Sinopsis:
Dalam sinopsis ini, kita mengikuti kisah Azura yang tidak sengaja menemukan dirinya berhadapan dengan Ahmed Bin Yasir, seorang aktivis keturunan Mesir yang melarikan diri dari penjara Alcatraz di San Francisco. Meskipun Azura awalnya ketakutan, dia memutuskan untuk menggunakan akalnya untuk menghadapi Ahmed. Sementara itu, pihak berwenang sedang melakukan pencarian di seluruh daerah untuk menemukan pelarian tersebut.
Azura menyadari bahwa melawan Ahmed adalah mustahil, jadi dia mencoba untuk tetap tenang dan menunggu kesempatan untuk melarikan diri. Dia berusaha bekerja sama dengan Ahmed, berharap bahwa dia tidak akan menyakitinya. Namun, Azura tetap waspada dan mencari peluang untuk melarikan diri.
Dalam perjalanan ini, kita melihat ketegangan antara Azura dan Ahmed yang terus berlanjut. Azura berusaha menjaga keselamatan dirinya sambil mencari cara untuk menghadapi situasi ini. Dia juga berusaha mencari tahu bagaimana Ahmed bisa sampai ke tempatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabila Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
“barangbarang Tony belum dikemasi,” kata Rodriguez sambil duduk di kursi yang kemarin di tempatinya.
“Mau minum apa? Jus atau minuman ringan?”
“Minuman ringan saja.” Azura mengambil satu dari kulkas dan menuangkannya ke gelas, menambahkan es, lalu menyerahkan gelas dingin itu padanya.
“barangbarang Tony belum dikemasi,” ulang Rodriguez sebelum menghirup minumannya.
Azura duduk di hadapannya, berusaha keras agar tangannya tidak gemetar.
“benar.”
“Kalau begitu, kuartikan bahwa kita akan menikah?”
“Kau salah, Mr. Rodriguez Aku tidak mau menikah denganmu atau dengan siapa pun.”
Rodriguez menghabiskan isi gelasnya, lalu dengan mantap menyingkirkan gelas itu dari hadapannya.
“Aku akan mengambil anakku.”
Azura menjilat bibir.
“Aku setuju Tony mesti mengenalmu. Itulah yang paling adil bagi kalian berdua. Aku tidak akan menghalangimu untuk bertemu dengannya. Kau boleh datang kemari kapan saja kauingin kan. Aku cuma minta kau memberitahuku beberapa jam sebelumnya, supaya tidak ada benturan dalam jadwal. Aku akan mencoba berkompromi… Mau ke mana
kau?” Rodriguez sekonyong-konyong bangkit dari kursinya dan beranjak ke pintu.
“Mengambil anakku.”
“Tunggu!” Azura melompat dari kursinya dan menarik lengan lelaki itu.
“Kumohon. Pakai akal sehatmu. Tak mungkin kau mengira aku akan diam saja anakku
kauambil.”
“Dia anakku juga.”
“Dia memerlukan ibunya.”
“Dan ayahnya.”
“Tapi dia lebih membutuhkan aku. Saat ini mungkin tidak. Tapi kemarin kau sendiri mengatakan bahwa kau tak bisa menyusuinya.” Mata lelaki itu beralih ke payudara Azura. Azura tetap bertahan.
“Ada caracara lain,” kata Rodriguez
dengan ketus, sambil mencoba beranjak pergi.
Tapi Azura mempererat cengkeramannya. “Kumohon. bagaimana kalau nanti saja, kalau dia sudah lebih besar?”
“Aku sudah memberitahukan alternatifnya. Rupanya kau memilih untuk tidak menerimanya.”
“Maksudmu kita menikah?” Azura melepaskan lengan Rodriguez.
Ia menyadari betapa dekatnya mereka
berdiri dan betapa kencang cengkeraman jemarinya di lengan lelaki itu. Azura membalikkan tubuh dan berdiri di dekat wastafel. Sambil mencoba memikirkan cara
yang paling baik untuk membicarakan masalah ini, dengan gugup ia menyilangkan kedua lengan di perut dan menyapukan tangannya di sepanjang lengan.
“Pernikahan benar-benar tidak mungkin kita lakukan.”
“Apa sebabnya?” Sifat keras kepala lelaki itu membuat Azura geram dan frustrasi.
Lelaki ini memaksanya untuk bicara terus
terang, dan ia benci diperlakukan begini.
“Aku tidak bisa menikah denganmu, karena banyak masalah yang akan menyusul.”
“Misalnya mesti pindah dari kota ini, dari rumah ini?”
“Itu baru sebagian kecil.”
“bagian lainnya apa?”
“Studioku.”
“Studio fotomu sudah dijalankan dengan baik oleh kedua karyawanmu. Cari alasan lain.”
“baiklah,” seru Azura sambil membalikkan tubuh untuk menghadapi lelaki itu.
“Tinggal bersamamu. Dan… dan…”
“Tidur bersamaku,” sambung Rodriguez.
Suaranya yang pelan dan serak terdengar begitu intim, hingga Azura merasa seakan dibelai oleh nadanya. Sebagai jawaban, ia memunggungi lelaki itu lagi dan
menunduk rendah.
“Ya.”
“Kalau begitu, masalahnya bukan tentang pernikahan itu sendiri, bukan? Tapi mengenai seks. Yang kumaksud dengan ‘pernikahan’ itu benarbenar sebatas konteks hukumnya saja. Tapi kelihatannya kau sudah mengartikan lebih jauh dari itu.”
“Aku…”
“Tidak, tidak, karena kau sudah telanjur mengungkit soal ini, mari kita bahas seluruh kemungkinannya.”
“Kau tidak tahan membayangkan mesti melakukan hubungan seks denganku, begitu?” Diselipkannya tangannya di pinggang Azura dan ditekankannya di situ,
sambil menarik Azura lebih dekat.
“Tapi tampaknya kau tidak keberatan melakukan itu, dulu, pada pagi di puncak gunung itu.”
“Jangan.” Seruan Azura tak banyak berarti.
sebab lelaki itu terus mengendus rambut Azura dengan hi-dungnya, sampai mulutnya menyentuh telinga wanita itu.
“Apa ada yang luput dari perhatianku pagi itu? Atau gadisgadis kulit putih yang terkemuka punya cara berbeda dalam mengatakan tidak?”
“Hentikan, hentikan,” erang Azura. Jemari lelaki itu menyentuh puncak payudaranya perlahan.
“Kedengarannya kau seperti hendak mengatakan ya.”
“Mestinya itu tak pernah terjadi.”.
Suara tamparan itu menggema di ruangan tersebut, seperti lecutan cambuk. Mereka sama-sama terperanjat mendengarnya, juga karena sikap dan kata-kata kasar
yang mendahului peristiwa itu.
Azura menarik tangannya dengan cepat.
“Jangan bicara seperti itu lagi padaku,” katanya dengan terengah, dadanya naikturun karena marah.
“baik,” geram Rodriguez. Ia maju beberapa langkah dan memojokkan Azura di depan meja.
“Kalau begitu, mari kita bicara tentang hal lain. Misalnya, kenapa hari ini kau berdandan lengkap? Apa kau ingin memastikan
aku melihat kecantikan kulit putihmu? Apa kau bermaksud mengintimidasi si lelaki Indian dengan kecantikanmu itu? beraninya aku, meminta seorang dewi pirang untuk menikah denganku. Itukah perasaan yang
ingin kautanamkan dalam diriku?”
“bukan!”
“Dan kenapa aku pun ingin memakanmu?”
Rodriguez tak bisa menahan erangan yang muncul dari kerongkongannya, dan ia semakin merapatkan tubuh Azura ke tubuhnya.
keren bgt😭