ZIRA FATASYA wanita dua puluh tahun, saat kecil dia mengenal seorang anak laki laki yang usianya tujuh tahun lebih tua dari Zira yang bernama Zico, yang mana memebuat Zira jatuh cinta pada pandangan pertama, namu saiapa yang mengiria saat mereka sudah tumbuh dewas Zico malah menjalin kasih dengan Kakanya Zahra Fatasya, hanya karna mengira jika Zahra adalah Zira gadis masa kecilnya, bahkan keduanya juga sudah hampir bertunangan.
Zira yang saat itu membenci keluarganya atas perlakuan tidak adilnya pada dirinya, dia nekat merebut Zico dari kakanya saat malam akan di langsungkan pertunangan Kakanya dan Zico, dengan cara menjebak Zico dan berakhir Zico menikahinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
''Zahra'' gumam Zico melihat keberadaan Zahra di ruang tamu rumahnya.
''Iya Kak, Kak Zahra sudah di sini setengah jam yang lalu, dia mencarimu'' ujar Zira lalu melangkah pergi.
''Zira kamu mau kemana?'' seru Zico mencekal pergelangan tangan Zira.
''Aku mau meletakkan bunga ini di vas kamar kita'' sahut Zira tersenyum dengan menekan kamar kita, karna Zira ingin melihat reaksi kakanya saat tahu kalau dirinya dan Zico satu kamar, dan seperti yang di harapkan dia melihat wajah sedih dan terlukan kakanya, Zira sangat senang dengan itu.
''Baiklah hati hati'' tukas Zico.
''Aku cuma mau ke kamar kak, bukan ke luar negri'' kekeh Zira merasa lucu dengan ucapan Zico yang menyuruhnya berhati hati.
Zico perlahan mendekatkan bibirnya di telinga Zira.'' Aku tahu kakimu masih lemas untuk di buat jalan'' bisik Zico di telinga Zira, yang mana membuat kedua pipi Zira langsung memerah seperti kepiting rebus.
''Apaan sih'' cetus Zira mendorong bahu Zico dengan pelan, lalu pergi meninggalkan ruang tamu dengan buru buru membuat Zico terkekeh, merasa lucu melihat wajah memerah Zira karna malu.
''Kak Zico''
Zico menoleh dia yang terlalu asyik menggoda Zira, sampai lupa dengan keberadaan Zahra di ruang tamunya. Zico perlahan menghampiri Zahra, dan duduk di sofa tunggal yang berhadapan dengan Zahra.
''Ada apa mencariku Zahra?'' tanya Zico.
''Em,,, Zahra ingin bertanya keputusan Kak Zico, tentang permintaan Papa sama Mama waktu itu '' sahut Zahra.
Zico menghela nafasnya, dia dulu memang mencintai Zahra, tapi setelah menikah dengan Zira seiring berjalannya waktu cintanya pada Zahra mulai memudar, dan tidak bohong jika kini dirinya merasa nyaman dengan Zira, di tambah lagi Zico paling anti dengan poligami, jadi dia tidak mungkin menikahi Zahra.
''Maaf Zahra, aku tidak bisa'' tolak Zico dengan lembut berharap Zahra bisa menerimanya.
''Kenapa Kak, kenapa Kak Zico tidak bisa, bukannya Kak Zico mencintaiku, kenapa tidak bisa menikahiku, Zahra tidak masalah meskipun harus jadi istri kedua'' tukas Zahra.
''Tapi aku tidak bisa untuk berpoligami'' timpal Zico.
Zahra langsung meraih tangan lebar Zico lalu di genggamnya. '' Bagaimana kalau Kak Zico cerai saja dengan Zira lalu kita menikah, jika suatu saat Zira hamil aku rela kok untuk merawat anak kalian'' ucap Zahra yang langsung mambuat Zico terkejut, dan menyentak genggaman tangan Zahra dengan kasar.
''Dimana otakmu Zahra, kenapa bisa bicara seperti itu!!'' bentak Zico tak habis pikir dengan apa yang di katakan oleh Zahra.
''Karna aku mencintai Kak Zico, jadi aku tidak masalah meskipun Kak Zico menghamili Zira, asalkan Kak Zico menikah denganku'' timpal Zahra tanpa tahu malunya.
Zico menggelengkan kepalanya. '' Maaf Zahra, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan Zira '' ucap Zico.
Zahra menundukkan kepalanya dengan terisak.'' Hiks,, Hiks,, kenap Kak, kenapa Kak Zico tidak mau menceraikan Zira, apa jangan jangan Kak Zico mencintai Zira'' tukas Zahra dengan terisak.
Zico mengangkat tangannya untuk memegang kedua bahu Zahra. '' Aku tidak tahu bagaimana perasaanku pada Zira, yang jelas aku minta mulai sekarang kamu relakan hubungan kita, aku yakin suatu saat kamu akan mendapat pengganti yang lebih baik dariku'' tutur Zico dengan lembut, namun Zahra mendorong tubuh kekar Zico dengan kuat, sampai membuat Zico mundur beberapa langkah.
''Aku tidak mau!!, aku mencintai Kak Zico, sampai kapanpun aku akan tetap mencintai Kak Zico!'' teriak Zahra lalu pergi meninggalkan rumah Zico dan Zira dengan tangisnya yang pecah.
Semenjak Zahra menjadi kekasih Zico dia merasa sangat bahagia, karna selain Zico tampan dan kaya Zico juga selalu menuruti kemauannya yang mana membuat para wanita iri padanya, di tambah Zahra merasa sangat di cintai oleh Zico, dan kebaikan Zico padanya membuat Zahra tidak mau kalau sampai kehilangan Zico, tapi siapa yang mengira kejadian itu membuat semuanya berubah, Zico harus menikahi Zira adiknya sendiri, dan mulai saat itu Zahra merasa jika hidupnya tidak adil, dia sudah di beri cobaan dengan kondisi tubuhnya yang lemah dan sekarang pria yang di cintainya harus di ambil adiknya sendiri.
''Kalau Kak Zico masih mencintainya, nikahi saja dia'' ujar Zira yang berdiri di belakang Zico, sejak tadi Zira mendengar semua pembicaraan Zico dan Zahra, dia tersenyum senang ketika melihat Kakanya yang terluka karna orang yang di cintainya menolak untuk menikahinya.
''Kenapa kamu bicara seperti itu?'' timpal Zico membalikkan badannya menatap istrinya.
''Aku sudah pernah mengatakannnya padamu kan, sampai kapanpun aku tidak akan pernah poligami'' sambungnya lagi.
''Lalu bagaimana dengan usulannya, yang menyuruh Kak Zico untuk menceraikanku, jika Kak Zico setuju aku tidak keberatan '' sahut Zira yang mana membuat Zico langsung menatap tajam Zira.
Dan tanpa aba aba Zico langsung mengangkat tubuh Zira di bahunya seperti karung beras. '' Kak Zico kamu mau apa, turunkan aku'' pekik Zira sembari memukul punggung Zico, namun Zico sama sekali tidak memperdulikannya.
Zico membawa Zira menuju kamarnya ke lantai dua, dan setelah itu dia merebahkan tubuh Zira di atas ranjang, dan Zira semakin terkejut saat Zico tiba tiba menciumnya birinya dengan brutal, dan tangan Zico tidak tinggal diam, dia melepaskan dasinya untuk mengikat kedua tangan Zira, lalu melepaskan baju yang di pakai Zira dengan paksa, yang mana membuat Zira tiba tiba merasa takut, saat melihat wajah Zico yang menurutnya seperti monster.
''Hiks,, Kak Zico lepas''.
Degh
Zico tersentak dan seketika kesadarannya kembali, dia melihat apa yang telah ia lakukan pada Zira membuatnya merasa bersalah, lalu dia melepaskan ikatan dasinya di tangan Zira dan memeluk tubuh Zira yang gemetar.
''Maaf, maafkan aku sayang, aku salah, jangan nangis lagi ya'' ucap Zico mengecup seluruh wajah Zira dengan lembut.
''Hiks,, kenapa Kak Zico tadi berubah kasar, aku takut'' ujar Zira yang berada di pelukan Zico yang masih terisak.
''Aku terlalu emosi saat mendengar kamu mengatakan perceraian, aku tidak suka'' sahut Zico yang semakin mempererat pelukannya di tubuh Zira.
''Aku minta maaf'' ucap Zira.
''Tidak, kamu tidak salah, aku yang salah, aku minta mulai sekarang kamu jangan lagi membahas perceraian di antara kita, karna sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu''
Zira menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, diam diam di hati Zira bersorak karna dia berhasil merebut cinta pertamanya dari Zahra.
''Sayang''
''Hem''
''Kita lanjutin ya yang barusan, aku janji tidak akan melakukannya dengan kasar''.
''Kak Zico tidak capek apa''.
''Tidak, aku tidak akan capek, bahkan jika malakukannya dua puluh empat jam full aku juga sanggup''.
''Gila!!, Kak Zico ingin membuatku tidak bisa turun dari ranjang ha!!''
''Ayolah sayang, kamu lihat di bawah sana, sudah sesak rasanya, tidak enak''
''Baiklah, tapi satu ronde saja''.
''Kok cuma satu ronde, tiga ya''.
''Dua saja, kalau tidak mau, tidak usah sekalian''.
''Baiklah, dua ronde''.
Dan akhirnya Zico tidak menepati janjinya, dia melakukannya bukan hanya tiga ronde saja tapi empat ronde, yang mana membuat Zira benar benar tepar di atas ranjang.
Kalo seandainya SAD ENDING GA MASALAH.😅
semangat kk
semangattt