NovelToon NovelToon
SCANDAL Part II: To Cacth A Star

SCANDAL Part II: To Cacth A Star

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jee Jee

SCANDAL Part II: To Catch a Star

Sinopsis:

Bagi dunia, Galasky Ardayana (35 tahun) adalah definisi kesempurnaan. Aktor papan atas yang telah merajai layar kaca selama 12 tahun, pewaris tunggal Ardayana Group yang membangkang, dan pria lajang yang paling diinginkan se-Indonesia. Namun, di balik lampu spotlight, Gala adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan di masa kuliah membuatnya menutup pintu hati rapat-rapat, lebih memilih hidup sebagai "perjaka tua" daripada harus terluka lagi.

Namun, ketenangannya hancur saat Airaya Greline Pradipta (19 tahun)—putri dari sahabat karibnya sendiri, Elang Adytama—muncul kembali sebagai gadis dewasa yang luar biasa cantik... dan sangat berani.

Yaya tidak main-main. Dia tidak peduli dengan perbedaan usia 16 tahun. Dia juga tidak peduli kalau Gala adalah orang yang sering menggendongnya saat ia masih bayi. Bagi Yaya, Gala adalah satu-satunya pria yang harus ia taklukkan.

"Om Gala, jangan sok jual mahal. Daripada diledekin perjaka tua terus sama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

...

Pagi-pagi buta, saat kabut tipis masih menyelimuti jalanan ibu kota dan sisa-sisa emosi jam tiga subuh tadi masih menyumbat dadanya, ponsel Galasky Ardayana sudah berdering seolah ada panggilan darurat nasional. Dengan kepala yang berdenyut pening akibat kurang tidur dan jantung yang lelah sehabis disko cemburu, Gala meraih benda pipih itu. Layarnya menampilkan nama Keenan.

"Sialan... kenapa sih abang-abang gue ini hobi banget repotin gue? Bangke lah! Mentang-mentang gelar jomblo karatan masih melekat, dijadikan alasan mulu buat jadi keset!" umpat Gala sambil menyugar rambutnya yang berantakan.

Niatnya untuk diam di apartemen, mengurung diri setelah dengan sengaja mengunci akses pintu digital untuk meredam keliaran Airaya, terpaksa gagal total. Keenan menelepon dengan suara penuh keputusasaan, meminta Gala datang detik itu juga karena mengira sang aktor adalah manusia paling santai sejagat raya yang tidak punya jadwal syuting hari ini. Padahal Gala sudah mengorbankan nama besar keluarga Ardayana untuk membolos dari lokasi syuting demi menata kembali warasnya yang hampir hilang.

Mau tidak mau, dengan sisa-sisa tenaga nya, Gala menyambar kunci mobil. Dia meluncur membelah jalanan menuju kediaman Keenan. Setibanya di sana, pemandangan yang menyambutnya jauh lebih tragis dari sekadar lokasi syuting film perang. Ruang tamu berantakan. Mainan robot dan boneka berserakan layaknya kapal pecah.

Keenan berdiri di tengah ruangan dengan kaos dalam yang melorot di satu sisi bahu, tampak frustrasi mengawasi dua anak nakalnya yang sedang mode aktif penuh. Yang laki-laki, Keyran, sudah duduk di bangku sekolah dasar tapi kelakuannya masih gemar memanjat. Sementara yang perempuan, Keya, baru menginjak umur empat tahun namun suara melengkingnya sanggup memecahkan kaca.

Usut punya usut, Mutia—istri Keenan—sedang pergi sejak subuh bersama Karin adeknya untuk menghadiri acara reuni kelas mereka waktu SMA. Jadilah sang mantan anak motor itu terdampar menjadi bapak rumah tangga tunggal yang kewalahan.

"Bantuin gue jagain mereka, Gal. Anggap aja ini investasi masa depan. Biar lo nanti kalau nikah dan punya anak, udah punya pengalaman mumpuni," kata Keenan dengan wajah tanpa dosa, menyodorkan segelas kopi instan ke tangan Gala.

"Gue gak lagi ngerepotin lo, tapi ini namanya ngasih edukasi stimulasi pernikahan. Gambarannya kayak gini, Gal. Sesibuk-sibuknya kita para suami di luar sana, kalau udah urusan domestik begini, tetep harus nurut dan tunduk ke istri."

Gala mendengus sinis, hampir saja menyemburkan kopi di mulutnya. "Ya elah, Bang! Dari zaman purba gue udah dapet stimulasi dini dari kalian semua! Gak anaknya Bang Elang, gak anaknya lo, anak abang-abang sirkel motor yang lain juga kalau urusan repot pasti gue yang dipanggil buat bantuin! Nasib deh... dipikir seorang Galasky Ardayana gak punya kerjaan apa ya?" omel Gala panjang lebar.

Meskipun mulutnya mengomel sekencang knalpot motor balap, insting kebapakan Gala yang tersembunyi tidak bisa bohong. Kakinya melangkah menghampiri Keya, gadis kecil imut berpipi gembul yang sedang sibuk menarik ekor kucing mainan

Gala berjongkok, dengan gerakan yang sangat telaten dan lembut, dia mengangkat tubuh mungil Keya ke dalam gendongannya. Gala mengecup pipi gembul Keya dengan sayang, melupakan sejenak beban pikiran yang menggelayuti otaknya sejak semalam.

"Halo, princess-nya Om Gala? Kok makin gembul sih, hm?" sapa Gala hangat, suaranya melembut 180 derajat, meskipun di dalam hati dia masih sibuk mengabsen nama ayahnya si Keya dengan sumpah serapah.

Keenan yang melihat pemandangan itu justru terkekeh geli, menepuk bahu tegap Gala dengan keras. "Nah, tuh! Liat, udah cocok banget lo jadi ayah, Gal. Kapan lagi mau nyusul si Regal yang bininya baru lahiran? Masa betah banget jadi bujang lapuk karatan sendirian?"

Gala langsung memutar bola matanya malas, menunjuk ke arah sudut ruangan dengan dagunya. "Urus noh si Keyran! Liat kelakuan anak lo, malah manjat lemari TV! Ntar kalau jatuh terus jidatnya benjol, lo yang diomelin habis-habisan sama emaknya, Bang! Sibuk aja ngurusin hidup gue lo, urus dulu rumah tangga lo yang mirip pasar kaget ini!" jawab Gala ketus bercampur sinis, yang justru ditanggapi oleh tawa menggelegar dari Keenan.

Waktu bergulir lambat. Setelah melewati sisa hari yang melelahkan sebagai baby sitter dadakan di rumah Keenan, Gala akhirnya bisa meloloskan diri. Dia melajukan mobilnya kembali menuju apartemen, tiba tepat pukul tiga sore. Sepanjang perjalanan, fokusnya benar-benar pecah. Di satu sisi, kepalanya dipenuhi oleh bayangan daster sapi dan aroma stroberi. Di sisi lain, dia ingat betul bahwa dia sedang mengunci rubah licik itu di dalam rumah tanpa akses keluar sama sekali.

Entah apa yang sedang dilakukan Aira saat ini di dalam apartemen. Apakah gadis itu sedang mengamuk memecahkan barang? Apakah dia sedang menangis merutuki nasibnya? Atau malah sedang menyusun rencana gila berikutnya? Gala mendadak didera rasa khawatir yang tidak nyaman. Rasanya emosinya masih membakar ulu hati, kemarahannya belum surut, tapi ada rasa tidak tega yang menyelinap saat membayangkan dia meninggalkan gadis itu tanpa kata sejak subuh tadi.

Pip-pip-pip-pip... Cklek.

Gala mendorong pintu apartemennya dengan sangat pelan, bersiap menghadapi serangan fisik atau makian dari sang Tuan Putri. Namun, suasana yang menyambutnya justru sunyi senyap. Tidak ada suara TV yang menggelegar, tidak ada sosok Aira yang duduk angkat kaki di atas sofa dengan baju kurang bahannya yang memancing iman. Apartemen itu hening seolah tidak berpenghuni.

Langkah kaki Gala terhenti saat matanya tertuju ke arah dapur open space. Di atas meja makan yang bersih, tertata rapi beberapa piring masakan rumahan. Ada tumis kangkung terasi yang warnanya sudah menggelap dan telur ceplok setengah matang yang bagian kuningnya sudah mengeras. Semuanya sudah dalam kondisi dingin, menandakan makanan itu sudah dimasak sejak berjam-jam yang lalu.

Sudut bibir Gala refleks tertarik, membentuk sebuah senyuman simpul yang sangat tipis. Dia tahu betul ini pasti effort dari Aira untuk meminta maaf. Gala melangkah mendekat, menarik kursi, lalu duduk di sana sendirian. Tanpa ragu, dia mengambil sendok dan mulai menyuap masakan rumahan yang sudah dingin itu ke dalam mulutnya. Gala memakannya dengan lahap, menghabiskan setengah porsi sebagai tanda bahwa dia sangat menghargai usaha keras gadis nakal itu untuk mengetuk pintu maafnya.

Namun, rasa menghargai tidak serta merta menghapus noda hitam di hatinya. Rasa marahnya tidak berkurang sedikit pun. Lebih tepatnya, rasa cemburu saat mengingat bagaimana tangan laki-laki lain dengan santai menyentuh pundak mulus wanitanya.

Itu adalah titik kebencian terdalam seorang Galasky Ardayana. Trauma masa kuliahnya mendadak berdenyut ngilu lagi. Dia paling benci terlibat dalam sebuah hubungan emosional karena dia selalu merasa takut, pada akhirnya, dia hanya akan dijadikan mainan yang dipermainkan lagi dan lagi oleh sifat egois seorang wanita. Dan kelakuan nekat Aira semalam bener-bener menyentil ketakutan terbesarnya itu.

Selesai makan, Gala melangkah masuk ke kamar utamanya. Dia melepas kemeja linennya, menyalakan shower air dingin, dan membiarkan air mengguyur tubuh atletisnya untuk menyegarkan diri sekaligus membilas sisa-sisa penat dari rumah Keenan.

Selesai mandi dan berganti pakaian dengan kaos oblong bersih, terpaan pikiran tentang Aira tetap tidak bisa luput dari otaknya. Kamar tamu di ujung lorong itu masih tertutup rapat. Rasa penasaran dan cemas akhirnya mengalahkan egonya. Dengan langkah kaki yang sengaja dibuat seringan mungkin di atas lantai parket, Gala berjalan mendekati kamar tamu. Dia ingin mengecek apakah gadis itu baik-baik saja di dalam, atau justru sedang merencanakan aksi kabur lewat jendela balkon.

Gala memegang kenop pintu kamar tamu, lalu memutarnya dengan perlahan sebelum mendorongnya terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu.

Cklek.

Di dalam kamar yang temaram karena gordennya ditutup rapat, Aira langsung terkesiap dengan tubuh yang menegang kaku di atas tempat tidur.

Gadis itu ternyata sedang menangis bombay di balik selimut, memeluk guling erat-erat dengan ponsel yang ditempelkan di telinganya. Air matanya mengalir deras membasahi pipi polosnya yang tanpa make-up, hidungnya memerah, dan suaranya terdengar senggukan saat dia sedang sibuk melakukan panggilan telepon luar negeri bersama Shaka. Yaya sedang melancarkan aksi drama tingkat dewa, mengadu dengan nada merana seolah dunianya baru saja runtuh total karena Shaka pergi ke Harvard dan tidak ada yang melindunginya di mansion.

Padahal, semua air mata dan rintihan sedih itu murni hanyalah akting bulus belaka! Aslinya, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Yaya justru merasa sangat senang dan bersyukur karena kembarannya itu pergi jauh ke Amerika. Artinya, dia mendapatkan kebebasan 100 persen tanpa perlu khawatir diikuti atau dimata-matai oleh kloningannya yang super protektif dan menyebalkan itu.

Yaya sengaja menangis dramatis di telepon hanya agar Shaka di sana tidak mencemaskannya, sekaligus memastikan sang kembaran tidak akan curiga kalau saat ini Aira sedang bertingkah ugal-ugalan menaklukkan om-om matang di Jakarta.

Namun, semua skenario drama air mata palsu dan tangis bombay yang sedang dirancang rapi oleh Tuan Putri Adytama itu mendadak buyar dan membeku di udara saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka lebar secara mendadak.

Mata sayu Aira yang basah oleh air mata langsung melotot lebar, menatap horor ke arah ambang pintu di mana sesosok pria tegap dengan kaos oblong hitam dan tatapan dingin sedang berdiri di pintu memperhatikannya.

1
Desy Bengkulu
wala mak posesifnyoooo
langsung di kurung yeeee
🤣🤣🤣🤣🤣🤣om om mateng satu ini emang beda
jhiee: wkwkwk iya dong🤣 tapi maklum aja si Aira emang segenit itu🤣🤣
total 1 replies
Desy Bengkulu
wah si gala lebih serem dari elang ternyata yee gila🤣🤣🤣
jhiee: hahahah🤣🤣 salahin aja tuh om om yang lain, eh salahin aja si elang yang bilang dia gak ada nafsunya sama anak kecil🤣
total 3 replies
jhiee
ya bingung juga beb😭 masa gala jadi penjahat sih.. yang rubah licik kan si yaya🤧
Desy Bengkulu
aku komen satu rangkap aja ya beb
di sini kesannya gala jadi tersangka yang paling jahat ya ?!
Desy Bengkulu
hihihihi kayk mbak kunti aku beb cekikikan sendiri seneng banget up cerita yang ini
semngat beb , aku selalu menanti karya2 mu love you😘😘😘😘😘
jhiee: love you to🥺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!