Pengkhianatan oleh adik sepupunya membuat dia, Gavin Agha Wiguna menjadi manusia kulkas berjalan. Hatinya sudah membeku dan sangat sulit untuk mencair.
Hingga pada sebuah kesempatan yang tak direncanakan, dia bertemu dengan perempuan yang pernah dia isengi sewaktu dia masih remaja. Perempuan itu semakin cantik dan manis. Sayangnya, perempuan itu dikabarkan sudah menjadi pacar dari adik sepupunya.
Akankah kejadian tujuh tahun lalu akan terulang lagi? Dengan cerita yang berbeda, di mana Gavin Agha Wiguna yang menjadi pengkhianatnya? Ataukah dia yang terus mengalah dan menjadi semakin dingin seperti kulkas empat pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Ke Lapangan
Jam enam pagi Salju sudah masuk ke ruang perawatan Agha. Dia sudah membuka jarum infus yang menancap di punggung tangan Agha tanpa adanya suara.
Agha pun bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Dia akan mandi dan berganti pakaian kerja.
"Dia lagi gila kerja," ujar Reksa yang baru masuk dengan pakaian rapi.
"Tapi, to lol dalam menjaga kesehatan." Terlihat Reksa pun geram pada Agha. Salju hanya tersenyum mendengarnya.
Tak lama berselang, Agha keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian kerja yang sangat pas di tubuhnya. Salju terpesona melihat ketampanan Agha. Aura dan kharismanya sangat terpancar. Menyilaukan mata.
"Biasa aja liatinnya."
Lagi-lagi Salju dibuat kesal oleh Agha. Dia menatap kesal ke arah Agha yang kini membelakanginya. Terlihat lelaki tinggi itu tengah menggunakan jam tangan. Dua lelaki jangkung tengah berbicara sangat serius. Namun, Salju memilih untuk duduk di tepian ranjang pesakitan Agha. Tak mau mendengarkan apa yang mereka berdua bicarakan.
.
Mereka sudah ada di dalam mobil. Di mana Salju berada di bangku penumpang belakang sendirian. Sedangkan Agha duduk di kursi penumpang depan.
"Mau sarapan apa?" Reksa sudah bertanya.
"Bubur ayam."
Agha menoleh ke belakang dan wajah Salju seketika berubah karena tatapan tajam Agha.
"Pagi gini emang paling enak nyabu." Salju setuju dengan ucapan Reksa.
Di tengah perjalanan, Agha meminta untuk berhenti dan itu membuat Reksa mengerutkan dahi.
"Katanya lu mau bubur." Agha menunjuk ke arah gerobak bubur ayam pinggir jalan.
"Tapi, kan--"
Agha membuka pintu mobil dan itu membuat Reksa serta Salju mengikuti Agha.
"Beneran?"
Reksa masih tidak percaya. Sedangkan Agha sudah mengangguk. Reksa bersorak gembira di dalam hati dan wajah Salju nampak bahagia sekali. Reksa memesan dua porsi bubur untuknya dan Salju. Untuk Agha dia mengambilkan sate telur puyuh di mana Agha adalah maniak telur sama seperti si triplets.
Baru saja hendak duduk, Agha menggeser tubuh Salju. Di samping tempat duduk Salju duduk seorang lelaki yang sedari tadi memandang Salju dengan tatapan aneh. Aghalah yang duduk di samping pria tersebut.
Bubur pesanan Reksa dan Salju sudah ada di atas meja. Senyum yang melengkung di wajah Salju membuat Agha ikut tersenyum tipis. Kedua alis Agha menukik ketika melihat Salju menambahkan kecap lagi dan mengaduk bubur yang ada di mangkuknya. Agha bergidik melihatnya.
"Mau?"
Agha terkejut ketika Salju menawarinya bubur yang sudah diaduk-aduk. Perutnya sudah mulai tak bersahabat.
"Ini enak loh." Agha menggeleng.
Namun, Salju tetap memaksa. Nyawanya pagi ini sangat banyak sepertinya. Hingga akhirnya Agha mengalah dan membuka mulutnya.
"Tapi, kalau gua mual lagi--"
"Aku akan tanggungjawab."
Akhirnya, Agha pun menerima suapan bubur dari Salju. Dia pikir respon perutnya akan sama seperti kemarin. Ternyata tidak. Tenggorokan dan lambungnya ternyata bersahabat.
"Enak kan?" Agha tak menjawab. Salju pun tersenyum.
Setelah bubur yang ada di atas sendok masuk ke dalam mulutnya, Salju menyuapi Agha kembali. Sungguh Salju terlihat bahagia melihat Agha yang begitu nurut pagi ini.
Reksa yang baru kembali ke tenda bubur setelah membeli air mineral nampak terkejut melihat Agha yang disuapi bubur lagi oleh Salju. Namun, dia tak berkata apapun. Apalagi melihat Agha yang begitu tenang ketika berada di samping Salju.
Setelah selesai sarapan, mereka menuju lapangan. Di mana anak perusahaan Wiguna Grup tengah dibangun. Tibanya di proyek yang sangat panas, dua lelaki jangkung itu disambut oleh beberapa orang penting dalam proyek tersebut.
Salju berada di belakang Agha. Namun, tangan Agha diulurkan ke belakang. Meraih lengan Salju hingga membuat Salju terkejut. Tangan Agha menarik lembut tangan Salju agar dokter pribadi itu berdiri di sampingnya.
Salju menatap ke arah Agha yang tengah memandang lawan bicaranya. Namun, tangannya masih menggenggam lengan Salju. Salju hanya diam saja sampai mereka semua selesai berbicara.
"Ambil topi di mobil," titah Agha kepada Reksa.
Petinggi proyek tersebut memberikan helm proyek kepada Agha, tapi Agha tolak. Tak lama Reksa kembali. Dia menyerahkan topi hitam kepada Agha. Mereka mulai berjalan ke arah proyek, tapi tidak dengan Agha dan Salju. Agha memakaikan topi miliknya di atas kepala Salju. Tubuh Salju pun membeku.
"Di dalam lebih panas," ujar Agha.
Salju tak menjawab. Dia memandang wajah Agha yang terlihat begitu tampan dengan penuh ketegasan.
"Kalau panas, berdiri di belakang gua aja. Pegang baju bagian belakang gua." Salju pun mengangguk.
Mereka berjalan belakangan dan ternyata orang yang terlebih dulu masuk menunggu mereka berdua.
"Itu dokter pribadi Pak Agha?" Reksa pun mengangguk.
Mereka pun berkeliling. Salju mengikuti ke mana Agha dan rekan kerjanya melangkah. Benar kata Agha, semakin ke dalam semakin panas. Salju memundurkan langkahnya dan berdiri di belakang Agha.
"Kalian tidak becus!"
Suara Agha membuat Salju terperanjat. Perkataan penuh kemarahan terlontar dari mulut Agha. Mereka yang dimarahi Salju yang ketakutan. Pantas saja Reksa menyebut Agha anak singa. Ada sisi lain yang baru Salju ketahui tentang Agha.
"Lebih baik kita bicarakan di dalam saja, Pak."
Mereka pun dibawa ke sebuah ruangan di mana banyak orang berbadan tegap di sana. Ketika Salju hendak ikut masuk, dia dihadang oleh orang berbadan tegap tersebut. Salju sedikit ketakutan ketika mendapat tatapan tajam dari pria itu. Bukan tanpa alasan, tempat itu dihuni oleh para lelaki semua.
Agha sudah duduk di sofa. Namun, matanya mencari seseorang yang tidak ada. Baru saja obrolan itu akan dimulai, Agha malah berdiri dan membuat semua orang di sana keheranan. Apalagi, Agha kini meninggalkan ruangan tersebut.
"Kenapa?" tanya salah satu di antara mereka kepada Reksa.
.
Wajah Agha sudah berubah setelah dia mengetahui Salju tidak ikut masuk. Langkah lebarnya sudah mulai meninggalkan ruangan tersebut. Para pria berbadan tegap yang ada di depan pintu terkejut melihat Agha yang keluar lagi. Dia mengedarkan mata untiuk mencari dokter pribadinya. Hingga dia menemukan Salju yang tengah digoda dua pekerja di sana.
Agha segera menghampiri Salju. Derap langkah kakinya membuat dua orang pria itu menoleh. Mereka nampak terkejut. Agha dengan wajah garangnya melangkahkan kakinya dengan sangat lebar. Salju menatapnya dengan sorot mata penuh ketakutan. Seketika dia merasakan kehangatan ketika tangan Agha bertaut dengan tangannya. Agha menatap ke arah Salju sebentar. Kemudian, menarik tangan itu dengan begitu lembut menuju ruang meeting. Tak ada yang berani menegurnya.
Mereka yang ada di dalam ruangan saling pandang karena melihat tangan Agha yang menggenggam tangan Salju. Reksa bersikap sangat santai.
Salju pun duduk di samping Agha dan tak boleh ada orang lain di sofa panjang itu. Salju hanya menundukkan kepalanya. Di tengah pembicaraan serius membahas kemarahan Agha, tangan Agha meraih tangan Salju yang ada di bawah meja. Salju menoleh ke arah Agha yang masih menimpali ucapan orang yang ada di depannya dengan nada cukup tinggi.
Usapan lembut di punggung tangan dapat Salju rasakan. Usapan yang begitu menenangkan hatinya. Agha menggeser ponselnya ke meja depan Salju. Salju mulai melihat ke arah layar ponsel yang menyala. Ada satu kata di layar ponsel itu.
MAAF
...***To Be Continue***...
Bayakin komen atuh biar aku up dobel terus.