Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Apakah Richard mulai melihat melalui sandiwaranya?
Pertanyaan itu membuat Keira tidur buruk.
Ia bangun beberapa kali sebelum subuh, menatap langit-langit kamar Villa Awan, lalu menghitung ulang semua langkahnya sejak The Jade Lounge. Tangisan di bahu Richard. Pura-pura mabuk. Demam yang disengaja. Panggilan Om yang dibuat rapuh. Setiap langkah punya alasan. Setiap alasan punya bukti. Namun jika Richard mulai menyusun semuanya, benang-benang itu bisa membentuk gambar yang terlalu jelas.
Dan anehnya, yang paling ia takutkan bukan Richard marah.
Ia takut Richard berhenti memilihnya.
Pagi hari, Villa Awan berjalan normal. Richard tidak menyinggung kalimat semalam. Keira juga tidak. Mereka sarapan dengan jarak sopan. Jason melaporkan agenda pertunangan, legal Pak Dharma, dan rencana retreat Lim Group di Kaliurang minggu depan.
"Kamu ikut," kata Richard.
"Retreat kantor?"
"Tim proyek ikut."
"Saya masih magang."
"Kamu bagian dari tim."
Keira mengangguk. "Baik, Om."
Sepanjang hari, ia bekerja dari rumah. Siska mengirim pesan penuh keluhan tentang Arief yang terlalu rapi sampai semua orang tidak bisa malas. Mira mengirim foto es kopi susu dan bertanya apakah tinggal di rumah konglomerat membuat Keira lupa rasa gorengan. Keira membalas dengan stiker tertawa.
Menjelang malam, hujan turun deras.
Keira sedang di ruang tengah, memeriksa revisi draft acara pertunangan dari Kevin, ketika lampu berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu padam.
Keira langsung berdiri.
Berbeda dari malam sebelumnya, kali ini senter otomatis di sudut ruangan juga tidak menyala. Lampu backup yang seharusnya dipasang dua lapis tidak bereaksi. Pendingin ruangan mati. Router mati. Bahkan panel kecil sistem smart home di dinding ikut gelap.
Ini bukan mati listrik biasa.
Kali ini Keira tidak langsung meringkuk.
Ia memaksa dirinya tetap berdiri. Satu tangan mencari tepi meja, tangan lain menggenggam ponsel. Napasnya tetap pendek, tetapi otaknya bekerja. Jika generator dua lapis mati bersamaan, masalahnya bukan sakelar. Jika sistem smart home ikut gelap, ada akses dari luar. Jika akses dari luar bisa menyentuh Villa Awan, orang itu ingin bukan hanya memadamkan lampu, melainkan mengatakan bahwa dinding Richard pun bisa ditembus.
Ketakutan berubah bentuk menjadi marah.
Sayangnya, tubuhnya tetap mengingat gelap.
Jari-jarinya gemetar saat membuka layar ponsel.
Di layar hitam jendela, bayangannya sendiri terlihat patah-patah oleh kilat. Keira menatap bayangan itu dan memaksa bahunya lurus. Charles boleh memadamkan lampu. Ia tidak boleh memadamkan wajah Keira di depan Richard, atau membuatnya terlihat kalah.
"Om?" panggil Keira.
Tidak ada jawaban.
Ia meraih ponsel. Layar menyala, tetapi sinyal Wi-Fi hilang. Jaringan seluler naik turun. Pesan dari nomor tidak dikenal masuk sebelum ia sempat menelepon Richard.
Charles: Gelap lagi?
Darah Keira membeku.
Ia menatap layar.
Charles: Kamu lebih cantik saat takut, Keira.
Keira mundur satu langkah. Ia belum pernah memberi nomor ini pada Charles. Seharusnya pria itu berada dalam tahanan setelah insiden Sentul, setidaknya dalam proses hukum. Namun Charles bukan orang yang berhenti hanya karena pintu dikunci dari luar.
Langkah cepat terdengar dari lorong.
Richard muncul dengan senter taktis kecil di tangan. "Keira."
Keira langsung menyembunyikan layar ponsel ke dada.
Richard melihat gerakan itu.
"Siapa?"
"Nomor tidak dikenal."
"Tunjukkan."
Ponsel kembali bergetar.
Charles: Jangan pelit. Biarkan Om-mu ikut membaca.
Keira menahan napas.
Richard sudah berdiri di depannya. Ia mengambil ponsel dari tangan Keira tanpa meminta lagi. Cahaya senter memantul di wajahnya ketika membaca pesan.
"Charles," katanya.
Nada itu membuat nama tersebut terdengar seperti vonis.
Ponsel Richard bergetar hampir bersamaan. Jason menelepon.
"Boss," suara Jason terdengar tegang, "sistem listrik Villa Awan diretas. Backup generator terkunci dari remote layer yang bukan sistem internal. Tim IT sedang masuk, tapi jejaknya lompat lewat beberapa server luar negeri."
"Charles."
"Kemungkinan besar."
"Polisi?"
"Sudah koordinasi. Dia masih dalam tahanan, tapi punya akses lewat orang luar atau perangkat yang belum ditemukan."
"Staf?"
"Aman. Area belakang sudah dikunci manual. Security perimeter naik ke level dua."
Richard melirik Keira. "Jangan ada yang masuk ke ruang tengah selain aku."
"Dipahami."
Jason menutup panggilan, lalu mengirim daftar langkah keamanan. Ponsel Richard menyala beberapa kali. Keira melihat nama vendor IT, kepala security, dan legal bergantian muncul. Dunia Richard bergerak cepat di balik gelap, tetapi Charles tetap lebih dulu menyentuh saraf yang paling ia inginkan.
Keira mendengar semuanya karena Richard menyalakan speaker. Ia menatap jendela gelap. Hujan di luar membuat kaca terlihat seperti dinding air.
Ponsel Keira bergetar lagi.
Charles: Aku punya pertanyaan.
Charles: Apa itu cinta?
Keira merasa tenggorokannya kering.
Richard membaca pesan itu. "Jangan jawab."
"Kalau tidak dijawab?"
"Dia bukan orang yang perlu kamu hibur."
Seolah mendengar, Charles mengirim pesan baru.
Charles: Jawab, atau rumah ini tetap gelap. Aku ingin mendengar definisi perempuan yang mendorongku ke danau.
Keira menatap Richard. "Dia ingin saya bicara."
"Aku tahu."
"Kalau saya jawab, dia akan merasa menang."
"Kalau kamu takut, dia juga merasa menang."
Kalimat itu terdengar dingin, tetapi tangan Richard sudah menggenggam pergelangan tangan Keira. Tidak keras. Cukup untuk memastikan ia ada.
Keira menatap genggaman itu.
Di luar, petir menyambar jauh. Cahaya sesaat menerangi ruang tengah, memperlihatkan wajah Richard yang sangat dekat, garis rahangnya, mata yang lebih gelap daripada ruangan.
Ponsel kembali bergetar.
Charles: Jangan lama. Aku mudah bosan.
Keira mengambil ponselnya dari tangan Richard. Kali ini Richard tidak menahan.
"Keira."
"Om percaya saya?"
Richard menatapnya.
"Aku percaya kamu ingin menang."
Itu bukan jawaban manis.
Tetapi bagi Keira, cukup.
Ia mengetik satu huruf, lalu berhenti. Apa itu cinta? Dalam hidupnya, cinta selalu punya bentuk yang rumit. Engkong memberinya rumah meski tahu darahnya salah. Papa Hendra memberinya nama meski tahu kebenaran. Kevin memakai kata cinta untuk menyembunyikan kepentingan. Vanya menginginkan darah sebagai bukti memiliki. Richard...
Richard menggenggam pergelangan tangannya dalam gelap.
Keira mengangkat mata.
"Om ingin tahu jawaban saya?"
"Aku ingin kamu tidak bermain terlalu jauh dengan orang gila."
"Mungkin jawaban saya memang gila."
Richard tidak sempat menghentikan.
Keira menekan tombol panggil pada nomor Charles.
Telepon tersambung dalam satu dering.
Richard langsung mematikan senter utama, menyisakan cahaya lantai yang rendah. Ia tidak ingin Charles, entah lewat kamera mana pun, mendapat lebih banyak sudut wajah Keira. Tangannya bergerak ke belakang punggung Keira, bukan memeluk, hanya menempatkan dirinya di antara Keira dan jendela, rapat dan waspada, seperti tameng hidup malam itu, tanpa ragu sedikit pun.
Tawa Charles terdengar dari ujung sana, rendah dan senang. "Akhirnya."