NovelToon NovelToon
Unexpected Scenario

Unexpected Scenario

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:577
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

❣️ Update : 19.00 WIB ❣️

Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26 - Accidentally In Love

Sepanjang perjalanan menuju gedung pernikahan, aku lebih banyak diam.

Entah kenapa pikiranku masih terjebak pada kejadian sebelum kami berangkat.

Kenapa tiba-tiba Javier memanggilku seperti itu?

Apakah karena ada Tara dan Rafli?

Meski begitu, tetap saja mengagetkan.

Selama ini dia selalu memanggilku dengan nama. Lalu tiba-tiba memanggilku sayang.

Sungguh aku tidak mengerti.

Beberapa menit kemudian, mobil Javier memasuki area parkir gedung pernikahan.

Kulihat sudah banyak mobil terparkir rapi di sana.

"Nay..." panggil Javier setelah mematikan mesin mobil.

Aku menoleh.

"Apa boleh aku pegang tangan kamu saat masuk nanti?" tanyanya hati-hati.

Aku langsung menatapnya.

"Hah?"

"Biar kita kelihatan kayak pasangan suami-istri."

Aku menghela napas pelan.

"Nggak."

"Oh... oke. Baiklah."

Hah?

Sepasrah itu?

Tanpa membantah lagi, Javier langsung melepas sabuk pengamannya lalu keluar dari mobil.

Aku pun segera melakukan hal yang sama.

Begitu keluar, aku berjalan cepat mendekatinya.

Lalu tanpa banyak pikir, aku merangkul lengannya.

Javier langsung berhenti melangkah.

"Nay..."

Aku menoleh.

"Kenapa?"

"Tadi kamu bilang aku nggak boleh pegang tangan kamu."

"Iya."

"Terus sekarang kenapa malah kayak gini?"

Aku menatap lengannya yang sedang kurangkul.

"Kalau mau kelihatan kayak suami-istri, ya bukan pegang tangan."

Javier mengernyit.

"Terus?"

"Kayak gini."

Javier terlihat semakin bingung.

"Kamu tahu dari mana?"

Aku mengangkat bahu.

"Bukannya pasangan suami-istri biasanya memang datang ke acara kayak gini?"

"Lihat di mana?"

"Film."

Javier langsung menghela napas panjang.

Aku menahan senyum.

"Baiklah. Ayo masuk."

Kami pun berjalan menuju pintu masuk gedung.

Aku masih merangkul lengannya sementara Javier hanya membiarkannya.

Setelah menulis nama di buku tamu, kami masuk ke dalam ruang resepsi.

Ruangan itu sudah cukup ramai.

Meja-meja bundar hampir terisi penuh dan suara obrolan para tamu terdengar dari berbagai arah.

Baru beberapa langkah masuk, tiba-tiba seseorang memanggil Javier.

"Javier!"

Aku dan Javier langsung menoleh ke arah sumber suara.

Kulihat ada enam orang berdiri tidak jauh dari kami. Tiga pria dan tiga wanita.

Dan di antara mereka, ada satu wajah yang langsung kukenal.

Devina.

Wanita yang kemarin kulihat di bioskop.

Javier lalu mengajakku mendekati mereka.

"Hai, Javi. Apa kabar?" sapa salah satu pria.

"Alhamdulillah, baik."

"Kamu datang sama siapa?" tanya wanita di samping pria itu. Lalu matanya beralih kepadaku. "Pacar?"

Pria itu langsung menyikut lengannya.

"Aduh!"

Devina terlihat ikut penasaran.

"Apa sih, Tin?" protes wanita itu.

Javier tersenyum tipis.

"Oh, kenalin. Ini Naya, istriku."

"Apa?!"

Pria dan wanita itu, dan Devina langsung terkejut bersamaan.

Sementara dua orang lainnya hanya terlihat bingung melihat reaksi mereka.

"Istri?" ulang pria itu. "Kamu udah nikah?"

Javier mengangguk.

"Kapan?"

"Belum lama."

Lalu Javier menoleh kepadaku.

"Sayang, kenalin. Ini teman-temanku. Dulu kami satu organisasi."

Aku kembali terkejut.

Lagi-lagi dia memanggilku seperti itu.

"Ini Martin dan istrinya. Ini Felly dan suaminya."

Javier lalu menoleh ke arah Devina dan pria di sampingnya.

"Dan ini Devina dan suaminya."

"Halo. Salam kenal semuanya."

Aku tersenyum canggung.

Mereka membalas senyumku.

"Kamu beneran istrinya Javier?" tanya Martin tiba-tiba.

"Hah?"

"Bukan orang yang dibayar Javier buat pura-pura jadi istrinya, kan?"

"Martin!"

Javier langsung menatapnya tidak percaya.

Martin malah tertawa.

"Santai, bro. Aku cuma memastikan."

Lalu ia kembali menatapku.

"Jadi beneran kamu istrinya?"

"Iya. Aku istrinya Mas Javier."

"Ya ampun..." Martin menggeleng pelan. "Javi, kenapa nikah nggak bilang-bilang sih?"

"Ya begitulah."

"Tunggu." Martin menyipitkan mata. "Kalian nikah karena kecelakaan, ya?"

"Hah?!"

Aku langsung terkejut.

"Mas!"

"Martin!"

Istri Martin dan Devina menegurnya hampir bersamaan.

"Apaan sih? Aku cuma nanya."

"Javier bukan cowok yang kayak gitu." ujar Devina.

Semua orang langsung menoleh kepadanya.

Bahkan suaminya sendiri terlihat sedikit terkejut.

"Orang bisa berubah, Na." kata Martin santai.

"Tapi Javier bukan orang yang kayak gitu."

Aku menatap Devina.

Entah kenapa cara dia mengatakan itu terdengar begitu yakin.

Seolah-olah dia benar-benar mengenal Javier.

"Kenapa kamu belain Javier banget sih?" goda Martin. "Oh iya... Dulu kalian kan—"

"Martin."

Kali ini Javier yang memotong.

Senyum Martin langsung menghilang.

Devina tampak ikut terdiam.

"Dulu kenapa?" tanya suami Devina penasaran.

Devina dan Javier saling berpandangan sesaat.

"Dulu kami cukup dekat."

Devina terdiam sesaat.

"Kan kami satu organisasi."

Saat mengucapkannya, ia sempat melirik ke arah suaminya.

Aku tidak tahu kenapa, tapi jawaban itu terasa aneh.

Seolah-olah ada sesuatu yang sengaja tidak disebutkan.

Sebelum suasana menjadi semakin canggung, Devina langsung mengalihkan pembicaraan.

"Eh, ayo. Kita salaman dulu sama Tian dan Angel."

Aku masih memikirkan perkataan Devina itu.

Kenapa dia seperti menyembunyikan sesuatu dari suaminya?

Aku menoleh sekilas ke arah Devina yang sedang berjalan di depan bersama suaminya.

Entahlah.

Aku benar-benar tidak mengerti.

Kami semua mengikuti mereka menuju pelaminan.

Devina dan suaminya menyalami pengantin lebih dulu, disusul Martin dan istrinya, Felly dan suaminya, lalu aku dan Javier.

"Selamat ya, Yan." ucap Javier sambil menyalami pengantin pria.

"Makasih."

Tian lalu menatapku.

"Eh, kamu datang sama siapa? Pacar?"

"Bukan." jawab Javier santai. "Istri."

Tian langsung membelalak.

"Hah? Istri?"

Javier mengangguk.

"Kapan kamu nikah?"

"Belum lama."

"Ya ampun, Javi." Tian tertawa tidak percaya. "Selamat deh."

"Makasih."

Javier lalu menyalami pengantin wanita.

"Selamat ya."

Aku yang berdiri di belakangnya ikut tersenyum.

"Selamat ya, Mas, Mbak."

Setelah itu kami turun dari pelaminan.

"Javi, boleh pinjem istrimu bentar?" tanya Martin begitu kami sampai di bawah.

Aku menoleh.

Di sana sudah ada Devina dan Felly. Sementara pasangan mereka kulihat sedang mengarah ke area prasmanan.

"Mau ngapain kalian sama istriku?" tanya Javier.

Martin langsung memutar bola matanya.

"Ya ampun. Nggak ngapa-ngapain. Kami cuma mau ngobrol."

"Ngobrol di sini aja."

"Javi..." Martin tertawa. "Kamu masih protektif aja sama pasanganmu."

Javier terlihat sedikit salah tingkah.

"Javi..."

Kali ini Devina yang memanggil.

Javier langsung menoleh ke arahnya.

"Kami cuma mau kenalan sama istri kamu." ujar Devina. "Nggak akan lama, kok."

Javier terdiam beberapa saat.

Lalu menghela napas.

"Ya udah."

Hah?

Aku langsung menoleh ke arahnya.

Cepat sekali dia berubah pikiran.

Barusan masih tidak mau.

Tapi begitu Devina yang bicara, dia langsung mengizinkan.

Entah kenapa aku merasa sedikit aneh.

"Ayo, Mbak." ujar Devina sambil tersenyum kepadaku.

"Eh... iya."

Aku pun mengikuti Devina, Felly, dan Martin.

Kami akhirnya berhenti di salah satu sudut ruangan yang tidak terlalu ramai.

"Kamu beneran istrinya Javier?" tanya Martin lagi.

Aku mengangguk.

"Bukan orang bayaran?"

"Bukan."

"Bukan nikah karena kecelakaan juga?"

Aku menghela napas.

"Bukan."

Martin mengangguk pelan.

"Kalau gitu kenapa kalian nikah nggak ngundang-ngundang?"

"Karena aku maunya begitu."

"Hah?"

"Aku pengen pernikahan yang sederhana aja."

Felly terlihat heran.

"Kamu aneh, ya. Biasanya cewek-cewek pengennya pesta besar."

"Biar nggak banyak keluar uang."

Martin dan Felly saling pandang.

"Ya ampun..." gumam Martin. "Lalu kalian ketemu di mana?"

"Di bank."

"Bank?"

Aku mengangguk.

"Aku teller di Sina Bank. Mas Javier nasabah di sana."

Aku kembali menggunakan cerita yang dulu dibuat Ayah.

"Hah?" Martin terlihat semakin terkejut.

"Terus siapa yang suka duluan?"

"Mas Javier."

"Yang ngajak pacaran duluan juga Javier?"

"Kami nggak pacaran."

"Apa?"

Kali ini bukan hanya Martin yang terkejut.

Felly dan Devina juga ikut menatapku.

"Kalian nggak pacaran?" ulang Felly.

Aku menggeleng.

"Mas Javier langsung ngajak nikah."

Martin langsung tertawa tidak percaya.

"Ini makin aneh."

"Aneh kenapa?" tanyaku.

"Soalnya dulu dia pacaran lama."

Aku langsung menoleh.

Devina dan Felly juga terlihat kaget.

"Martin!" tegur Felly.

"Apa lagi?" Martin mengangkat kedua tangannya. "Aku cuma ngomong fakta."

Lalu ia kembali menatapku.

"Kamu udah tahu kalau Javier dan Devina..."

"Pernah pacaran?"

Kini giliran Martin yang terlihat terkejut.

"Kamu tahu?"

Aku mengangguk.

"Mas Javier yang cerita."

Devina terlihat sedikit terdiam.

"Kapan?"

"Kemarin. Waktu aku cerita kalau aku lihat kamu di bioskop."

"Kamu lihat aku di bioskop?" tanya Devina.

Aku mengangguk.

"Iya."

"Kok kamu tahu itu aku?"

"Janessa yang kasih tahu. Kemarin aku nonton sama dia."

"Oh..."

Devina tersenyum kecil.

"Pantes. Kemarin aku sempat merasa melihat Janessa. Lalu Janessa bilang apa ke kamu?"

"Cuma bilang kalau kamu mantannya Mas Javier."

Devina mengangguk pelan.

Beberapa detik kemudian, ia menoleh ke arah Martin dan Felly.

"Tin, Fel..."

"Hm?"

"Boleh tinggalin kami berdua sebentar?"

Martin langsung mengangkat alis.

"Mau ngapain?"

"Aku cuma mau ngobrol sama Mbak Naya."

Martin dan Felly saling pandang.

Lalu mengangguk.

"Oke."

"Jangan lama-lama ya."

Setelah itu mereka berdua pergi meninggalkan kami.

Kini hanya tersisa aku dan Devina.

"Mbak Naya..." ucap Devina setelah Martin dan Felly pergi.

"Naya aja. Kamu seumuran sama Mas Javier, kan? Aku lebih muda dari kalian."

Devina tersenyum.

"Baiklah, Naya."

Ia terdiam beberapa saat sebelum kembali bicara.

"Aku nggak bermaksud membuka masa lalu atau bikin kamu cemburu."

Aku hanya diam.

"Aku cuma mau bilang kalau aku senang."

"Senang?"

"Iya. Karena Javier akhirnya punya kehidupannya sendiri."

Aku menatapnya.

"Aku sering merasa bersalah karena dulu memilih menuruti orang tuaku."

Devina tersenyum kecil.

"Tapi tenang. Aku ngomong begini bukan karena aku masih mencintai Javier atau ingin balikan."

Aku mengangguk pelan.

"Aku cuma... merasa kasihan sama dia."

Mataku sedikit membesar.

"Tapi sekarang sepertinya aku nggak perlu merasa begitu lagi."

Devina menatapku lalu tersenyum.

"Dia terlihat bahagia."

Bahagia?

Andai Devina tahu seperti apa sebenarnya pernikahanku dengan Javier.

"Aku juga nggak mau suamiku tahu kalau dulu aku dan Javier pernah punya hubungan." lanjutnya pelan.

Ah...

Jadi karena itu tadi dia seperti itu.

"Kalau bisa, tolong sampaikan ke Javier kalau aku minta maaf."

Aku terdiam.

"Minta maaf?"

Devina mengangguk.

"Iya."

"Kalau dia nggak mau maafin?"

"Itu hak dia."

Jawaban itu membuatku semakin penasaran.

Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka dulu?

"Satu lagi." lanjut Devina.

Aku menatapnya.

"Teruslah bersama Javier."

Aku terkejut.

"Dia laki-laki yang baik."

Devina tersenyum.

"Dan menurutku, kamu orang yang tepat untuk mendampinginya."

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Karena aku sendiri tidak tahu bagaimana masa depan pernikahanku.

"Insyaallah."

Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

Devina mengangguk.

"Ya udah. Yuk makan."

Aku ikut mengangguk.

Kami berdua berjalan menuju area prasmanan.

Namun saat Devina mulai mengambil makanan, langkahku justru berbelok menuju meja tempat Javier berada.

Di sana ada suami Devina dan dua pria lain yang tidak kukenal.

"Eh? Sudah selesai ngobrolnya, Mbak?" tanya suami Devina.

"Iya."

Aku langsung duduk di samping Javier.

"Kamu nggak ambil makan?" tanya Javier.

"Nggak."

Javier mengernyit.

"Nggak laper?"

Aku belum sempat menjawab ketika Devina datang membawa sepiring makanan.

Ia duduk di samping suaminya.

"Sayang..." ucap Devina.

Suaminya menoleh.

"Kamu makan daging?"

"Iya. Kenapa?"

"Nanti kolesterol kamu naik."

"Nggak, kok. Ini dikit doang."

Entah kenapa aku tiba-tiba memperhatikan mereka.

Cara mereka bicara.

Cara mereka saling memperhatikan.

Cara mereka memanggil satu sama lain.

Lalu tanpa sadar aku bergeser mendekat ke Javier.

"Sayang..."

Javier langsung menoleh.

Dan seketika wajahnya berubah.

Terkejut.

Sangat terkejut.

"Sayang..." ulangku.

"Hah?"

"Suapin aku."

Mata Javier langsung membelalak.

Devina dan suaminya ikut menoleh.

"Sayang..." ulangku lagi sambil menyentuh punggung tangannya.

"Aku laper."

Javier terlihat benar-benar bingung.

Dan jujur saja, aku juga tidak tahu kenapa melakukan ini.

Mungkin karena melihat pasangan lain bersikap seperti pasangan.

Atau mungkin karena alasan lain.

Aku tidak tahu.

Yang jelas saat itu aku hanya ingin melakukannya.

"Ah... iya."

Dengan masih terlihat bingung, Javier mengambil sedikit makanan dari piringnya lalu menyuapiku.

Aku membuka mulut dan memakannya.

Beberapa detik kemudian, baru aku menyadari sesuatu.

Kemarin aku marah karena Javier memakai sendok yang kupakai.

Sekarang?

Aku malah meminta Javier menyuapiku dengan sendok yang sama.

Aku langsung menunduk.

Ya Tuhan...

Apa sebenarnya yang baru saja kulakukan?

1
Mamah Dini11
kok takut bknnya bagus., dan teganya javer biarkan kmu hujan2an,kalau dia. punya mobil kan bisa anterin kmu. jadi gk kehujanan , atau blm punya kali.
Mamah Dini11
kmu terlalu jauuuh mikirnya nay , coba mikirny yg positif2 aja biar ringan kedepan nya, ok. permisi thor ikutan ni..
Mamah Dini11
thor maaf setiap episodnya. bisa tambah bhs, indo. kuring ngerti aku mh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!