NovelToon NovelToon
Tanah Luka Dan Persahabatan

Tanah Luka Dan Persahabatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Dini Sinaga

Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24. Adun Meyakinkan. Terima Hukuman.

Souleh sudah mengatakan kecurigaan hatinya kepada Adun dengan gamblang dan dia juga mengungkapkannya dengan nada sindiran tajam meremehkan Adun yang juga adalah kakak kelasnya itu.

Adun berdiri dari posisi duduk dan berkata, "Kalau kalian tidak menemukan bola kalian, bukan berarti Aku mengambilnya. Apa buktinya kalau aku yang mengambil bola kalian?" Ungkap Adun yang mencoba membalikkan keadaan dan mendesak Souleh.

Adun sudah berada diatas angin, sebab Souleh dan yang lainnya tampak kebingungan dan tIdak ada yang berani atau mampu menjawabnya.

Melihat keadaan tersebut, Adun kembali berkata dengan tujuan mematahkan kesombongan dari Souleh.

"Bagaimana jika aku dapat membantu kalian mencari dan menemukan bola tersebut? Apa yang akan aku dapatkan?" tanya Adun dengan tatapan intimidasi terhadap Souleh yang sudah berani meremehkannya.

Souleh yang ditatap oleh pandangan membunuh dari Adun, merasa ciut nyalinya. Bagai kucing di gonggong anjing.

"Ba... Baiklah Bang. Abang boleh ikut bermain bersama kami juga dan setelah sepulang sekolah akan ku belikan es kelapa muda, buat Abang." jawab Souleh merasa dirinya sedang terdesak sekali, bagaikan di serbu kawanan harimau sumatera.

Souleh memberikan jawaban tanpa menanyakan pendapat teman-temannya. Hal ini membuat Emil, Naina serta rekan-rekan Souleh merasa terpaksa mengikuti keinginannya, walaupun Naina sudah berupaya menolaknya.

"Terserah kamu saja, tetapi kami berdua tidak ingin disalahkan oleh Pak Slamet nantinya." ungkap Naina setelah mendapat penolakan dari Souleh.

"Kamu tenang saja, toh Pak Slamet akan kembali lagi, sebab Aku dan siswa lelaki lah yang akan menyimpan kembali semua alat olahraga seperti biasa, aku jamin tidak akan ada masalah. Kamu tenang saja." jawab Souleh sambil melirik ke wajah rekan-rekannya, agar mau memberikan dukungan kepada ide dan keputusannya.

Mendapatkan kode, rekan setim Souleh serempak menjawab, "Ya... Benar sekali."

Adun merasa angin segar sebab banyak siswa yang mendukungnya untuk dapat bermain bersama mereka.

"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, Pak Slamet sudah terbiasa melakukan hal itu. Di kelas kami juga seperti itu." Adun menjelaskan pengalamannya. Hal itu dilakukannya dengan tujuan mendukung pendapat Souleh.

"Baiklah agar tIdak membuang-buang waktu, mari segera kita cari bersama-sama." Ungkap Adun mendesak para siswa, tanpa harus membahasnya lagi.

***

Mereka pun bersama Adun mulai mencari, Adun mencari di beberapa tempat di balik tanaman yang tumbuh di sekitaran tempat itu.

Setelah di cek di beberapa tempat, hanya hitungan menit saja bola kasti dapat ditemukan Adun.

"Nah, ini dia bolanya." ucap Adun memberi-tahukan para siswa kelas 4a.

"Hebat, Bang Adun. Sebentar saja bola kasti kita dapat ditemukan kembali." seru Souleh bahagia, tanpa rasa curiga sedikit pun.

Para siswa merasa senang, dan mereka mulai bermain bola lagi dengan Adun sebagai pemain tambahan.

Siswa menikmati pertandingan. Tiba-tiba Slamet kembali ketengah lapangan.

"Semua siswa segera berkumpul." perintah Slamet memberikan aba-aba di bantu pluitnya yang berbunyi berkali-kali.

Seluruh siswa terkejut, namun mereka tetap saja berkumpul walaupun berjalan dengan pelan menunjukkan sikap penolakan dan sikap malas-malasan.

Tanpa sengaja Slamet melihat keberadaan Adun yang sedang memegang pemukul bola kasti di tengah lapangan.

Slamet segera memanggil Adun yang mencoba kabur, namun tIdak sempat lagi, sebab Slamet sudah melihat keberadaannya di sana.

Adun menyerah seperti tentara Belanda tertangkap tentara pejuang kemerdekaan. Adun mendatangi keberadaan Pak Guru Slamet.

Setibanya Adun di hadapannya Slamet segera bertanya, "Mengapa kamu berada di tengah lapangan dan memegang pemukul bola kasti? Apakah kamu ikut bermain dan menggunakan jam belajar mereka?" cecar Slamet ingin mengetahui apakah yang telah terjadi di tempat itu.

Adun yang semula terdiam dan menundukkan kepala karena tahu, dirinya akan dihukum, akhirnya menjawab pertanyaan Pak Guru olahraganya itu.

"Benar, Pak. Tadinya bola kasti mereka hilang Pak, kemudian mereka meminta bantuan saya untuk mencari. Sudah sewajarnya dong, saya ikut bermain juga." jawab Adun, dengan kepala sedikit tertunduk.

Tanpa di berikan kesempatan menjawab, Souleh menjawab dan dibenarkan oleh siswa yang menjadi pendukungnya.

"Benar Pak. Bang Adun yang menemukan bola kasti tersebut dengan cepat, padahal kami semua sudah kesulitan mencarinya." tutur Souleh mendukung pernyataan dari Adun.

Slamet mengangguk-anggukkan kepala, sambil merasa tidak simpati, sebab Souleh dan pendukungnya belum disuruh atau ditanya sudah menjawab.

"Oh, begitu. Siapa yang meminta kamu berbicara Leh?" tanya Slamet segera merasa perlakuan tidak sopan dari siswanya itu.

Souleh dan siswayang lainnya tertunduk dan terdiam, sebab mereka mulai menyadari kesalahan mereka yang tiba-tiba berbicara tanpa diberikan kesempatan oleh Pak Slamet, guru olahraga mereka itu.

"Siapa yang memberikan izin Adun bermain bola kasti bersama kalian tanpa seizin saya?" tanya Slamet kepada seluruh siswa.

Awalnya seluruh siswa terdiam, namun tiba-tiba Naina mengacungkan tangannya, meminta izin untuk berbicara.

Slamet melihat, Naina yang mengangkat tangannya ke atas, segera berbicara.

"Silahkan Naina!" Seru Slamet.

"Souleh Pak, namun Bang Adun terlebih dahulu memberikan syarat untuk diperbolehkan bermain bola kasti, jika ingin dibantu mencarikan bola kasti." terang Naina.

Mendengar hal tersebut Slamet segera memastikan, keterangan dari Naina.

"Souleh, apakah benar yang dikatakan Naina?" tanya Slamet.

Souleh terdiam, takut salah kalau menjawab seperti kejadian pertama.

"Kenapa diam? Sebelumnya tanpa meminta izin maupun saya beri izin berbicara, kamu berbicara. Sekarang, saya bertanya kamu tidak menjawab.

Saya bertanya artinya saya berikan izin kepada kamu untuk berbicara." tutur Slamet menjelaskan, sebab Souleh tetap diam tidak menjawab pertanyaannya.

"Baiklah, karena kalian sudah berbuat kesalahan, kalian akan mendapatkan hukuman." tambah Slamet.

"Adun dan Souleh lari keliling lapangan 2 kali, setelahnya ikut serta bersama siswa yang lainnya menghormat bendera sampai jam pulang sekolah." tambah Slamet lagi, melengkapi informasinya.

Siswa mulai, bergerak-gerak karena merasa tidak puas. Naina kembali tunjuk tangan dengan mengangkat tangan setinggi-tingginya meminta izin berbicara.

Slamet melihat hal tersebut dan berkata, "Ada apa Naina?" tanya Slamet.

"Begini Pak, setelah jam pelajaran olahraga kami akan memasuki jam pelajaran lain Pak, jadi bagaimana itu Pak?" tanya Naina setelah menjelaskan pertanyaannya.

Slamet sudah faham maksud dari perkataan Naina.

"Tenang saja, nanti sebentar lagi bapak akan pergi bersama wali kelas kalian, sehingga Bu Guru Wati tidak dapat masuk ke dalam kelas kalian, dan pastinya bapak sudah meminta izin kepada Ibu Guru Wati untuk memberikan tugas ini kepada kalian." tutur Slamet berdalih, padahal dirinya belum meminta izin kepada Wati, wali kelas mereka.

Para siswa tidak bisa, tidak. Mereka bergerak pelan dan lambat menuju depan tiang bendera. Kemudian mereka melakukan setiap perintah dari Pak Slamet.

Adun yang berbadan besar, serta Souleh siswa yang suka malas-malasan, merasa kesulitan berlari di lapangan itu. Sehingga mereka sangat lama sekali bergabung dengan siswa lainnya di depan tiang bendera.

Apakah siswa menuruti perintah Slamet melaksanakan hukumannya?

Apakah Bu Guru Wati membiarkan siswanya dIhukum sepanjang jam sekolah san meninggalkan mereka?

1
Dini
okey bagus
👍
Dini
💪baru setiap harinya

yuk diikutin dan di like
Dini
bagus, cara bercerita yang berbeda
tema yang baru
Zidan
GG bang bagus , saling folow yuk jangan lupa baca novel ku juga kalau boleh 🙏
Zidan
GG bang saling folow yuk bang
Dini: 🙏ok sudah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!