“Pilih melayaniku atau … kuberitahukan pada semua orang kalau kamu Open B.O?”
Sasha terjebak dengan tindakan yang ia ambil tanpa berfikir panjang.
Sasha. Gadis berusia 18 tahun tersebut menolak mentah-mentah bantuan dari Austin, Si Ketua Geng Motor yang merupakan penyebab ayahnya koma dan tak bisa bangun entah sampai kapan. Ia memutuskan untuk Open B.O dan menjual mahkotanya dengan imbalan uang demi membayar biaya rumah sakit Sang Ayah.
Sebelum mahkotanya direnggut, Sasha memutuskan untuk membatalkan transaksi gelap tersebut. Sayangnya, saat ia tahu bahwa Austin lah yang mem-bookingnya, bukan hanya tak bisa membatalkan transaksi tersebut … Austin juga memaksanya melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan kesehariannya.
Penasaran hal apa saja 'kah yang mereka lalui berdua?
Ikuti kisah Sasha dan Austin dengan meng-subscribe novel ini! 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lihatlah! Dia Menggodaku!
..."Lihatlah! Wajah sendu dengan mata pasrah itu benar-benar menggodaku! Jangan salahkan aku jika malam ini aku tak berbelas kasih sedikitpun!" - Austin Xaquille Mendes...
...💨💨💨...
Di sebuah parkiran tepatnya di depan sebuah club malam yang ada di salah satu lingkungan elit di Jakarta Selatan, Austin menghentikan motornya.
"Nggak mau turun?" tanya Austin saat menyadari Sasha masih menggenggam erat pinggangnya.
Sasha membuka kaca helm. Lalu ia menatap sekeliling dengan tatapan yang aneh. "Kak, ini ... club malam ya?"
"Ayah sama Ibu nggak ngebolehin aku ke sini," sambungnya dengan nada yang pelan.
"Kan sekarang lagi sama aku? Kakakmu," tutur Austin tanpa rasa bersalah. "Atau kamu mau anggap aku pacar juga nggak apa-apa."
"Tapi, Kak. Kalo nanti ada orang jahat gimana?" tanya Sasha takut. Pasalnya, gadis ini benar-benar polos dan belum pernah menginjakkan kakinya ke dunia malam.
"Ada aku," sahut Austin sambil menyentuh kedua tangan Sasha yang sedang memegang pinggangnya. "Lagian, club ini punya temanku. Kamu nggak usah khawatir. Penjagaannya juga ketat."
Sasha mulai mempercayakan semuanya pada Austin. Ia turun dari motor, lalu ia melepaskan helm hitamnya. Saat helm dilepaskan, geraian rambutnya mulai tergerai dengan sempurna. Sesekali ia menggelengkan kepala sehingga rambutnya bergoyang-goyang.
"Ayo," ujar Austin setelah meletakkan helmnya dan Sasha ke atas motor. Tangan kirinya memegang pinggul Sasha.
"Eum ... Kak, aku nggak nyaman kayak gini," ucap Sasha sambil menatap Austin dengan raut wajah yang mengiba.
"Lihatlah! Wajah sendu dengan mata pasrah itu benar-benar menggodaku! Jangan salahkan aku jika malam ini aku tak berbelas kasih sedikitpun!" gumam Austin dalam hati.
Austin mendekatkan bibirnya ke telinga Sasha. Lalu ia berbisik dengan nada yang perlahan. Namun, saat ia berbisik, sesekali ada hembusan nafas yang menggelitiki telinga Sasha.
"Hampir semua pengunjung di sini mengenaliku. Kalau mereka melihatku seperti ini padamu, mereka tak akan berani menyentuh bahkan mengusikmu."
"Kok bisa?" tanya Sasha. Gadis itu menoleh ke samping ke arah Austin dengan tatapan penuh tanda tanya.
Austin hanya tersenyum setengah. Lalu ia menuntun tubuh gadis itu berjalan maju. Sasha pun mengikut tanpa penolakan.
...💨💨💨...
Malam itu, waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Di mana, waktu istirahat dan tidur telah tiba. Tapi tidak dengan pengunjung Club Black Moon, club terkenal dan termewah di Jakarta.
Suara musik yang memekakkan telinga membuat Sasha sedikit terganggu. Terlebih lagi, suasana club yang minim pencahayaan dengan pengunjung-pengunjung yang berpakaian mini dan terbuka.
Austin yang sudah terbiasa dengan suasana tersebut, ia hanya berjalan santai memasuki club itu.
"Kak, kita nggak usah joget-joget ya, aku nggak bisa," ucap Sasha sambil menatap Austin.
"Hey!" sapa Jason sambil menepuk bahu Austin.
"Halo, Sasha," sapa Jason sambil melambaikan tangannya ke arah Sasha. "Masih inget aku nggak?"
"Eum ... si-siapa?" tanya Sasha sambil mengerutkan dahinya.
Meskipun Jason selalu main ke rumah Austin, tapi gadis itu tak pernah menyadari akan kehadiran Jason. Di samping Sasha yang tak peduli, ia juga tak pernah keluar rumah selain ke sekolah atau menemani ibunya ke pasar.
"Room berapa?" tanya Austin memotong pembicaraan Jason dan Sasha.
"Enam sembilan," bisik Jason nakal. "Have fun, Bro."
Saat Jason berbisik ke telinga Austin, di saat yang sama ia memberikan sesuatu yang kecil dan nyaris tak terlihat ke tangan Austin tanpa sepengetahuan Sasha.
Austin menyeringai sambil memasukkan sesuatu yang Jason berikan ke dalam saku celananya. Sayangnya, sesuatu yang Jason berikan padanya tadi jatuh ke lantai tanpa sepengetahuannya.
...💨💨💨...
BERSAMBUNG...
...💨💨💨...
tp sejauh q membaca ceritamu semua bagus-bagus 👍😀
lanjutin dong novel2 nya,
semoga segera di lanjut, karena sudah mampir nech