7 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk pasangan suami isteri Mia dan Shendy membina rumah tangga, dan kebersamaan mereka selama ini kurang lengkap karena belum hadirnya buat hati di tengah-tengah kehidupan mereka
Shendy memang tidak mempermasalahkan hal itu, bisa hidup bahagia bersama sang isteri sudah cukup baginya namun berbeda dengan Mia, wanita itu selalu merasa kesepian dan sedih kerap kali membayangkan adanya kehadiran anak di rumah mereka
Bahkan Sendy kerap kali harus menghibur sang isteri setiap kali mendengar kabar berita kehamilan para sahabatnya
Shendy merupakan sosok yang penyabar dan sangat mencintai isterinya tapi rasa cintanya di uji ketika sang isteri mengungkapkan keinginan konyolnya pada Shendy hingga membuat pria tersebut marah besar dan terjadilah pertengkaran hebat diantara keduanya
Apakah keinginan konyol sang isteri hingga membuat Shendy yang penyabar itu marah besar?
Simak terus cerita selanjutnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dianshen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
" Aku tidak percaya!" tegas Sendy setelah memeriksa isi dari dalam amplop coklat tersebut
" Terserah kau mau percaya atau tidak, karena keduanya pun tidak menguntungkan apapun untuk ku" ketus Siska
Sendy memutar bola matanya malas, ia sepertinya tidak bisa meremehkan wanita yang ada di hadapannya saat ini, ia begitu licik dan pandai bermain kata
" Tapi aku percaya mas!" ucap Mia membuat Sendy langsung menoleh ke arahnya
" Kau jangan mau di bodohi oleh mereka Mia?"kesal Sendy menatap Mia dengan tajam
" Mas, aku juga ingin membantu Marisa aku sudah melihat semua rekam medis tentangnya" tutur Mia
" Kau jangan bodoh Mia" geram Sendy
" Ya aku memang bodoh mas, tapi isterimu yang bodoh ini menginginkan anak darimu mas, dan Marisa juga memiliki keinginan yang sama memberimu anak sebagai hadiah pernikahan untuk kita mas dan sebagai kenangan terakhir untuk mu" tutur Mia dengan polosnya
" Kau sudah gila Mia, gunakan otakmu" kesal Sendy yang tidak tahu harus bagaimana menghadapi isteri keras kepalanya itu
" Mas aku mohon mas!" pinta Mia membuat Sendy frustasi dibuatnya
Marisa tersenyum tipis saking tipisnya hanya dia dan tuhan yang tahu begitu juga dengan Siska didalam hati wanita picik itu ia bersorak penuh kemenangan karena mampu mempengaruhi Mia dengan mudahnya
" Aku ingin kamu segera menikah dengan Marisa mas" ucap Mia yang sontak saja ucapannya itu membuat Sendy terbelalak
" Mia jangan asal mengambil keputusan kamu!" sentak Sendy
" Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan mama, papa dan juga kedua orang tuamu?"
Mia terdiam, ia hampir lupa tentang perasaan orang tua mereka jika tahu Sendy menikah lagi
" Mas, mereka tidak perlu tau hal ini" ucap Mia tiba-tiba
Sendy melotot " Apa kau sudah tidak waras? bagaimana bisa kau berpikir semudah itu?"
Mia menghela napasnya panjang " Mas tidak ada cara lain, nanti jika Marisa sudah melahirkan anak mu baru kita beritahu mereka" tutur Mia
" Lalu apa yang akan kamu katakan pada mereka?" tanya Sendy
" Kalian bilang saja kalau anak yang nanti aku lahirkan adalah anak kalian!" bukan Mia yang menjawab tapi Marisa
" Setelah anak itu lahir anak itu akan menjadi anak kalian dan aku akan pergi dari kehidupan kalian!" lanjutnya lagi
" Aku tidak punya siapa-siapa lagi dan aku harap meskipun nanti aku tidak bersama kalian lagi tolong jangan pernah melupakan aku sebagai ibu dari anak kalian"
Mia tertegun dengan ucapan Marisa bahkan perasaannya yang sangat sensitif mudah sekali untuk menitikkan air matanya
" Mbak Mia maafkan aku karena aku sudah membuat kalian bertengkar" ucap Marisa dengan lirih
" Tidak Marisa, kau juga pantas mendapatkan kebahagiaan disisa waktu yang kau punya!" ucap Mia
" Aku mohon mas kabulkan permintaan ku dan juga keinginan Marisa yang ingin menjadi isteri mu walaupun hanya sebentar" ucap Mia
Sendy tersenyum kecut menatap Marisa " Bukankah kau ini sedang sakit parah lalu bagaimana kau bisa melahirkan anak untuk ku?"
Glek
Marisa dan Siska tercekat, mereka tergagap bingung harus menjawab apa
" Marisa memang sakit tapi bukan berarti dia tidak memiliki kesempatan untuk memiliki anak dan sebelumnya Marisa juga sudah menanyakan hal itu pada dokter yang menanganinya, dokter bilang Marisa masih bisa hamil hanya saja itu cukup membahayakan dirinya sendiri" tutur Siska
" Kalau itu membahayakan dirinya sendiri lalu untuk apa semua itu ia lakukan?"
Marisa tersenyum tipis " Karena aku masih mencintaimu dan untuk menebus semua kesalahan yang pernah aku lakukan padamu dimasa lalu aku rela melahirkan anak untuk mu walaupun nyawa menjadi taruhannya" sahut Marisa
" Mas aku mohon!" ucap Marisa memohon
Mia menatap Sendy, walaupun hatinya terasa sakit ia harus bisa menerima Marisa sebagai calon isteri suaminya sendiri
" Mas menikahlah dengan Marisa, aku ikhlas mas!" ucap Mia membuat Sendy menghela napas berat
" Aku tidak mungkin melakukan itu sayang, tidak akan pernah!" tolak Sendy dengan tegas
Bruk
Tiba-tiba saja Marisa pingsan dan hal itu membuat Mia dan Sendy cukup terkejut
" Ayo bawa dia ke rumah sakit!" teriak Siska dengan memasang wajah panik membuat Mia dan Sendy saling melempar pandangan sebelum menolong Marisa