"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Palu sidang dan Jalan Pintas
Udara di ruang kelas kosong di lantai dua Fakultas Ilmu Budaya itu terasa pekat, dipenuhi perpaduan bau keringat, parfum, dan napas tiga puluh anggota kabinet BEM yang sedang berdebat panas. Ini adalah Rapat Kabinet Paripurna pertama mereka, ajang penentuan Proker selama satu semester ke depan.
Dan sejauh ini, situasinya lebih mirip pasar tumpah daripada rapat organisasi kampus.
"Nggak bisa! Kalau kita pakai pelataran rektorat buat Festival Seni dan Pergerakan, birokrasinya bakal panjang! Mending kita sewa GOR kelurahan!" seru salah satu menteri dari ujung ruangan.
"GOR kelurahan itu sempit, Brodin! Kita ini mau bikin acara berskala kota, ngundang musisi indie sama aktivis HAM nasional. Kalau di GOR, vibes-nya malah kayak acara dangdutan nikahan!" balas menteri lainnya, menggebrak meja antusias.
Di kursi pimpinan, Arshaka Rumi Wiraguna hanya bersandar santai. Lengan kemeja flanelnya digulung hingga siku, menampilkan urat nadinya yang menonjol saat ia memutar-mutar sebuah pulpen di jemarinya. Alih-alih menengahi adu mulut yang makin tak karuan, laki-laki itu justru tersenyum menikmati kekacauan di depannya. Matanya memancarkan kilat ketertarikan, seolah ia sengaja membiarkan ide-ide liar itu bertabrakan sampai hancur sebelum ia memilih kepingan mana yang akan ia ambil.
Namun, di kursi tepat di sebelah kanan Rumi, Lyana merasa nyaris meledak.
Tangannya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang indah dan tajam tak lepas menatap lembaran draf Rencana Anggaran Belanja (RAB) yang baru saja dibagikan kepadanya sepuluh menit yang lalu. Barisan angka di kertas buram itu seolah sedang menertawakannya.
Sewa Panggung Rigging: Rp 15.000.000.
Honor Pembicara dan Guest Star: Rp 25.000.000.
Logistik Massa: Rp 10.000.000.
Totalnya gila. Angka itu tiga kali lipat dari sisa kas yang baru saja susah payah ia selamatkan dari cengkeraman Biro Keuangan minggu lalu.
"Oke, oke, tahan dulu," suara bariton Rumi akhirnya memotong keributan. Ia menegakkan tubuhnya, meletakkan pulpennya di meja. Seluruh ruangan seketika hening, takluk pada otoritas kasual yang memancar dari laki-laki itu.
"Kita tetap pakai pelataran rektorat. Kalau birokrasinya panjang, kita potong. Kalau rektorat nggak kasih izin, kita jadikan itu isu represi kebebasan berekspresi," putus Rumi ringan, seolah ia baru saja memutuskan menu makan siang alih-alih mendeklarasikan perang terbuka dengan dekanat.
Ia kemudian beralih menatap Dito. "Dit, kamu follow up perizinan ke kepolisian. Dan untuk guest star-nya..." Rumi merogoh saku jeans-nya, mengeluarkan sebuah kertas kuitansi kecil yang dilipat sembarangan, lalu melemparnya ke tengah meja. "...Band Senandung Akar sudah aku lock jadwalnya untuk bulan depan. DP lima juta sudah masuk ke manajemen mereka."
Hening yang menyelimuti ruangan itu seketika berubah mencekam.
Lyana berhenti bernapas. Jantungnya berdetak satu kali dengan sangat keras, lalu memompa darah panas langsung ke ubun-ubunnya. Ia menoleh perlahan, menatap kuitansi yang tergeletak santai di atas meja, lalu menatap wajah Rumi dari samping.
"Mas Rumi..." panggil Lyana. Suaranya sangat pelan, sedikit bergetar, namun cukup tajam untuk membuat beberapa menteri di barisan depan saling berpandangan ngeri. "Bisa diulangi? DP lima juta... sudah masuk?"
Rumi menoleh padanya, alisnya terangkat sedikit, tidak menyadari atau mungkin sengaja mengabaikan badai yang sedang terbentuk di mata bendaharanya. "Iya. Manajemen mereka susah ditembus, Lyan. Kalau aku nggak langsung lempar uang muka tadi pagi, kita bakal keduluan sama kampus swasta di Jogja. Momennya pas."
"Pakai uang dari mana?" desis Lyana. Ia tidak mempedulikan tiga puluh pasang mata yang kini mengunci ke arah mereka.
"Uang pribadiku dulu," jawab Rumi enteng. "Nanti kamu tinggal bikin pengajuan *reimbur*se ke rektorat. Masukin aja ke pos anggaran hiburan edukatif."
Rasanya ada tali tak kasat mata di dalam kepala Lyana yang tiba-tiba putus. Semua usahanya merapikan prosedur, menahan kantuk, dan merendahkan harga diri di depan Biro Keuangan tempo hari dihancurkan begitu saja dalam satu kalimat santai.
"Rapat selesai," ucap Lyana tiba-tiba. Ia berdiri dengan sentakan keras hingga kursi plastiknya berderit nyaring di lantai berdebu. Ia meraih draf RAB dan kuitansi DP tersebut, meremasnya tanpa sadar. "Semua menteri silakan keluar. Aku butuh bicara empat mata dengan Presiden BEM. Sekarang."
Tidak ada yang berani membantah. Bahkan Dito, yang biasanya mencoba mencairkan suasana, memilih untuk segera mengemasi tasnya dan memberi isyarat agar anggota lain bergegas pergi. Dalam waktu kurang dari dua menit, ruangan itu kosong. Pintu ditutup dari luar dengan bunyi klik yang menggema.
Tersisa mereka berdua.
Rumi masih duduk dengan santai, meski kini posturnya sedikit lebih waspada. Ia menatap Lyana yang berdiri menjulang di sampingnya. Wajah gadis itu memerah menahan emosi, namun ironisnya, kemarahan itu justru mempertegas garis wajahnya yang nyaris tanpa celah. Rambut lurusnya yang diikat rapi sedikit bergoyang mengikuti napasnya yang memburu.
"Lyan, duduk. Jangan bikin drama," tegur Rumi pelan, mencoba mengendalikan situasi.
"Drama?" Lyana tertawa hambar. Tawa yang terdengar menyakitkan dan sarat akan keputusasaan. Ia membanting kertas-kertas yang diremasnya ke atas meja, tepat di depan wajah Rumi. "Kamu sebut ini drama, Mas? Kamu baru saja melempar bom ke dalam laporan keuanganku dan kamu nyuruh aku duduk manis?!"
"Itu cuma DP, Lyana! Uangnya juga uangku, bukan uang BEM!" nada suara Rumi mulai ikut meninggi, terpancing oleh reaksi Lyana yang menurutnya berlebihan. Ia berdiri, menyejajarkan tingginya dengan Lyana. "Aku melakukan manuver supaya acara kita punya nilai jual. Kalau nunggu kamu ngetik proposal, minta tanda tangan dekan, lalu nunggu ACC rektorat, band itu udah terbang ke pulau lain!"
"Tapi prosedur itu ada untuk melindungi kita!" teriak Lyana, suaranya pecah di ujung kalimat. Matanya yang indah mulai terasa panas, bukan karena ia cengeng, melainkan karena rasa frustrasi yang sudah tidak bisa ia bendung lagi. "Kamu pikir pihak rektorat bodoh? Kamu pikir Pak Seno bakal mencairkan lima juta rupiah untuk reimburse kegiatan yang proposalnya saja belum pernah masuk ke meja mereka?!"
Lyana memajukan langkahnya, tidak peduli jarak mereka kini terlalu dekat. Ia menunjuk dada Rumi dengan telunjuknya yang gemetar.
"Kamu selalu begini, Mas. Menggampangkan segalanya karena kamu punya uang. Kamu pikir dunia ini cuma soal deal-dealan di belakang layar, lalu sisanya bisa disapu ke bawah karpet. Kamu nggak pernah mikir siapa yang harus nyapu kotoran itu!"
Rumi terdiam. Kilat kemarahan di matanya meredup seketika saat ia melihat sepasang mata jernih Lyana yang kini berkaca-kaca. Bulu matanya yang lentik tampak sedikit basah. Meski wajah gadis itu sedikit memucat karena kelelahan, kulitnya yang bersih bersinar di bawah lampu neon seolah kontras dengan kekacauan yang sedang terjadi. Rumi baru menyadari betapa kerasnya gadis ini memaksakan diri. Lyana tidak sedang marah karena ego, gadis itu benar-benar ketakutan.
"Aku yang harus membereskan laporan palsu ke rektorat, Mas," suara Lyana kini memelan, berubah menjadi bisikan parau yang menyayat. Ia menarik tangannya, memeluk dirinya sendiri seolah ruangan itu tiba-tiba membeku. "Kalau ketahuan ada transaksi fiktif di luar tanggal persetujuan proposal, namaku yang akan dicoret. Beasiswaku yang akan ditangguhkan. Sementara kamu... kamu cuma akan dapat SP, ditegur ayahmu, lalu hidupmu jalan terus."
Ruangan itu hening. Hanya ada suara dengung pelan dari kipas angin di luar jendela.
Rumi menatap Lyana lekat-lekat. Sesuatu di dalam dadanya terasa mencelos. Selama ini ia selalu melihat birokrasi sebagai musuh yang harus dihancurkan demi pergerakan mahasiswa. Ia lupa bahwa bagi seseorang sesempurna Lyana—yang selalu memastikan segala hal berjalan tepat pada tempatnya—birokrasi adalah satu-satunya pelindung yang menjamin gadis itu bisa tetap duduk di bangku kuliah.
Rumi mengusap wajahnya dengan kasar, menghela napas panjang. Arogansinya luntur.
"Maaf," ucap Rumi. Satu kata itu meluncur pelan, namun terasa sangat berat. "Aku nggak mikir sampai ke sana. Aku cuma fokus ngejar target acara supaya massa tertarik turun ke jalan."
Lyana memalingkan wajah, mengedipkan matanya cepat-cepat agar air mata konyol itu tidak benar-benar jatuh. Ia tidak butuh permintaan maaf. Ia butuh jalan keluar.
Rumi melangkah mendekat, ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh tepi meja, tepat di dekat tangan Lyana. "Kita nggak usah masukkan DP itu ke reimburse rektorat. Biarkan itu jadi sumbangan pribadiku. Kamu nggak perlu mengubah catatan apa pun di buku besar."
"Nggak bisa," potong Lyana cepat, suaranya kembali menemukan ketegasannya meski masih serak. Ia menoleh, menatap Rumi dengan matanya yang menawan namun menyala oleh sisa-sisa amarah dan keras kepala. "Pemasukan sebesar itu nggak bisa tiba-tiba muncul tanpa asal-usul yang jelas. Kalau diaudit, itu masuk kategori dana gelap, Mas. Aku nggak mau organisasi ini cacat."
"Terus aku harus apa, Lyan?" tanya Rumi, benar-benar mati kutu menghadapi perfeksionisme gadis di depannya ini.
Lyana menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya. Ia meraih kuitansi kusut itu, memelototinya sejenak, lalu memasukkannya ke dalam saku almamaternya.
"Aku yang akan bikin laporan penyesuaiannya. Aku akan buatkan skema donasi alumni fiktif berizin untuk menutupi uang pribadimu itu," putus Lyana dingin. Matanya menatap Rumi tanpa berkedip. "Tapi ini yang pertama dan terakhir, Mas Rumi. Kalau Mas berani melangkahi prosedurku lagi... demi Tuhan, aku sendiri yang akan bawa buku kas ini ke dekanat dan mundur dari jabatan bendahara."
Rumi menatap wajah pualam di hadapannya. Di sepasang mata bundar yang menatapnya tajam itu, ia tidak melihat gertakan sambal. Gadis ini benar-benar akan membakar kapalnya sendiri jika ia didorong terlalu jauh.
Sebuah rasa hormat yang aneh menyelinap masuk ke dalam benak Rumi, bercampur dengan rasa bersalah yang masih mengganjal.
"Aku janji," kata Rumi sungguh-sungguh. "Nggak ada lagi bypass."
Lyana tidak menjawab. Ia hanya meraih tas punggungnya, memutar tubuh, dan berjalan menuju pintu. Sebelum ia keluar, langkahnya terhenti. Ia menoleh sedikit, memamerkan profil samping wajahnya yang sempurna secara alami.
"Dan pastikan Band Senandung Akar itu benar-benar datang, Mas," ucapnya pelan namun tajam. "Kalau sampai mereka batal setelah aku setengah mati merekayasa laporan demi lima jutamu, aku akan pastikan kamu yang nyanyi di atas panggung rigging itu."
Pintu tertutup.
Rumi berdiri sendirian di tengah ruang kelas yang berantakan. Tiba-tiba, sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah senyum tipis yang tak bisa ia tahan. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya pelan, menertawakan dirinya sendiri yang baru saja dihabisi secara mental oleh seorang mahasiswi akuntansi.
Bagi Rumi, Lyana Ayunindya bukan lagi sekadar bendahara yang merepotkan. Ketegasan di balik sosoknya yang menawan membuat gadis itu menjadi anomali paling menarik yang pernah ia temui.