NovelToon NovelToon
Udin Jagoan Bapak

Udin Jagoan Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Naik Kelas / Misteri / TKP / Thriller
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Keputusan Udin menerima perintah mutasi ke gudang cabang malah menyeretnya pada kasus dan fakta masa lalu.

.........

“Kecelakaan kerja lagi,” bisik buruh di sebelahnya. “Sudah yang ketiga. Katanya... ditagih hantu kepala pabrik.”

Udin kaku. Nama Bejo Santoso, korban terbaru, pernah ia lihat semalam. Di buku log lembur Bapak, tujuh belas tahun lalu. Tepat di bawah nama Budi Hartono. Ayahnya sendiri.

..........

Satu koper tua, satu daftar nama, satu pabrik yang gak pernah bener-bener mati.

Mampukah ia membongkar busuknya lantai produksi? Atau dia bakal jadi nama keempat di daftar korban?

'UDIN JAGOAN BAPAK'

So, kisah Udin hanya fiktif karangan Author ya. Jika ada kesamaan nama, lokasi, dan situasi, itu cuma kebetulan yang kebetulan banget. Selamat membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RENCANA DARI BALIK JERUJI

Jam 09.30. Lapas Perempuan Kelas IIA Jakarta.

Cuaca panas di musim kemarau kali ini lebih terasa menyengat dari hari sebelumnya. Kipas angin di sudut ruangan berputar pelan, mengeluarkan bunyi berderit, cukup memberi sedikit kesegaran.

Sutinah duduk bersila di atas tikar, di depannya ada beberapa gulungan benang wol dan sebotol air mineral. Ia baru selesai menunjukkan kemahirannya menyulam, lalu mengajarkan ketrampilan itu pada 16 orang warga binaan lain di blok C. Suaranya saat mengajari tadi terdengar lembut, penuh perhatian tanpa terburu-buru ataupun menekan, membuat petugas yang lewat mengangguk-angguk kagum.

“Terima kasih, Bu Sutinah. berkat Anda, kegiatan menjadi sangat menyenangkan, mereka pun merasa nyaman dan antusias." Seorang petugas mengapresiasi keterlibatan Sutinah.

Sutinah tersenyum ramah, tak terlihat sedikitpun diluar sinis seperti biasanya. "Sama-sama petugas, hanya sedikit berbagi ilmu dan hobi. Semoga ketika mereka kembali ke masyarakat, ketrampilan itu bisa membantu mereka menghasilkan uang. Yah, meski tak seberapa," ucapnya renyah.

Sutinah berdiri, merapikan atasannya, di pergelangan tangannya ada gelang plastik berwarna biru, sebagai tanda ia juga warga binaan. Sutinah berjalan pelan melewati lorong. Di tangannya ada majalah lama bertajuk 'Ide Kreatif Ketrampilan Wanita' yang ia pinjam dari perpustakaan lapas.

Tepat di depan ruang kepala blok, seorang pengacara muda menunggunya, namanya Bayu. Sudah 2 bulan ini ia yang mengurus berkas-berkas Sutinah.

“Bu, ada titipan buku,” kata Bayu, menyodorkan majalah yang sama persis dengan yang dipegang Sutinah. “Edisi terbaru," imbuhnya sambil tersenyum tipis.

Sutinah menerimanya, dengan gerakan santai seolah kebiasaan, ia membuka lipatan di halaman tengah. Di sana, terselip selembar kertas tipis, dilipat seukuran kotak korek api.

“Terima kasih, Mas Bayu,” ucap Sutinah datar, tenang, tanpa berkedip. “Tolong sampaikan salam saya untuk keluarga di Tulungagung ya.”

Bayu mengangguk hormat kemudian berbalik dan meninggalkan Sutinah.

Begitu masuk ke selnya lagi, Sutinah langsung duduk di ranjang tingkat paling bawah. Ia membuka majalah itu di bawah selimut. Kertas kecil itu ia keluarkan, lalu membacanya. [Y & D. Mulai. Gunakan narasi perut. Jangan sebut nama. Kirim ke media. Tunggu 2 minggu.]

Sutinah membaca dua kali pesan patah-patah itu, lalu ia merobeknya menjadi potongan kecil-kecil, kemudian memasukkannya ke dalam bungkus permen, dan dibuang ke tempat sampah.

Sutinah menutup mata, menarik napas dalam-dalam. Bibirnya bergerak-gerak tipis, tanpa suara, seolah ia sedang merapatkan suatu mantra.

..........

Sementara itu, di Jakarta, di sebuah warung kopi dekat kantor pusat, Yuni yang adalah salah satu staf marketing, tengah duduk menonton ponselnya. Layarnya menampilkan grup WhatsApp Keluarga Besar PT Maju Mundur.

Ada pesan suara dari nomor tidak dikenal berdurasi 12 detik. —Mbak Yuni, ini dari teman. Tolong sebarkan ya. Kita harus bicara, bukan soal bos, tapi soal kita, soal nasib anak-anak dan keluarga kita—

Di bawahnya, ada video berdurasi 40 detik. Isinya Pak Darto, duduk di depan gerbang pabrik yang digembok rantai dan dipalangi garis polisi dengan wajah lelah bersama beberapa ibu-ibu menggendong anak.

“Nama saya Darto. Saya kerja 18 tahun di sini. Saya tidak mengerti hukum. Saya hanya tahu, kalau pabrik tutup, kami mau kerja di mana. Kami tidak membela yang salah, tapi kami hanya minta kesempatan. Keadilan itu juga harus menghidupi orang kecil!" seru Pak Darto kemudian diikuti sorak Sorai karyawan lainnya.

Video itu diunggah Yuni malam itu juga dengan caption #Selamatkan6000Keluarga #KamiButuhKerja.

Dalam 3 jam, video itu tembus 50 ribu tayangan, dan dalam 12 jam, masuk ke berita pagi salah satu TV swasta.

.............

Pagi harinya, Sari yang masih dalam perjalanan dari Tulungagung untuk kembali ke jakarta, menemukan kehebohan itu di media sosial. "Ya ampun, apalagi ini?" gumamnya kesal.

Sari melihat ke jam tangannya, kemudian mengetik pesan singkat untuk Udin. —Din, lihat sosmed, sepertinya seseorang sedang merencanakan skenario baru untukmu.—

Jam di rumah Udin baru menunjukkan pukul setengah enam pagi, Udin baru keluar dari kamar mandi, dengan rambut yang masih menetes saat Dina memanggilnya dari meja makan. "Mas, hapemu bunyi!"

Udin meraih ponselnya yang sejak bangun tadi, ia letakkan di meja makan, tak jauh dari tempat Dina duduk. Dahinya berkerut kemudian setelah membaca pesan dari Sari beserta kiriman reel dengan caption. Dilayarnya, Udin melihat komentar di video Pak Darto sudah mencapai 4 ribu.

..........

—Kasian ya karyawannya. Emang si Udin itu siapa?”—

—Katanya mau keadilan. Tapi malah bikin banyak orang kehilangan pekerjaan. Adil versi mana itu?—

—Pelaku pembunuhan kan sudah dihukum, kenapa bosnya ikut terseret?—

—Udin jangan serakah, imbasnya teman kerjamu sendiri jadi pengangguran loh!—

...........

Udin terdiam, dadanya bergemuruh panas setelah membaca berbagai komentar yang lebih banyak menyudutkan dirinya.

Pesan baru masuk ke ponselnya, itu dari Sari. —Aku langsung ke kantor polisi, kita bertemu disana!—

"Ada apa, Mas?" tanya Dina yang sedari tadi memperhatikan perubahan raut wajah kakaknya itu.

Udin menghela napas, menoleh sekejap ke arah Dina, lalu berjalan masuk ke kamar. "Aku harus ke kantor polisi, hati-hatilah jika mau berangkat sekolah," ucapnya sambil jalan.

"Pagi-pagi begini ke kantor polisi? Ada apa lagi? Mas Udin nggak nungguin ibu pulang dulu?" tuntut Dian dengan keheranan.

"Nggak ada apa-apa, cuma mau ketemu teman lama!" jawab Udin dari dalam kamarnya. Lima menit kemudian ia kembali keluar, sudah rapih mengenakan celana panjang jeans biru dan kemeja polos warna senada. "Bilangin ke ibu, ya. Aku berangkat dulu."

............

Di kantor polisi, AKBP Raharja duduk di teras cafetaria bersama Briptu Coki dan Sari.

Melihat Udin berjalan di pelataran Poltabes, AKBP Raharja memanggil Udin dengan lambaian tangannya. Beruntung Udin segera menyadari dan langsung mempercepat langkahnya.

"Duduk, Mas." AKBP Raharja mempersilahkan Udin untuk duduk. Kidoan ia membuka map yang sedari tadi sudah ia siapkan di atas meja, di depannya. “Kami sudah lihat videonya. Ini serangan, Mas Udin. Serangan narasi.”

“Dari mana, Pak?” tanya Sari tak sabar.

“Dari dalam,” jawab AKBP Raharja singkat. “Kami sudah melacaknya dan menemukan alamat IP pengunggah pertama ada di sekitar kantor pusat PT. Maju Mundur. "

Udin mengepalkan tangannya erat-erat. “Mereka mau bikin saya jadi penjahat di mata publik.”

“Benar. Tujuannya satu, membangun opini agar bisa mengajukan peninjauan kembali. Kalau publik percaya bahwa ini bukan kasus korupsi, tapi kasus dendam, hakim bisa goyah,” jelas AKBP Raharja.

Sari menutup mulutnya dengan telapak kiri, ia tak percaya dengan adanya kemungkinan seperti itu. “Terus kita harus gimana, Pak?”

“Jangan terpancing," potong Briptu Coki datar. "Jangan balas di media sosial."

"Benar!" tegas AKBP Raharja. "Kami yang akan meluruskan melalui konferensi pers. Tapi Mas Udin harus selalu siap, dalam 2 atau 3 hari ke depan, mungkin akan ada yang menyambangi kediamanmu."

Sari dan Udin tampak terkejut, tapi masih diam mendengarkan arahan dua petugas itu.

"Sebaiknya Adik dan ibunya Mas Udin untuk sementara tinggal di tempat lain saja, jangan terlalu kentara, buat seolah mereka bepergian secara alami." Briptu Coki

........

Malamnya, notifikasi ponsel Udin tidak berhenti. DM Instagram, komentar Facebook, bahkan nomor WhatsApp barunya tak luput dari serangan dan kalimat-kalimat cemooh lan dan beberapa menjurus pada ancaman.

Yang paling menyakitkan adalah, bahwa tetangganya sendiri pun melempar tatapan menghakimi, seolah situasi berbalik dan Udin adalah penyebab dari banyaknya orang kehilangan pekerjaan. Bahkan saat Udin pergi ke warung membeli sabun mandi, tak segan beberapa warga membicarakannya langsung di dekat Udin.

"Ternyata dia memanfaatkan kesempatan yang diberikan untuk membalas dendam, tak kusangka dia sejahat itu!"

"Orang kaya pun pasti juga pernah khilaf, lagian yang dikorupsi sama yang disumbangkan lebih banyak yang disumbangkan, kok ya tega kayak gitu aja diusut."

"Aji mumpung dia, memanfaatkan simpati orang-orang. Aku juga nyesel pernah simpati sama orang itu!"

Bu Yanti yang biasanya selalu memihak keluarga Udin pun mulai angkat bicara. "Lakukan sesuatu gitu lha, Mas Udin! Minta hukuman buat presdirmu itu ditangguhkan, kasihan teman-temanmu!"

...............

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sungguh memusingkan 😵‍💫
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳: betul 😏
total 2 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dih ga sopan 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Noh banding sampai duitmu habis 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
bener" bikin 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
menunggu
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sabar Din 💪🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
dari hutan kecil 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ruang rapat
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Terlalu serakah 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
satu jam
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kalian fitnah, so tau 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sotoy 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
divisi
Ilham
aku bingung sama cerita ABG tadi kan udh di bilang sama ayah Udin yang memfitnah nya adalah anto sama ibu nya...jdi sekarang si undin kok malah ragu sama bapaknya..KLO Anto adalah penjahatnya .....ini yang buat aku jdi MLS baca ceritanya
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
apa ga kebalik tuh 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Aku juga takut
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
beraninya ngancem orangtua 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
good job Sari 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
nah loh 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!