baru dirinya pergi dan menghubungi Lukman untuk menjemputnya.
Larasati tak bisa tidur setelah apa yang telah terjadi padanya hari ini. Ia terus berpikiran maksud Fitria meninggalkan dirinya tadi. Larasati mencoba membuka novelnya dan menulis lagi. Tapi dirinya benar-benar tak bisa menulis karena pikiran itu menghantuinya. Ia pun menutup laptopnya kembali dan mencoba memejamkan matanya erat agar bisa tertidur.
Bersambung....❤️❤️❤️
cerita ny snggt menghibur👍👍 🙏🙏🤗🤗🥰🥰
lancarrrr ya
terngiang-ngiang nama dika,,, jadi mangil bagas jadi dika🤭🤭😄