Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 - Hadiah Besar
Pak Bandi tidak langsung kembali ke lapas setelah memperoleh salinan rekaman CCTV. Ada satu hal yang terus mengganjal pikirannya. Potongan enam menit yang hilang itu bukan kesalahan sistem. Seseorang sengaja menghapusnya. Pertanyaannya sekarang hanya satu, siapa yang memiliki keberanian melakukan hal sebesar itu?
Ia kembali menemui kepala bagian keamanan kampus.
"Pak, saya ingin bertanya sekali lagi."
Pria berkacamata itu mengangguk. "Silakan."
"Siapa saja yang memiliki akses untuk menghapus rekaman CCTV?"
"Administrator sistem... dan petugas keamanan yang sedang bertugas hari itu."
Pak Bandi mengangguk pelan. "Saya ingin bertemu petugas yang berjaga pada hari penangkapan Faris."
Permintaan itu sempat membuat suasana menjadi canggung. Namun setelah beberapa menit, seorang petugas keamanan berusia sekitar empat puluh tahun akhirnya dipanggil ke ruangan tersebut. Wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot matanya berubah ketika melihat Pak Bandi.
"Selamat siang."
"Siang."
Pak Bandi mempersilahkannya duduk, lalu meletakkan salinan rekaman CCTV di atas meja.
"Saudara bertugas pada hari ini, bukan?"
Petugas itu mengangguk.."Iya."
Pak Bandi lalu memutar rekaman itu menggunakan laptop yang tersedia di ruangan tersebut. Video berjalan normal sampai tepat ketika Faris meninggalkan tasnya. Enam menit kemudian, waktu pada layar langsung meloncat.
Pak Bandi menghentikan video. "Menurut Anda ini normal?"
Petugas itu langsung menjawab, "Mungkin kameranya bermasalah."
Pak Bandi tidak langsung membalas. Ia hanya menatap pria itu beberapa detik hingga suasana berubah menjadi sangat sunyi.
"Saya sudah menangani proyek pemerintah lebih dari dua puluh tahun," katanya tenang. "Saya juga berkali-kali bekerja sama dengan sistem pengawasan CCTV."
"Tidak ada kerusakan kamera yang menghasilkan potongan serapi ini."
Petugas itu mulai terlihat gelisah.
Pak Bandi melanjutkan, "Ini bukan kamera yang rusak. Ini video yang diedit."
Kening petugas mulai dipenuhi keringat. "A... saya tidak tahu."
Pak Bandi mengeluarkan sebuah map lain. "Sebelum datang ke sini, saya meminta operator memeriksa log sistem."
Petugas itu langsung membeku.
"Dan ternyata ada akses administrator tepat lima belas menit setelah polisi datang."
Suasana mendadak hening.
Pak Bandi kembali berkata pelan, "Kalau memang Anda tidak melakukannya, tidak masalah..Tapi kalau Anda melakukannya, perkara ini akan jauh lebih berat."
Petugas itu menelan ludah..Tangannya mulai gemetar. Beberapa detik kemudian ia menundukkan kepala.
"Saya tidak bermaksud mencelakakan siapa pun."
Kalimat itu cukup menjadi jawaban..Pak Bandi mengembuskan napas panjang.
"Siapa yang menyuruh Anda?"
Petugas itu memejamkan mata. "Saya dibayar."
"Berapa?"
"Lima puluh juta."
Pak Bandi langsung mengernyit. "Siapa yang membayar?"
Pria itu menggenggam kedua tangannya erat-erat sebelum akhirnya berkata lirih, "Tiga mahasiswa."
"Namanya?"
"Yudi, Arman... dan Zaki."
Pak Bandi tidak terkejut. Dugaan Faris ternyata benar.
"Mereka meminta saya menghapus bagian ketika tas Faris ditinggalkan. Lalu mereka bilang polisi akan datang beberapa menit kemudian. Katanya hanya masalah kecil."
Petugas itu mengusap wajahnya sendiri.."Saya tidak menyangka anak itu sampai dipenjara."
Pak Bandi menatapnya tajam. "Tapi Anda tetap menerima uang itu."
Pria tersebut hanya mampu menundukkan kepala. "Saya menyesal."
Pak Bandi tidak ingin membuang waktu lagi. Ia meminta kepala keamanan kampus membuat berita acara mengenai pengakuan tersebut. Petugas keamanan itu akhirnya bersedia menandatangani pernyataan tertulis dan menyerahkan bukti mutasi rekening yang memperlihatkan adanya transfer dana dari rekening milik Arman beberapa hari sebelum penangkapan Faris.
Kurang dari satu jam kemudian, Pak Bandi langsung menemui Pak Adi di workshop lapas.
Pak Adi yang sedang memperbaiki mesin pemotong kayu langsung menghentikan pekerjaannya.
"Pak?"
Pak Bandi meletakkan map tebal di atas meja.
"Kita berhasil."
Pak Adi membuka map itu satu per satu. Salinan rekaman CCTV. Log akses sistem. Surat pernyataan petugas keamanan. Salinan mutasi rekening. Matanya langsung membesar.
"Astaga..."
Pak Bandi mengangguk. "Faris memang dijebak."
Pak Adi mengepalkan tangannya.."Kasihan anak itu."
"Kita berangkat sekarang."
Hari itu juga mereka mendatangi kantor kepolisian dan menyerahkan seluruh bukti baru tersebut kepada penyidik yang menangani perkara Faris. Bukti-bukti itu langsung diterima untuk ditindaklanjuti. Penyidik kemudian memanggil kembali petugas keamanan kampus, memeriksa data elektronik, memverifikasi transaksi, serta meminta keterangan sejumlah saksi lain.
Penyelidikan yang sempat dianggap selesai akhirnya dibuka kembali.
Dua hari kemudian, hasil pemeriksaan mulai memperlihatkan titik terang. Tidak ditemukan bukti bahwa Faris mengetahui keberadaan obat-obatan tersebut. Sebaliknya, bukti baru menunjukkan adanya dugaan rekayasa dan penghilangan rekaman CCTV.
Berdasarkan perkembangan penyidikan itu, penahanan Faris dihentikan sesuai prosedur sambil penyidik melanjutkan pencarian terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat.
Namun ketika polisi mendatangi apartemen Yudi, Arman, dan Zaki untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, ketiganya sudah menghilang.
"Mereka kabur."
"Mobilnya juga tidak ada."
"Teleponnya mati."
Polisi segera melakukan pencarian terhadap ketiganya.
...***...
Dii dalam lapas, Faris sama sekali belum mengetahui apa yang sedang terjadi. Ia sedang membantu memperbaiki meja kerja sipir ketika kepala lapas datang bersama Pak Bandi dan Pak Adi.
"Faris..."
Faris langsung berdiri.
"Iya, Pak." Kepala lapas tersenyum tipis. "Kemasi barangmu!"
Faris terlihat bingung. "Barang saya?"
Pak Adi tertawa kecil. "Kamu pulang."
Faris membeku. "Pulang?"
Pak Bandi mengangguk. "Bukti baru sudah ditemukan. Penyidik membuka kembali kasusmu, dan penahananmu dihentikan."
Beberapa detik Faris hanya berdiri mematung. Ia benar-benar tidak mampu berkata apa-apa.
"Saya... bebas?"
"Iya."
Pak Adi tersenyum lebar. "Kamu bebas."
Air mata Faris langsung jatuh. Selama ini ia selalu berusaha tegar di depan semua orang. Namun mendengar kalimat itu, seluruh beban yang selama ini menghimpit dadanya seolah runtuh begitu saja. Ia menundukkan kepala sambil menangis.
"Terima kasih..."
Pak Bandi menepuk bahunya pelan. "Kamu tidak perlu berterima kasih. Kamu memang tidak bersalah."
Faris menggeleng. "Kalau bukan karena Bapak... Saya mungkin masih ada di sini."
Pak Adi ikut memeluk bahunya. "Sudah. Sekarang pulang saja dulu."
Tak lama kemudian seluruh proses administrasi selesai. Faris menerima kembali pakaian lamanya, dompet, telepon genggam, dan beberapa barang pribadi yang selama ini disimpan pihak lapas.
Ketika melangkah melewati gerbang utama, ia berhenti sejenak. Ia menoleh ke belakang. Tempat yang sempat menjadi mimpi buruknya kini perlahan ditinggalkan.
Di depan gerbang, Bu Nuri dan Siti sudah menunggu.
"Ibu!"
Siti langsung memeluk putranya erat-erat sambil menangis.
"Ibu tahu kamu tidak bersalah."
Faris memeluk ibunya lebih erat. "Maaf sudah membuat Ibu menderita."
"Tidak."
"Kamu sudah pulang. Itu sudah cukup."
Pak Bandi dan Pak Adi hanya tersenyum melihat pemandangan tersebut.
Namun tepat pada saat itu...
DING!
Layar biru memenuhi pandangan Faris.
══════════════════════
MISI UTAMA SELESAI
Membersihkan Nama Baik Pengguna
Tingkat Kesulitan : SSS
Status : Berhasil
══════════════════════
Hadiah Utama
Poin +500.000
Bonus Keteguhan +100.000
Bonus Kepercayaan +75.000
Bonus Integritas +50.000
Bonus Reputasi +80.000
Bonus Dukungan Sekutu +95.000
Bonus Pengorbanan +100.000
══════════════════════
TOTAL HADIAH
1.000.000 POIN
══════════════════════
Mata Faris langsung membelalak.
"Satu..."
"SATU JUTA?!"
[Benar.]
"Aku tidak salah lihat?"
[Tidak.]
"Sistem..."
"Kamu sedang sakit?"
[Tidak.]
"Biasanya kamu pelit."
[Sistem hanya memberikan hadiah sesuai tingkat kesulitan misi.]
Faris masih belum percaya.
"Satu juta poin... Aku bisa beli banyak paket."
[Benar.]
[Pengguna kini memenuhi syarat membuka Toko Sistem Tingkat Dua.]
"Lalu?"
[Paket Profesi Tingkat Menengah tersedia.]
[Paket Bela Diri tersedia.]
[Paket Analisis Lanjutan tersedia.]
[Paket Konstruksi Modern tersedia.]
[Paket Bisnis tersedia.]
[Paket Kepemimpinan tersedia.]
Faris hampir tertawa sekaligus menangis.."Sistem."
[Ya.]
"Terima kasih."
Kali ini suara sistem menjawab jauh lebih cepat.
[Sama-sama.]
[Sistem turut senang pengguna akhirnya memperoleh keadilan.]
Faris tersenyum. "Itu tadi terdengar... seperti manusia."
[Versi 2.1 sedang belajar.]
Faris tertawa kecil. "Semoga tidak belajar mengejekku lagi."
[Tidak bisa dijanjikan.]
Faris menggeleng sambil tersenyum lebar. Ia memandang langit biru di atas kepalanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, udara terasa begitu segar. Ia bukan lagi seorang narapidana yang kehilangan masa depan.