NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Bab 17: Menghadapi tahta tertinggi keluarga Wijaya

Udara di ruang tengah terasa begitu sunyi, hanya terdengar detak jam dinding yang berdentang perlahan, seolah memperlambat waktu.

Nyonya Amara masih duduk tegak di kursi kayu jati yang besar, punggungnya lurus tanpa sedikit pun terlihat lelah.

Tatapannya yang tajam bagaikan pisau halus, meneliti setiap gerak, ekspresi, bahkan hingga ke detail pakaian dan sikap Diana yang berdiri di samping Arga.

Keduanya masih setia berdiri, karena Amara sendiri tidak memperbolehkan mereka untuk duduk.

Anggap saja ini sebagai hukuman kecil. Pikir nyonya Amara

Bagi keluarga Wijaya, Nyonya Amara adalah pondasi, pemegang kendali nilai-nilai keluarga, dan sosok yang sangat dihormati sekaligus ditakuti.

Selama puluhan tahun, dialah yang menjaga nama baik keluarga dan memastikan setiap langkah anak dan cucunya berjalan sesuai aturan yang dianggap benar.

Arga menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang sedikit berpacu lebih cepat dari biasanya.

Ia meremas tangan Diana lebih erat lagi, memberi isyarat diam-diam bahwa ia ada di sana untuk melindungi istrinya, apa pun yang terjadi.

“Ibu,” panggil Arga sekali lagi, suaranya kini lebih tenang dan mantap.

“Izinkan aku menjelaskan semuanya, tanpa ada yang disembunyikan. aku tahu ini mengejutkan, dan aku mengerti kenapa Ibu merasa tersinggung karena aku tidak memberitahu lebih dulu. Tapi percayalah, aku memiliki alasan yang kuat untuk itu.”

Nyonya Amara tetap diam, matanya tidak beralih dari wajah Diana.

Aku merasa di tatap pedang panjang yang menghunus langsung ke tulang. Batin Diana ngeri ketika melihat tatapan ibu mertuanya.

Nyonya Amara mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar Arga berbicara. “Baiklah. Jelaskan. Siapa gadis ini, dan mengapa dia berdiri di sampingmu dengan posisi yang seharusnya hanya dimiliki oleh satu orang saja—istri sahmu.”

Diana merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Ia menunduk sedikit, mencoba menahan rasa gugup yang meluap, namun ia berusaha tetap berdiri tegak.

Arga merasakan itu, lalu melangkah sedikit ke depan, menempatkan dirinya sebagai perisai bagi istrinya.

“Ibu, Dia istri sah- ku, Diana Ayuningtyas. Dan Kami sudah menikah secara resmi di mata hukum maupun agama.” jelas Arga dengan nada tegas namun tetap penuh rasa hormat.

Mendengar pernyataan itu, raut wajah Nyonya Amara tidak berubah secara drastis, namun sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis yang terasa dingin.

Beliau memukulkan ujung tongkat kayunya perlahan ke lantai, menciptakan bunyi yang menggetarkan suasana.

“Menikah?” ulang Nyonya Amara pelan, nadanya terdengar mengejutkan namun tetap terkendali.

“Kamu menikah, Arga? Tanpa memberitahu ibumu? Tanpa meminta pertimbangan keluarga? Dan lihatlah perbedaan usia kalian. Dia masih sangat muda, bahkan mungkin lebih muda dari Gilang, anakmu sendiri. Apakah ini keputusan yang diambil dengan akal sehat, atau hanya dorongan sesaat yang nantinya akan menyesatkan nama baik keluarga kita?”

Pertanyaan itu menusuk langsung ke sasaran.

Diana merasa dadanya sesak mendengar penilaian pertama itu, seolah ia dianggap hanya sebagai pengganggu atau wanita yang mengambil keuntungan.

Namun sebelum ia sempat merasa hancur, Arga segera menjawab dengan suara yang lebih lantang dan meyakinkan.

“Usia hanyalah angka, Bu. aku tahu apa yang aku lakukan, dan aku tahu siapa istriku. Awalnya, memang perkenalan kami terjadi dalam situasi yang mendesak.

akumenikahinya untuk melindunginya dari situasi yang sulit, dan juga untuk memberi dia tempat berlindung yang aman.

Tapi seiring berjalannya waktu, perasaanku berubah. aku tidak lagi melihatnya sebagai kewajiban semata, melainkan sebagai wanita yang aku cintai seumur hidup.”

Arga menoleh sebentar ke arah Diana, memberikan pandangan penuh keyakinan, lalu kembali menatap ibunya.

“Diana bukan wanita yang seperti ibu pikirkan, dan aku sudah memilihnya. aku bukan menyembunyikan ini karena ingin menentang Ibu,

melainkan ingin memastikan dulu perasaan kami benar-benar kuat sebelum aku memberitahu ibu, agar Ibu tidak khawatir atau merasa ragu dengan keputusan kami”

Nyonya Amara mendengarkan dengan seksama, matanya menyipit seolah sedang menilai kebenaran dari setiap kata yang keluar dari mulut putranya.

Kemudian, perlahan namun pasti, pandangannya kembali beralih ke arah Diana.

“Kamu, Diana,” panggil Nyonya Amara, suaranya lembut namun memerintah.

“Angkat wajahmu. Jangan menunduk seperti orang yang bersalah. Jika kamu memang istri sah anakku, tunjukkan sikap yang pantas.”

Diana menelan ludah, menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberanian.

Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap lurus ke mata wanita tua itu dengan tatapan yang tenang, dan tanpa rasa takut.

Ia memberi hormat dengan membungkukkan badannya dalam-dalam,

“Maafkan aku, Nyonya. Aku, Diana. Aku tahu pernikahan kami terjadi secara mendadak dan mungkin terasa tidak wajar di mata banyak orang.

Tetapi aku berjanji, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi istri yang baik bagi Mas Arga, dan menempatkan diri saya dengan benar di dalam keluarga ini,” ucap Diana dengan suara yang tenang, jelas, dan tidak bergetar meski hatinya sedang berdebar kencang.

Arga menyembunyikan senyumnya karena panggilan itu, dia benar-benar merasa di cintai dan di akui tanpa ragu.

Jawaban itu membuat alis Nyonya Amara sedikit terangkat.

Apalagi melihat kelakuan anaknya yang terlihat malu-malu seperti anak SMA.

Nyonya Amara cuma geleng-geleng kepala, gak habis pikir dengan itu

Beliau juga tidak menyangka gadis muda itu bisa berbicara dengan begitu tenang dan sopan di tengah tekanan yang begitu berat.

Selama ini, banyak orang yang bahkan tidak sanggup menatap matanya lebih dari tiga detik, apalagi berbicara dengan nada yang tetap menjaga harga diri.

“Kamu berani,” komentar Nyonya Amara, nadanya masih datar namun tidak lagi terdengar seketat tadi.

“Kamu tahu, Arga adalah kepala keluarga Wijaya. Dia bukan orang biasa. Menjadi istrinya berarti kamu harus siap menghadapi tatapan orang banyak, standar kehidupan yang tinggi, serta tanggung jawab yang besar.

Apakah kamu yakin hatimu cukup kuat untuk berdiri di sampingnya, bukan hanya saat senang, tapi juga saat ada masalah, gosip, atau pandangan miring dari lingkungan sekitar?”

Diana mengangguk mantap, senyum tulus terukir di bibirnya.

“Aku siap dengan segala konsekuensi nya, Nyonya. kebahagiaan tidak ditentukan oleh apa yang orang lain pikirkan, melainkan dengan apa yang aku rasakan dan jalani bersama suamiku. Selama Mas Arga percaya padaku, selama aku tahu aku tidak melakukan kesalahan, aku siap menghadapi apa pun. Saya tidak akan lari atau menyerah.”

Menarik ! Batin nyonya Amara

Kata-kata itu terdengar sederhana, namun ketulusan yang terpancar dari wajah Diana sulit untuk disangkal.

Nyonya Amara terdiam lama, matanya meneliti lebih dalam, seolah mencoba mencari kebohongan atau kepura-puraan di balik tatapan gadis itu.

Namun yang beliau temukan hanyalah ketenangan dan kejujuran.

Sudah ku bilang, aku tidak salah memilih istri. Batin Arga kegirangan

Dia tersenyum kecil , bangga melihat istrinya bisa menjawab dengan begitu tenang.

Setelah mendengar semuanya, Nyonya Amara menghela napas panjang, lalu menumpukan kedua tangannya di atas gagang tongkatnya.

Suasana yang tadinya tegang perlahan mulai mencair, meski belum sepenuhnya hilang. Beliau menatap Arga, lalu berbicara dengan nada yang lebih lembut namun tetap tegas.

“Arga, kamu sudah dewasa. Kamu adalah kepala keluarga dan kamu memiliki hak untuk menentukan jalan hidupmu sendiri. aku tidak bisa melarang, dan aku juga tidak ingin menjadi ibu yang hanya mengatur tanpa memahami,” ujar Nyonya Amara, membuat Arga dan Diana terkejut mendengar nada bicara yang berubah.

“Namun ingatlah satu hal,” lanjutnya, matanya kembali menatap keduanya.

“Jika kamu sudah memutuskan, maka pertanggungjawabannya ada di pundakmu. Jangan sampai suatu saat nanti kamu menyesal dan menyalahkan keputusan ini. Dan untukmu, Diana,” Nyonya Amara mengalihkan pandangannya lagi.

“Saya belum sepenuhnya merestui dengan mudahnya, karena butuh waktu untuk mengenal dan melihat kenyataan. Tetapi saya akan memberimu kesempatan untuk membuktikan diri. Buktikan bahwa kamu layak mendampingi anakku, dan bisa menjaga keharmonisan rumah tangga ini.”

Mendengar kalimat itu, beban berat yang menekan dada Diana seolah terangkat setengahnya.

Ia merasa sangat lega, namun tetap sadar bahwa ini baru awal, bukan akhir dari ujian.

“Terima kasih banyak, Nyonya . aku akan berusaha sebaik mungkin,” jawab Diana dengan tulus.

Arga pun merasa sangat lega. Ia melangkah mendekat, lalu mencium punggung tangan ibunya.

“Terima kasih, bu. aku janji, saya tidak akan membuat Ibu kecewa, dan Diana juga akan membuat Ibu bangga nantinya.”

Nyonya Amara tersenyum kali ini, senyum yang terasa lebih hangat dan tulus.

Beliau menoleh ke arah Bi Mari yang berdiri di sudut ruangan. “Bi Mari, siapkan minuman dan camilan. Kita sudah cukup lama berdiri dan berbicara. Biarkan saya duduk lebih lama bersama anak dan menantu baru saya.”

Arga dan Diana akhirnya bisa bernafas lega,

Sejak tadi, Diana menahan kantung kemihnya yang sudah penuh. Dia tidak berani bergerak dan meminta izin.

Diana pamit sebentar kepada suami dan mertuanya.

Setelah Diana pergi, Arga mendekati ibunya dan berbicara serius.

"Ibu, bisa kita bicara berdua, di ruang kerjaku!" Ujar Arga,

Nyonya Amara menoleh, dan menampakkan wajah heran.

"Ini lebih penting Bu!"

"Baiklah"

Setelah di ruang kerja, Arga menutup pintunya rapat.

Mereka duduk di sofa.

Arga kembali mengatur nafasnya, seolah ragu untuk mengatakannya

"Berapa banyak lagi yang kau sembunyikan Arga" Suara Ibunya terdengar tegas,

"Sebenarnya.... Diana, Dia... Dia mantan kekasih Gilang" Cicit Arga,

Dan Duarrrr.....

Dirinya sudah tua, tetapi kenapa tidak ada satupun, entah itu anaknya atau cucunya. Semuanya membuat kepalanya pusing.

Dengan keras, ibunya memukulkan tongkat ke punggung Arga.

"Dasar tua Bangka! Apa yang kamu pikirkan Arga ? Bagaimana bisa kamu menikah kekasih anakmu sendiri? Kamu merebut nya dari Gilang?" Ujar Nyonya Amara dengan marah.

Untung saja, ruangan itu kedap suara.

"Awss... Aw... Ibu, aku bukan anak kecil. kenapa ibu selalu memukulku dengan tongkat, aku sudah dewasa, ibu tau!" Keluh Arga sambil menghindari pukulan ibunya.

Tetapi Nyonya Amara belum puas. Dia terus melakukannya.

"Apanya yang dewasa ? Kau tau kau sudah tua ! Tapi kenapa kelakuanmu seperti ini, Astaga. Kapan aku di beri ketenangan di usia ku yang sudah senja ini tuhan" Dia duduk kembali setelah di rasa puas

Arga memberikan segelas air dan langsung di terima ibunya dengan wajah galak.

"Dengarkan aku dulu, Semua itu juga karena Gilang !"

Arga menjelaskan semuanya dengan detail, tentang masa lalu Diana dan Gilang, tentang penghianat dan sampai akhirnya mereka menikah.

Semuanya Arga jelaskan, tanpa ada yang terlewat.

"Gilang tau ?" Tanya Nyonya Amara pada akhirnya

Arga menggeleng dan itu membuat ibunya semakin geleng-geleng kepala.

"Ibu sudah pusing, kalian selesaikan semuanya sendiri. Ibu tidak akan ikut campur apapun, demi tuhan. Biarkan ibu hidup tenang kali ini" Ujar Nyonya Amara prustasi sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut.

Arga pun mengikutinya dari belakang seperti anak ayam.

Mereka kembali duduk bersama, sudah ada cemilan dan minuman hangat.

Arga duduk diam melihat ibunya meminum teh.

Tidak lama kemudian, Diana kembali dan bergabung dengan mereka.

Diana sedikit heran melihat raut wajah keduanya.

Bukankah tadi sudah sedikit mencair, kenapa sekarang suasananya kembali ngeri. Batin Diana

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!