Masih ingat dengan putra bungsuh Pak Zain dan Bu Jihan,
Yes... Labib Muhasibi Khoirul Musthofa yang biasa di panggil Bibi, adek dari Zula
Yang mana kini tumbuh dewasa menjadi laki laki tampan yang cukup dingin
sikapnya bar bar turunan dari kakak dan juga Uminya, yang sering pergi bermotor besar untuk mendatangi tongkrongan para remaja dan tkngkrongan gak jelas
dengan tujuan untuk berkumpul sekaligus berdakwah,
Ya namanya anak kyai se nakal nakalnya dia tetap sholat puasa dan juga mengaji
walaupun aneh dan sering di bilang gus kok tukang nongkrong
tapi itu hanya omongan manusia netizen saja, tapi saat di rumah dia juga punya pesona tersendiri bagi para santri putri
wajah tampannya mampu menghipnotis para santri putri saat mengaji,
walaupun sikapnya yang super duper dingin seperti di kutup utara, dan justru itu yang makin membuat mereka terpesona pada Gus Bibi
gimana kelanjutan ceritanya.. yuk simak.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulfatun khasanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan istri
" Lho emang kenapa? Ada apa kok buru buru balik ke RS lagi" tanya Heny pada El yang terkesan buru buru
Padahal mereka berdua baru saja pulang bareng karena setiap harinya El dan Heny selalu pulang pergi bareng ke Rumah Sakit
" Ryan jatuh dari tangga, ini OTW ke rumah sakit" jawab El sambil kembali siap siap
" Innalillahi... Kok Papi gak langsung ke rumahnya aja" ucap Heny cukup Syok mendengar kabar itu
" Di rumah Umi lho sayang, makanya Papi langsung nunggu aja di Rumah sakit" jawab El sambil mengenakan jas putihnya
" Ya Allah.. Ya udah Papi juga hati hati ya... Jangan buru buru, pelan pelan" jawab Heny juga khawatir
" Ya Udah papi ke rumah sakit dulu ya," jawab El dan mencium kening Heny
" Iya.... Hati hati sayang" jawab Heny lembut
" Assalamualaikum" ucap El saat keluar dari kamarnya
" Waalaikumsalam..." jawab Heny dan mengikuti langkah El yang keluar dari kamarnya
Di pintu gerbang depan, lebih tepatnya di area tempat parkir, Bibi baru saja memarkirkan motornya
Pandangan para santri putri saat mendengar suara motor Bibi saat masuk
Seluruh komplek perumahan di sana hampir 50 % Sudah di miliki oleh El, dan makin luas sehingga bisa membuat pondok pesantren sekaligus sekolah yang mana cabang dari BNT dan juga TBS dari Abang Al
Di situ dia bukan hanya sekolah biasa formal, melainnkan lebih tepat ke SMK,
Banyak jurusan jurusan di sana, termasuk juga digsainer, tata busana, tata boga, farmasi, keperawatan, bisnis dan TKJ juga ada, masih banyak lagi
Sebagai pengasuh El hanya mengawasi saja, El tidak sepenuhnya terjun, El terjun di bagian ngaji kitab malam sama setoran saja, untuk sekolah dan lainnya udah ada dewan guru dan juga dewan asatidz wa asatidzah yang mengabdi di sana
" Gus Bibi" ucap santri putri saat melihat kedatangan Bibi yang baru saja melepas helemnya
" Masyaallah gantengnya" ucap Salah satu santri yang setiap kali melihat wajah Bibi selalu memuji ketampanannya
" PESONA KETAMPANAN GUS memang berbeda" ucap mereka lagi sambil menatap terus wajah Bibi
Bibi gak sadar akan tatapan para santri putri kepadanya
Dia mah cuek aja namanya anak turunnya Umi Jihan yang selalu cuek
Bibi berjalan hendak ke Ndalem terlebih hadulu banyak santri putri yang di lewatinya terhenti sejenak saat melewati Bibi
Untuk sebuah adab dan kesopanan mereka pada sang guru
" Mau kemana bang?" tanya Bibi saat berpapasan pada El yang hendak keluar dan terlihat buru buru
" Ryan jatuh beneran?" tanya El balik pada Bibi
" Enggak... Di rumah sehat aja, " jawab Bibi santai dan belum tau
Karena Ryan jatuh saat Bibi sudah berangkat ke rumah El
" Tapi tadi Aira telfon jatuh Papanya di rumah Abah" ucap El lagi ingin memastikan
" Kapan?" tanya Bibi balik.
" Barusan sekitar 15 menit yang lalu, ini mereka lagi OTW ke rumah sakit" jawab El lagi
" Lha kalau 15 menit yang lalu gak tau dong bang, Gue udah OTW di perjalanan" jawab Bibi yang benar tidak tau apa adanya
" Ya udah... Nitip santri magrib nanti sorogan, Abang ke rumah sakit dulu" jawab El lanjut jalan
" Okey.." jawab Bibi santai lanjut masuk kedalam
" Innalillahi... Kenapa tuh orang jatuh segala" jawab Bibi sambil jalan
di jalan Jihan dan rombongan masih menerobos jalan yang mana sirine sudah di bunyikan, dan satu persatu kendaraan pada minggir
Jalanan yang mulanya padat merapat dan bisa di tempuh lebih dari satu jam kalau sore kayak gini, kini dengan 40 menit mereka sampai di rumah sakit
El sudah menyiapkan perlengkapannya dan sudah menunggu di pintu utama lobi rumah sakit
Dengan gerakannya yang cepat El yang mendengar sirine mobil ambulance langsung bergegas pas di saat adzan magrib berkumandang
Dengan gerak cepatnya Dan sat set kini El dan timnya langsung memapaknya dan langsung di bawa ke ruang IGD
" Abang. Tolong bang Ryan bang" ucap Zula di pelukan El
" Iya kita berdoa dan berusaha sama sama ya, mudah mudahan gak kenapa napa, dan bisa sembuh sehat kembali" ucap El pada Zula yang kini di dekapnya
" Umi Abah" ucap El tak lupa bersalaman dengan Kedua orang tuanya
" Masuk dulu priksa dulu" ucap Zain pada El
" El sholat sebentar ya bah, waktunya begitu mepet dan sempit kalau magrib, biar di kasih infus dulu, tadi udah di priksa kan sama Umi" jawab El dan Umi Jihan mengangguk
" Kalau Umi lihat sepertinya gak kenapa kenapa cuman benturan saja, cuman coba nanti di rogen dulu, takut ada pendarahan atau gimana di dalam" jawab Jihan sesuai yang dia priksa saat di rumah
" Priksa dan lihat kondisi bang Ryan dulu bang" ucap Zula sangat khawatir pada suaminya
Walaupun Zula di buat sakit hati sama Ryan, di buat jengkel sama Ryan dan keluarganya, tapi di saat seperti ini Zula sebagai istri tentu tidak tega dan khawatir melihat kondisi suaminya
Bahkan istri justru sangat merasa bersalah dan takut suaminya kenapa
" Iya Pakde, tolong pap dulu" ucap Aira yang sudah menangis juga
" Pakde gak bisa apa aoa tanpa bantuan Allah nak, pakde juga mau minta pertolongan sama Allah, untuk bisa memeriksa papa dan juga mengobati papa" jawab El mengelus kepala Aira
" Iya loe sholat gak? Kalau gak sholat temani dulu Ryan nanti setelah Abang sholat langsung abang tangani" tambah El pada kedua perempuan yang dia sayangi
Adek kesayangannya ini dan juga keponakannya itu
Lalu mereka pasrah dan mengangguk kemudian El mengantar mereka ke ruang IGD yang mana Ryan masih tergeletak lemas dan belum sadar
" temani dulu ya, pakde sholat sebentar" ucap El pada mereka dan mereka menjawab dengan anggukan
Kemudian El keluar dan segera menuju ruang sholat terdekat biar gak jauh jauh keruangan atau kasjid rumah sakit
Abah Zain dan Umi Jihan sudah di antar terlebih dulu dengan penanggung jawab rumah sakit
Apa lagi Abah Zain dan Umi Jihan adalah pendiri rumah sakit tersebut
Setelah sekitar 15 menit El kembali lagi dan siap untuk memeriksa
Di dampingi dengan kedua perawat yang akan membantunya lalu siap untuk memeriksa dan merongen Ryan
" Abang Ula di sini aja boleh ya" ucap Zula pada El
" Ya udah tapi jangan brisik, berdoa doain suaminya" jawab El akhirnya mengizinkan
Ya El tau adeknya tentu sangat khawatir pada suaminya
Walaupun El tau mereka sering berantem tapi cinta tidak bisa menjadi penghalang segalanya
Mereka saling cinta, jadi keadaan seperti ini pasti sebagai penyesalan terdalam dari seorang istri
Aira tak jauh dari Mamanya seorang seleb
Apa lagi dia saat ini telah libur kuliah, dia kuliah di luar kota saat ini sedang libur semester jadi dia di pulang ke rumahnya dan mengambil cuti dari pondoknya
Aira adalah salah satu santri di salah satu pondok terbesar di Yogyakarta sekaligus mahasiswi di Universitas ternama di Yogyakarta
Aira mengambil foto Papanya yang terbaring lemah denga cuption emogi air mata
Yang seketiKA CCTV keluarga Papanya melihat pertama kalinya
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤