❣️ Update : 19.00 WIB ❣️
Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35 - Wonder
Aku masih memikirkan percakapanku dengan Javier tadi.
Kenapa dia lebih memilih menemaniku di rumah daripada pergi ke Ruang Rindu?
Bukankah selama ini dia tidak menyukaiku?
Dan... benarkah alasan dia menciumku hanya untuk mengetes apakah aku mencintainya atau tidak?
Aku menggeleng pelan, berusaha mengusir semua pertanyaan yang memenuhi kepalaku.
Aku kembali menyuapkan makanan ke mulutku hingga habis. Setelah itu, aku membawa piring ke dapur, mencucinya, lalu kembali ke ruang tamu.
Karena tidak ada kegiatan lain, aku mengambil remote televisi dan memilih drama terbaru yang belum sempat kutonton.
Aku tersenyum kecil saat episode pertama selesai dan layar mulai menampilkan episode kedua.
Brumm...
Suara sebuah motor berhenti di depan rumah.
Belum sempat aku menoleh ke arah pintu, suara seseorang yang sangat kukenal sudah terdengar dari luar.
"Nay... Naya..."
Aku segera mem-pause drama yang sedang kutonton, lalu mengambil jilbab yang tergantung di balik pintu kamar dan memakainya.
Setelah itu kubuka pintu depan.
"Lila?" tanyaku heran. "Ada apa?"
Lila tersenyum lebar.
"Nggak apa-apa. Pengen main aja."
"Oh..." Aku membuka pintu lebih lebar. "Ya udah, ayo masuk."
Lila mengangguk senang.
Begitu masuk ke dalam rumah, matanya langsung berkeliling mengamati setiap sudut ruangan.
"Bagus juga ya rumah kamu. Lumayan luas."
Aku terkekeh kecil.
"Ya namanya juga rumah tipe tiga puluh enam. Ya beginilah." Aku menunjuk sofa di ruang tamu. "Ayo duduk... duduk."
Kami berdua duduk berdampingan.
Pandangan Lila kemudian tertuju ke televisi yang masih menampilkan drama Korea.
"Eh?" Ia menunjuk layar televisi. "Kamu baru nonton ini?"
"Iya," jawabku. "Baru sempat. Kemarin-kemarin aku lagi nonton drama yang lain."
Lila tersenyum penuh kemenangan.
"Aku udah jauh nontonnya."
Aku langsung mengangkat telunjuk.
"Jangan spoiler."
"Tenang..."
Lila tertawa kecil, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Eh, Nay... Gimana rasanya tinggal serumah sama cogan kayak Javier?"
Aku mengangkat bahu.
"Biasa aja."
"Ih... masa, sih?" protesnya. "Nggak mungkin. Javier ganteng gitu, lho."
"Terus kalau dia ganteng kenapa?"
Lila memijat pelipisnya seolah sedang berbicara dengan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa.
"Astaga..."
Ia menghela napas panjang sebelum kembali menatapku.
"Ya udah, aku tanya yang lain deh. Selama kalian tinggal berdua... beneran nggak pernah ada momen romantis? Kayak di drama-drama gitu?"
Aku menggeleng mantap.
"Nggak ada."
"Serius?" Mata Lila membulat. "Terus selama ini kalian ngapain aja?"
"Nggak ngapa-ngapain."
Aku mengambil bantal kecil di sampingku lalu memeluknya.
"Kita cuma dua orang asing yang kebetulan harus tinggal serumah."
"Ah, Naya..." Lila menepuk dahinya sendiri. "Payah banget kamu. Masa punya suami seganteng itu nggak pernah ngapa-ngapain?"
Aku mendengus pelan.
"Aku nggak suka sama dia, Lila. Dia juga nggak suka sama aku."
Lila masih tampak belum puas.
"Beneran nggak pernah ada satu momen romantis pun?"
"Nggak."
"Kalian tinggal berdua, lho. Di drama-drama aja kalau tokohnya tinggal serumah pasti ada kejadian yang bikin baper."
Aku terdiam beberapa detik.
Kalau dipikir-pikir...
Yang bikin baper memang tidak ada.
Tapi...
"Yang bikin baper sih nggak ada..." gumamku pelan.
Aku mengembuskan napas sebelum melanjutkan,
"...yang bikin shock malah ada."
"Momen apa?"
Aku spontan menundukkan kepala.
Bayangan kejadian beberapa hari yang lalu kembali memenuhi pikiranku.
Aku langsung merasakan pipiku menghangat.
Entah kenapa, menceritakan kejadian itu kepada orang lain terasa jauh lebih memalukan daripada mengalaminya sendiri.
Aku pun hanya terdiam, belum tahu harus mulai bercerita dari mana.
Aku buru-buru menggeleng.
"Bukan apa-apa kok."
Lila tidak langsung percaya. Ia justru menyipitkan mata, menatapku lekat seolah sedang menyusun potongan-potongan teka-teki di kepalanya.
Beberapa detik kemudian, ia membuka suara dengan hati-hati.
"Nay... Kalian... nggak ngelakuin itu, kan?"
Aku mengernyit.
"Ngelakuin apa?"
Lila mendesah pelan.
"Udah deh, Nay. Jangan pura-pura nggak tahu."
"Aku beneran nggak tahu, Lila."
Ia kembali menghela napas sebelum akhirnya berkata terus terang.
"Itu lho... sesuatu yang biasa dilakuin suami-istri kalau udah nikah."
Mataku langsung membulat.
"Kami nggak ngelakuin itu!"
"Serius?"
"Iya."
Lila masih terlihat ragu.
"Tapi masa nggak ada sih satu momen romantis pun di antara kalian? Kalian tinggal serumah, lho."
Aku terdiam.
Kalau dipikir-pikir...
Memang kami tidak pernah melakukan hal-hal yang biasa dilakukan pasangan suami istri.
Tapi...
"Ehm..." gumamku pelan. "Kalau ngelakuin hal yang biasa dilakuin suami-istri sih nggak, tapi..."
"Tapi apa?" Lila langsung memajukan tubuhnya. "Kalian ngelakuin apa?"
Aku menelan ludah.
"Ehm... itu..."
Entah kenapa lidahku terasa kelu.
Dengan canggung, tanpa sadar aku mengangkat tangan dan menyentuh bibirku sendiri.
Lila yang melihat gerakan itu langsung membelalakkan mata.
"Kalian berdua....ciuman?"
Aku buru-buru menggeleng.
"Dia yang nyium aku. Bukan ciuman."
Lila mengernyit bingung.
"Emangnya bedanya apa?"
"Aku nggak bales."
Lila justru tertawa pelan.
"Nay..."
Ia menatapku sambil menahan senyum.
"Bibir kalian bersentuhan, kan?"
Aku terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Nah, itu namanya ciuman."
Aku mendecak pelan.
"Ciuman itu kalau aku bales. Aku kan nggak bales."
Aku mengembuskan napas panjang sambil kembali mengingat kejadian beberapa hari lalu.
"Aku shock banget, sumpah. Sampai sekarang aja aku masih nggak nyangka dia berani ngelakuin itu."
Lila mengerutkan dahi.
"Terus dia ngejelasin kenapa dia ngelakuin itu?"
"Waktu aku tanya alasannya..." Aku memutar bola mata kesal. "Katanya dia cuma mau ngetes aku."
"Ngetes?"
"Iya. Katanya dia cuma mau tahu apakah setelah itu aku masih bilang nggak cinta sama dia atau nggak."
Aku langsung mendengus.
"아... 미친새끼.... (Ah... brengsek...)”
Lila menatapku tak percaya.
"Dia ngomong gitu?"
Aku mengangguk lemas.
"Iya."
Bukannya ikut kesal, Lila malah menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil berpikir.
"Kok aku punya firasat..."
Ia menatapku serius.
"...itu bukan alasan sebenarnya, ya?"
Aku mengernyit.
"Maksud kamu?"
Lila menggeleng pelan.
"Mana ada orang ngetes cinta kayak gitu? Apalagi Javier."
"Terus?"
"Aku malah punya firasat..."
Ia berhenti sejenak, lalu mengucapkan kalimat yang membuatku hampir tersedak ludah sendiri.
"...dia suka sama kamu, Nay."
"뭐? (Apa?)" seruku refleks.
Aku spontan menunjuk diriku sendiri.
"그 남자 나를 좋아한다고? (Dia suka sama aku?)”
Lila mengangguk mantap.
Aku langsung menggeleng berkali-kali.
"말도 안돼! (Nggak mungkin!)”
Aku bahkan sampai tertawa saking tidak percayanya.
"Mana mungkin cowok kayak Javier suka sama aku, La. Lagian mantannya aja secantik itu."
"Itu nggak ada hubungannya."
Lila menjawab dengan tenang.
"Mau mantannya secantik artis sekalipun, kalau hatinya udah pindah ke orang lain ya bisa aja dia suka sama kamu."
"Ah... nggak mungkin."
"Nggak ada yang nggak mungkin buat urusan hati, Nay."
Ia tersenyum tipis.
"Apalagi kalian tinggal serumah. Ketemu setiap hari."
Aku terdiam.
Ucapan Lila terus terngiang-ngiang di kepalaku.
Javier...
Suka sama aku?
Entah kenapa, kalimat itu terdengar begitu mustahil.
Beberapa saat kemudian Lila kembali bertanya.
"Terus kamu sendiri gimana?"
"Hah?"
"Gimana perasaanmu?"
Aku mengangkat bahu.
"Ehm... ya nggak gimana-gimana."
Lila langsung memukul pelan lenganku.
"Hei! Kamu dicium cowok, lho. Masa nggak gimana-gimana sih?"
Aku mengembuskan napas panjang.
"Emang nggak gimana-gimana."
Aku berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada lebih pelan.
"Kesel sih iya."
"Kenapa?"
"Soalnya..."
Aku kembali menyentuh bibirku.
"Dia udah ngambil ciuman pertamaku."
Aku tersenyum hambar.
"Padahal... aku pengennya ngelakuin itu sama orang yang benar-benar aku cintai."
Lila menatapku beberapa saat, lalu tiba-tiba bertanya,
"Nay... udah berapa judul drama yang kamu tonton?"
Aku mengernyit, mencoba mengingat.
"Ehm... mungkin tiga ratusan judul deh. Nggak tahu juga. Soalnya aku mulai nonton drama udah lama banget."
"Nah."
Lila langsung menunjukku seolah baru menemukan celah.
"Dari sekian banyak drama itu, pasti ada kan cerita yang ciuman pertamanya female lead sama male lead?"
Aku mengangguk.
"Iya. Terus?"
"Terus endingnya mereka saling cinta. Happy ending."
Aku semakin bingung.
"Terus apa hubungannya sama aku?"
Lila memejamkan mata sambil menggeleng pelan.
"Allahu akbar, Naya..."
"Apa?"
"Pola hubungan female lead dan male lead itu mirip sama hubungan kamu dan Javier."
Aku masih menatapnya dengan wajah polos.
"Jadi siapa tahu..." lanjutnya sambil tersenyum, "suatu saat nanti kalian juga bakal saling suka, saling cinta."
Aku spontan menggeleng cepat.
"Nggak mungkin. Nggak mungkin."
Aku bahkan mengibaskan tangan di depan wajahku.
"Jangan ngasih harapan palsu, La."
"Aku nggak ngasih harapan palsu."
Lila bersandar santai di sofa.
"Aku cuma lihat polanya aja."
Aku mendengus pelan.
"Javier suka sama aku? Hei... nggak mungkin."
Lila justru balik bertanya,
"Kalau misalnya kamu yang suka sama Javier, tetep nggak mungkin?"
Aku langsung terdiam.
Entah kenapa, pertanyaan itu membuatku tidak bisa langsung menjawab.
"Kenapa diam?" tanya Lila sambil menyipitkan mata.
Aku menggaruk pelan pipiku.
"...Aku nggak tahu."
Lila tersenyum tipis, lalu kembali bertanya dengan nada lebih lembut.
"Coba ceritain lagi. Setelah dia nyium kamu, apa yang kamu rasain?"
Aku berpikir sejenak.
"Deg-degan..."
Aku berhenti sebentar, berusaha mencari kata yang tepat.
"...sama ada rasa aneh gitu."
"Aneh gimana?"
Aku menggeleng pelan.
"Ya... aneh lah. Aku nggak bisa gambarin."
Lila menatapku beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum penuh arti.
"Kayaknya kamu juga udah mulai suka sama dia deh, Nay."
Aku langsung mengangkat kepala.
"Masa sih?"
Aku cepat-cepat membela diri.
"Aku deg-degan itu pasti karena baru pertama kali dicium cowok."
Aku mengangguk mantap pada kesimpulanku sendiri.
"Bukan karena aku suka."
Lila terkekeh pelan.
"Oke, sekarang aku tanya. Sebelum kalian ciuman, kamu pernah deg-degan kalau lagi di samping Javier?"
Aku mencoba mengingat.
Kalau hanya duduk berdua...
Rasanya biasa saja.
Tapi...
"Kalau kita ada kontak fisik... atau jaraknya terlalu deket..."
Aku menatap Lila.
"...kadang aku memang deg-degan."
"Nah."
Lila tersenyum lebar seolah jawabanku baru saja membuktikan teorinya.
"Itu dia."
Aku mengernyit.
"Itu dia apa?"
"Itu namanya benih-benih suka."
Ia mengangkat kedua alisnya.
"Awalnya memang biasanya kayak gitu."
"Ah... masa sih?"
"Iya."
Lila tertawa kecil melihat wajahku yang masih penuh keraguan.
"Kamu gimana sih, Nay?"
Ia menunjuk televisi yang masih menampilkan drama Korea.
"Kamu udah nonton ratusan drama juga. Coba diingat-ingat. Pasti ada tokohnya yang awalnya juga kayak kalian."
Aku tidak langsung menjawab.
Ucapan Lila membuat pikiranku kembali berputar.
Aku mencoba mengingat satu per satu drama yang pernah kutonton selama bertahun-tahun.
Dan...
Sialnya.
Semakin kuingat, semakin banyak pasangan drama yang memang memulai kisah mereka dengan cara yang tidak jauh berbeda dari kami.
Entah karena sering bertengkar.
Karena tinggal serumah.
Atau...
Karena sebuah ciuman yang tidak pernah direncanakan.
Aku menggeleng pelan.
Tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponselku yang tergeletak di atas meja.
Aku meraihnya, lalu membuka pesan yang baru saja masuk.
Pengirimnya Pandu.
Belum sempat kubaca lebih lanjut, Lila sudah melongok penasaran.
"Siapa?"
Aku belum sempat menjawab. Matanya sudah lebih dulu menangkap isi pesan di layar ponselku.
Ia membacanya pelan.
"'Nay, besok sore kamu ada waktu nggak? Kita nonton film yuk? Ada film Korea yang tayang di sini.'"
Lila langsung menoleh kepadaku.
"Ini Pandu siapa?"
"Temen."
"Temen apa mantan?"
Aku mendengus pelan.
"Temen SMA."
Lila masih belum puas.
"Beneran cuma temen?"
"Iya lah." Aku memutar bola mata. "Aku aja belum pernah pacaran. Gimana ceritanya punya mantan? Lagian kalau dia mantanku, ngapain ngajakin nonton?"
"Hmm..."
Lila menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Kalau cuma temen, justru semakin aneh."
"Lho?"
"Jangan-jangan dia suka sama kamu."
Aku spontan memegang dahiku.
"Astaga, Lila..."
Aku menatapnya tidak percaya.
"Kok kamu dari tadi nyimpulinnya semua orang suka sama aku sih?"
"Soalnya memang ada kemungkinan."
"Nggak mungkin."
Aku menggeleng mantap.
"Dia cuma temen. Dia ngajakin aku nonton film Korea karena dia tahu aku suka Korea."
Aku tersenyum kecil.
"Lagian dia juga tahu banyak tentang Korea. Dia pernah kerja di sana."
Mata Lila langsung membesar.
"Hah? Dia pernah kerja di Korea?"
"Iya."
"Berapa lama?"
"Sepuluh tahun."
Aku mengembuskan napas panjang.
"Sumpah... aku iri banget sama dia."
"Wah..."
Lila tersenyum usil.
"Saingan Javier berat nih."
"Saingan apaan sih?"
Aku menunjuk diriku sendiri.
"Orang aku sama Javier aja nggak saling suka."
Lila hanya menghela napas pelan, seolah lelah menghadapi keras kepalaku.
Tanpa peringatan, ia tiba-tiba merebut ponsel dari tanganku.
"Eh!"
Aku refleks mencoba mengambilnya kembali tapi tidak berhasil.
"Kamu mau apa?"
"Mau telepon Javier."
Aku membelalakkan mata.
"Hah? Ngapain?"
Lila tidak menjawab.
Ia justru mencari nama Javier di daftar kontak, lalu menekan tombol panggil.
"Lila!"
Terlambat.
Telepon sudah berdering.
Beberapa detik kemudian terdengar suara Javier dari seberang sana.
–Halo, Nay...
Lila langsung menyalakan pengeras suara.
"Mas Javier, ini Lila."
–Lila?
Nada suara Javier terdengar sedikit heran.
–Kamu lagi main?
"Iya, Mas."
–Ada apa?
Lila tersenyum jahil ke arahku.
"Mas, aku mau tanya."
–Tanya apa?
"Kalau Naya besok nonton sama Pandu... boleh?"
Aku langsung menoleh ke arah Lila dengan mata membulat.
Astaga...
Kenapa dia bertanya seperti itu?
Di seberang sana tidak langsung terdengar jawaban.
Hening beberapa detik.
"Mas?" panggil Lila lagi. "Gimana? Boleh?"
Akhirnya Javier mengembuskan napas pelan.
–Mau aku bolehin atau nggak memangnya penting?
Lila terdiam.
–Lagian... aku cuma suami di atas kertas."
"Tapi tetap aja," balas Lila. "Mas kan suaminya Naya."
–Kalau aku nggak bolehin...
Suara Javier terdengar semakin pelan.
–...apa Naya bakal nggak jadi pergi?
Lila menoleh kepadaku.
Aku menjawab jujur.
"Nggak."
Aku mengangkat bahu.
"Aku tetap pergi."
Lila tampak sedikit terkejut mendengar jawabanku.
Dari seberang telepon terdengar suara Javier lagi.
–Dengar, kan?
Ia tertawa hambar.
–Apa pun yang aku bilang nggak akan penting buat Naya.
Ia berhenti sejenak.
–Ya udah. Aku tutup dulu, ya. Masih ada pekerjaan.
Tut.
Sambungan telepon pun terputus.
Lila perlahan menurunkan ponselku ke meja.
Ekspresinya berubah menjadi sangat serius.
"Fix sih ini."
Aku mengernyit.
"Fix apa?"
Lila menatapku lurus.
"Javier cemburu."
Aku terkejut.
"뭐?! 말도 안돼.... (Apa?! Nggak mungkin...)”
"Serius, Nay."
Ia mengangguk mantap.
"Meskipun sekarang aku jomblo, dulu waktu masih pacaran, mantanku juga kalau cemburu nadanya kayak gitu."
Aku masih sulit mempercayainya.
"Masa sih Javier cemburu?"
"Iya."
Aku kembali menggeleng.
"Nggak mungkin lah..."
"Mungkin."
Lila tersenyum tipis.
"Kalian ketemu setiap hari. Tinggal serumah. Lama-lama pasti tumbuh rasa."
Aku mengerutkan dahi.
"Rasa apa?"
Aku berpura-pura berpikir.
"Strawberry?"
Lila memejamkan mata sambil menarik napas panjang.
"Cokelat?"
Ia membuka mata dan menatapku dengan wajah datar.
"Rasa pahit."
Aku semakin bingung.
"Hah?"
Lila berdiri dari sofa sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Udah ah. Aku pulang aja."
"Lho?"
Aku ikut berdiri.
"Kok pulang? Pulangnya nanti malam aja. Nunggu Javier pulang."
"Nggak ah."
Lila menyampirkan tasnya ke bahu.
"Kamu aja nggak percaya sama omonganku."
"Eh?"
Aku masih belum mengerti kenapa ia tiba-tiba kesal.
Lila hanya tersenyum tipis.
"Aku pulang ya."
Ia melangkah menuju pintu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Aku berdiri di ambang pintu, memperhatikan Lila menaiki motornya hingga perlahan menghilang di ujung jalan.
Setelah pintu kututup kembali, rumah ini kembali sunyi.
Aku bersandar pelan di daun pintu.
Ucapan Lila sejak tadi terus berputar di kepalaku.
"Javier cemburu."
Aku menggeleng pelan.
Mana mungkin.
Mustahil.
Atau...
Namun semakin kuanggap itu tidak mungkin, justru semakin sulit ucapan Lila kulupakan.