Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.
Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.
Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"
Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."
Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Giselle akhirnya masuk ke apartemennya dengan langkah gontai. Pintu ditutup pelan, lalu tubuhnya bersandar beberapa saat di balik daun pintu. Napasnya masih memburu. Jemarinya gemetar ketika melepas sepatu dan meletakkan tas di atas meja kecil dekat pintu masuk.
Dengan langkah lemah, ia berjalan menuju ruang tamu. Wanita itu menjatuhkan tubuh ke sofa, menatap kosong ke arah jendela besar yang memperlihatkan gemerlap lampu Kota Seoul di kejauhan.
Namun pikirannya sama sekali tak berada di sana. Bayangan masa lalu menyerbu tanpa ampun.
"Aku capek, Robin! Aku jengah merasa kesepian terus!" Suara Giselle menggema di ruang keluarga rumah mewah mereka.
Robinson yang baru pulang kerja masih mengenakan jas, wajahnya terlihat letih setelah seharian menghadiri rapat. "Aku kerja buat keluarga kita, Giselle."
"Keluarga?" Giselle tertawa sinis. "Kamu bahkan nggak pernah punya waktu buat aku!"
Robinson mengusap wajahnya kasar. "Aku lagi pegang banyak proyek. Tolong mengerti."
"Mengerti? Sampai kapan? Sampai aku tua?"
Sejak hari itu, pertengkaran demi pertengkaran menjadi makanan sehari-hari.
Kesepian yang dirasakan Giselle perlahan membawanya bertemu Lee So Min, seorang pria muda yang pandai merangkai kata-kata manis. Lee selalu hadir ketika Robinson sibuk bekerja. Awalnya hanya makan malam bersama. Lalu saling curhat. Kemudian berubah menjadi hubungan terlarang.
Giselle yang haus perhatian akhirnya tenggelam terlalu dalam.
Hingga suatu hari, di apartemen yang dihadiahkan Robinson, peristiwa tak terduga itu pun terjadi.
Giselle tengah berada dalam pelukan Lee So Min ketika suara pintu terbuka dari luar. Mereka sama-sama terkejut. "Siapa?" bisik Giselle panik. Belum sempat ia mengenakan pakaian, pintu kamar terbuka.
Robinson berdiri di sana. Tatapan matanya kosong. Tak ada bentakan, tak ada makian. Tak ada pula amarah yang meledak-ledak. Hanya ada sepasang mata yang menyimpan luka begitu dalam.
"Robin..." suara Giselle bergetar.
Lee So Min buru-buru menutupi tubuhnya dengan selimut.
Robinson masih diam beberapa detik.
Tatapannya bergantian kepada istrinya dan pria yang berada di atas ranjang. Akhirnya ia berkata lirih, "Jadi ini alasan kamu selalu bilang tak betah di rumah?"
Kalimat itu justru terasa jauh lebih menyakitkan daripada teriakan.
Robinson berbalik. Ia pergi tanpa menoleh lagi.
"Robin, tunggu! Robinson!" Giselle mengejarnya sampai ke depan pintu, tetapi pria itu sudah masuk ke dalam lift.
Pintu lift menutup perlahan. Bersamaan dengan runtuhnya rumah tangga mereka.
Beberapa minggu kemudian, alih-alih meminta maaf, Giselle justru mengajukan gugatan cerai lebih dulu.
Robinson tidak melawan. Di ruang sidang, lelaki itu hanya duduk tenang mendengarkan seluruh tuntutan mantan istrinya
Termasuk ketika Giselle meminta tujuh puluh persen harta gono-gini.
Semua orang mengira Robinson akan menolak. Namun dia malah berkata,"Saya setuju."
Jawaban singkat itu membuat semua orang terdiam. Pengacara Robinson sendiri sampai terkejut. "Pak Robinson... ini terlalu banyak."
Robinson hanya tersenyum tipis. "Saya tidak ingin memperpanjang semuanya." Ia lalu menoleh kepada Giselle. "Silakan ambil semua yang kamu inginkan." Suara Robinson tetap tenang. "Asal satu." Giselle mengangkat wajahnya. "Aku mau hak asuh Rebeca."
Mata Giselle berkedip pelan. Saat itu, Rebeca masih gadis kecil yang bahkan belum benar-benar mengerti arti perceraian. Setelah berpikir beberapa saat, Giselle akhirnya mengangguk. "Baik." Bukan karena ia tak menyayangi putrinya. Melainkan karena saat itu ia terlalu dibutakan oleh cintanya kepada Lee So Min. Ia percaya bisa memulai hidup baru bersama pria itu tanpa beban masa lalu.
Ingatan itu membuat dada Giselle sesak.
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipi. "Aku bodoh..." isaknya lirih. "Aku menghancurkan rumah tanggaku sendiri... meninggalkan Beca... demi laki-laki yang akhirnya juga meninggalkanku." Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Selama bertahun-tahun ia berusaha mengubur semua kenangan itu rapat-rapat. Namun kini, kemunculan Lee So Min kembali membuka luka yang belum benar-benar sembuh.
Yang paling ia takutkan bukanlah Robinson mengetahui masa lalu itu, karena lelaki itu sudah menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Yang ia takutkan adalah Rebeca.
"Kalau Beca tahu semua ini..." suara Giselle bergetar hebat. "Dia pasti jijik padaku." Isaknya semakin pecah memenuhi apartemen yang malam itu terasa begitu sunyi. Untuk beberapa saat, Giselle hanya mampu terisak. Sampai akhirnya, ia menghapus air matanya dengan kasar. Dadanya masih naik turun menahan gejolak emosi.
Namun perlahan, wajah penuh penyesalan itu mulai berubah. Sorot matanya mengeras. "Tidak..." gumamnya pelan sambil menggeleng. "Beca tidak boleh tahu tentang kebenaran itu." Ia bangkit dari sofa, berjalan mondar-mandir di ruang tamu sambil menggigit kuku ibu jarinya. "Selama ini... Beca percaya kalau Robinson yang menjadi penyebab rumah tangga kami hancur. Dia percaya ayahnya terlalu sibuk bekerja, mengabaikan istrinya, sampai akhirnya kami bercerai." Giselle mengepalkan tangan. "Dan itu harus tetap seperti itu." Sisi egois dalam dirinya perlahan kembali mengambil alih rasa bersalah yang sempat muncul beberapa menit lalu. "Tidak..." bisiknya sekali lagi.
"Aku tidak akan membiarkan citraku hancur di mata anakku." Ia menggeleng semakin keras. "Beca tidak boleh membenciku."
Nama Lee So Min kembali terlintas di kepalanya. Rahang Giselle mengeras. "Ya... aku harus bicara dengan Lee." Ia berhenti melangkah. Kedua matanya menyipit penuh perhitungan. "Lelaki itu pasti mau tutup mulut... kalau aku memberinya uang." Semakin dipikirkan, rencana itu terasa semakin masuk akal. "Dia memang selalu tergila-gila pada uang. Kalau nominalnya cukup besar, dia pasti tidak akan membocorkan apa pun."
Namun di sudut lain hatinya, ada suara kecil yang terus berbisik. "Apa kamu yakin dia datang hanya untuk uang?"
Giselle langsung menggeleng, menepis keraguan itu. "Apa pun alasannya, aku harus menghentikannya." Ia meraih ponselnya, lalu menatap layar beberapa saat. "Besok... aku akan menghubunginya. Aku akan memastikan mulutnya tetap terkunci."
Tatapan Giselle berubah dingin. "Demi mempertahankan kasih sayang Rebeca... aku akan melakukan apa pun.
Suara bel apartemen memecah kegelisahan Giselle. Wanita itu langsung menoleh ke arah pintu. Dengan cepat ia mengusap sisa air mata di pipinya, menarik napas panjang, lalu bergegas menuju monitor intercom. Begitu layar menyala, Giselle mamaksakan wajahnya senormal mungkin. "Beca." Gadis itu tengah berdiri di depan pintu apartemen. "Syukurlah... dia sudah pulang," gumam Giselle lega. Ia segera membuka pintu.
"Mama..." sapa Rebeca sambil tersenyum tipis.
"Sayang!" Giselle langsung memeluk putrinya erat. "Gimana jalan-jalannya, seru tidak?"
"Seru, Ma!" balas Rebeca sambil tersenyum, berusaha menyembunyikan kegugupan di balik wajah tenangnya.
Giselle melepaskan pelukan itu, lalu mengamati putrinya dari ujung kepala hingga kaki. "Kamu udah makan malam?"
"Udah dong, Ma. Tadi aku nyobain macam-macam makanan khas korea. Enak ih!" dusta Rebeca meyakinkan.
"Syukurlah." Giselle mengusap puncak kepala Rebeca. "Kalau begitu, istirahat gih! Kamu pasti capek."
Rebeca mengangguk pelan. "Oke, Ma. Selamat malam." Sebelum masuk kamar, ia mencium pipi sang mama.
"Malam, Sayang. Tidur yang nyenyak ya." Giselle melambaikan tangan.
Rebeca mengembuskan napas pelan begitu tiba di kamarnya. Ia menutup pintu, lalu menyandarkan tubuh sesaat di baliknya.
Bayangan pertemuannya dengan Elgar kembali terlintas di benaknya. Senyum tipis sempat mengembang, namun perlahan memudar saat mengingat bagaimana rencana mereka harus batal karena ia tiba-tiba datang bulan. "Aku harap Elgar benar-benar nggak kecewa," gumamnya pelan.
Setelah meletakkan tas di atas meja, Rebeca mengambil pakaian ganti dan berjalan menuju kamar mandi.
Giselle juga masuk ke kamarnya. Wanita itu duduk di tepi ranjang dengan gelisah. Tatapannya terus tertuju pada nomor telepon yang baru saja ia dapatkan kembali dari ingatannya. "Haruskah aku menghubunginya sekarang?" bisiknya.
Beberapa detik berlalu. Akhirnya, dengan tangan sedikit gemetar, ia menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar sekali, dua kali. Belum sampai nada ketiga, panggilan itu sudah diangkat. "Halo?" Suara pria itu terdengar santai, seolah memang sudah menunggu telepon tersebut.
Jantung Giselle berdegup lebih cepat. "Lee ..."
Terdengar tawa kecil dari seberang sana. "Sudah kuduga kamu pasti akan menghubungiku, Sayang."
Giselle langsung mengernyit kesal. "Jangan panggil aku seperti itu."
"Oke, oke. Jadi, ada apa?"
Giselle menarik napas panjang, berusaha menahan emosinya. "Besok... aku ingin bertemu denganmu."
gimana kl tahu mama kebanggaanmu itu gk lbh dr jalang kelakuannya+ lo dah jd korban taruhan jg berbagi cinta selingkuhan mamamu...🤫🙉