Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Setelah acara penyerahan penghargaan selesai, sebuah instruksi mengejutkan kembali terdengar melalui pengeras suara. Ketujuh karyawan terbaik tidak diizinkan langsung kembali ke kubikel masing-masing; mereka diperintahkan untuk segera menuju ke lantai paling atas—ruangan pribadi sang Direktur Utama, Dixon Luca Alessandro.
Langkah kaki ketujuh orang itu terdengar bergaung di sepanjang koridor eksklusif berlantai karpet tebal yang menuju ke ruang kerja Dixon. Suasana di dalam lift privat tadi terasa campur aduk antara tegang dan bangga.
"Kamu senang nggak, Cia? Gila, ini pertama kalinya divisi kita dapat apresiasi langsung dari pusat, apalagi kita dipanggil langsung ke ruangan Tuan Dixon!" tanya salah satu rekan kerja pria dari divisi logistik yang ikut terpilih, menoleh ke arah Cia dengan wajah yang sangat antusias.
Cia mendongak, mengalihkan pandangannya dari map beludru di tangannya. "Humn," gumam Cia pelan sembari mengangguk kecil dan menyunggingkan senyum tipis yang tulus.
Dengan wajahnya yang secara natural sudah sangat cantik dan mulus, ekspresi malu-malu dan pembawaannya yang tenang itu justru membuat Cia terlihat sangat menggemaskan di mata rekan-rekannya. Di kantor, ia memang dikenal sebagai sosok Valencia yang anggun, berdedikasi, dan tidak banyak bertingkah. Sifat aslinya yang manis itu menjadi topeng sempurna untuk menyembunyikan badai yang sedang bergemuruh di dalam dadanya.
Namun, di balik senyuman menggemaskan itu, otak Cia sedang berputar menyusun strategi pertahanan. Ia tahu persis apa alasan sebenarnya di balik pemanggilan mendadak ini. Enam karyawan lainnya mungkin murni dipanggil untuk diberi wejangan bisnis, tetapi dirinya? Dia dipanggil untuk disidang.
“Kalau nanti di dalam dia mulai mengintimidasi atau mengancamku karena kejadian malam itu, aku sudah tahu harus berbuat apa,” batin Cia dengan tatapan yang mendadak menajam, menatap pintu ganda berbahan kayu jati kokoh di depan mereka yang dijaga ketat oleh dua pengawal.
“Gue tinggal pasang akting ketakutan, lalu bilang kalau gue bakal mengajukan surat pengunduran diri hari ini juga supaya nggak mengganggu hidupnya lagi. Pria berkuasa dan angkuh kayak Dixon pasti akan gengsi kalau harus menahan pegawai yang memohon untuk pergi. Meskipun aku harus taruhan dengan berhenti dari perusahaan ini, aku nggak peduli. Daya tarik wanita yang mencoba lari justru akan membuat pria seperti dia makin penasaran setengah mati.”
Cia menarik napas dalam-dalam, membusungkan dadanya yang terbalut kemeja putih leher V untuk mengumpulkan seluruh keberaniannya. Pintu jati besar di hadapan mereka perlahan terbuka lebar atas perintah Asher, sang asisten.
Aroma maskulin mahal bercampur kayu cendana langsung menyergap indra penciuman Cia—aroma yang sama persis dengan yang ia sesap di leher kokoh Dixon dua malam lalu. Di ujung ruangan yang sangat luas dan berlatar pemandangan gedung pencakar langit kota itu, Dixon sudah duduk tegak di balik meja kerja marmer hitamnya, menatap kedatangan mereka dengan sepasang mata elang yang siap menerkam.
Langkah kaki ketujuh karyawan itu melambat begitu mereka sepenuhnya melangkah masuk ke dalam ruang kerja Dixon yang luar biasa luas. Desain interior bernuansa minimalis modern dengan dominasi warna hitam dan abu-abu gelap semakin mempertegas kesan dingin dari sang pemilik ruangan.
Di ujung sana, di balik meja marmer hitam yang bersih, Dixon duduk tegak. Tatapannya lurus, menusuk, dan tak bersahabat.
Secara serentak, ketujuh karyawan itu langsung menyejajarkan posisi berdiri mereka. Dipimpin oleh karyawan yang paling senior, mereka segera menundukkan kepala dan membungkukkan tubuh dalam-dalam ke arah sang Direktur Utama.
"Selamat siang, Tuan Dixon," ucap mereka hampir bersamaan. Nada suara mereka terdengar agak bergetar dan sarat akan rasa takut yang alami. Berada di ruangan yang sama dengan pria paling berkuasa di Luca Group selalu berhasil mengintimidasi nyali siapa pun.
Cia ikut membungkuk dalam-dalam. Ia sengaja menahan posisi membungkuknya satu detik lebih lama, membiarkan rambut sanggulnya memperlihatkan tengkuknya yang putih—sebuah gestur tunduk yang sengaja dirancang untuk memancing ingatan pria di depannya.
Dixon tidak langsung merespons. Ia membiarkan keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan selama beberapa saat, sengaja menekan mental orang-orang di hadapannya. Hanya terdengar suara ketukan pelan dari pena mahal yang dimainkannya di atas meja.
"Saya memanggil kalian ke sini bukan untuk membuang waktu dengan pujian," suara bariton Dixon akhirnya memecah keheningan, terdengar berat dan sangat dingin. "Penghargaan yang kalian terima hari ini adalah standar minimal yang saya harapkan dari pekerja di perusahaan ini. Pertahankan kinerja kalian, atau posisi kalian akan digantikan oleh orang lain dalam sekejap."
Arahan itu begitu singkat, tegas, dan sama sekali tidak memiliki kehangatan. Namun bagi para karyawan, itu sudah lebih dari cukup.
Dixon meletakkan penanya, lalu menyandarkan punggung tegapnya ke kursi kebesaran. "Sekarang, kalian semua boleh keluar dan kembali bekerja."
Mendengar perintah itu, enam karyawan lainnya tampak mengembuskan napas lega yang tertahan. Mereka kembali membungkuk hormat dan bersiap membalikkan badan. Namun, sebelum langkah pertama mereka terayun, suara Dixon kembali terdengar, menghentikan seluruh pergerakan di ruangan itu.
"Kecuali kamu. Valencia."
Jari telunjuk Dixon yang kokoh terangkat, menunjuk tepat ke arah Cia yang berdiri di posisi paling ujung. "Tetap di sini. Ada laporan dari divisimu yang perlu saya tanyakan langsung."
Deg.
Enam karyawan lainnya menoleh sekilas ke arah Cia dengan tatapan iba, mengira Valencia yang malang sedang tertimpa sial karena harus diinterogasi sendirian oleh sang bos besar. Mereka bergegas keluar dari ruangan, meninggalkan Cia sendirian setelah pintu ganda jati itu tertutup rapat oleh Asher, yang juga ikut keluar.
Kini, ruangan itu hanya menyisakan mereka berdua.
Cia segera memulai aktingnya. Ia meremas map beludru hitam di dadanya dengan sangat kuat hingga kertas di dalamnya agak melengkung. Kedua bahunya dibuat bergetar halus, dan ia melangkah mundur satu langkah dengan gestur yang sangat gugup. Ia menundukkan wajah cantiknya dalam-dalam, menghindari kontak mata langsung dengan Dixon.
"T-Tuan Dixon..." suara Cia keluar dengan sangat lirih, bergetar, dan terdengar begitu ketakutan layaknya seorang kelinci manis yang tersudut di depan seekor serigala lapar. "M-maaf... apa ada kesalahan dalam laporan kerja saya?"
Di balik tundukan kepalanya, Cia mengatur napasnya yang memburu. Adrenalinnya melonjak tinggi. Topeng ketakutan ini adalah senjata pertamanya untuk melihat, sejauh mana Dixon akan membongkar permainan malam itu.
selanjutnya rencana lebih menantang lagi Thor, mungkin buat dia belajar beladiri dikit lah
saran thor
biar dia yg tercia dan ga bisa jauh sama kamu
ayo cia kamu harus kuat
balas semua rasa sakitmu ke Mora..
kamu jangan gegabah tarik ulur si duda karatan biar dia penasaran sama kamu
lanjut yu ka up nya bagus loh cerita kamu
biar si duda karatan kelabakan