Alisha, seorang gadis cantik berumur dua puluh empat tahun. Alisha seorang yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal pada saat Alisha berumur dua tahun. Alisha dirawat oleh paman dan bibinya.
Paman dan bibinya Alisha, mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Amalia. Amalia tidak menyukai apapun tentang Alisha. Bahkan, terkadang Amalia mengerjai Alisha.
Suatu hari, Amalia menyuruh teman laki-lakinya untuk mengambil sesuatu yang paling berharga bagi Alisha, yaitu keperawanannya.
Akankah Alisha berakhir ditangan pria itu? Ataukah ada seseorang yang menolongnya? Mari, cari tahu takdir Alisha!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INRUMIDITAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan Alvin
Satu hari kemudian. Alisha sedang melayani pembeli di apotek tempat ia bekerja, tiba-tiba datang Alvin dihadapannya. "Eh, dokter Alvin, adakah yang bisa saya bantu?" tanya Alisha canggung.
"Nanti jangan pulang dulu ya seusai kerja," pinta Alvin.
"Ada apa ya?" tanya Alisha penasaran.
"Nanti kamu juga akan tahu, aku balik ke rumah sakit dulu ya." Alvin pergi meninggalkan Alisha.
"Cie ... cie ... ada yang mau diajak jalan-jalan nih," goda Citra. Citra yang dari tadi hanya duduk sambil mendengarkan percakapan antara Alisha dan Alvin, kini mulai menggoda Alisha.
"Apaan kamu, Cit! Sok tahu banget sih," respon Alisha.
"Kita lihat saja nanti sore," ucap Citra sambil cekikikan.
Beberapa jam kemudian. Kini, jam kerja Alisha telah selesai. Alisha duduk didepan apotek, ia menunggu jemputan papanya. Alisha duduk sendiri, rekan kerja yang satu sift dengannya telah pulang. "Alisha." Seseorang memanggil Alisha.
Alisha pun mencari sumber suara. Dokter Alvin, ada apa ya panggil aku? batin Alisha. "Ada apa ya dokter Alvin?" tanya Alisha.
"Ada apa? Kamu lupa ya? Kan tadi pagi aku sudah buat janji denganmu," ucap Alvin menjelaskan.
Alisha terdiam mengingat hal apa yang Alvin katakan tadi pagi. "Oh iya, disuruh nunggu ya." Alisha teringat ucapan Alvin tadi pagi.
"Iya, yuk masuk kedalam mobil," ajak Alvin.
"Lo, mau apa? Atau mau kemana?" tanya Alisha menyelidik.
"Cuma mau ku ajak makan aja kok, aku nggak bakal berbuat jahat sama kamu," jawab Alvin menjelaskan.
"Makan? Dimana? Berdua saja?" Alisha melontarkan beberapa pertanyaan.
"Iya, makan berdua di resto baru yang lagi viral itu. Tenang aja, aku bakal jaga jarak, nggak deket-deket duduknya nanti." Alvin seakan tahu isi pikiran Alisha.
"Hmm, baiklah." Alisha masuk kedalam mobil dan duduk dibelakang. Aku chat papa dulu deh biar nggak nyariin, batin Alisha.
Alvin pun langsung menjalankan mobilnya. "Tahu gitu, tadi Citra diajak juga, Dok," ucap Alisha.
"Iya ya, mungkin lain kali. Eh, kamu jangan panggil aku dokter dong, ini bukan di rumah sakit," ujar Alvin. Aih, Alisha ini, mau di ajak makan berdua malah mau ajak si Citra, batin Alvin sedikit kesal.
"Terus panggil apa dong?" tanya Alisha.
"Panggil Mas atau honey mungkin," jawab Alvin sambil tersenyum.
"Eh, kok gitu?" gumam Alisha.
"Sha, kok diem aja. Panggil apa, milih salah satu dari itu," ucap Alvin.
"Panggil Pak Alvin saja ya," ucap Alisha tertawa pelan.
"Lah, kok bapak. Aku kan belum bapak-bapak, aku masih muda dan tampan lo, Sha," ucap Alvin cemberut.
"Ya sudah, Kak Alvin saja ya," ucap Alisha.
"Ya nggak apa-apa deh, dari pada bapak," ucap Alvin bermuka masam.
Beberapa saat kemudian, mobil Alvin telah sampai didepan resto. Alvin dan Alisha masuk dan mencari tempat duduk yang kosong. "Sha, kita duduk disana ya." Alvin menunjuk ke bagian belakang resto, dibelakangnya terdapat sebuah danau buatan.
"Baik." Alisha mengikuti Alvin dari belakang.
Setelah duduk, Alisha dan Alvin memesan makanan dam minuman. Saat menunggu pesanan, Alvin terus saja mengajak Alisha berbincang. Apa nggak capek ya bicara terus? Tenggorokanku sudah kering ini mau jawab lagi, batin Alisha.
"Kenapa kamu, Sha?" tanya Alvin khawatir.
"Nggak ada apa-apa kok," jawab Alisha sambil tersenyum.
Lima menit kemudian, pesanan Alisha dan Alvin telah datang. Alhamdulillah, akhirnya datang juga. Tenggorokan sudah kering, perut juga keroncongan minta diisi, batin Alisha sambil mengusap perutnya.
Alisha dan Alvin mulai memakan pesanan mereka, tentu saja mereka telah berdo'a terlebih dahulu. Walaupun Alisha lapar, dia tetap menjaga cara makannya agar tetap terlihat sopan.
Alisha memesan ayam bakar dan jeruk hangat, sedangkan Alvin memesan olahraga seafood dan icetea. "Kamu nggak suka minuman dingin kah?" tanya Alvin.
"Suka, tapi kali ini aku lagi pengen minuman jeruk hangat," jawab Alisha.
"Oohh begitu, kamu mau coba olahan seafood ini nggak? Alvin merencana menyuapi Alisha.
"Nggak ah, ini aja," ucap Alisha. Apa-apaan mau nyuapin segala, batin Alisha.
"Ya sudah kalau begitu." Alvin kembali menyantap makanannya. Ada apa dengan aku ini, aku tidak bisa menahan, aku ingin selalu dekat dengan Alisha. Sepertinya aku harus segera menyatakan perasaan cintaku, lalu pergi melamarnya, batin Alvin.
Setengah jam kemudian. Kini, Alisha dan Alvin telah masuk kedalam mobil milik Alvin. Alvin menjalankan mobilnya dan mengantarkan Alisha pulang ke rumah temannya, Dikta. Aku selalu teringat denganmu Dikta, saat aku berkunjung ke rumahmu, batin Alvin sedih saat mengingat almarhum Dikta.
Apakah kamu akan marah jika aku menyukai Alisha, dan berencana menjadikannya istriku, batin Alvin lesu. "Sha, kita sudah sampai." Alvin telah sampai didepan rumah Dikta.
Alisha pun turun dari mobil Alvin. "Terima kasih untuk traktirannya, Kak Alvin. Nggak masuk dulu, Kak?" tanya Alisha.
"Nggak, Sha, mungkin lain kali. Titip salam saja ya buat Om Wisnu dan Tante Sonya, makasih ya, wassalamu'alaikum." Alvin menutup kaca mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.
"Wa'alaikum salam." Alisha pun masuk kedalam rumah.
"Assalamu'alaikum." Alisha mengucap salam ketika masuk ke ruang tamu.
"Wa'alaikum salam." Sonya menjawab salam dari Alisha. Sonya saat itu sedang duduk di ruang tamu bersama Wisnu.
"Dari mana kamu, Sha? Kata papamu, kamu tadi minta supaya tidak dijemput. Kamu pergi sama siapa dan kemana?" tanya Sonya dengan mode bergosipnya.
Tiba-tiba terdengar suara adzan maghrib. "Eh, adzan, kita sholat berjamaah yuk, Ma, Pa. Alisha ambil air wudhu dulu." Alisha pergi meninggalkan Wisnu dan Sonya.
Anak ini, pasti tadi terjadi sesuatu yang membuat hatinya bahagia. Pasti tadi kencan sama seorang pria tampan, batin Sonya. Sonya dan Wisnu beranjak dari tempat duduknya, mereka berjalan menuju ke sebuah ruangan yang dikhususkan untuk menunaikan ibadah sholat. Disamping tempat itu, ada tempat yang dikhususkan untuk mengambil air wudhu.
Tiga jam berlalu, kini Alisha, Wisnu, dan Sonya sedang berkumpul di meja makan. "Kamu nggak makan, Sha?" tanya Sonya kepada Alisha.
"Nggak, Ma, Alisha masih kenyang. Tadi sore kan Alisha ditraktir makan sama Kak Alvin," ucap Alisha.
"Oh, jadi yang ajak kamu jalan tadi si Alvin, teman Dikta di rumah sakit itu kan?" ucap Sonya.
Eh, kok aku keceplosan sih, batin Alisha sambil menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. "Ha-ha-ha, kamu nggak perlu malu Alisha, kami senang jika kamu mulai membuka perasaan kamu untuk orang lain. Ya kan, Ma?" tanya Wisnu kepada Sonya.
"Iya dong, Pa, kami kan pengen juga menggendong cucu," jawab Sonya.
Uhhhukk.
Alisha langsung tersedak saat mendengar penuturan Sonya. Kebetulan pada saat itu Alisha sedang minum air putih. "Duh, hati-hati minumnya, Sayang." Sonya langsung menghampiri Alisha dan mengelus punggung Alisha. Apa mama ini nggak tahu, penyebab aku tersedak? batin Alisha.
Salut ama sikap Alisha
Perjuangan Ucup mampir